Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Rasa Bersalah


__ADS_3

Miguel yang tengah melakukan meeting terpaksa harus menghentikan meeting nya di tengah jalan. Clara masuk ruang meeting tanpa permisi dan mulai merengek perkara gaun pengantin nya.


"Maaf semua nya, meeting kita tunda besok. Terimakasih banyak atas pengertiannya." Ujar Miguel merasa bersalah, namun melihat kegalauan sang kekasih membuat nya terpaksa harus melakukan penundaan tersebut.


"Sayang, lihat tubuh ku..aku naik 5 kilo gram dan gaun pengantin ku tak muat lagi, kita akan menikah dua minggu lagi dan aku tak yakin bisa menurunkan berat badan ku secepat itu." Clara mulai mengadu segala kejadian yang menimpa nya di butik. Tentu saja dengan tambahan cerita yang tak sesuai kejadian sebenar nya.


Miguel terdiam, butik itu adalah milik ibu nya bagaimana bisa dia membeli nya dan menyerahkan nya pada Clara begitu saja.


"Sayang, ayo duduk dulu. Tenang kan dirimu, pernikahan kita masih dua minggu lagi jadi jangan terlalu panik. Kau tidak perlu melakukan diet ketat, aku suka kau apa ada nya. Dan untuk butik itu, maaf sayang, aku tak bisa membeli nya. Kau tau butik itu bukan butik sembarangan. Para artis dan model ternama banyak yang berlangganan di sana, arti nya butik itu cukup kompeten dan tentu nya memiliki kelas tinggi di mata klien nya. Aku...."


"Jadi kau keberatan membeli nya meski untuk kado pernikahan kita? Kenapa kau jadi perhitungan seperti ini pada ku?" Clara mulai terisak penuh drama, sungguh membuat Miguel dilema. Haruskah dia meminta nya pada sang ibu agar memberikan nya pada Clara. Toh Clara akan menjadi istri nya dan menantu sulung di keluarga nya. Butik itu pasti tak ada apa-apa nya bagi sang ibu yang sudah memiliki segala nya.


"Bukan begitu sayang, bukan soal harga. Tapi ada hal lain, tapi aku akan mencoba nya. Semoga saja pemilik nya bermurah hati dan mau memberikan nya pada kita. Sekarang jangan menangis lagi, aku tak suka melihat mu menangis seperti ini. Pulanglah, aku akan menghubungi jika aku sudah mendapatkan nya." Clara mengusap Air mata kepalsuan nya lalu tersenyum manis.


"Baiklah, maaf telah mengacaukan meeting mu sayang. Aku merasa bersalah," Clara menunduk sedih seolah dirinya memang merasa bersalah.


"Tidak masalah, hanya meeting evaluasi kerja. Bisa di lanjut kan besok saja. Sekarang pergi lah berbelanja untuk membuat mood mu membaik, calon pengantin harus selalu berbahagia bukan?" Bujuk Miguel kembali kemudian mentransfer sejumlah uang ke rekening sang kekasih.


Senyum Clara semakin mengembang sempurna. Wanita itu memberikan kecupan di pipi Miguel kemudian pamit pergi. Semua beban batin nya seolah lenyap begitu saja saat melihat nominal yang tertera di saldo rekening nya. Cukup untuk membuat nya melupakan gaun sialan itu.

__ADS_1


Miguel memijat kening nya yang berdenyut hebat. Perkara gaun saja Clara sampai mengacaukan meeting nya. Bagaimana jika mereka sudah menikah? Bisa-bisa kekasih nya akan membuat segala hal mudah menjadi rumit dalam hidup nya.


Teringat kata-kata bijak sang ibu ketika mereka selesai makan malam beberapa hari yang lalu.


Flashback


"Apa kau yakin dengan pilihan mu nak? Bukan apa-apa, pernikahan itu bukan hanya persoalan menyatukan dua raga. Namun juga dua keluarga, dua sifat, dua kepribadian, dua kebiasaan dan banyak lagi hal yang akan ikut serta dalam ikatan tersebut. Sebelum melangkah terlalu jauh, pikir kan lah dengan bijak segala konsekuensi nya. Pernikahan bukan untuk setahun dua tahun, namun untuk seumur hidup mu. Kau akan terbangun di pagi hari dan menatap wajah yang sama sepanjang hidup mu. Menikah lah dengan wanita yang bukan sekedar membuat mu nyaman, tapi juga membuat hatimu tentram saat bersama nya. Dengan begitu kau akan mudah untuk meraih kebahagiaan tanpa batas."


Sekelebat ingatan akan nasihat sang ibu seperti menubruk relung hati nya. Apa kah dia benar-benar mencintai Clara? Atau hanya rasa nyaman karena wanita itu selalu membutuhkan nya dalam segala hal. Dan dia merasa di butuh kan setiap saat.


Namun akhir-akhir ini bayangan wajah Charlotte yang malah menghantui nya sepanjang waktu. Entah karena rasa bersalah telah membuat wanita itu mati dengan cara yang tak terbayangkan oleh nya.


Charlotte benar-benar tipe sahabat sejati. Dan dia telah melukai gadis itu begitu dalam, ada sebersit sesal namun berusaha dia tepis. Itu pantas untuk anak seorang pembunuh.


Tak ingin larut dalam pemikiran nya yang mulai membanding-bandingkan kedua wanita itu. Miguel memilih kembali ke ruangan nya untuk melanjutkan pekerjaan nya meski sudah tak mood lagi bekerja.


"Tuan Miguel, maaf ada surat untuk anda." Ujar Gita sang sekretaris menghentikan langkah atasan nya ketika akan masuk ke ruangan.


"Dari siapa?"

__ADS_1


"Aku tidak tau, paket kilat khusus. Kurir tak mengatakan apapun, tapi aku tak melihat alamat pengirim nya. Hanya nama penerima nya, yaitu anda." Ujar Gita menjelaskan.


Miguel hanya mengangguk paham, "terimakasih, dan ya, tolong handle pekerjaan ku hari ini. Kepala ku sangat sakit, aku butuh istirahat. Dan belikan aku obat saki kepala di klinik bawah." Titah Miguel meminta tolong pada sang sekretaris.


Gita segera membuka laci meja kerja kemudian menyerahkan sekeping obat sakit kepala merk Panadol. Sejenak Miguel terpekur. Itu adalah obat yang selalu Charlotte bawa kemanapun untuk diri nya jika sewaktu-waktu jika migrain nya kambuh.


"Tuan Miguel? Anda baik-baik saja?" Tegur sang sekretaris heran melihat Miguel malah terbengong melihat obat di tangan nya.


Miguel menggeleng pelan kemudian meraih kepingan obat tersebut.


"Ini milik mu?" Tanya Miguel penasaran.


"Bukan, itu titipan nona Charlotte. Beberapa bulan yang lalu nona Charlotte menitipkan sekotak obat sakit kepala itu pada ku. Saat ku tanya, nona Charlotte hanya menjawab dengan candaan. Beliau bilang dia takut tak bisa lagi memberikan anda obat itu jika anda mengalami sakit kepala. Nona bilang dia tak ingin melihat anda menahan rasa sakit, karena beliau juga ikut merasakan sakit nya. Nona Charlotte benar-benar ahli bercanda." Terang Gita membuat lutut Miguel seperti tak bertulang.


Lekas Gita memapah sang atasan ke kursi nya.


"Aku akan membuat kan teh hangat untuk anda tuan, tunggu lah di sini sebentar. Jangan kemana-mana, takut anda pingsan saat saya ke pantry." Gita lekas meninggal Miguel yang masih merasakan sesak yang tiba-tiba seperti mencekik leher nya.


"Kenapa kau lakukan ini untuk ku? Kenapa kau selalu saja memberiku perhatian, apa kau berniat membuat ku hidup dalam rasa bersalah ini seumur hidup hah?" Gumam Miguel kesal. Kesal karena orang yang dia sakiti ternyata tak rela dirinya tersakiti. Namun dia begitu tega menorehkan luka yang sangat dalam untuk wanita itu.

__ADS_1


"Kau bahkan membelikan ku sekotak penuh obat sakit kepala. Apa kau sudah punya firasat akan ku lenyapkan? Jika benar, kenapa kau tak menghindari ku saja agar aku tak jadi melakukan hal buruk itu pada mu? Kenapa kau harus memenuhi takdir ku sebagai seorang pria bajingan?" Miguel terus bergumam dengan air mata yang mulai menetes. Entah air mata untuk apa. Yang jelas hati Miguel di landa perasaan bersalah yang amat sangat pada sang sahabat.


__ADS_2