
Menyadari Lexan akan segera tiba di sana, Vira pun beranjak. Walau begitu berat meninggalkan sang nona dalam luka hati nya, namun kehadiran nya di sana hanya akan menambah luka itu semakin menganga.
Lexan rupa nya tak langsung kembali ke kamar, pria itu terlihat turun ke lantai bawah menuju restoran. Entah alibi apa yang ingin di lakukan oleh pria itu. Apa kah dia lupa siapa pemilik hotel tersebut? Mungkin terlalu banyak mengeluarkan energi nya bersama Savina, membuat kinerja otak nya mengalami kemunduran.
Elevator Lexan terlihat berhenti di lantai dua, lantai para staf juga ruang CCTV berada.
Setiba di raung utama menuju ruang CCTV, Lexan memberikan dua paper bag berlogo sebuah restoran cepat saji 24 jam.
Paul merasa heran, juga sedikit panik namun berusaha terlihat tenang dengan menanyakan keperluan Lexan ke sana. Meski sudah mengetahui nya, apa salah nya berpura-pura untuk mendalami peran nya. Posisi nya serba salah, maju kena mundur nyangkut sisi meja. Diam di tempat sambil bersikap santai, akan lebih baik untuk nya.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan Lexan? Saya tak menyangka akan di sambangi oleh pengantin baru dengan setumpuk makanan yang lezat. Apa ini semacam hadiah kecil dari sang pengantin pria." Seloroh Paul menutupi kegugupan nya.
Lexan tersenyum simpul, lalu mulai melakukan obrolan ringan hingga berakhir pada titik pembicaraan yang sangat serius.
Paul terdiam, rekaman itu masih ada hanya saja dia tidak mungkin dia menghapus nya. Tanpa tau jika Noora memiliki sambungan tersembunyi di laptop milik nya.
Melihat Paul yang terdiam, Lexan mengeluarkan amplop tebal berwarna coklat lalu menyelipkan nya di bawah sebuah buku.
__ADS_1
"Ayolah Paul, kau seorang pria bukan? Kau pasti mengerti akan kebutuhan pria dewasa seperti kita. Aku akan mengenalkan mu pada salah satu sahabat kekasih ku, kau bisa bermain sepuas nya tanpa rasa takut di kekang atau terikat. Mereka tak akan menuntut mu apapun, cukup penuhi liang nikmat mereka dengan cairan mu dan isi tas mereka dengan beberapa lembar bergambar pahlawan. Itu akan membuat mereka bungkam, namun juga men desah pasrah di bawah Kungkungan mu." Sederet kalimat frontal dari mulut Lexan membuat Paul ingin muntah seketika mendengar nya.
Di bawah meja, kedua tangan pria itu mengepal sempurna. Namun bibir nya tetap melengkung kan sebuah senyuman, seolah setuju dengan kalimat yang di lontarkan oleh Lexan.
"Aku akan menghapus rekaman nya tuan, jangan khawatir. Dan untuk tawaran anda , aku akan memikirkan nya nanti. Aku tak berpengalaman soal ranjang, aku takut akan mengecewakan dan membuat diri ku sendiri malu. Jika permainan ku tak mampu mengimbangi para wanita binal itu, bukankah itu akan menjadi momen paling memalukan, bukan?" Kekeh Paul berusaha terlibat dalam obrolan nyeleneh tersebut walau hati nya tak suka.
"Baiklah, kau sangat pengertian Paul. Sayang sekali, tak apa jika kau belum berpengalaman. Para wanita muda itu yang akan menuntun mu menuju puncak surga tanpa kau minta." Lexan tertawa setelah melontarkan kalimat yang semakin menjengkelkan di telinga Paul.
"Sekali lagi terimakasih tuan Lexan, anda selain murah hati juga baik dalam hal berbagi pengalaman. Suatu saat aku akan mencoba nya, tentu saja bersama wanita yang aku cintai. Pasti rasa nya akan terasa lebih nikmat, bukan? Anda pasti mengerti bagaimana rasa nya." Ekspresi wajah Lexan berubah pias, kalimat Paul seakan menampar nya telak.
"Cih! Kau akan akan berubah haluan dari prinsip hidup mu, setelah kau merasakan nikmat nya lubang sempit yang akan membawamu menuju dasar surgawi." Gerutu Lexan menuju elevator, kedua lutut nya sedikit lemas dan butuh istirahat sekarang juga. Savina benar-benar membuat nya tak bisa berhenti hanya dengan dua kali putaran. Gadis muda itu benar-benar mengagumkan dalam hal ranjang.
Senyum nya terus berkembang hingga tiba di depan pintu kamar pengantin nya. Lexan mengatur ekspresi wajah nya agar terlihat selelah mungkin. Dia tak mungkin menyentuh sang istri saat tubuh nya penuh dengan jejak percintaan nya bersama Savina. Itu sama saja bunuh diri.
Klek
Lexan masuk perlahan dan melihat sang istri tertidur meringkuk di kasur. Dan semua kelopak bunga yang dia lihat ketika pergi tadi sudah tak ada di sana. Apa Noora membuang nya? Apa wanita itu marah pada nya? Membuat Lexan mendadak ketakutan.
__ADS_1
Noora tidur tanpa menggunakan selimut, dan wanita itu hanya menggunakan lingerie transparan berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit nya yang putih mulus.
Lexan meneguk ludah nya berkali-kali. Jika hanya sekali pencapaian dia masih sanggup, tapi mengingat jika jejak kejahatan nya masih berbekas sempurna di beberapa bagian tubuh nya. Membuat nya urung untuk menikmati tubuh istri nya yang begitu menggoda dan tentu lebih sempurna dari tubuh Savina.
Pria itu memilih untuk menyelimuti tubuh Noora hingga sebatas leher. Sungguh diri nya tersiksa dengan pemandangan yang membuat jiwa kelakian nya meronta-ronta. Tiga kali pelepasan nya bersama Savina terasa masih kurang, namun Lexan tak memiliki keberanian untuk menyentuh sang istri yang sama saja mengantar nya pada tiang pancang.
Lexan memilih menuntaskan hasrat nya di dalam kamar mandi, meski tongkat baseball kebanggaan nya sudah mulia terasa perih. Namun melihat betapa tegang nya sang adik kecil tersebut, kala melihat ukuran dada sang istri yang selama ini selalu tertutup oleh pakaian nya. Mau tak mau Lexan harus bekerja sama dengan sabun cair di dalam kamar mandi.
Pagi tiba, Noora terbangun lebih awal. Wanita itu sudah terlihat cantik dengan dress yang dia temukan dalam kotak hadiah di kamar itu semalam. Entah kenapa dia tertarik untuk membuka kado tersebut. Di antara ratusan kado, hanya kado itu yang terlihat paling sederhana namun unik di mata nya.
Kado yang di bungkus dengan kotak kemas bekas sepatu merk Anak Tukang Tempe dan di taruh dalam kantung belanja berlogo indokaret. Dan di dalam kotak ajaib itu, ada sebuah dress serta kartu ucapan.
Sungguh Noora tersentuh, dan memutuskan untuk langsung memakai nya untuk menyapa pagi yang terasa begitu menyebalkan bagi nya.
"Cantik, terimakasih untuk dress nya. Siapapun dirimu, aku harap kelak kita bisa bertemu secara langsung. Aku ingin mentraktir mu makan siang sebagai ungkapan rasa terimakasih ku, atas dress yang sangat indah ini." Ucap Noora bergumam kecil sembari tersenyum manis menatap cermin.
Lexan masih tertidur pulas, terang saja, pria itu sepotong malam lelah memutar pulau dan benua bersama Savina. Si ja l ang kecil yang bahkan masih berseragam putih abu tersebut. Namun memiliki jam terbang yang sudah tak di ragukan lagi. Lexan yang setia pun, akhir nya di buat berpaling dari kekasih nya yang sempurna. Hanya karena di jepit lubang gatal milik gadis belia itu.
__ADS_1