Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Merasa terancam


__ADS_3

Rere membasuh wajah nya setelah berganti pakaian, gadis itu berniat untuk mencari pekerjaan di restoran tak jauh dari kost nya.


"Semoga di terima. Amin." Doa gadis itu bergumam kecil.


Sementara di hotel yang baru saja Rere tinggalkan, terjadi ketegangan. Satya begitu murka saat tau gadis yang di cari oleh sang istri, malah di pecat secara tak terhormat hanya karena menghidangkan makanan untuk mereka.


"Hotel ini akan aku akuisisi, segera kosongkan ruang kerja jelek mu itu. Aku tak ingin masih ada barang rongsokan di sana saat aku mengambil alih hotel kumuh ini." Tegas Satya menatap nyalang pada sang pemilik hotel.


Pria paruh baya itu terlihat bergetar ketakutan, salah nya karena tak memeriksa buku tamu. Sehingga tak mengetahui perihal tamu agung tersebut yang datang menginap di hotel sederhana milik nya.


Sekarang suka tak suka, pria tak punya pilihan lain selain menyerah kan hotel nya pada Satya. Karena jika sampai pria itu bertindak, maka hotel kecil itu tak akan mendapatkan pengunjung sama sekali. Tak ingin rugi banyak, pria tambun itu memilih jalan aman.


Setelah semua berkas di urus, seorang wanita muda berjalan menghampiri Silvery yang tengah duduk di sofa ruang tunggu.


"Nyonya, apakah tenagaku masih di butuhkan setelah renovasi hotel ini selesai?" tanya wanita itu takut-takut. Silvery tersenyum ramah kemudian mengangguk.


"Tentu saja, tapi bisakah kau menunjukkan tempat tinggal Rere pada ku? aku berhutang pada gadis malang itu. Temanmu itu pasti kalang kabut mencari pekerjaan baru di luar sana." Ujar Silvery mengajukan syarat yang tidak lah berat bagi Wiwit.


Wiwit mengangguk cepat, hanya menunjukkan tempat tinggal Rere tak masalah bagi nya.


"Kost nya tak jauh dari sini nyonya, Rere biasa berjalan kaki saat pergi bekerja." Jawab gadis itu penuh semangat.


"Baik, setelah ini kau ikut bersama kami untuk menunjukkan tempat tinggal Rere." Wiwit kembali mengangguk. Senyum sumringah terlihat sangat jelas di wajah nya. Tak apa menganggur sebentar, dia akan mencoba mencari pekerjaan sampingan selama menunggu hotel tersebut di perbaiki.


Dia yakin pasti akan lebih banyak pengunjung jika semua fasilitas telah di perbaharui.


Di sebuah kamar hotel lain, seorang wanita terlihat kelelahan. Wanita itu adalah Sonya. Peluh bercucuran di tubuh nya, setelah beradu perabot dengan seorang pria muda.


Pria 26 tahun itu terlihat duduk di sofa sembari menyesap minuman kaya akan alkohol, yang sama sekali tak sehat jika di konsumsi dalam jumlah banyak. Senyum nya mengambang kala melihat saldo nya kembali menggunung.


Sebuah pelukan hangat melingkar di leher nya dari dari arah belakang.


"Aku mau lagi sayang" bisik nya dengan nada sensual. Si pria hanya tersenyum kemudian berbalik. Di raup nya bibir tebal wanita itu dengan rakus. Tak lama suara jeritan si wanita mulai memenuhi kamar itu. Permainan yang cukup kasar tersebut membuat Sonya sedikit kewalahan, namun tak berniat untuk menghentikan nya.

__ADS_1


Setelah satu jam berlalu, kedua insan fana itu mengerang panjang. Nafas terengah-engah menjelaskan jika permainan itu cukup panjang dan melelahkan.


"Kau hebat sayang, menikah lah dengan ku. Aku akan menjamin kehidupan mu sepenuh nya. Kau tak perlu bekerja lagi, cukup memuaskan ku di tempat tidur. Maka isi rekening mu tak akan pernah berkurang." Rayu Sonya melukis gambar abstrak di dada bidang si pria.


"Menikah bukan prioritas ku, Sonya. Kau tau itu. Aku tak suka terikat sebuah hubungan serius. Begini saja lebih baik, ketika bertemu maka hasrat kita akan naik berkali-kali lipat. Pernikahan itu membosankan, dan akan membawa dampak negatif untuk hubungan kita kelak. Aku tak suka perdebatan tak berarti dalam rumah tangga. Apalagi jika memiliki anak. Aku tak suka suara rewel para balita, berisik dan mengganggu." Tukas si pria lugas.


Sudah satu tahun, si pria menjadi penghangat ranjang bagi Sonya. Selama satu tahun itu pulalah diri nya harus siap mental dan stamina dalam menghadapi Sonya yang sedikit hyper.


"Baiklah, tapi jangan pernah mengkhianati ku. Kau terikat kontrak bersama ku selama dua tahun, jangan coba-coba menjalin hubungan dengan wanita lain." Kecam Sonya penuh peringatan.


Meski kecewa karena terus di tolak oleh partner ranjang nya, namun Sonya tetap bersyukur memiliki pria muda tersebut untuk memuaskan kebutuhan batin nya yang sudah semakin jarang dia dapat kan belakangan ini.


Penyakit gula sang suami simpanan, telah membuat sistem kerja kelakian nya mengendur.


Meninggalkan Kedua insan penuh peluh tersebut, Mallika terlihat tengah berkutat di dapur. Gadis itu ingin membuat makan malam kesukaan Selome.


Mallika masih terus terbayang wajah datar Selome pagi tadi, dan tak tenang selama pria itu belum menyapa nya diri nya dengan hangat.


"Masak apa Mallika sayang?" Silvery yang baru tiba setengah jam yang lalu, baru turun untuk membantu menyiapkan menu makan malam.


Tanpa pekerjaan akan membuat gadis itu kesulitan, belum lagi tak mendapat kan gaji juga pesangon sedikit pun.


Selama hotel masih dalam tahap renovasi, Rere akan bekerja di rumah nya untuk membantu ART di sana. Rere pun tak keberatan, namun Mallika merasa terancam. Rere terlihat cantik di mata nya, dia takut Selome akan berpaling arah.


Apa lagi gadis itu sangat ramah dan terlihat jelas jika Silvery sangat menyukainya.


Terdengar suara langkah kaki tegap dari arah ruang keluarga. Selome datang dengan paper bag di tangan nya. Rupa nya Silvery memesan beberapa potong pakaian di butik nya untuk Rere. Dan meminta sang anak untuk mengambil nya di sana.


"Buat siapa sih mom?" tanya Selome penasaran, sebelum sempat menjawab. Pekikan seorang gadis mengagetkan mereka semua.


"Kau?" ucap kedua nya bersamaan. Mallika semakin galau, melihat reaksi Selome yang seolah sudah mengenal Rere.


"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Silvery kepo. Tak sadar jika wajah Mallika sudah terlihat masam seperti terong asam.

__ADS_1


"Tidak!"


.


"Sudah!"


Kedua nya serempak menjawab membuat Silvery kebingungan.


"Yang benar sudah apa belum sih?" desak wanita itu gemas sendiri.


"Sudah mom, gadis ini yang membuat ku terkena tilang tempo hari." Ketus Selome menatap tajam pada Rere.


Rere terlihat meringis menahan malu, dia mengutuk diri nya kenapa harus membuat masalah, dengan pria yang merupakan anak dari orang yang telah menolong nya.


"Anu, nyonya. Sebenarnya hanya salah paham saja. Ya, benar, salah paham. Benar kan tuan muda?" ujar Rere memelas.


Selome membuang pandangan, dan tak sengaja menangkap ekspresi kesal di wajah Mallika.


Gadis itu tanpa pamit meninggalkan masakan nya yang bahkan belum matang sempurna begitu saja. Silvery tersenyum samar, dia tau Mallika pasti tengah cemburu melihat interaksi tersebut.


"Maaf ya Re, Mallika sedang kurang enak badan. Jadi sedikit pendiam, biasa nya anak nya heboh banget kalo sudah kenal dekat." Terang Silvery pada Rere yang hanya mengangguk paham.


Selome pamit untuk ke kamar nya, namun sebelum menuju kamar nya. Pria itu menghampiri kamar Mallika terlebih dahulu.


"Dasar laki-laki, di mana-mana saja. Playboy cap minya kapak!" Sungut gadis itu berdumel kesal. Selome tersenyum geli dari balik pintu, saking kesalnya Mallika sampai tak sempat menutup rapat kamar nya.


"Selamat bermain hati, gadis nakal. Kau harus menjalani hukuman mu sampai kau kapok berbohong lagi." Gumam Selome kemudian berlalu meninggalkan kamar Mallika.


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Kasihan banget ya si kecap manis, merasa posisi nya terancam dengan kehadiran Rere 🀭


Selome bakal jatuh hati gak sih, sama Rere si manis dari pulau Kalimantan itu😁😁

__ADS_1


Lope lope para kesayangan buna Qaya 🀍🀍🀍🀍


__ADS_2