
Seorang wanita tengah menatap dalam aktivitas yang tengah Harland lakukan. Binar di mata nya menatap kagum pada apa yang sedang pria itu kerja kan.
"Jika pekerjaan mu sudah selesai, kau bisa keluar menemani anak-anak belajar." Titah Harland mengusir secara halus. Pria itu bahkan tak menoleh sedikit pun.
Wajah Elsa mengeras namun sebisa mungkin dia menampil kan wajah teduh penuh ketulusan.
"Tapi, bukan kah ini pekerjaan saya tuan?" ucap nya berusaha mengulur waktu. Tubuh atletis Harland terlihat begitu menggoda, padahal pria itu tengah memakai pakaian lengkap. Apa kabar jika Harland dalam keadaan naked.
"Aku bisa melakukan nya sendiri, tugas mu bukan kah sudah tertulis dengan jelas di surat kontrak? Kau harus membaca nya kembali, aku tak akan menggaji mu melebihi nominal yang sudah di sepakati melalui jasa agen penyalur mu." Tukas Harland berusaha untuk menekan emosi nya. Wanita ini benar-benar menguji nya, bukan Harland tak tau, jika Elsa diam-diam terus melirik area terlarang nya.
Benar-benar wanita mesum menakutkan batin nya kesal.
"Aku belum sempat membaca nya hingga tuntas, tapi aku sudah sepakat dengan jumlah gaji ku. Berapa pun itu, tidak masalah." 'Asal aku bisa tetap bekerja di rumah mu ini tuan Harland, melihat mu setiap hari, itu sudah cukup. Perlahan-lahan aku akan membuat mu terpesona oleh keseksian ku. Lihat seberapa kuat kau menahan godaan seorang Elsa." Seringai licik tercetak di wajah Elsa.
"Kalau begitu, pergi lah dan baca sampai tuntas Surat kontrak mu. Di sana tertera dengan jelas, apa yang boleh dam tidak boleh kau lakukan. Termasuk apa saja yang tidak boleh kau sentuh di dalam kamar ku. Aku tidak suka punya pekerja yang lancang." Elsa meneguk ludah nya kasar.
"Baik lah tuan, kalau begitu saya permisi dulu.." Harland tak menjawab, dia benci menjalin komunikasi jika bukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan.
Elsa berdiri sejenak di depan pintu kamar utama, wanita itu berusaha menekan luapan emosi nya.
"Kau boleh saja menolak ku dengan sikap angkuh mu itu, tuan Harland. Kita lihat beberapa waktu ke depan, seberapa mampu kau menahan diri akan pesona yang ku tebar pada mu. Jika kau pria normal, aku yakin, kesetiaan mu akan patah dengan sendiri nya. Kau akan berlutut di kedua paha ku, menyembah nya dengan penuh puja." Senyum picik Elsa terlihat oleh sepasang mata yang menatap dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Seringai penuh rencana terbersit di otak kecil nya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Sesuai janji yang telah di sepakati sebelum nya. Kini di rumah besar Harland suasana terlihat ramai. Evan dan sang kekasih juga keponakan kekasih nya pun turut di ajak serta. Sania dan sang suami juga kedua anak nya. Hany dan suami Johan.
"Nek, bukan kah ini sisa adonan cake brownies?" wanita paruh baya itu mengangguk sambil tersenyum hangat pada sang cucu.
"Boleh kah aku menjilati nya, seperti nya ini enak." Ujar Mishy terlihat begitu berselera menatap sisa adonan di dalam mangkuk.
"Itu tidak baik, Mishy. Telur mentah mengandung bakteri, lalu bahan-bahan kue lain nya. Itu tidak baik untuk kesehatan usus mu. Tunggu sebentar lagi, kue nya tak akan lama bisa kau cicipi." Nasihat sang nenek menatap wajah oval yang kini semakin terlihat secantik ibu nya. Hati Wina meringis menahan rindu. Wina merindukan senyuman Rosy yang selalu hangat pada nya. Senyum tulus yang sudah lama tak pernah dia lihat lagi.
"Nenek..!" seru Resy baru tiba dari belakang rumah. Kedua tangan nya memegang sebuah piring besar berisi potongan daging panggang yang sudah di potong-potong tipis.
"Suster Elsa di kamar nya, ku lihat tadi sebelum aku keluar kamar." Sahut Mishy sambil menusuk kan garpu nya ke potongan daging yang baru saja sang nenek masuk kan ke dalam piring kecil untuk nya.
"Kenapa suster Elsa tidak ikut bergabung di taman belakang?" tanya Resy penasaran.
"Mungkin suster Elsa merasa tak enak, bukan kah ini acara kumpul keluarga? lagi pula kenapa kau begitu penasaran, jangan bilang kau menyukai nya dan ingin menjadi kan suster Elsa sebagai ibu mu? iiyuuh!! kau tau, ibu tiri itu mengerikan jika kau salah pilih. Percaya pada ku, aku punya calon yang cocok untuk menjadi ibu sambung mu kak. Kau akan berterimakasih pada ku nanti." Resy menatap curiga pada adik sepupu nya.
Ide Mishy sering kali membuat mereka berdua berakhir dengan masalah. Dan Mishy selalu berdalih, jika mereka adalah anak-anak. Sedikit kesalahan akan membuat mereka belajar untuk membuat pilihan yang benar di kemudian hari. Meski tak jat, mereka mengulang kesalahan sama. Dan belum ada argumen yang mampu mematahkan opini sang adik sepupu. Kebanyakan akan memilih menghela nafas panjang, lalu berusaha tersenyum simpul agar otak mereka tak meledak saat itu juga.
__ADS_1
"Aku sudah punya calon ibu impian ku, Mishy sayang. Jadi simpan saja ide ibu sambung untuk diri mu sendiri. Bukan kah suster Elsa terlihat menyukai paman? kenapa tidak kau pertimbang kan saja wanita seksi itu." Resy menaik turun kan alis nya meledek sang adik.
"Jika suster itu berani menggoda papa, akan ku pasti kan jalan menuju kesana tidak akan semudah berjalan kaki dari sekolah menuju ke rumah." Senyum miring Mishy membuat Resy mencurigai sesuatu. Adik nya itu tak pernah lelah membuat masalah.
"Kau tidak sedang mengerjai suster Elsa bukan?" tanya Resy penuh selidik. Bukan Mishy jika tidak membuat keonaran. Otak kritis sang adik patut di waspadai, apa lagi jika kedua tangan nya sudah ikut berpartisipasi.
"Apa yang sedang kalian bahas, hmmm? Resy sayang, coba kau panggil suster Elsa, ajak makan kue bersama jika tidak sedang sibuk." Perintah sang nenek di angguki oleh Resy dengan patuh. Jika itu Mishy, maka akan lain cerita nya. Resy memang anak penurut dan terlihat lebih dewasa dari usia nya. Karena tumbuh tanpa asuhan sang ibu, membuat Resy kecil menjadi anak yang mandiri dan tak enakan pada orang lain. Rasa minder sering menjadi penyebab Resy tak memiliki teman di sekolah.
Sementara kehebohan di gazebo sedikit mengusik ketenangan hati Elsa. Sejak tadi dia ingin menampak kan diri nya ke sana, namun Harland sudah meminta nya untuk tak ikut dalam acara keluarga. Itu aturan mutlak, Elsa tak bisa apa-apa.
"Bagaimana aku bisa menjerat pria tampan itu jika akses ku selalu saja di batasi. Apa dia tidak normal, bagaimana bisa ada pria yang tak bereaksi saat melihat wanita sedang dalam keadaan naked.
Teringat saat diri nya baru selesai mandi, Elsa tau kebiasaan Harland berkat kerajinan nya dalam menyelidiki apa saja yang biasa pria itu lakukan sepulang bekerja.
Elsa sengaja tak mengisi teko air di dalam kamar Harland. Otomatis pria itu akan mendatangi nya ke kamar untuk meminta di isikan air minum. Harland terbiasa minum air hangat sepulang bekerja, penyakit lambung nya membuat nya harus mengisi perut nya terlebih dahulu dengan air sebelum mandi dan makan. Itu demi menghindari perut nya mengalami kembung dan berujung pada asam lambung nya yang akan ikut naik.
Tepat seperti dugaan nya, Harland mengetuk pintu kamar nya. Namun Elsa pura-pura tak mendengar, wanita itu sengaja memasang headset sambil memakai lotion di tubuh nya naked nya. Harland yang merasa tak mendapat kan jawaban, mendorong pelan pintu yang memang tak tertutup sempurna tersebut.
Betapa kaget nya Harland saat melihat pemandangan di hadapan nya. Elsa hanya menggunakan pakaian dalam bagian bawah saja, sementara pepaya Bangkok kendor nya di biarkan bergelantungan tanpa penutup apa pun.
Elsa memberikan reaksi terkejut yang terlihat sangat di buat-buat, menutup dada nya menggunkan telapak tangan nya. Wanita itu menunduk dengan gaya malu-malu. Harland hanya menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
Bukan nya dia tak normal, namun dia sudah kenyang dengan suguhan murahan seperti itu. Sindy sering melakukan nya untuk menarik nya masuk ke dalam lingkaran dosa besar tersebut. Sekarang dia sudah belajar menahan diri dengan baik. Jadi godaan-godaan murahan seperti itu, masih bisa dia tangani di kamar mandi.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷