Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Dewi pencabut nyawa


__ADS_3

"Hai Rosy, apa kabar..." Andre baru saja keluar dari ruang tindakan, luka di punggung nya mendapatkan tujuh jahitan dan empat jahitan dalam, dan pelipis nya juga terlihat perban sepanjang kurang lebih 5 cm.


Melihat Rosy tak bereaksi terhadap sapaan nya, Andre memilih duduk di samping Harland.


"Luka mu tak kau obati?" Harland melirik ke arah mata Andre menatap.


"Hanya luka kecil.." sahut Harland terdengar meremehkan luka sayatan di punggung tangan nya. Padahal pria itu tengah mati-matian menahan rasa nyeri yang mulai menusuk hingga urat nadi nya.


"Ck! Luka kecil pun bisa mengalami infeksi jika tidak segera di obati. Masuk lah, aku akan di sini mengganti kan mu sebentar. Luka ku sudah di obati, reaksi anti nyeri mya masih bekerja dengan baik untuk satu dua jam ke depan." Pria itu mengomel kesal pada sahabat nya yang nampak keras kepala.


"Cih! Kebiasaan lama..kalian sangat cocok, saling berganti tempat seperti nya sudah merupakan sebuah kebiasaan." Sindir Rosy nampak acuh menatap pintu ruang operasi. Kedua pria itu hanya bisa menghela nafas panjang saling bertukar pandang tanpa menjawab apa pun. Mereka tau kemana arah perkataan wanita itu. Tak ingin menanggapi yang malah akan memperkeruh suasana, Harland memilih masuk ke dalam ruang UGD. Mendaftar diri untuk mendapatkan perawatan pada luka-luka nya.


Harland lebih banyak mengalami luka gores. Karena menyelamatkan Mylo membutuhkan usaha keras. Anak itu tersangkut di bebatuan di antara karang.


"Jangan kalian pikir karena telah menyelamatkan anak-anak ku, aku akan mengucapkan kata terimakasih. Kalian masih tak pantas untuk menerima nya. Bisa siapa saja yang menolong anak-anak ku, Tuhan hanya sedang berusaha untuk menghapus setitik dosa yang pernah kalian lakukan pada ku di masa lalu. Setelah sahabat berbagi mu selesai, pergi lah. Kalian sudah tidak di butuhkan di sini!" Kalimat penuh penekanan Rosy terasa menghantam wajah Andre.


Rosy bahkan berbicara tanpa menoleh pada nya, seolah diri nya hanya seonggok sampah yang tak pantas di lihat.


"Aku tau kesalahan ku di masa lalu sangat buruk. Memanfaatkan Sindy untuk mengeruk kekayaan mu melalui Harland. Aku minta maaf meski tak akan bisa termaafkan. Aku akan mengganti nya meski tidak bisa segera. Aku sedang berusaha merangkak naik untuk bisa mencicil nya pada mu meski harus seumur hidup ku."


"Sudah sepantasnya bukan? Sesuatu hasil curian memang harus kau kembali kan. Syukur lah kau sadar, jika kesalahan kalian tidak termaafkan. Menjauh lah dari kehidupan di mana aku dan anak-anak ku berada. Kalian adalah kesialan paling rendah dalam sejarah hidup ku. Dan kali ini, berusaha lah merangkak naik tanpa menginjak siapapun." Desis Rosy penuh tekanan. Wanita itu menatap nyalang pada Andre, yang kini juga tengah menatap nya dengan mata berkaca-kaca.


Entah mengapa, kata-kata Rosy seperti menusuk hingga ke relung hati nya yang paling dalam. Ada perasaan tak biasa saat bertatapan langsung dengan wanita itu, semacam ada yang mengusik memori nya. Entah lah. Rosy selalu sulit untuk di dekati, sejak SMA wanita itu seperti membangun tembok pembatas bagi siapa pun yang berusaha mendekati nya. Sindy beruntung karena bisa dengan mudah menarik simpati seorang Rosy, yang terkenal dingin dan tak tersentuh.


"Maaf...maafkan aku..." Suara Andre begitu lirih, entah kenapa Rosy merasa tak tega melihat nya. Segera wanita memalingkan wajah nya, agar hati nya tak tersentuh.


"Pergi lah jika kau masih punya malu..aku tak sudi melihat wajah mu atau pun sahabat mu berkeliaran seperti lalat di sekitar ku." Luruh sudah pertahanan Andre, pria itu pergi bukan karena sakit hati akan perkataan Rosy. Namun lebih untuk menyembunyikan air mata yang tanpa di minta, diam-diam mengalir tak terbendung.


Menatap wajah penuh rasa benci itu menatap nyalang pada nya, seperti ada luka menganga do hati nya. Wajah itu mengingat kan nya pada seseorang yang samar-samar hadir di ingatan masa kecil nya.


Setengah jam Harland di dalam ruang tindakan, mata nya berpendar mencari sosok Andre yang tak nampak terlihat di mana-mana.

__ADS_1


"Jika kau mencari sahabat mu, dia sudah pergi. Kau juga, pergilah dari sini. Kehadiran mu tidak di butuh kan!" Harland menatap nanar manik memerah Rosy, wanita itu banyak menangis di perjalanan tadi.


"Aku akan menunggu hingga mereka selesai di tangani. Setelah itu aku akan pergi.." Harland mencoba mengesampingkan ego nya saat ini. Memohon agar tetap di biarkan tinggal meski dengan cara menyedihkan. Tidak masalah bagi nya.


"Jangan menguji kesabaran ku, Harland. Pergi lah dari sini! Apa kau mengerti konteks tidak di butuh kan?! Apa terlalu lama menjadi seorang pesuruh membuat otak cerdas mu menurun ke tingkat paling bawah? Pergilah, aku bisa saja menyuruh seseorang menghancurkan semua bisnis kecil mu hingga menjadi abu. Jadi jangan sesekali berurusan dengan ku." Rosi menekan kalimat nya seraya menatap Harland penuh kebencian.


Harland tercenung, wanita itu jauh berubah dari Rosy yang pernah dia kenal. Hanya ada kilat kebencian dan kemarahan yang terlihat di wajah yang dulu teduh menenangkan. Kini sudah tak nampak lagi di sana. Entah kemana wajah teduh itu pergi.


"Please...kali ini saja, ijin kan aku tetap di sini. Jika kau tak ingin melihat ku, aku akan menunggu di sana saja. Ku mohon..." Harland mengabaikan harga diri nya, dia sungguh ingin berada di sana lebih lama.


Rosy bergeming, wanita itu kembali duduk tanpa menanggapi permohonan Harland.


Harland menuju sudut lain dan memilih duduk di sudut tanpa menggunakan kursi. Padahal tubuh nya sedang sangat butuh di istirahat kan di tempat yang nyaman.


10 menit berlalu, akhir nya pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter wanita keluar dengan senyum ramah. Yang menjelaskan jika pasien nya baik-baik saja.


"Bagaimana keadaan anak-anak ku dok? apa luka mereka harus mendapatkan penanganan di rumah sakit yang lebih besar?" Rosy bertanya dengan nada tak sabar. Harland menyentuh lengan nya namun dengan kasar wanita itu menepis nya.


"Anak ku dok, mereka anak-anak ku. Pria ini hanya orang yang menolong mereka saja, aku tidak mengenal nya." Hati Harland mencelos perih.


Dokter tersebut hanya tersenyum simpul, di lihat dari sudut manapun. Wajah Mishy begitu duplikat sang ayah, begitu pun Mylo. hampir 90 persen wajah anak itu menduplikasi wajah pria tampan di hadapan nya itu.


"Dan putri anda, dia mengalami luka dalam yang sedikit serius...." Rosy berusaha tenang, menunggu sang dokter melanjutkan kalimatnya yang terlihat ragu-ragu.


"Dada nya seperti membentur bebatuan... Putri ibu butuh di rawat lebih intensif selama beberapa hari ke depan. Dan..." dokter wanita itu semakin gugup. Ada keraguan untuk menyampaikan berita lain mengenai anak wanita galak di hadapan nya itu.


"Dan apa dokter ?" Harland mulai tak sabar. Dan itu cukup mewakili perasaan Rosy yang di liputi kecemasan.


"Nona Mishy terus menggumam kan satu kata..." mata nya menatap wajah Harland dan Rosy bergantian.


"Katakan Dokter Sela, kau tau aku mendonasikan uang tak sedikit agar rumah sakit ini beroperasi dengan baik dan memberikan pelayanan yang memuaskan." Deg. Jantung dokter muda itu mulai bekerja tak karuan. Keringat dingin membasahi telapak tangan nya.

__ADS_1


"Ya Tuhan... ampuni hamba kali ini, sungguh...aku tidak bermaksud menjadi dokter yang curang. Ini permintaan salah satu hamba yang sangat di kasihi oleh Mu, ya itu seorang anak dengan wajah polos seperti bayi baru lahir dan terlihat tanpa dosa. Tapi gadis itu pula yang mengajari ku untuk berbuat dosa ini. Tuhan bantu aku, selamat kan jiwa raga ku dari ibu anak-anak ini. Amin" Sungguh doa yang menyayat hati para malaikat.


"Nona Mishy terus memanggil Papa sejak baru saja akan di tindak di dalam ruang operasi. Tulang tangan nya mengalami retak, dan terus bergerak seperti menggapai sesuatu. Seperti nya anak ibu mengalami semacam traumatis akan kejadian yang baru saja mereka alami. Alam bawah sadar nya seperti menyimpan harapan untuk bisa bertemu dengan ayah nya. Dan itu terbawa tanpa sadar. Jika boleh saya saran kan, bisa kah nyonya menghubungi ayah anak-anak anda. Mungkin ini di luar ranah saya, saya mohon maaf. Namun Psikologis nona Mishy sedang dalam kondisi yang sangat labil sekarang, itu bisa berpengaruh pada proses pemulihan nya." Oh para dewa dan dewi langit. Sela merasa seperti baru saja memaparkan isi dari materi skripsi nya di hadapan dosen penguji.


Tubuh nya serasa melayang di udara saking takut nya. Mengingat jika wanita di hadapan nya itu adalah seorang Dokter meski sudah tak aktif lagi. Namun tetap tak bisa di pungkiri, jika otak cerdas seseorang tak akan mati di telan waktu.


"Apa seserius itu, kondisi putri ku dokter Sela?" Entah kenapa Rosy menganggap Dokter bedah yang masih terlihat muda itu sedang berbohong pada nya.


Sela menghela nafas panjang, jantung nya seperti sudah tak lagi mampu memompa darah ke seluruh tubuh nya. Namun kali ini wanita itu berusaha untuk terlihat tenang.


"Itu lah yang terjadi nyonya. Psikis Nona Mishy sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Gadis kecil itu seperti tengah menyimpan banyak hal di otak kecil nya. Mungkin baru keluar sekarang karena ada pemicu nya. Anda pasti mengerti maksud saya nyonya, memendam perasaan bisa menimbulkan dampak negatif pada perkembangan psi....."


"Cukup! Aku mengerti! lakukan saja tugas mu, selebihnya itu urusan ku." Sela hanya tersenyum simpul, menekan rasa tak nyaman yang bersarang di hati nya.


"Kalau begitu saya masuk dulu, setelah observasi selesai kami akan memindahkan pasien ke ruangan rawat inap." Pamit dokter Sela lalu kembali masuk. Sesampai di dalam ruangan observasi, semua mata menatap nya penuh rasa penasaran yang amat sangat.


Wanita muda itu berdecak sebal, kenapa juga dia yang harus di korbankan.


"Bagaimana? apa kau berhasil meyakinkan Rosy?" Sania menatap penuh harap pada Sela. Wanita itu mendelik kemudian beralih menatap gadis kecil yang kini tengah bermain game di ponsel Sania.


"Cih! katanya sakit, lihat lah...anak ini baru saja mengantar ku pada dewi pencabut nyawa." Sontak tawa team 2 yang di pimpin oleh dokter Bambang itu pecah seketika. Wajah Sela yang terlihat kesal menjelaskan jika misi mereka berhasil.


"Ku harap ada kompensasi untuk apa yang baru saja aku lakukan ini, terutama pemeriksaan gratis untuk kesehatan jantung ku. Wanita itu benar-benar mengerikan, bagaimana bisa ada keluarga pasien yang langsung mematahkan argumen seorang dokter yang menangani anak nya, telak di depan mata. Lain kali jika ingin mengirim ku ke neraka, tidak perlu melalui jalur paket express seperti tadi. Rasa nya nyawa ku sudah berada di ujung kerongkongan meski baru saja melihat nya muncul di depan pintu." Tawa mereka berlanjut, Sania menyelinap masuk melalui jalur ruang ICU. Dia bersekongkol bersama keponakan kecil nya serta para team work dokter Bambang.


Jika saja Rosy mengetahui nya, bisa jadi rumah sakit itu akan dia bakar saat itu juga. Mengingat tempramen wanita itu yang sedikit tak terkendali saat ini.


∆Oke kak, 1825 kata. Maaf jika update nya putus-putus. Provider othor sedang dalam kondisi tak kondusif 😁😁


**∆Mari tabur jejak kalian, supaya jari othor makin keriting 😆😆🤣🤣🤣


∆besok slow update, mau jadi ibu yang berbakti pada anak-anak penerus bangsa dulu🤭🤭

__ADS_1


Luv yuu sekebon kopi buat kalian🥰🥰🥰🤍🤍🤍**


__ADS_2