Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Teriakan seorang tawanan


__ADS_3

Setelah puas menatap Wira, Harland akhir nya buka suara. "Jadi sejak kapan kau mulai menyadari perasaan mu pada putri ku?" tanya Harland dengan tatapan mengintimidasi.


"Sejak pertama kali melihat nya di saat acara lamaran ku dan Resy dulu. Namun aku menampik nya karena tak ingin niat ku untuk bersama Resy terhalangi oleh perasaan yang salah. Setidak nya itu lah yang aku rasakan kala itu. Aku berhutang nyawa pada Resy, dan aku berniat membalas nya dengan menikahi nya. Bukan karena aku menyukai nya. Hati ku mulai terpaut pada Mishy setelah pertemuan itu, dan aku sengaja selalu bersikap ketus pada nya agar Mishy menyadari ketidaksukaan ku akan keberadaan nya. Namun rupanya perasaan itu tak pernah memudar, meski bertahun-tahun lamanya. Bahkan ketika aku menikah dengan orang lain, perasaan itu malah semakin kuat." Cerita Wira mengurai segala kisah perjalanan hati nya yang tak kunjung bertemu dengan sang pemilik sesungguh nya.


Harland menatap Wira dengan tatapan menyelidik, mencari kalimat dusta namun tak menemukan satu pun titik kebohongan di manik penuh harapan Wira.


"Bagaimana bisa Justin bukan putra mu, bukan kah umurnya baru 7 tahun dan kau sudah menikah 8 tahun. Itu artinya Justin hadir beberapa bulan setelah pernikahan mu?" cecar Harland.


"Benar tuan, namun aku tak pernah menyentuh ibu nya. Bahkan dari sejak aku terjebak dalam pernikahan itu, aku tak pernah menyentuh istri ku sama sekali. Aku berani bersumpah atas nyawaku, bagaimana seseorang yang tertidur pulas akibat obat tidur bisa melakukan hubungan tersebut." Ucap Wira tegas dan penuh keyakinan.


Rosy sejenak menatap ke arah Justin yang terlihat jelas sedang berpura-pura menulis sesuatu di buku gambar nya. Anak itu terlihat lebih gelisah dari pada Wira. Dia takut sang ayah kembali di tolak.


Rosy tersenyum samar melihat reaksi gelisah dari gesture tubuh Justin. Tak ada satu kemiripan pun antara Justin dan Wira, itu mengingat kan nya pada sang kakak. Bertahun-tahun membesar kan anak orang lain tanpa tau jika dirinya tengah membesar kan anak ular yang licik.


"Seperti nya sudah waktunya makan siang sayang, aku mulai merasa sedikit lapar. Bisa kah kita makan terlebih dahulu?" sela Rosy menengahi situasi tegang di hadapan nya.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Justin makan dengan lahap, Rosy terlihat sangat senang. Berkali-kali menambah porsi lauk di piring Justin.


"Ini enak sekali nyonya, apa bibi cantik juga bisa memasak seperti ini? pasti akan sangat menyenangkan makan makanan buatan seorang ibu, aku selalu memakan masakan bibi Sera sejak kecil. Ini pertama kali nya aku makan makanan buatan orang lain, selain buatan bibi Sera. Di rumah daddy kami masak sendiri, dan rasa nya sedikit membuat lidah ku kebas. Daddy seperti nya pecinta garam dalam porsi besar." Cerita Justin membuat Wira melotot sempurna. Pria itu bahkan tersedak makanan nya.


"Ck! kau bahkan selalu menghabiskan nasi goreng buatan daddy. Itu pasti karena rasanya enak." Protes Wira tak terima.

__ADS_1


"Aku hanya tak enak hati, lagi pula daddy sudah susah payah membuat nya untuk ku. Jadi ku mskan saja walau rasanya membuat ku hampir menangis." Sanggah Justin mengerling ke arah sang ayah.


Rosy tertawa renyah, dia suka anak seperti Justin. Pandai menempatkan diri dan tau bagaimana membuat orang lain tertawa.


"Kalau begitu kau masak saja sendiri mulai besok. Daddy tak mau lagi membuatkan mu sarapan." Ujar Wira merajuk.


"Baiklah, aku bisa meminta bibi cantik memasak nya. Rasanya pasti akan membuat ku semakin bersemangat untuk makan." Ujar Justin dengan tatapan meledek. Wira berdecih tak senang.


"Ada nenek yang akan membuatkan mu sarapan jika kau ingin. Dan rasanya pasti lebih enak dari buatan koki mana pun, lihat lah pria tampan di samping ku ini. Tak pernah mau makan selain masakan buatan ku, benar kan sayang?"


Harland mengangguk setuju, "istri ku sangat pandai memasak, tidak buncit saja aku sudah bersyukur. Wanita cantik ini selalu membuat ku kelaparan hanya dengan mencium aroma masakan nya dari kejauhan. Kau pasti akan ketagihan masakan nya nanti." Sambung Harland menimpali ucapan sang istri.


Wira menatap keharmonisan di seberang mejanya, sungguh penampakan yang sangat menenangkan hati. Pantas saja Mishy memiliki hati yang sangat baik, pasti didikan orang tua nya luar biasa dalam hidup nya.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Mishy menatap tumpukan paper bag dengan tulisan nama toko tempat barang tersebut di beli. Wira rupa nya memesan semua jenis oleh-oleh yang dia janjikan untuk anak-anak nya. Pria itu Merogoh kocek tak sedikit untuk semua itu. Wira bahkan membayar ekspedisi dengan bayaran lebih agar paket tersebut segera sampai sebelum Mishy keluar dari rumah sakit.


"Terimakasih" bisik Mishy pelan, meski tak ada Wira di sana.


Dengan perlahan, Mishy membuka pintu rahasia nya. Dia merindukan tawanan nya, sebulan tak mendengar wanita itu memaki. Apa Resy masih Resy yang sama, dia sangat penasaran. Meski Resy sudah lebih baik memperlakukan para pelayan di rumah nya, tetap saja Mishy masih meragukan nya. Bagaimana pun ular, berganti kulit tetap akan menjadi seorang ular.


Klek

__ADS_1


Resy mendongak dengan dada yang berdebar, entah lah. Sudah sebulan ini dia merasakan hal asing tersebut menyusup dalam hati nya.


Mishy masuk setelah berusaha menetralkan raut wajah nya. Berjalan pelan ke sana saja dirinya sudah merasa kelelahan luar biasa.


Resy menatap wajah pucat Mishy meski sudah di poles sedemikian rupa. Dia tetap merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan sepupu nya tersebut.


"Halo kak, apa kabar mu? ku lihat kau sedikit lebih berisi, sebulan ini kau pasti makan dalam porsi yang banyak." Kekeh Mishy mencair kan suasana.


Resy menatap datar sang sepupu dengan perasaan tak biasa.


"Kau rindu melihat tawanan mu ini? apa kau meledek ku sekarang, melihat tubuhku gemuk seperti sapi betina. Dan lihatlah tubuh mu, kau seperti sapi perah. Apa kau sedang diet ketat? ku rasa program diet mu menyesatkan, kau terlalu kurus dan tak menawan sama sekali." Sinis Resy namun jauh di dalam lubuk hati nya, dia merasa kan sakit yang tak dapat di jelaskan.


Mishy tertawa pelan lalu memilih duduk, kepalanya mendadak pusing.


"Kau benar, aku harus menuntut perusahaan yang memproduksi suplemen nutrisi untuk jenis dietku ini. Aku khawatir tak akan ada pria yang tertarik dengan ku nanti jika terlalu kurus." Mishy kembali terdiam, dia butuh minum sekarang. Berbicara panjang sedikit menguras energi nya


"Apa kau sudah makan kak? ini jam makan siang bukan? maaf jika aku mengganggu mu, tunggulah sebentar. Mia akan membawa kan makan siang untuk mu, dan ini, hanya oleh-oleh kecil untuk mu. Semoga kau suka, aku keluar dulu. Aku baru sampai tadi dan masih mengalami jet lag. Aku keluar dulu.." sesaat pintu akan tertutup sempurna, Mishy sudah tak lagi dapat menopang beban lelah di tubuh nya. Dan itu terlihat jelas oleh Resy yang terus menatap sang adik sejak dari ruangan nya.


Resy menekan tombol panggilan darurat nya namun tak kunjung mendapat kan respon. Itu karena dia terlalu sering mengerjai para pekerja di rumah itu, hingga mereka berpikir Resy pasti tengah mengerjai mereka kembali.


Resy berteriak meski tau ruangan nya Kedap suara, berharap celah kecil itu mampu mengantar suara nya tembus ke atas. Dengan keras Resy menarik pergelangan kaki agar mencapai daun pintu. Sayang batas rantai tak mampu mencapai pintu, wanita itu mulia frustasi. Dengan brutal Resy melukai kaki nya agar berdarah dan itu akan memudahkan nya untuk melepaskan kaki nya dari rantai tersebut. Setelah usaha keras, akhirnya satu kaki nya terbebas juga, meski meninggalkan luka tak kecil di sana. Resy sudah tak peduli.


Dengan usaha keras Resy berusaha membuka pintu tersebut, untung saja ujung sandal Mishy terjepit daun pintu ketika akan tertutup. Tangan Resy sudah hampir mati rasa karena terlalu kuat mendorong pintu geser itu.

__ADS_1


__ADS_2