
"Tapi kenapa nak? Apa uang yang papa berikan untuk jatah jajan mu kurang? Seharusnya nya kau hanya perlu mengatakan nya pada papa, kenapa malah bekerja. Apa ini alasan mu selalu terlihat letih di rumah?" Tanya Roky lembut, dia ingin menangis keras sekarang.
"Aku...aku..itu..aku hanya ingin memiliki sangu seperti teman-teman ku yang lain. Mama tidak pernah memberikan ku sangu sejak aku kecil. Aku..." Gisel kembali menangis, dia tak sanggup menerus kata-kata nya. Sedangkan Roky terhenyak di tempat nya. Sela tak pernah memberikan putri nya uang saku? Sejak kecil? Itukah alasan nya sejak TK Gisel selalu membawa bekal hingga SMA? Ya Tuhan... kenyataan apa lagi ini.
"Apa karena kau tak meminta nya sayang?" Tanya Andin mencoba menengahi situasi.
Gisel menggeleng pelan, gadis itu masih terisak di pelukan Andin.
"Kenapa?" Tanya Andin lembut. Sedangkan Roky hanya menyimak, sang anak tidak akan mau bercerita jika dia yang bertanya.
"Mama selalu bilang Gisel anak pembawa sial, seharusnya Gisel terlahir sebagai anak sulung laki-laki untuk papa. Bukan sebagai anak perempuan. Mama mengatakan jika mama sangat membenci Gisel dan berharap Gisel mati saja tertabrak mobil, atau celaka di luar sana. Mama sering memukul Gisel jika melakukan kesalahan, menghukum Gisel di gudang dan tak di beri makan. Mama bilang akan menjual Gisel jika berani mengadu pada papa. Gisel tidak berharga dan papa pun membenci Gisel walau tak melakukan apapun. Itu yang selalu mama katakan sejak Gisel masih kecil hingga sekarang..." Luruh sudah tangis Roky, begitu pun Andin.
Wanita gila macam apa yang tega melakukan hal sekejam itu pada anak kandung nya sendiri. Sungguh wanita yang mengerikan.
"Itu tidak benar nak, papa sangat menyayangi mu dan semua saudara mu tanpa terkecuali. Papa tak pernah membenci mu, kau permata hati papa sama seperti kakak dan kedua adikmu. Kau anak papa, bagaimana bisa papa membenci mu. Kenapa kau menyimpan nya seorang diri nak? Sejak kecil, ya Tuhaaann...mama mu benar-benar sudah gila." Geram Roky menekan suara nya.
__ADS_1
Pria itu terlihat seperti ayah yang sangat jahat dan suami paling bodoh di dunia. Di kendalikan oleh sang istri selama ini juga di bodohi soal salah satu anak nya. Sungguh dia tak menyangka, Sela yang selalu terlihat anggun dan lembut sebelum perkara yang menimpa Resy, adalah seorang monster menakutkan.
Wanita kejam tak punya perasaan terhadap anak kandung nya sendiri.
Gisel menatap nanar sang ayah yang terlihat syok dan frustasi. Dia tak tau apapun, yang dia tahu kedua orang tua nya tak mengharapkan nya. Dan untuk itu dia selalu belajar keras agar tetap bisa sekolah dan tak menyia-nyiakan kebaikan hati sang bibi dan kakak sepupu nya. Dia ingin membalas semua ketulusan ke-dua nya dengan menjadi seorang dokter sesuai harapan bibi Rosy nya yang baik hati. Wanita yang sangat dia sayangi melebihi rasa sayang nya pada sang ibu kandung rasa ibu tiri.
"Papa juga menyayangi Jihan dan Indri?" Tanya Gisel ragu-ragu. Roky mengerut heran mendengar pertanyaan sang anak.
"Tentu saja, kenapa kau bertanya sayang?" Roky sungguh merasa aneh. Putri nya seperti meragukan kasih sayang nya.
"Walau Jihan dan Indri bukan anak kandung papa?" Duarrrr!
"Apa maksudmu nak? Katakan pada papa, apa yang kau ketahui dan tidak papa ketahui..." Roky bahkan sampai berlutut di hadapan sang anak sambil menggenggam tangan mungil yang terasa kasar itu. Tubuh pria itu terasa bergetar was-was pada kenyataan yang akan dia dengar selanjutnya. Putri nya seperti menyimpan begitu banyak rahasia selain beban psikologis.
"Janji papa tidak akan memukul ku?" Tuntut Gisel mencari rasa aman untuk keselamatan nya. Roky mengangguk mantap, tentu saja dia tak akan marah apalagi sampai memukul anaknya sendiri. Dia tak segila itu.
__ADS_1
"Jihan dan Indri anak om Bram, yang selalu mama bilang sepupu mama dari kota S. Aku mendengar mama mengatakan pada om Bram di kamar, jika om Bram harus adil pada Jihan juga Indri. Karena mereka darah daging om Bram juga, sama seperti Indra dan Jelita." Oh para dewa langit, boleh kah Roky melubangi kepala istri nya sekarang juga.
Pria itu mengusap wajah nya kasar, bukan perkara sakit hati karena di khianati sedalam ini. Namun lebih ke arah kecewa, telah di bohongi selama ini. Pria itu tertawa hambar namun juga lega. Kini dia punya alasan yang kuat untuk menceraikan istrinya yang bak seorang pelakon handal. Wanita itu mampu bermain peran dengan begitu epik di hadapan nya. Sungguh dia tertipu berkali-kali tanpa merasakan kecurigaan sedikit pun.
Jihan dan Indri memang tak ada yang mirip dengan nya, namun Roky tak pernah berpikir jauh. Barangkali saja kedua nya membawa gen sang ibu lebih kuat dari pada dirinya.
Roky mencium lembut telapak tangan kasar sang anak, yang ternyata memiliki banyak bekas luka. Hati nya hati teriris perih. "Terimakasih sayang, sudah berkata jujur pada papa walau sedikit terlambat. Papa tidak akan marah, dan papa juga tidak akan mengatakan jika papa mengetahui nya dari mu. Kamu memang putri papa satu-satunya yang sangat papa sayangi. Anak papa yang baik hati, maaf karena tak menyadari jika anak papa begitu menderita selama ini. Papa akan menebus nya mulai sekarang. Papa janji." Roky meraih tubuh kecil sang anak ke dalam pelukannya. Lalu meraih Andin yang ada di sisi sang anak. Ketiganya berpelukan untuk sekedar mengurai segala perasaan yang berkecamuk.
Roky dan Andin akhirnya meminta agar pesanan mereka di bawa ke rooftop saja. Dia ingin sang anak makan dengan jumlah banyak, karena di rumah Gisel selalu makan dalam porsi kecil. Kini dia tau penyebab nya. Sungguh hati nya sangat sakit, memberikan makanan yang enak dan uang jajan yang berlimpah pada benih orang lain. Dan anak nya sendiri harus bekerja demi bisa menggenggam uang saku. Hati nya meringis pilu.
"Makan yang banyak, steak daging bagus untuk masa pertumbuhan. Apa kau tau, jika bibi mu selalu tak bisa makan tanpa daging? Heran saja malah papa yang terserang kolesterol tinggi. Padahal bibi mu yang begitu rakus memakannya." Gerutu Roky berceloteh pada anaknya.
Gisel tertawa lucu "itu karena bibi selalu menakar segala porsi makanan nya dengan benar, mama tak pernah melakukan nya untuk papa. Tak heran papa terlihat lebih tua dari paman Harland." Ledek Gisel yang sudah mulai bisa mencair dalam suasana hangat tersebut.
Roky mencebik tak terima.
__ADS_1
"Papa belum tua ya, lihatlah wanita muda ini masih mengejar papa dengan penuh damba. Artinya papa masih terlihat mempesona, gagah dan tampan." Sanggah Roky dengan senyum jumawa. Andin tersipu mendengar kalimat sang kekasih lalu mencubit pelan lengan Roky.
Sementara Gisel berpura-pura muntah udara melihat tingkah ayah nya yang seperti remaja jatuh cinta. Namun sisi hati nya sangat senang. Sudah lama dia tak melihat ayah nya bersikap sebebas itu dalam mengekspresikan perasaan nya. Dia harap wanita yang kini bersama sang ayah apapun status hubungan mereka, bisa membawa pengaruh baik dan kebahagiaan bagi ayah nya.