Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Pasangan


__ADS_3

Dua orang duda dari satu wanita yang sama, kini tengah nongkrong di sebuah club malam. Awal nya Andre menolak, dia merasa malu jika hanya mengharap kan Harland yang mentraktir nya. siang tadi uang nya sudah dia gunakan untuk melakukan transaksi bisnis mobil bekas nya. Dan sekarang, hanya tersisa kurang dari 300rb di rekening nya. Beruntung uang di dompet nya masih utuh, Harland ternyata membayar makanan milik nya ketika dia sedang berganti pakaian di toilet.


Dengan uang itu, dia bisa membeli kan putri nya beberapa oleh-oleh. Tentu juga untuk Yola yang selama ini telah mencuri hati nya.


"Mas nya mau di temani tidak? Kami ada empat orang, mas bisa pilih mau yang mana. Two in one juga boleh..." Ujar seorang wanita penghibur dengan nada sensual yang menggoda. Wanita dengan baju kurung bahan tersebut duduk di sisi Harland sembari mengusap pelan paha pria tampan itu. Lalu satu wanita lagi mulai ambil bagian dengan duduk di sisi Andre.


"Aku anak baru mas, masih baru di pakai dua kali... Kalau mas nya mau, aku kasih setengah harga. Sisa nya bisa di atur kalau mau nambah ronde, aku suka sama mas nya..." Bisik si gadis mengusap dada bidang Andre.


Kedua pria itu beradu pandang, tak lama tawa kedua pria laknat itu menggelegar seperti geledek malam.


"Maaf banget ya mbak, bukan nya kita nolak. Mbak-mbak nya cantik-cantik dan menggoda, tapi...." Harland menggantung kalimat nya sambil menatap Andre penuh arti.


"Tapi apa mas? Masalah bayaran? Gampang mah itu, kalo tamu nya tampan seperti kalian...tidak di bayar pun oke, ya tidak girls.." ucap si wanita menyela. Dia terlalu gemas menunggu kalimat lanjutan dari mulut Harland. Kedua pria tampan itu tersenyum penuh makna.


"Tapi kami... Kami adalah pasangan, untuk itu kami tidak memakai jasa ladies. Paham kan, maksud nya?" Harland mengedip mata nya lalu meraih tangan Andre dan menggenggam nya erat. Andre meringis menahan sakit padahal tawa nya sudah hampir meledak. Harland melotot tajam penuh peringatan.

__ADS_1


Keempat wanita itu saling melempar tatapan satu sama lain. Kemudian bergegas pergi seperti sedang di kejar setoran kreditan. Mereka mendadak ilfil mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Harland, belum lagi jemari kedua nya yang saling bertautan. Tak tau saja, jika Harland tengah meremat jemari Andre agar pria itu tidak tertawa.


Setelah kepergian para wanita pemikat hawa na*f*su para buaya itu pergi. Tawa Andre meledak sekencang-kencangnya. Begitu pun Harland, tanpa peduli tatapan aneh para pengunjung club lain nya.


"Astaga! Ini kalau Evan sampai mengetahui hal konyol ini, aku jamin. Pria lapuk itu akan langsung mengompol di celana nya..." Ungkap Harland di sela tawa nya yang tertahan.


"Dan kau! Kenapa harus menggenggam tangan ku segala, apa kau begitu frustasi karena terlalu lama tak di jamah oleh wanita?" Tatapan sengit terpancar dari wajah Andre. Pria itu mendadak ngeri mengingat bagaimana cara Harland meraih tangan nya dengan gaya nya begitu kemayu.


"Cihh...aku masih normal yaa.." elak Harland tak terima. "Aku melakukan nya agar kita tidak terjerumus oleh lubang nikmat sesaat itu lagi. Aku jera, malu..aku tak ingin anak ku menanggung beban aib dari perbuatan buruk ku. Cukup di masa lalu saja aku menjadi pria brengsek. Sekarang tidak lagi. Meski berharap Rosy untuk kembali pada ku terdengar mustahil, aku akan berusaha untuk menjadi pantas untuk nya dan anak kami." Cerita Harland dengan nada lirih.


Sedikit banyak Andre sudah mengetahui sedikit kisah sahabat nya itu. Tentang anak yang belum pernah di lihat oleh Harland sama sekali.


Jadi lah sepotong malam hingga pagi, kedua pria itu berbagi cerita tentang kisah mereka masing-masing. Tadi nya Andre menginap di sebuah penginapan murah dua lantai. Namun Harland memaksa agar Andre ikut menginap di hotel di mana diri nya menginap.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹

__ADS_1


Mishy turun dengan langkah malas, hari ini mereka tidak bersekolah. Sabtu Minggu adalah hari yang paling menyebal kan bagi Mishy kecil. Namun tidak bagi Mylo. Hari libur adalah waktu yang berharga bagi nya. Karena bisa seharian memanjakan wanita kesayangan nya, Rosy sang ibu.


"Selamat pagi anak-anak mama.." Rosy menyapa kedua anak nya yang sudah lebih duduk di kursi masing-masing.


"Pagi ma.." Sahut kedua nya serentak. Jika suara Mylo terdengar bersemangat, maka berbeda dengan Mishy. Rosy tau arti wajah murung itu.


"Nyonya, ada surat..." Marta sang asisten kepercayaan keluarga Sanders tergopoh-gopoh menyerahkan amplop persegi panjang berwarna putih dengan logo sebuah rumah sakit.


Segera Rosy meraih surat tersebut lalu menaruh nya di dalam tas secara asal.


"Jadi, kids... Kemana kita akan menghabiskan waktu hari ini?" Rosy sangat lihai membuat situasi teralih kan dengan sempurna.


Sejenak Mishy terdiam lalu mulai mendikte agenda kegiatan mereka hari ini sesuai rencana yang sudah dia susun sejak kemarin sore. Mishy selain pandai beradu ketangkasan, gadis kecil itu juga memiliki kecerdasan sama seperti kakak nya di bidang teknologi. Mishy tengah meretas informasi tentang seseorang selama satu tahun belakangan ini. Tentu saja tanpa sepengetahuan sang ibu apa lagi kakak nya.


"Kenapa semua nya harus sesuai keinginan mu, apa pendapat ku tidak perlu di dengar." Mylo yang penurut kini mulai mengajukan protes. Mishy terlihat acuh, tanpa peduli dengan nada tak suka dari sang kakak. Dia punya misi untuk libur nya kali ini.

__ADS_1


"Memang nya kau ingin kemana sayang? Mungkin kita bisa berkunjung ke sana setelah atau sebelum kita ke tempat yang di sukai oleh adik mu. Tergantung seberapa jauh jarak tempuh nya, itu yang lebih dulu kita kunjungi. Bagaimana?" Rosy berusaha menengahi perbedaan pendapat kedua anak nya.


Aku ikut saja ma, asal mama senang aku tidak masalah." Mylo tersebut manis pada sang ibu. Rosy mengusap lembut kepala sang anak dengan hati menghangat. Pagi nya jauh lebih baik, setelah mencerna segala hal yang terjadi dalam hidup nya. Rosy akhirnya memutuskan untuk menelaah satu persatu konflik batin nya. Agar kelak tak menjadi bumerang bagi diri nya sendiri, maupun kedua anak nya.


__ADS_2