
Setibanya di rumah, Sela menyambut putri sulung nya dengan senyum sumringah. Wanita itu begitu menyayangi Resy melebihi ketiga anak kandung nya sendiri.
"Sayang, kau baru pulang ? Ayo bersih kan dirimu, setelah itu kita makan siang bersama." Ujar Sela penuh perhatian.
"Baik ma, apa papa makan siang di rumah?"
"Seperti nya hari ini tidak, papa ada pertemuan dengan klien di luar. Barangkali langsung makan siang, hanya kita saja. Ayo, lekas lah mama tunggu di meja makan." Resy mengangguk patuh, Sela memberikan nya kasih sayang yang begitu besar dan tulus. Tak jarang wanita itu mencubiti salah satu anaknya yang lain kalau berbuat usil pada Resy kesayangan nya.
Karena Resy lah, wanita itu menikah dengan Roky. Sela jatuh hati pada Resy kecil yang tak banyak tingkah. Gadis kecil pengertian dan baik hati. Hingga ketika gadis itu meminta nya untuk menjadi ibu nya, Sela langsung menyetujui nya. Meski hati nya belum benar-benar terpaut pada Roky.
Namun kini kehidupan mereka sangat bahagia, dengan 3 orang anak di pernikahan mereka dan Resy si anak sulung kebanggaan Sela.
"Sayang? kenapa makan mu sedikit sekali? apa kau tidak enak badan?" tanya Sela cemas, sebagai seorang dokter Sela mengartikan berkurang nya selera makan sang anak karena sedang sakit.
"Tidak ma, aku baik. Hari ini pekerjaan ku di rumah sakit lumayan banyak. Aku harus memeriksa beberapa laporan, dan itu membuat ku sedikit pusing." Terang Resy menenangkan hati sang ibu.
"Oh, baiklah. Jangan terlalu di porsir, ingat sayang...kau akan menikah dua bulan lagi, perhatikan saja kesehatan mu. Urusan rumah sakit biarkan Azka yang menghandle nya. Itu guna nya dia menjadi asisten mu, bukan? jangan paksakan dirimu bekerja terlalu keras, kau bukan satu-satunya pewaris di sana. Ada Mylo juga Mishy. Ajak Mishy terlibat dalam pengelolaan rumah sakit, anak itu terlalu liar belakangan ini. Mama heran kenapa bibi mu yang galak itu tak kunjung meminta Mishy kembali. Hidup di luar negeri dengan profesi sebagai seorang model itu tidak terlalu baik. Mama khawatir adik mu terlibat pergaulan bebas, kehidupan barat sangat meresahkan." Tukas Sela panjang lebar.
Resy hanya menyimak, dia tak tau harus menanggapi apa. Kepergian Mishy tepat di hari pertunangan nya, sejak saat itu, Mishy sangat sulit untuk di hubungi. Mishy terkesan menghindari hubungan komunikasi dengan nya, entah apa kesalahannya pada sang adik sepupu.
__ADS_1
"Sayang? kau melamun lagi, istirahat lah di kamar. Mama akan membuat puding buah untuk mu." Resy tersenyum mendapat kan perhatian sebesar itu dari sang ibu.
"Makasih ma, maaf makanan nya tidak habis. Rasanya enak seperti biasa, hanya saja aku sedikit tidak berselera." Resy merasa tak enak hati pada ibu nya.
"Sudah, tidak apa-apa. Naiklah ke kamar mu, puding mu akan mama antar ke kamar jika sudah jadi." Resy mengangguk Samar kemudian mencium pipi Sela dengan sayang.
🤍🤍🥰🤍🤍🥰🤍🤍
Mishy menatap layar ponselnya dengan tatapan tak terbaca, dua tahun sudah dirinya tak pernah pulang ke tanah air. Rasa rindu pada kedua orang tua nya semakin menumpuk di dalam benak nya. Namun ada sesuatu yang terus menahannya untuk tetap berada di sana.
"Aku harap kau bahagia kak, jangan sia-siakan pengorbanan ku ini. Aku menekan sesak di dada ku untuk melihat senyum lebar mu di puncak kebahagiaan mu kelak. Semoga kau selalu bahagia dengan pilihan mu..." Mishy menekan tombol power of untuk mematikan ponsel nya. Itulah yang dia lakukan selama dua tahun ini. Setelah puas memandangi potret kebahagiaan keluarga nya di media sosial masing-masing, Mishy akan menonaktifkan fungsi handphone nya.
🥰🤍🤍🥰🤍🤍🥰
Wira meletakkan bangkai ponsel Nurma di atas meja kerja gadis itu. Nurma terlihat acuh pada tumpukan berkas yang menggunung di atas mejanya di sisi lain.
"Aku akan mengganti nya dengan yang keluaran terbaru. Ini kartu mu, terlalu kecil apa ini berfungsi dengan baik?" sungguh basa basi ala Wira tak membuat Nurma tersentuh. Kartu prabayar nya kecil? astaga! jadi pria itu tak tau jika semua ukuran kartu prabayar dan pascabayar sama saja? Ah dia lupa, CEO nya kan sultan. Mungkin tempat menaruh kartu pun pria itu tak tau dimana letak nya.
"Semua ukuran kartu sama pak, semua berukuran nano dengan panjang 12,3 mm dan lebar 8,8 mm. Jadi ukuran kartu rakyat jelata sama saja dengan ukuran kartu pascabayar para sultan seperti bapak. Jika ingin kartu yang berukuran besar, bapak bisa mencetak nya sendiri." Terang Nurma dengan suara datar namun sangat tenang. Tak ada emosi di wajahnya saat melihat ponsel Android nya berbentuk seperti baru akan di rakit. Berantakan tak berbentuk.
__ADS_1
"Kenapa pekerjaan mu jadi sebanyak ini?" hati Wira mulai was-was, niat mengalihkan topik malah matanya fokus pada tumpukan berkas di samping kiri meja Nurma.
"Oh ini? sudah saya pilah-pilih, tinggal bapak koreksi segala kekurangan yang ada di berkas laporan ini. Semua nya ada 17 berkas laporan, karena sebagian sudah saya antar ke ruangan bapak tadi. Silahkan di periksa, mau saya antar ke dalam? baiklah," tanpa menunggu jawaban dari Wira, Nurma mengangkat berkas berat itu dengan gaya elegan. Tak tau saja jika lengannya mulai terasa tak nyaman.
Wira bergegas mengekori langkah lebar Nurmala. "Nurmala... bisakah kali ini kau saja yang memeriksa nya? aku sedang tidak ada waktu untuk memeriksa berkas sebanyak ini sekarang." Ucap Wira dengan nada yang begitu lembut. Sungguh Nurma ingin muntah darah mendengar nya.
"Maaf pak, saya takut ada kesalahan jika saya tidak teliti. Lagi pula ini menyangkut banyak harapan umat manusia yang bekerja di perusahaan ini. Dan harapan itu terlampir dalam laporan ini. Jika sampai ada kesalahan sekecil apapun, maka ribuan karyawan di perusahaan ini akan mengalami dampak nya. Saya tidak bisa, maaf pak. Dan lagi ini jam makan siang meski sudah sangat terlambat, namun mengingat saya bekerja dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. Saya ikhlas menunggu mood bapak membaik, sampai bisa saya tinggal pergi ke ke kantin bawah."
Wira merosot kan tubuhnya di sofa, sungguh dia ingin melakban mulut sekretaris nya yang semakin hari semakin lanteh saja menggurui nya. Entah siapa yang bos nya, siapa yang bawahan nya.
"Aku juga lapar, Nurma. Pesan kan aku makanan, dan temani aku makan. Kau cukup menemani aku makan saja, urusan berkas itu biar aku yang mengerjakan nya sendiri." Ujar Wira mengiba. Senyum maut terbit di sudut bibir Nurma. Umpan nya kena, kan?
"Baiklah, kalau begitu saya pesan dulu ke bawah. Pinjam telepon bapak, mengingat kita berdua sekarang lebih kere dari pada gelandangan. Ponsel saja tidak punya..." Nurma bergumam kecil di ujung kalimat nya. Namun masih terdengar jelas oleh Wira.
"Aku sudah memesan ponsel baru untuk mu, jangan menyindir ku lagi." Ketus Wira tak suka.
"Eh? kenapa pak? tidak perlu lah buru-buru, kan masih bisa make telepon kantor. Gampang mah itu, tapi kalau bisa sebelum jam kantor berakhir, harus sudah ada." Nurma tersenyum kalem, membuat Wira mencebik jengkel.
🥰🤍🤍🥰🤍🤍🥰
__ADS_1