
Sesampai nya di rumah, Selome semakin gusar. Pikiran nya masih menerawang pada kejadian menyebalkan tadi. Melihat ekspresi Mallika yang tak keberatan saat tangan nya di genggam oleh pria asing, Selome mulai kepikiran kemungkinan lain.
Mungkin kah gadis manja itu telah move on dari nya? berbagai macam pikiran menghantui nya sekarang. Kenapa dia jadi risau memikirkan Mallika tak lagi mengusik hari-hari tenang nya?
"Ah, sial! seharus nya kan aku senang, bukan nya malah kepikiran. Bodoh!" Selome memukul kepala nya perlahan, mengingat itu merupakan aset hidup nya ke depan. Dia harus menjaga nya se ekstra mungkin.
Tok tok tok
Pintu kamar Selome di ketuk dengan hentakan tak sabar, siapa lagi jika bukan salah satu adik nya. Dengan malas pria itu berjalan menuju pintu untuk membuka nya.
Selome menyambut sang tamu tak di undang dengan wajah masam, sedang kan gadis yang berdiri di depan pintu kamar nya memamerkan rona wajah yang berbanding terbalik.
"Kak? apa aku boleh meminjam kamera mu? sekolah ku mengadakan persami dua hari lagi di puncak, aku butuh kamera yang bagus. Yang bisa membuat tubuh suburku sedikit lebih langsing saat di foto full body. Boleh yaa... pleaseeee.." mohon Sintya dengan wajah memelas namun juga menggemaskan.
Selome mende sah pasrah, sungguh dia sebal jika sudah melihat ekspresi wajah memelas sang adik. Karena alamat tak akan bisa menolak nya.
"Boleh, tapi jangan sampai rusak. Jangan pinjam kan pada orang lain, jangan sampai lecet juga. Sebentar aku ambil kan, jangan masuk area pria dewasa." Ujar Selome muali ngalur ngidul. Sintya mencebik mendengar kalimat frontal sang kakak.
"Kakak sudah dewasa yaa? kok baru tau. Itu bedak My Bubu di atas nakas buat apa? ngadon roti?" tunjuk Sintya tersenyum jahil.
Selome tak menanggapi. Bedak tersebut adalah kesukaan nya dari kecil hingga dewasa. Tak mengherankan jika berada di sekitar Selome, pasti akan tercium aroma bayi di mana-mana. Untung kebiasaan menggunakan minyak telon sudah bisa Silvery tangani saat pria itu SMA.
Meski penuh drama, namun sang ibu berhasil menghilangkan kebiasaan selome yang selalu membalur minyak telon di dada nya ketika habis mandi. Dan yang paling merepotkan, Selome selalu tak pernah bisa jika punggung nya juga tak di balur minyak wangi tersebut.
Sungguh kebiasaan sang kakek buyut Miguel kini di wariskan pada Selome. Miguel yang selalu menggunakan minyak nyong-nyong juga urang aring ketika akan bertemu klien wanita. Kini Selome meneruskan warisan menyebalkan tersebut. Untung saja hanya menyukai minyak telon dan bedak bayi. Jika Balsem Geliga maka lengkaplah sudah penderitaan penghuni satu rumah tersebut.
"Ini. Ingat, jangan sampai rusak atau kau harus mengganti nya dengan magang di kantor selama 3 bulan penuh tanpa di gaji." Ancam selome menatap serius pada sang adik.
Sintya melebarkan bibir nya kesal. Kedua kakak nya selalu saja mengancam jika dia meminjam sesuatu. Sang ayah selalu memberikan batasan apa saja yang boleh di beli agar mereka belajar menghargai arti setiap lembar rupiah yang mereka gunakan. Berbeda jika Silvery yang berbelanja, bagi Satya akan selalu kurang banyak.
Itu berhasil menciptakan rasa iri di hati anak-anak nya, meskipun tak serius. Namun Silvery Ibu tang bijak, selalu tau cara mengatasi setiap anak-anak nya dengan sabar. Wanita itu sudah terlatih menghadapi sikap posesif sang suami yang akut.
"Ya ya..aku ke kamar dulu, kakak tadi Kemana? kenapa cepat sekali kembali? padahal aku tadi mau minta tolong mengajak kak Mallika kemari, paman dan bibi sedang keluar kota beberapa hari ke depan." Celoteh Sintya membuat Selome kembali teringat akan kejadian tadi. Sungguh mengesalkan.
__ADS_1
"Dia sudah besar, sudah bisa mengurus diri nya sendiri. Sudah, lebih baik kau tidur sana. Dan ya, kurangi ngemil malam-malam Siti. Lihat badan mu sudah seperti sumo." Brakk!
Selome lekas menutup pintu kamar nya setelah melontarkan kalimat pemancing peperangan tersebut. Sedangkan Sintya menendang pintu kamar Selome dengan perasaan kesal. Gadis itu berteriak marah karena merasa di bully oleh sang kakak.
Satya yang akan ke dapur menatap heran sang anak bungsu di depan kamar Selome.
"Kenapa kau berteriak malam-malam begini Siti? kau bisa membuat kami semua tuli dengan suara cempreng mu itu. Ayo tidur, dan ya kurangi makan coklat. Apa kau tak berniat untuk diet? kasian mommy mu selalu berusaha keras membuat kan mu gaun agar kau tetap enak di pandang." Oh Satya. Kenapa malah menambah suasana menjadi seperti di neraka bagi gadis malang itu.
"Daddy jahat! kalian jahat!" teriak Sintya marah lalu menghentak kan kaki nya sembari berjalan menuju kamar nya. Gadis itu sesegukan karena merasa sedih, Silvery yang keluar melihat hal tersebut menjadi bingung.
"Ada apa dad?" tanya wanita itu ingin tahu.
Satya mengendikkan bahu nya.
"Aku hanya menyuruh nya kurangi makan coklat sayang. Tidak salahkan?" jawab Satya sepolos anak TK. Silvery menghembuskan nafas kasar. lalu bergegas menuju kamar sang anak untuk menghibur nya.
Alamat Sintya akan mogok sekolah juga makan hingga asam lambung nya kembali kumat.
Untung saja kamar tak di kunci, Silvery mengintip kamar yang samar-samar tersebut lalu melihat sang anak meringkuk di atas ranjang.
Dengan langkah pelan, Silvery menghampiri tempat tidur berwarna pink tersebut. Sebelum nya wanita itu menghidupkan lampu kamar Sang anak terlebih dahulu.
Setelah duduk di sisi ranjang, Silvery mengusap punggung sang anak dari balik selimut.
"Sayang? maaf kan daddy ya..daddy hanya tak tau bagaimana cara nya menunjukkan perhatian dengan cara yang benar. Maklum lah ya, para pria mana paham masalah internal para wanita. Mom rasa tak masalah sesekali kau makan cemilan kesukaan mu, mungkin sedikit di kurangi dan di beri rentang beberapa hari sekali akan lebih baik untuk kesehatan mu juga. Kau tau sayang? nenek mu sangat suka sesuatu yang manis-manis, hingga akhir nya nenek di vonis diabetes karena makanan kesukaan nya itu. Kau ingat kenapa jempol kaki nenek tak ada satu nya? itu karena di potong untuk menghindari infeksi menyebar ke bagian lain kaki nya. Bukankah penyakit itu sangat mengerikan? manusia yang terlahir sempurna, bisa di buat cacat dalam sekejap mata."
Sintya menyimak dari balik selimut tebal yang menutupi hingga kepala nya. Gadis itu membuka sedikit untuk memperlihatkan mata merah nya yang sembab karena menangis. Silvery tersenyum lembut lalu mengusap pipi bulat sang anak dengan sayang.
"Anak mommy yang cantik. Kenapa kau menyembunyikan separuh wajah cantik mu ini hmmm?" ucap Silvery lembut seperti biasa nya. Pasal nya Sintya hanya membuka selimut nya sebatas pangkal hidung.
"Wajah ku terlihat jelek saat aku berbaring mom...semua tertarik lemak dan membuat ku seperti adonan roti yang tergencet." Ucap Sintya pelan. Gadis itu menatap ke arah lain dari pada menatap sang ibu, yang jelas-jelas duduk di hadapan nya.
Silvery maklum dan tak mau membahas nya lagi.
__ADS_1
"Kau dari mana tadi, mom sempat melihat mu berdiri di depan kamar kakakmu." Tanya Silvery mengalihkan pembicaraan mereka.
"Aku meminjam kamera kakak untuk ku bawa saat persami nanti di puncak. Kamera ku tak terlalu bagus, aku masih terlihat gemuk saat di foto. Aku malu meng-upload nya di media sosial." Cerita Sintya nyaris berbisik di ujung kalimat nya.
"Ah benarkah? mom kira kau tak jadi akan ikut. Tapi tak apa, nikmati waktu kalian di sana. Perhatikan area 'yang kau jelajah, dan jangan lupa memakai sepatu khusus untuk bepergian ke daerah yang akan kau tuju." Nasihat Silvery mengingat kan.
Sintya pernah pergi berkemah namun gadis itu malah menggunakan sepatu dengan alas yang mudah membuat nya tergelincir.
"Baik mom, terimakasih karena selalu memahami ku. Aku menyayangimu mom..." ujar Sintya seraya memeluk tubuh mungil sang ibu.
Hingga suara deheman membuat suasana haru tersebut buyar seketika.
"Apa cuma mommy yang kau sayangi hmmm?" suara intrupsi bernada protes terlontar dari mulut Satya. Pria itu sejak tadi berdiri di muka pintu sambil mendengarkan kedua wanita nya berbagi kisah.
Dan di belakang nya ada pula Selome, pria itu merasa bersalah telah membuat adik nya sedih hingga memutuskan untuk meminta maaf. Namun terjeda kala melihat bagaimana sang ibu berusaha bersabar melunakkan hati sang adik tercinta.
"Maafkan kakak ya, kakak hanya bercanda. Kau cantik, tapi tak lebih cantik dari mommy." Seloroh Selome tersenyum jahil.
"Maaf kan daddy juga, daddy hanya tak mengerti cara nya menjadi orang tua yang bijak seperti mommy. Wanita ini selalu berada beberapa langkah di depan Daddy. Jadi daddy menjadi sangat manja karena nya. Apa kau memaafkan daddy sweetie?"
Sintya menatap sang ayah juga sang kakak bergantian. Kemudian mengangguk kan kepala nya lalu tersenyum manis. Selome lekas duduk di sisi sang adik lalu memeluk nya dengan sayang.
Silvery dsn Satya tersenyum haru melihat adegan tersebut, sungguh menenangkan jika anak-anak tumbuh dalam kasih dan saling menyayangi tanpa akhir.
Suatu kebahagiaan dan kebanggaan besar, bisa memberikan warisan kasih daripada harta yang bisa binasa. Begitu lah cara Satya dan Silvery mendidik anak-anak mereka, bukan dengan harta berlimpah ruah untuk di habis kan sesuka hati. Namun dengan saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cerita ini hanya berkutat tentang keluarga penuh keunikan ini saja yaa, kisah lain hanyalah cameo saja. Sebagai pelengkap alur agar tetap berjalan seimbang. Seperti empat sehat lima sempurna, begitu lah kira-kira 🤭🤭
Thanks sudah bertahan di novel remahan ini, semoga kalian semua sehat-sehat selalu. Tuhan memberkati 😇😇
Lope lope yang banyak buat para pembaca ku yang baik🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1