Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Para Tameng


__ADS_3

Pagi menyapa, insan yang sejati nya adalah pasangan pengantin baru itu terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Nathan bersiap dengan baju kantor nya, dia tak berniat untuk mengambil cuti apapun.


Sementara Resy sibuk memoles wajahnya masih meninggalkan jejak tangan Nathan. Dia tak ingin memperlihatkan kelemahan nya pada sang ayah.


Sementara di meja makan, Roky lebih banyak diam dan termenung. Pernikahan putri nya tak membuat nya bahagia. Hal yang seharusnya di rasakan oleh setiap ayah, namun tidak bagi Roky. Pernikahan sang anak merupakan hasil paksaan dan tipu muslihat. Dia meraih malu, anak nya meraih kemenangan telah berhasil mencuri kepunyaan sepupunya sendiri.


"Pa?" Tegur Gisel, anak sulung Sela dan Roky.


"Ah, ya sayang? Ada apa?" Gisel menggeleng pelan, remaja itu menatap nanar sang ayah yang terlihat jelas tengah menyimpan banyak beban pikiran.


"Makanlah, nanti papa antar ke sekolah..." Titah Roky yang hanya di angguki oleh sang anak. Gisel memang berbeda, penurut dan tak pernah bertingkah manja. Anak itu terkesan sangat mandiri dan tertutup.


"Pagi ma, pa.." sapa Resy yang baru saja turun menyusul Nathan ke ruang makan. Sela menatap tak suka pada rambut basah sang anak. Padahal tidak terjadi apapun pada pengantin baru itu, Resy melakukan nya sengaja untuk memancing praduga keluarga nya. Bahwa Nathan telah dia kuasai sepenuhnya.


"Tumben keramas, biasanya rambut mu hanya akan kau keramas di sore hari setelah beraktivitas seharian." Tanya Sela penasaran, sekaligus memancing reaksi sang suami. Namun Roky hanya diam menikmati sarapan pagi nya, meski terasa seperti kerikil melewati tenggorokan nya.


"Biasalah ma, namanya juga pengantin baru..mama gimana sih, Resy kan jadi malu..." Nathan melengos mendengar kalimat tak tau malu tersebut.


"Aku bahkan tidur di sofa semalaman..." Ucap Nathan bagai tamparan di wajah Resy.


"Nathan! Hargai aku sebagai istri mu!" Seru Resy dengan suara lantang. Nathan acuh, kemudian pamit pada ayah mertua nya. Roky hanya mengangguk pelan, dia pun akan berangkat segera. Rumah nya sudah tak layak di sebut sebuah rumah. Terlalu banyak konspirasi di dalam nya, sulit untuk di terima dengan akal sehat.


"Sudah Gis? Papa ada meeting pagi hari ini.." gadis penurut itu mengangguk segera, kemudian meraih tas bekal makan siang nya. Itu dia lakukan sejak TK. Jika dulu di bantu oleh pelayan, sekarang dia menyiapkan nya sendiri. Tak ada yang tau, jika Gisel tak pernah di berikan uang saku oleh sang ibu. Selama ini Mishy lah yang membiayai biaya dadakan gadis itu. Karena yayasan pendidikan tempat Gisel menimba ilmu, adalah milik Rosy, jadi gadis itu tak perlu membayar nya. Namun untuk kebutuhan buku dan lainnya, mau tak mau Gisel harus memutar otak nya.


Dan berkahir gadis itu bekerja paruh waktu di restoran cabang milik Harland. Tak ada yang mengetahui nya, hanya Mishy. Lagi-lagi wanita itu menjadi malaikat penolong, bagi mereka yang membutuhkan bantuan tak terduga.

__ADS_1


Setelah semua orang pergi, Sela menatap tajam pada putri nya.


"Jangan rendahkan dirimu di hadapan pria seperti itu lagi, Resy. Kau tak pantas mengemis pada Nathan. Dia tak sepadan dengan keluarga kita. Ingat, jangan membuat cinta buta mu mengambil alih akal sehat mu. Dan mama berharap kau tidak mengandung benih rusak dari pria itu.."


"Stop ma..! Berhenti menghina Nathan, dia suami ku sekarang. Suka tidak suka mama harus menerima nya. Aku tak ingin mendengar mama menghina suami ku lagi, atau papa akan mengetahui siapa mama sebenarnya." Ancam Resy menunjukkan jari nya pada sang ibu dengan wajah penuh amarah.


"Cih! Demi pria rendahan itu kau berani melawan mama. Ingat Resy, kita punya rahasia yang sama besar nya. Jangan bermain-main dengan mama, jika kau tak ingin menyesali nya nanti." Tekan Sela menatap tajam pada sang anak.


Kedua wanita itu tanpa sadar telah menciptakan permusuhan, di dalam sebuah kesepakatan kerja sama yang toxic. Sungguh miris.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Semua karyawan menatap heran pada CEO mereka, sang bos baru menikah kemarin dan hari ini sudah pergi bekerja. Bukankah itu aneh. Berbagai spekulasi mengenai hubungan Nathan dan istri nya.


"Ya, aku setuju. Terlihat sekali wajah pak CEO tidak ada senyum sama sekali. Hanya sekedar nya untuk menyapa tamu undangan." Timpal seorang lainnya.


"Bukan kah selama ini pak CEO menjalin hubungan dengan model terkenal itu, kan? Mishy Pratama. Wanita hebat yang memiliki banyak butik dengan harga bersahabat di bagi kaum pecinta KWan seperti kita." Lanjut seorang lagi.


"Benar, aku berlangganan di butik nona Mishy di jalan XXC. Harganya bisa menyesuaikan dengan budget. Kemarin nikahan sepupu ku juga buat seragam nya di sana. Dapat diskon gede-gedean lagi, tapi bahan nya mantul tul tul tull dah pokoknya. Jadi banyak kerabat dan kenalan yang minta di rekomendasikan ke butik beliau. Orang nya ramah, cantik dan terlihat tulus banget sama orang walaupun baru kenal."


Masih banyak lagi selentingan kalimat penuh pujian terlontar untuk Mishy. Diam-diam Nathan menandai karyawan nya yang bisa dia percaya ke depan nya nanti untuk membantu nya terhindar dari sang istri. Astaga! Nathan ingin muntah kuning saat mengingat kata istri. Begitu menggelitik isi lambung nya.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Sang Surya sedang terik-teriknya di luar gedung perusahaan di mana Nathan tengah bernaung adem di dalam nya. Menikmati menu makan siang buatan sang kekasih dengan begitu lahap. Pria itu terlihat begitu kelaparan. Jelas saja, semalam dia tidak sempat makan, lalu pagi nya tidak sempat sarapan. Di tambah beban pikiran yang menunjang segala macam ketidak seleraan nya. Lengkap lah sudah.

__ADS_1


"Makan nya pelan-pelan, Tatan. Astaga!" Mishy mengelap bibir sang kekasih dengan lembut.


"Aku kelaparan sayang, sejak semalam aku belum makan apapun. Aku merindukan mu, ingin mengajak mu makan malam. Ponselku malah di banting wanita siluman itu. Mengesalkan." Sungut Nathan seperti seorang bocah yang mengadu pada ibunya.


"Lain kali perhatikan sekitar mu, aku tak mau membelikan mu ponsel terus menerus." Nasihat Mishy jutek. Nathan tertawa kecil, dia tau Mishy semalam pasti kesal padanya. Karena pesan terakhir yang baru akan dia balas, tidak pernah sampai. Sementara Mishy pasti menunggu dengan berbagai praduga pada nya.


"Maaf sayang, aku terlalu fokus pada pesan-pesan mu. Sampai aku tak tau kalau ada orang gila yang tiba-tiba membanting ponsel ku. Lagi pula aku sudah memberinya hadiah kecil. Stempel tangan dengan warna merah merona di pipi nya. Aku harap dia jera.." Mishy tercengang.


"Kau menampar nya?" Tanya Mishy tak sabar. Nathan mengangguk pelan, dia tengah sibuk mengenyangkan perut nya. Mishy membawakan makanan kesukaan nya. Ayam goreng yang sudah di iris tipis-tipis, tumis sawi dengan irisan jagung dan sambal terasi. Menu sederhana itu adalah favorit nya.


"Ya ampun, Resy pasti tak menyangka kau bisa melakukan itu pada nya. Lalu apa lagi yang terjadi setelah nya?" Desak Mishy mulai kepo. Semenjak bersama Nathan, Mishy sedikit berubah. Lebih ceria dan mulai cerewet. Kembali seperti Mishy kanak-kanak.


"Selanjutnya seperti ini..." Nathan memajukan wajah nya kemudian meraup bibir sang kekasih. Mishy terbelalak, namun segera terhanyut dalam permainan lidah yang Nathan lakukan. Kedua nya larut dalam ciuman hangat, tanpa tau jika di lobby sedang terjadi situasi yang panas membara.


Resy memaksa ingin bertemu dengan Nathan, namun para wanita bersekongkol untuk menghalangi nya. Mereka memasang badan ketika Resy berontak dan berteriak memanggil security. Namun tak ada yang membantu nya.


Para wanita bahkan memanasi Resy dengan mengatakan mereka pernah menjalin hubungan dengan sang CEO tampan. Dan betapa gagahnya pria itu di atas ranjang.


"Aku akan mengadu kan kalian pada suamiku! Camkan itu! " Ancam Resy menuding kan telunjuk nya pada satu persatu karyawan yang ada di lobby utama.


"Ngadu gih! Siapa takut! Sebelum menikah dengan anda dan berhubungan dengan nona Mishy. Pak Nathan itu kesepian. Jadi paham lah arah pembicaraan ini kemana. Kami bahkan pernah menjadi penghangat ranjang pribadi di ruangan pak CEO. Coba aku tebak, mbak nya pasti belum pernah di ajak ke sana bukan? Ckckckc... sungguh miris. Jadi jangan bangga bisa menjadi istri dari CEO kami, karena anda bukanlah wanita istimewa. Karena kami pun pernah di jamah manja oleh tangan kekar pak bos. Auuhhh..rasanya masih terasa sampai sekarang, geli geli nikmat staayyyy...!"


Sungguh ubun-ubun Resy bukan lagi mengeluarkan asap, namun bara api yang berkobar-kobar.


"Dasar kalian semua ja*l*ang! Kalian akan menyesal sudah berani berurusan dengan ku..!" Resy melenggang pergi membawa setumpuk kemarahan yang luar biasa. Niat hati ingin di kenal sebagai istri pemilik perusahaan tersebut, malah berakhir dengan mempermalukan diri nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2