
Meninggalkan Sela yang sedang dalam tekanan psikis karena memikirkan kedua anaknya yang memiliki otak pas-pasan.
Andin dan Gisel baru saja keluar dari salon ternama di mall tersebut. Setelah puas berburu segala kebutuhan wanita dan tak lupa membeli kan beberapa potong pakaian untuk Roky yang belakangan lebih banyak menghabiskan waktu nya di apartemen. Kedua wanita beda generasi itu memutuskan untuk melakukan perawatan di salon paling mehong di pusat perbelanjaan tersebut.
Andin pamit ke toilet meski tujuan nya bukan lah toilet. Kini Gisel tengah duduk di salah satu kursi yang tersedia di dekat salon tadi. Sambil memainkan ponselnya dengan logo buah tergigit.
"Hohohoo...lihat lah In, kakak kita yang tak di harapkan ini. Baru saja melakukan perawatan di salon mahal. Aku jadi curiga, jika dia sekarang menjadi gadis tak benar seperti kata mama. Mengerikan sekali." Ujar seorang gadis remaja berusia 13 tahun lebih itu.
Gisel menatap datar sang adik satu ibu dengan nya. Tak seperti biasa, gadis itu akan menunduk kan pandangan nya jika di tatap oleh Jihan.
"Apa dia bekerja sebagai sugar baby seperti kata mama kak? Aku jadi ingin cepat besar juga, seperti nya asyik bisa menghasilkan banyak uang seperti nya. Lihat kak, ini baju bermerek. Tas, sepatu dan aksesoris nya...ya ampun kak! Kau mulai tersaingi oleh anak pembawa sial ini." Timpal Indri memanasi sang kakak, gadis itu bahkan menjawil pakaian juga perhiasan yang tengah Gisel pakai.
Jihan menatap tak suka pada apa di pakai oleh Gisel. Dia tak suka di saingi, apa lagi oleh Gisel si anak yang tak di harapkan oleh ibunya.
"Aku akan mengadukan mu pada mama, dan lihat lah...kau akan berakhir di dalam gudang dan tak di berikan makanan apapun." Ancam Jihan menatap penuh kebencian pada saudari nya. Tangan terampil nya menekan nomor ponsel sang ibu, tak tau saja Jihan jika sebentar lagi dia akan mengantar kehidupan mereka ke titik paling rendah.
Sela menatap layar ponsel nya, melihat siapa yang kini tengah menghubungi nya. Meski dengan perasaan was-was namun saat melihat id pemanggil adalah putri nya, hati Sela langsung lega. Roky masih duduk di samping nya, ruang gerak nya terbatas andai saja yang menghubungi nya adalah Bram. Yang meski kontak nya sudah dia rubah menjadi nama istri pria itu, tetap saja hati nya tak tenang.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Roky lembut.
"Jihan, aku angkat sebentar..." Roky mengangguk pelan.
"Nyalakan pengeras suara, aku merindukan nya juga." Oh hati, Sela merasakan hati nya bagia bunga yang bermekaran mendengar kalimat tersebut dari mulut sang suami.
"Baiklah..." Sahut Sela dengan nada riang.
"Ya sayang...ada apa menghubungi mama? Apa pertunjukan mu sudah selesai?" Tanya Sela dengan nada lembut, persis seperti seorang ibu yang penuh kasih sayang. Roky hampir terserang diare karena nya.
"Aku sudah selesai pertunjukan ma.. apa mama tau, aku bertemu dengan siapa di mall ini?" Tanya Jihan membuat Sela merasa was-was. Apa mungkin mereka bertemu dengan Bram, pikiran nya mulai kacau kembali.
"Bukan ma! Aku bertemu dengan anak pembawa sial, Gisel! Apa mama tau, anak yang tak mama harap kan ini sedang melakukan perawatan di salon langganan kita. Dan ya, pakaian nya terlihat bermerek semua. Aku jadi yakin, kalau apa yang mama bilang itu benar. Gisel si anak pembawa sial ini menjadi seorang sugar baby om-om. Lihatlah, dia bahkan mengenakan kalung berlian yang waktu itu aku ingin kan. Bukankah itu harganya 1,4 M? Aku ingin mama menghukum nya di gudang seperti biasa, dan jangan memberinya makan apapun. Katakan pada papa jika anak sialan itu sedang menginap di rumah teman nya selama dia di hukum. Dan mama harus mengambil kalung nya untuk ku, aku tidak mau tau!" Klik
Di ujung sana tubuh Sela membeku, ponsel nya kini sudah beralih tangan. Niat ingin memutuskan panggilan sang anak, namun Roky sudah lebih dulu merebut nya. Ingin berteriak memperingati Jihan, mulut nya di sumpal telapak tangan lebar suami nya.
"Kau ibu yang luar biasa Sela. Ini alasan mu selalu melupakan Gisel. Ini alasan mu selalu mencari kesalahan putri ku itu. Aku benar-benar kagum padamu. Kau wanita paling rendah dan tak berperasaan yang pernah ku kenal. Aku kecewa pada mu." Kini Roky punya alasan untuk membongkar semua kejahatan sang istri. Dia tak mungkin mengatakan jika dia mengetahui kebejatan istri nya dari sang anak, hidup Gisel pasti tak akan baik-baik saja setelah nya.
__ADS_1
Flashback
Di sebuah apartemen sebelum mereka berangkat menuju mall.
"Kau yakin rencana ini akan berhasil sayang?"
"Kita coba saja dulu, Jihan ada pertunjukan fashion show di mall itu. Aku akan mengajak Gisel berkeliling sambil menunggu pertunjukan yang sesungguh nya dimulai. Aku akan mengatur langkah-langkah nya, di saat dan waktu yang tepat kami akan tampil di hadapan anak-anak mu itu. Dan kau juga harus bisa menahan diri mu di sana, jangan menunjukkan amarah dan rasa benci mu. Sela itu wanita yang cerdik, dia akan memanipulasi keadaan sedemikian rupa. Kau butuh alasan yang kuat untuk menceraikan nya, dan tentu kita harus mencari cara untuk membuktikan segala nya tanpa melibatkan Gisel di dalam nya."
Papar Andin merinci dengan sempurna segala rencana mereka hari itu. Meski sempat kesal mendengar Andin menyebutkan kata anak-anak nya untuk Jihan dan Indri, namun Roky tak mampu mengelak selama keborokan Sela belum terungkap.
"Baiklah sayang, aku percaya padamu. Ajak lah Gisel membeli apapun yang dia inginkan. Meski aku tak yakin anak itu akan memanfaatkan kesempatan yang kita berikan. Kau pilih lah yang menurut mu paling bagus dan cocok untuk nya. Dan beli lah gaun dengan warna senada juga kemeja untuk ku. Malam ini kita akan makan malam di rumah adik ku. Aku ingin merayakan keberhasilan kita walau masih abu-abu." Roky mencium pucuk kepala Andin sebelum mereka berangkat ke mall.
Jadi segalanya sudah di atur sedemikian rupa oleh Andin dan Roky. Roky sengaja mengulur waktu dengan basa basi yang membuat perut nya mual. Karena harus melakukan adegan memeluk wanita itu dengan perasaan terpaksa.
Mengatur target pertemuan Gisel dengan Jihan dan adik nya, membuat kedua memanas kala melihat penampilan Gisel yang berubah miliaran derajat. Dengan pakaian yang serba bermerek dan perhiasan mahal. Sejati nya kalung berlian tersebut bukan Roky yang membeli nya. Itu adalah hadiah kecil dari calon oma bagi Gisel, yaitu ibu nya Andin. Harga nya yang fantastis sempat membuat Roky hampir menolak nya. Namun Andin mengisyaratkan agar Roky tak menolak nya.
Wanita paruh baya itu sangat antusias menyambut Gisel sebagai cucu nya. Dia berencana akan membawa Gisel tinggal bersama nya dan Roy saat mereka sudah menikah nanti. Agar Roky dan Andin fokus memberikan Gisel adik.
__ADS_1
Flashback end