Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Sikap tegas Satya


__ADS_3

Mallika terlihat baru saja menghubungi orang tua nya, sedikit senyum terbit di bibir nya. Silvery ikut tersenyum dari kejauhan melihat senyum manis di wajah gadis itu. Wanita itu kemudian menghampiri Mallika setelah membiarkan gadis itu selesai berbagi kerinduan dengan kedua orang tua nya.


"Apa kabar orang tua mu sayang?" tanya Silvery ikut duduk di kursi. Mereka kini tengah duduk di gazebo taman samping yang menghadap kolam renang.


"Mereka baik mom, mama titip salam untuk mommy. Mereka akan kembali lusa." Ujar gadis itu kembali tersenyum simpul.


"Ah benarkah? mom ingin menitipkan sesuatu kalau begitu, nanti mom akan menghubungi ibu mu." Balas Silvery menatap ke arah kolam renang.


"Mom?" Silvery menoleh lalu tersenyum lembut, dia tau Mallika akan mengatakan sesuatu. Dari nada suara yang rendah, gadis itu seperti sedang merasa bersalah untuk sesuatu hal.


"Ada apa sayang? jangan sungkan untuk bercerita pada mom jika kau rasa itu perlu untuk di katakan. Kau tau mom juga menyayangi mu, bukan? sejak kecil kau sudah seperti putri ku juga, jangan ragu untuk berbagi. Apapun itu, cobalah untuk tak memendam nya seorang diri. Kadang ada hal yang harus kau ceritakan, ada hal yang cukup kau sendiri yang mengetahui nya." Ucap Silvery lembut.


Mallika terenyuh, gadis itu merasa malu karena telah berbohong pada wanita baik itu. Wanita yang menyayangi nya sejak kecil hingga sekarang.


"Maafkan aku, mom. Semalam aku tak pergi ke rumah. Tapi aku pergi untuk menemui teman ku. Dia seorang pria, nama nya Geko. Rumah nya tak jauh dari rumah ku, hanya beberapa blok saja. Kami berencana akan pergi menonton semalam, namun urung karena aku tak enak untuk berpamitan pada mommy. Jadi aku pergi setelah makan malam dengan alasan mengambil barang ku yang tertinggal. Maafkan aku, mom. Aku tak akan mengulangi nya lagi." Lirih gadis itu menunduk dalam.


Hati nya merasa bersalah karena telah berbohong pada Silvery. Sedangkan Silvery tersenyum maklum. Dia tak marah, mungkin sedikit kecewa saja.


"Tak apa, berjanji lah kau tak akan melakukan nya lagi. Kebohongan sekecil apapun lama-lama akan menjadi sesuatu yang besar kemudian hari. Karena kadang satu kebohongan akan di timpa oleh kebohongan lain, dan akan ada kebohongan susulan lain nya untuk menutupi kebohongan-kebohongan kecil itu." Nasihat Silvery bijak.


Tak ada ekspresi marah atau kecewa yang di perlihatkan oleh wanita itu. Hanya ada kata-kata lembut dan senyum tulus. Mallika semakin di rundung rasa bersalah yang amat dalam.

__ADS_1


"Baik mom, aku tak akan pernah berbohong lagi. Terimakasih sudah memaklumi sikap kekanakan ku. Aku menyayangimu mom, seperti aku menyayangi mama kandung ku sendiri." Ucap Mallika berhambur memeluk Silvery. Kedua wanita itu berpelukan layak nya ibu dan anak yang sedang berbagi kerinduan.


Seseorang di balik pintu kaca menatap haru dengan mengukir senyum indah. Pemandangan yang sangat indah di mata nya. Langkah lebar nya kembali berbalik menuju pintu utama. Pria itu kembali memacu mobil nya setelah mengambil benda pipih nya yang tertinggal di atas meja makan.


Lain Silvery lain Satya. Pria itu nampak gusar oleh ulah seorang klien nya. Janji meeting di restoran biasa kini beralih di sebuah restoran hotel berbintang. Satya sungguh tak suka dengan sikap tak konsisten tersebut.


"Apakah anda sangat lapar nona? maksud ku bisakah kita meeting terlebih dahulu baru setelah itu kau makan sepuasmu. Waktu ku sangat berharga, kurang 20 menit lagi adalah jadwal istri ku menelpon. Aku tak suka membiarkan istri menunggu lama." Terang Satya dengan nada tegas.


Si wanita merasa tak suka dengan kalimat lugas tersebut, namun tetap mengukir senyum manis.


"Ah, maaf tuan Satya. Aku memang sedang sangat lapar, aku tak sempat sarapan tadi pagi. Penerbangan ku si delay hampir dua jam sebelum sampai ke kota ini. Tapi jika anda buru-buru, baiklah. Paling tidak minumlah sedikit saja agar aku tak merasa sungkan untuk menghabiskan makanan ku." Ujar wanita itu dengan nada halus dan lembut.


Satu menit berlalu Satya mulai merasakan gelagat tubuh nya yang tak biasa. Rasa gerah dan tatapan nya mulai tak fokus. Dalam penglihatan nya, wanita di seberang nya adalah Silvery sang istri tercinta.


Namun sadar jika istri nya adalah wanita rumahan, Satya berusaha untuk tetap sadar.


"Kau terlihat tak sehat tuan Satya, apa kau butuh beristirahat terlebih dahulu. Aku tak mengapa, kau bisa menyewa kamar hotel mumpung kita di sini. Anda terlihat berkeringat, aku akan memesan kan kamar atas nama anda. Bagaimana?" Tawar sang klien terlihat begitu peduli.


Satya mengibas kan tangan nya tanda tak perlu.


"Aku lebih baik pulang saja, meeting ini kita tunda sampai aku merasa lebih baik. Permisi!" si wanita kalang kabut, Bagaimana bisa Satya pergi begitu saja kala diri nya sedang dalam pengaruh obat perang*sang.

__ADS_1


"Tapi tuan .." Satya tak lagi mau menunggu, pria itu berlari kecil menuju elevator. Karena si wanita memakai sepatu hak tinggi maka pergerakan nya sedikit lamban. Hingga tak sempat menghalangi Satya untuk turun ke lobby hotel.


Dengan menghentakkan kakinya, si wanita berdumel kesal. Usaha nya untuk menjerat Satya gagal total. Padahal sudah di tambah kan sedikit dosis obat agar pria itu menatap nya sebagai sang istri. Namun Satya malah kabur di saat-saat yang sangat dia nanti kan.


"Awas saja lain kali, tak akan aku biarkan kau lolos begitu saja." Gumam wanita itu marah, lalu kembali ke restoran untuk membayar tagihan.


Niat hati ingin berbagi peluh dengan Satya kini hanya angan, pria itu memilih pulang dalam keadaan yang sedang membutuhkan belaian. Memikirkan Satya bercumbu dengan istri nya, membuat hati nya panas membara.


"Enak saja istri nya menikmati hasil usahaku. Lihat saja nanti, setelah aku mendapat mu. Istri keriput mu itu akan aku singkirkan ke neraka." Geram Sonya berjalan cepat menuju elevator, wanita itu terlihat menghubungi seseorang untuk melampiaskan hasrat nya yang tak tersalurkan.


Terlalu berangan akan di gagahi oleh Satya, berkahir dengan kekecewaan.


"Kamar 279, tidak pakai lama!" Sonya memutuskan panggilan sepihak setelah menghubungi seorang gigo*lo. Setiap datang ke kota itu, Sonya akan memakai jasa gi* go lo untuk menghangatkan tubuh nya. Memiliki suami berusia jauh lebih tua dari nya, membuat kebutuhan batin nya tak pernah terpuaskan.


Semua demi lembar cuan yang mengalir deras ke rekening nya setiap bulan, hingga Sonya memilih menjadi istri simpanan seorang pengusaha. Pria berusia lebih dari setengah abad itu menjadikan Sonya sebagai wadah menyemai bibit layu nya yang tak pernah jadi.


Terang saja wanita itu menggunakan kontrasepsi untuk menghalau bibit kecambah suami tua nya berkembang biak. Meski pun dirinya sangat terobsesi dengan kemewahan, namun mengandung akan merusak bentuk tubuh nya yang indah. Sungguh Sonya tak sudi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lope lope kesayangan buna Qaya 🥰🤍🤍🤍

__ADS_1


__ADS_2