
Setelah memberikan sedikit polesan make up di wajah pucat adik nya, Naura mulai berpose di samping sang adik, dengan tangan Silvery dia genggam kan pada sebuah piala juga piagam di sisi lain. Seorang fotografer yang sengaja dia undang untuk mengabadikan momen tersebut, mulai mengambil gambar terbaik. Beberapa pose yang terbatas menjadi tantangan tersendiri bagi sang fotografer.
Semua keluarga menatap haru ketulusan Naura pada adik nya.
Sudah tiga taun Silvery koma sejak operasi terkahir nya. Hingga kini gadis 22 tahun itu tak kunjung terbangun.
Ruang VVIP itu sudah seperti rumah kedua bagi keluarga besar Sanders Pratama, juga keluarga Scout.
"Saya akan mengabari jika hasil nya sudah selesai. Aku jamin hasilnya pasti akan sangat memuaskan. Aku bertaruh atas lisensi profesionalitas ku." Ucap sang fotografer setelah sesi foto keluarga itu selesai.
"Terimakasih Herman, kabari aku secepat. Jika bisa, kirim kan aku beberapa foto saja, aku tak sabar ingin membagikan nya pada dunia. Jika aku punya adik yang luar biasa." Balas Naura tersenyum lebar.
"Baiklah, nanti malam aku akan mengirim kan nya pada mu." Jawab Herman kemudian pamit pergi.
"Kau lihat, aku telah menjadi seorang dokter bedah dengan predikat cumlaude. Mulai sekarang aku yang akan menangani proses operasi mu ke depan nanti. Dan aku berjanji, akan membuat kedua mata malas mu ini kembali terbuka. Kau akan menyesal jika terus tertidur, banyak pria tampan di luar sana. Mereka sedang mencari seorang gadis yang semua kriteria nya hanya ada padamu. Cantik dan sempurna. Jadi ayo bersaing dengan ku, mari berhitung, berapa banyak kau bisa membuat pria menangis keras karena penolakan mu." Ucap Naura menatap netra tertutup sang adik.
Hati nya perih melihat pemandangan itu, terlebih saat melihat sang ibu sering menangis diam-diam di sisi ranjang sembari melangit kan doa pada sang pencipta. Bukannya dia tak tau, jika Ibu nya sudah mulai menyerah. Menyerahkan nasib sang adik ke tangan dokter yang menangani Silvery. Naura menolak keras kala seluruh keluarga berembuk untuk melepaskan alat penopang kehidupan pada sang adik.
Dia tetap berkeyakinan, akan ada pendonor yang cocok dengan jenis penyakit langka adik nya. Meski diri nya pun tengah menggantung kan harapan kosong. Namun keyakinan nya begitu kuat jika sang adik pasti akan pulih kembali. Berdiri tegak dengan mengenakan baju princess dan sepatu kaca, yang selalu Silvery impikan sejak kecil.
__ADS_1
Tak ada lagi kursi roda, tak ada lagi selang oksigen, tak ada lagi detektor apapun yang menempel di tubuh nya. Hanya ada Silvery yang cantik dengan segala hal indah yang adiknya impikan.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Flashback
"Kau lihat gadis itu?"
"Dia?"
"Benar, dia putri mu. Cucu ku merawat nya dengan baik dan tentunya penuh kasih sayang." Air mata seorang pria menetes penuh haru. Gadis kecil yang sedang merayakan ulang tahun ke lima nya dengan penuh kemeriahan dan suka cita. Keluarga itu terlihat begitu tulus menyayangi putri kecil nya.
"Lalu kau lihat gadis kecil di atas kursi roda itu, menurut mu dia mirip siapa?"
"Noora... Paul..." Lirih nya bergumam pelan.
"Kau benar lagi. Gadis kecil itu bernama Silvery Tinese Scout. Putri sulung dari cucu ku Noora dan Paul Scout. Kau pasti terkejut bukan? Paul ternyata adalah anak dari seorang pengusaha kaya raya, yang menyamar sebagai seorang teknisi CCTV di hotel milik Noora. Kau tahu kenapa? Itu karena pria muda itu jatuh cinta pada cucu ku saat pertama kali melihat nya. Dan berkahir lah Paul menyamar menjadi seorang pemuda yang berusaha bertahan hidup di perantauan, agar tetap bisa makan dan mengenyam pendidikan."
Lexan terdiam, sungguh dia tak menyangka. Kini dia mengerti arti tatapan penuh kemarahan di mata Paul malam itu. Rupanya pria muda itu tak rela jika wanita yang dia cintai di sakiti oleh nya. Lexan tertawa perih. Begini rasa nya jika milik mu di sukai oleh orang lain. Sakit. Apalagi sampai di sentuh dengan bebas tanpa batasan.
__ADS_1
"Katakan pada Noora dan Paul. Terimakasih telah merawat putri ku dengan baik. Dan maaf telah melukai wanita sebaik Noora tanpa perasaan. Aku sungguh menyesali nya, bukan karena hidup ku yang sulit beberapa tahun terkahir ini. Namun aku sungguh menyesali segala perbuatan buruk ku di masa lalu." Ujar Lexan bersungguh-sungguh.
"Apa permintaan terakhir mu, Lexan? Kami akan mengabulkan nya sebelum membuat mu tertidur pulas untuk waktu yang lama." Lexan meneguk ludah nya susah payah. Begini kah rasa nya saat seseorang tengah menghadapi hukuman mati?
"Bolehkah aku melihat video putri ku lebih lama?" Itulah permintaan terakhir nya, sebelum para lansia itu mengirim nya ke neraka. Dia pikir setelah siksaan nya beberapa tahun lalu, itu sudah cukup untuk melunasi hutang sakit hati yang dia toreh kan pada Noora. Nyata nya para lansia itu kembali lagi satu minggu yang lalu dan kembali membuat hidup nya bagai di neraka.
Diri nya kembali di kurung di ruang bawah tanah di mana dulu pertama kalinya diri nya di sekap di sana.
Lexan harus menerima beberapa cambukan dari para wanita lansia itu. Entah kemarahan apa lagi yang membuat para wanita itu terlihat begitu bersemangat menghajar nya hingga pingsan berkali-kali.
Yang jelas terlihat jika ketiga wanita tua itu tengah melampiaskan semacam kemarahan besar pada nya. Ada gurat kesedihan di manik yang sudah tak bening lagi. Kesedihan yang teramat sangat dalam, seolah-olah para wanita itu sedang mencari sosok yang tepat untuk di jadikan objek sasaran empuk atas awan mendung yang bergelayut di mata para lansia tersebut.
Hari ini setelah semalam kembali tersadar, Lexan terikat di sebuah kursi besi yang dulu juga dia tempati dengan cara yang sama. Sungguh Lexan ingin minta di langsung di eksekusi saja, hidup nya sudah seperti mati dengan siksaan para lansia itu.
Lima tahun hidup nya dalam ketenangan walau berada jauh dari peradaban. Namun kini kembali terusik dalam ketakutan yang amat sangat luar biasa.
"Satu jam. Tidak ada kelonggaran waktu lagi, nikmati wajah putri mu dan tanamkan wajah nya dalam ingatan mu. Setelah satu jam, kami akan kembali. Jadi, nikmati waktu berkualitas mu selama satu jam penuh ke depan." Para lansia itu keluar menuju lantai atas. Meninggalkan Lexan dalam segala kekalutan hati yang begitu kentara. Pria itu ketakutan, jelas saja. Siapa yang tak galau jika jelas kematian mu sudah di depan mata. Begitu pula Lexan, sebrengsek-brengsek nya dia, namun hati nya masih terselip perasaan takut yang sama.
"Naura..nama yang sangat indah. Terimakasih telah merawat putri ku dengan baik dan penuh kasih sayang. Jadilah pribadi yang baik dan cintailah keluarga barumu nak. Jangan pernah menyakiti hati orang-orang baik itu, jaga lah adik-adik angkatmu dengan tulus. Jadilah sosok yang membanggakan, jangan pernah menorehkan luka yang sama di hati para malaikat dunia yang telah mengangkat mu dari lumpur kotor. Maafkan papa, hidup lah dengan baik nak." Lexan menyudahi sederet kalimat nasihat sekaligus kalimat perpisahan nya dengan sang anak.
__ADS_1
Namun beberapa detik kemudian, fokus nya teralihkan pada rekaman seorang gadis kecil yang tengah duduk di atas kursi roda. Wajah bulat nya dengan dagu sedikit lancip, terlihat menyimpan kesedihan mendalam. Lexan mengernyit, melihat tatapan mata yang terus tertuju pada kue ulang tahun bertingkat tersebut.
Ada perasaan tak biasa kala tak sengaja manik polos itu menatap kamera yang menyoroti nya, tatapan mata yang seolah menatap nya penuh harapan.