
"Masuk lah Sima, tumben hari ini hanya pipi mu yang lebam? biasa nya bibir mu akan sobek dan hidung mu akan berdarah dalam jumlah banyak." Sima mendengus mendengar kalimat cemoohan sang tetangga.
"Hari ini aku memukul nya menggunakan cobekan batu seperti saran mu tempo hari, sebelum pria gila itu memukul ku lebih banyak lagi. Dan dia sedang tertidur pulas di lantai, aku tak kuat mengangkat tubuh nya yang penuh dosa itu. Jadi ku biarkan saja dia hingga terbangun sendiri nanti." Jelas Sima enteng, sedangkan Resy membeliak kan mata nya.
"Kau serius? ayo kita melihat nya, jangan-jangan suami mu sudah otw menuju akhirat akibat ulah mu itu." Resy menarik paksa tubuh Sima yang duduk cantik di sofa nya sambil menikmati stik coklat milik nya.
"Haiisss biarkan saja, jika dia mati aku bebas. Pria gila itu tak mau mencerai kan ku, tapi selalu menyiksa ku. Heran!" gerutu Sima berjalan malas menuju apartemen nya di sebelah.
"Ya ampun, Sima, untung saja dia hanya pingsan. ayo bantu aku mengangkat nya ke sofa itu." Oceh Resy kesal, kedua wanita itu mengangkat tubuh si pria ke atas sofa sudah payah.
"Aku malah berharap dia mati, kenapa hanya pingsan. Rekomendasi mu sungguh tak bermutu, harus nya kau bilang, pukul saja kepala nya menggunakan tabung gas elpiji. Bukan nya cobek kecil ini." Omel Sima kesal sambil mengangkat cobek Kecil nya yang sudah terbelah dua.
"Aku kan jadi tidak bisa membuat sambal lagi, kau harus mangganti nya nanti." Kesal Sima menyalah kan Resy. Resy mencebik tak suka, apa-apaan, dia yang memukul sendiri tanpa paksaan malah menyalahkan diri nya.
"Aku mau pulang, kepala nya sudah ku tempel perban. Sebaik nya kau berpikir untuk berpura-pura amnesia saja, agar nyawamu aman dari amukan suami gilamu ini nanti." Ujar Resy tersenyum jahil lalu melipir pergi dari sana.
"Ada-ada saja, dasar pasangan suami istri gila." Celetuk Resy mencuci tangan nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
__ADS_1
Tiga minggu pasca kejadian tetangga rese nya, Resy kini tengah menatap kue ulang tahun nya seorang diri.
"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun...Resy..Semoga kau panjang umur, agar kau bisa mengembalikan kebahagiaan banyak orang yang sudah kau rampas. Kau juga harus selalu sehat, agar tubuh mu berguna." Resy meniup kue ulang tahun nya dengan setetes air mata. Terakhir dia merayakan ulang tahun nya bersama Mishy, wanita itu membuat nya terjaga hingga sepotong malam karena menahan rasa lapar.
Rupa nya Mishy tengah menyiapkan kejutan untuk nya, wanita itu membawa kan nya sebuah kue ulang tahun yang begitu indah.
Resy tergugu memotong kue ulang tahun nya, kini dia merayakan nya seorang diri.
"Boleh kah aku mengharapkan keajaiban sekali lagi, aku lelah hidup dalam rasa bersalah ini."Ucap Resy lirih, wanita itu memaksa memakan kue nya dengan menahan isakan. Dia akan menghabiskan kue nya kali ini, berharap dengan menghabiskan nya, maka keajaiban itu akan datang menghampiri nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
"Wira? akhirnya kau selesai juga, aku sudah lama menunggu mu. Sekretaris mu selalu bersikap menyebalkan pada ku, kenapa tidak memecat nya saja? lihat pakaian nya sangat tidak pantas, dia pasti berniat untuk menggoda mu dari pada bekerja." Celotehan Sesil membuat denyut di kepala Wira semakin tak karuan.
"Kau ini bicara apa, lebih baik kau pulang. Aku sibuk dan suara mu berisik sekali." Ketus Wira tak bersahabat. Sesil adalah keponakan ayah tiri nya, wanita itu seorang model internasional. Setahun setelah kepergian Mishy, wanita itu pulang ke tanah air. Sang ibu mengatur perjodohan Wira dan Sesil meski tak sekalipun Wira menanggapi nya.
Namun sikap keras kepala dan tak tau malu yang di miliki oleh Sesil patut di apresiasi. Di tolak berkali-kali, maka wanita itu akan berkali-kali mendatangi nya seperti bayangan. Sungguh Wira sangat kesal.
Meski pertunangan tak pernah terjadi, wanita itu selalu menganggap jika diri nya adalah calon istri Wira. Dan berkeyakinan jika mereka akan menikah kelak. Namun hingga tiga tahun berjalan, hati Wira masih sekeras batu karang. Tak tertempa meski sudah di bom bordir oleh Sesil sedemikian rupa.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu bersikap ketus pada ku, bagaimana jika kita menikah nanti dan kau masih tak berubah juga. Kau membuat ku sakit hati Wira." Wanita itu memamerkan wajah sendu namun terlihat semakin menjengkelkan di mata Wira.
"Siapa yang mau menikah dengan mu? aku sudah pernah menikah dan juga mempunyai seorang putra. Dan aku juga memiliki anak-anak yang lain dalam hidup ku, jadi aku tak butuh wanita lagi. Apa lagi yang seperti diri mu." Tegas Wira lalu menuju kursi kebesaran nya.
Sesil kesal bukan main, wanita itu meraih laptop Wira lalu membanting ke lantai. Bertepatan dengan sekretaris Wira masuk, Yuni terbelalak melihat tingkah wanita itu.
"Astaga! apa anda gila nona?" sungguh Yuni tak habis pikir dengan wanita yang kelakuan nya sangat kekanakan tersebut.
"Diam kau dasar sekretaris sialan, keluar dari sini, ini urusan ku dengan calon suamiku." Teriak Sesil masih tak menyadari kesalahan nya. Wira menghampiri Sesil berniat memberikan pelajaran pada wanita itu. Namun Yuni lebih dulu bergerak.
Plak plak
Suara nyaring terdengar begitu merdu di telinga Wira, pria itu menatap sinis pada Sesil yang terlihat terhuyung ke belakang sambil menggenggam kedua pipi nya yang memanas.
"Bagaimana rasa nya tamparan ku nona? apa rasa nya seperti jahe merah pedas, atau cabe rawit di ulek mentah?" Ucap Yuni meledek. Dia tak ingin sang atasan melakukan kekerasan, maka dia lah yang bertindak. Dia tau Sesil menaruh kamera kecil di atas meja sofa di samping tas nya.
Itu bisa saja di gunakan untuk menekan sang atasan kelak. Dia hanya tak ingin bos nya terlibat skandal murahan dengan wanita sejenis Sesil. Wanita yang tak mempunyai rasa malu dan cenderung berbuat nekat tanpa peduli apa pun.
Aku akan melaporkan mu pada ayah ku, lihat saja nasib mu akan hancur setelah ini." Ancam Sesil meraih tas nya kemudian berlalu pergi dengan membawa kemarahan besar. Wanita itu masih terisak menahan rasa sakit di kedua pipi nya.
__ADS_1