
"Maaf nyonya, tuan.. ini pesanan nya.." ujar sang waitress tak enak hati, karena telah merusak momentum keromantisan pasangan suami-istri tersebut. Setidak nya itu lah yang dia sangka.
"Terimakasih, tolong tambahkan pesanan istri ku.." Odion menyebutkan semua pesanan Maya.
"Kenapa memesan semua nya, aku hanya reflek saja. Sayang jika tidak habis di makan." Tutur Maya tak enak sekaligus malu. Dia memang hanya reflek, mungkin semacam ngidam. Dia tak benar-benar ingin memakan nya.
"Tidak apa-apa, nanti aku yang akan menghabiskan nya." Odion mengusap bibir Maya terlihat sedikit membengkak karena ulahnya.
"Maaf.." ujar Odion menatap manik teduh di hadapan nya.
"Untuk apa?" tanya Maya bingung.
"Bibir mu, pasti rasa nya kebas. Aku terlalu gemas, sampai lupa tempat." Kekeh Odion, membuat pipi Maya semakin memerah. Wanita itu mencubit perut Odion dengan keras.
"Auww sayang, baby lihat, mama mu mencubit papa. Sakit sekali..." adu Odion menunduk ke arah perut Maya, berbicara pada sang buah cinta yang belum mengerti apa-apa.
"Dasar tukang ngadu" desis Maya pura-pura marah. Dia hanya terlalu malu karena begitu mudah larut dalam kehangatan yang di berikan oleh Odion. Hormon sialan batin nya mengumpat kesal.
"Aku akan bersekutu dengan princess mulai sekarang, agar dia membela papa nya." Maya mencebik mendengar kalimat Odion.
"Dia akan menjadi sekutu ku, dia kan perempuan." Bantah Maya tak terima.
"Apa kau tak tau sayang, jika anak perempuan akan menduplikasi sifat dasar dan wajah ayah nya? aku harap putri ku juga begitu, meski jangan sifat ku. Dia harus lembut, sabar dan penyayang seperti mu." Pungkas Odion apa adanya, menatap Maya dengan segudang cinta di mata nya.
Selesai makan Odion berniat mengantar Maya pulang, dan dia akan menginap apapun cara nya. Namun panggilan dari sang ayah membuat nya urung.
"Ya pa..."
"Baiklah..."
__ADS_1
Riak wajah Odion terlihat berubah, seperti sedang mencemas kan sesuatu. Sangat tegang.
"Sayang, kita mampir ke rumah ku dulu ya... papa tiba-tiba ingin bertemu dengan ku, segera." Terang Odion menatap tak enak hati pada Maya yang mulai terlihat lelah. Mereka berkeliling minimarket cukup lama, hingga akhir nya mampir ke restoran tersebut.
"Aku naik taksi saja, tidak apa-apa. Kau pulang lah.." Odion menggeleng cepat. Dia tak rela Maya pulang sendirian.
"Papa ingin bertemu dengan mu juga.." Maya membulat kan mata nya.
"Kenapa?" tanya wanita itu mulai terlihat khawatir. Dia mengenal Mahesa dengan baik karena bekerja cukup lama di perusahaan Livi Permata Group.
"Tadi papa makan di restoran yang sama, dan lebih dulu pulang. Entah di mana aku papa duduk juga tak melihat nya di dalam. Tapi sekarang papa ingin bertemu dengan kita, mau ya." Mohon Odion mengiba. Maya terlihat berpikir kemudian mengangguk meski ragu.
Ada perasaan was-was ketika mendengar nama mantan chairman nya itu. Pria dingin yang tak banyak bicara, namun selalu tepat dalam bertindak.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷
Keringat dingin membasahi telapak tangan Maya, sejak mereka tiba, Mahesa belum membuka suara. Wanita itu duduk dengan di dampingi oleh Odion di samping nya. Pria itu merangkul bahu Maya agar tak merasa ketakutan. Dia tau Maya pasti sangat ketakutan sekarang, dia pun merasakan hal yang sama. Namun berusaha terlihat biasa saja di hadapan sang ayah.
Dengan tarikan nafas panjang, Odion mulai bercerita. Meskipun itu hal yang memalukan untuk di ceritakan, namun harus. Dia tak ingin sang ayah memandang buruk wanita nya.
Bug bug bug bug
Maya terjengkit kaget, saat melihat Mahesa menarik tubuh Odion sang mulai menghajar nya tanpa ampun.
Wanita itu histeris, melihat darah berceceran di lantai. Mulut, hidup dan telinga Odion mengeluarkan darah segar yang tak sedikit. Maya mulai ketakutan. Ada rasa tak rela melihat ayah dari bayi nya di lukai sedemikian rupa. Wanita itu beranjak lalu memeluk erat kaki Mahesa agar tak lagi memukul Odion.
Di sisa kesadaran nya, Odion tersenyum melihat bagaimana Maya menangisi nya. Dan memohon pengampunan atas nyawa nya pada sang ayah.
🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
__ADS_1
Suasana dalam ruangan perawatan Odion masih hening, setelah mendapat kan pertolongan di ruang tindakan IGD dan dipindahkan ke ruang rawat inap. Belum ada satupun yang bersuara, meski sekedar menanyakan duduk persoalan nya.
Namun melihat Maya di sana, dan situasi wanita yang terlihat hamil besar. Olsen sedikit banyak mengerti alur kemarahan sang ayah.
"May, makan lah dulu..." ujar Olsen penuh perhatian, pria itu membelikan makanan sehat untuk ibu hamil itu. Sudah 4 jam Odion belum juga terbangun. Dokter sengaja memberi kan dosis obat tidur agar Odion benar-benar beristirahat.
"Aku masih kenyang tuan.." tolak Maya halus, dia merasa canggung. Di sana ada Mahesa, dan pria paruh baya itu belum berbicara apapun pada nya.
"Kenapa masih memanggil ku tuan? seharus nya aku mulai terbiasa memanggil mu kakak ipar dari sekarang." Kekeh Olsen berseloroh. Suasana di dalam ruangan tersebut benar-benar mencekam. Olsen berusaha agar Maya tak tertekan, mengingat hormon wanita hamil yang kadang labil.
Maya hanya bergeming, dia tak tau harus senang atau sedih.
Tak terasa sudah pukul 7 malam, Maya baru saja selesai mandi. Wanita itu merasa gerah, apa lagi di baju nya ada tetesan darah Odion yang menempel. Untung dress hamil yang Olsen beli cocok untuk nya. Namun yang membuat Maya merasa malu, Olsen juga membeli kan nya pakaian dalam.
"Sa_sayang..." Maya yang baru akan menyisir rambut nya sontak menoleh.
"Kau sudah bangun? mana yang sakit? aku akan memanggil dokter..." Odion menahan tangan Maya agar tak Kemana-mana.
"Aku baik, aku hanya haus.." Maya segera memberikan minum dengan menggunakan pipet.
"Apa lagi? aku akan memanggil dokter dulu, sebentar saja." Ulang Maya masih sedikit menyimpan ketakutan nya karena kejadian tadi siang.
"Sebentar..apa papa menyakiti mu tadi?" tanya Odion was-was, terakhir dia ingat wanita itu memeluk kaki sang ayah. Dia khawatir ayah nya reflek menendang wanita nya. Sungguh dia tak akan rela.
Maya menggeleng kuat.
"Tidak. Ayah mu tak menyakiti ku, kau lihat tumpukan makanan itu? itu ayahmu yang membeli kan nya untuk ku." Maya menunjukkan tumpukan makanan khusus ibu hamil di atas meja. Odion tersenyum senang. Ayah nya rupa nya peduli pada wanita nya juga calon anak nya.
Klek
__ADS_1
Mahesa masuk dengan wajah datar.