
Di balik pintu, diam-diam Noora mencuri dengar apa yang Paul ucapkan pada baby Naura. Hati nya menghangat sekaligus tersentuh oleh ketulusan Paul. Dia tau Paul begitu gencar mendekati nya selama lebih setahun ini. Hanya saja hati nya sulit untuk menerima uluran cinta seorang pria.
Bayangan di khianati terus membayangi nya. Untuk itu dia berusaha keras untuk menutup diri dari pria manapun. Namun kini, sisi keras hati nya sedikit melunak. Kegigihan Paul berhasil menyentuh relung hati nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Seorang gadis kecil berlari kecil membawa seutas pita yang di ikat kan ke sebuah balon berwarna merah muda. Langkah kecil nya terus menapaki anak tangga menuju lantai atas.
Sesampainya di depan sebuah kamar dengan pintu terbuka lebar, sejenak gadis kecil itu menghentikan langkah nya. Berusaha mengatur alur nafasnya yang tersengal-sengal.
Seorang pria dewasa menghampiri kemudian berjongkok di hadapan nya.
"Kenapa harus berlari, kau bisa terjatuh jika berlarian seperti tadi." Tegus sang ayah menasehati.
"Maaf daddy, aku hanya ingin memberikan balon ini pada Silvery. Tadi aku hampir tak kebagian, lalu aku ingat Silvery berpesan agar aku tak lupa membawakan nya balon berwarna merah muda. Jadi aku meminta nya pada nyonya Mely, lihat, aku mengikat nya dengan sebuah pita berwarna pink juga." Ujar nya menjelaskan dengan senyum lebar.
"Baiklah, daddy akan kalah jika berdebat dengan mu. Sekarang temui adik mu, dia terlihat murung karena tak bisa ikut hadir di acara ulang tahun teman mu. Hibur lah adik mu, okey?" Ujar sang ayah berbisik pelan di telinga sang anak.
Gadis kecil itu mengangguk paham, lalu berjalan perlahan menuju kamar adik nya. Di dalam sana terlihat berbeda dengan isi kamar nya. Terlihat beberapa macam jenis alat medis yang sudah tak asing di mata nya.
"Silvery Tinese Scout, di mana kau...aku si balon merah muda mencari mu..." Ucap gadia itu seolah tak melihat sang adik yang kini tengah duduk sedikit memunggungi nya.
__ADS_1
Selang oksigen senantiasa terpasang setia di kedua lubang hidung nya yang mungil. Juga beberapa kabel lain yang menempel di tubuh nya kecil nya.
Ranjang nya pun cukup istimewa, ranjang yang merupakan sebuah ranjang standar medis dengan beberapa tombol panel dengan fungsi masing-masing. Serta panel untuk mendekati fungsi organ tubuh nya. Sangat canggih, namun itu bukanlah ajang untuk pamer kecanggihan. Namun sebuah kebutuhan bagi gadis kecil tersebut.
"Aku tidak ada di sini, aku sedang pergi jalan-jalan menghadiri ulang tahun teman ku." Ucap nya ketus penuh nada sindiran.
Sang kakak hanya tersenyum simpul, dia tau adik nya pasti sangat sedih karena tak pernah menghadiri acara semacam itu.
"Sungguh? Aku malah menyesal telah pergi menghadiri ulang tahun teman ku. Apa kau tau? Makanan nya tidak ada yang enak. Kue ulang tahun nya terasa sedikit pahit dan hambar. Tidak ada permainan menarik, jika tau aku tak akan pergi. Tapi aku ingat adikku berpesan untuk membawa kan ku sebuah balon merah muda, maka aku sedikit terhibur karena nya. Sayang sekali, dia sedang jalan-jalan keluar. Tak apa, aku akan memberikan balon ini pada Jeky saja. Dia pasti suka." Ucap sang kakak terdengar begitu serius.
"Jangan! Itu milik ku.." seru nya dengan suara lirih.
Senyum sang kakak mengembang sempurna, lalu berjalan menuju ranjang sang adik. Dengan bantuan tangga kecil, gadis itu naik ke atas ranjang tinggi itu.
Dengan senyum malu-malu, sang adik menerima nya.
"Terimakasih " ucap nya dengan suara kecil yang menggemaskan.
"Sama-sama, jadi jangan ngambek lagi. Okey? Kau pasti akan bosan seperti ku jika terus menghadiri pesta ulang tahun yang membosankan. Tak ada yang lebih enak dari kue ulang tahun buatan mommy. Juga makanan nya, tak ada yang bisa menandingi cita rasa penuh cinta kasih yang selalu mommy buat untuk kita." Di balik pintu, dua pasang mata mulai memanas menahan bendungan ledakan dari sudut mata masing-masing.
Naura kecil telah tumbuh menjadi gadis kecil kesayangan keluarga mereka. Gadis berusia 6 tahun itu sangat menyayangi sang adik dengan segala kekurangan yang adik nya miliki. Silvery terlahir dengan kelainan genetik langka. Gadis kecil itu pula menderita kanker darah sejak berusia 1 tahun.
__ADS_1
Silvery berusaha 4 tahun, dua tahun lebih muda dari sang kakak.
Noora menikah dengan Paul setelah perjuangan panjang pria tampan itu meluluhkan hati nya. Mereka memutuskan untuk menjadikan Naura sebagai putri sulung mereka. Hubungan Noora pun mulai membaik dengan seluruh keluarga nya. Itu semua berkat Paul sang suami. Pria itu selalu punya cara unik untuk mengontrol emosi sang istri yang terkadang meluap-luap.
"Ayo kita turun, Julio dan Junior pasti sedang mencari induk semang mereka." Bisik Paul di telinga sang istri.
Noora mendelik tak suka dengan panggilan yang selalu Paul sebut. Sedangkan pria itu kembali memperlihatkan wajah tengil nya dengan senyum menjengkelkan namun juga terlihat begitu menawan di mata nya. Sial sekali, batin Noora mengumpat kesal.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Sejak kecil hingga dewasa, seperti nya berlari merupakan hobi gadis 24 tahun tersebut. Dengan masih menggunakan kebaya modern, yang telah dia robek agar bisa melangkah lebih lebar. Gadis itu berlari menuju ke sebuah ruang VVIP sebuah rumah sakit milik keluarga nya.
Toga juga piagam penghargaan atas prestasi nya, dia peluk erat untuk di berikan pada sang adik tercinta.
Setiba di depan kamar adik nya, gadis itu membuka nya dengan tak sabar.
"Tarraaaa...lihat apa yang aku bawa." Ucap nya dengan nafas terputus-putus.
"Astaga Naura! Kenapa dengan pakaian mu, kenapa bisa robek seperti ini? Apa kau tidak bisa jika tidak harus berlari setiap saat. Kau ini wanita, bersikap lah seperti seorang wanita." Cerocos Charlotte mengomeli sang cucu.
Naura hanya cengengesan sembari memamerkan gigi putih rapi nya.
__ADS_1
"Aku takut toga dan piagam ini basi nek, nanti tak akan enak lagi. Mumpung masih hangat aku ingin segera memberikan untuk adik ku." Naura membuka paper bag yang dia bawa, di dalam nya ternyata ada baju wisuda yang sama persis seperti milik nya. Gadis itu mulai memasang kan di tubuh sang adik yang terlihat bergeming di tempat tidur nya tanpa reaksi apapun.
Suara monitor ICU terus berbunyi bagai nyanyian pengingat waktu. Agar keluarga itu selalu berjaga-jaga, jika sang waktu telah tiba pada puncak penghabisan nya.