
Resy terlihat tengah mematut penampilan nya di depan kaca rias. Wanita itu tengah berbahagia, bagaimana tidak? Kini pria yang dia perjuangkan hingga merelakan harga dirinya terjun bebas ke dasar jurang. Kini akan menjadi milik nya.
"Sudah nona, saya pamit keluar...ada yang ingin anda panggil, biar saya saja..." Tawar seorang MUA pada Resy yang sejak tadi sibuk menebar senyum penuh kemenangan, di hadapan sang kaca yang yang menatap nya jengah.
"Panggil kan ayahku.. katakan pengantin wanita nya sudah siap. Aku ingin pria tua itu mengantar ku ke altar pemberkatan." MUA tersebut tersenyum ramah, lalu pamit pergi.
"Jika aku yang melahirkan nya, sudah aku racun kau sejak baru berumur nol hari. Dunia tanpa mu pasti akan lebih damai sejahtera..." Gerutu sang perias pengantin dengan raut wajah kesal.
Merias Resy lebih sulit daripada merias artis internasional. Ada saja yang salah, kurang dan terlalu berlebihan. Ingin sekali si perias mengganti makeup nya menggunakan serbuk arang dan baking powder. Sungguh menyebalkan.
"Permisi..? Saya mencari ayah mempelai wanita, di mana saya bisa menemukan nya tuan?" Tanya si perias dengan nada ramah. Hatinya boleh dongkol tapi dia tak lupa, jika honor nya belum di transfer.
"Sebelah sana nona, pria tampan yang menggunakan jas berwarna biru navy itu.." tunjuk seorang pria yang baru saja di tanyai oleh sang perias.
"Oh, oke... terimakasih banyak tuan.." bergegas meninggalkan si pria tampan itu, dia lebih tertarik pada bunyi nit niitt di handphone nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Nathan terlihat lesu, tak bersemangat untuk melakukan hal paling menyebal kan dalam hidup nya. Namun kehadiran Mishy di sana membuat hati nya kembali kuat.
"Ayolah Tatan, semua orang sudah menunggu di bawah. Mempelai pria harus nya berada lebih dulu di depan altar pemberkatan pernikahan sebelum mempelai wanita nya. Jangan membuat papa Roy malu, aku akan tetap di sini menyaksikan hari bahagia mu." Ujar Mishy terus membujuk, tawa kecilnya seperti sedang meredam buncahan yang tak mampu terurai dengan kata-kata.
Nathan mencebik mendengar kalimat terakhir Mishy.
"Ini hari paling sial dalam hidup ku, aku mencintaimu dan aku harus menikahi ja*l*ang itu. Kenapa rasa nya ini tak adil untuk ku? Tolong tunggu aku, jangan buka hatimu untuk pria manapun. Sungguh aku tak rela, jika kau sampai melakukan nya, di detik itu juga aku akan mengakhiri hidup ku ini. Ingat itu sayang, sebesar itu rasa cinta ku padamu." Nathan menatap Mishy dengan setumpuk harapan agar tak di tinggalkan.
Mishy tersenyum lembut, mengelus pelan pipi pria tampan di hadapan nya dengan penuh ketulusan. Dia akan menunggu, selama Nathan masih menginginkan nya. Anggap saja dia bodoh, menanti suami orang lain bukanlah hal baik. Namun salah kah hati nya? Hati Nathan? Mereka di pisah kan secara sengaja oleh seseorang yang berhati jahat seperti Resy.
__ADS_1
"Pergilah, aku akan menunggu mu sampai kau sendiri yang melepaskan ku pergi. Ayo, aku akan mengantar kekasih ku menuju pintu neraka." Canda Mishy berusaha mencarikan suasana.
Nathan pun ikut tertawa. Benar, selangkah lagi hidup nya akan benar-benar seperti di neraka.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Mishy menatap nanar ke arah pelaminan, dua mempelai yang tengah menyambut beberapa tamu undangan. Resy rupa nya tak bisa di percaya, wanita itu mengundang seluruh kolega juga karyawan di rumah sakit keluarga Sanders.
Juga menyebar undangan elektronik pada rekan-rekan bisnis sang ayah tanpa sepengetahuan keluarga nya. Begitu pun dengan beberapa kolega Nathan, wanita itu dengan lancang mengirimkan beberapa undangan. Alhasil, pernikahan yang sejati nya di gelar sederhana dan hanya di hadiri oleh beberapa kerabat. Kini berubah menjadi begitu pesta yang meriah.
Mishy tersenyum miris, Resy rupanya ingin memperlihatkan pada dunia jika Nathan adalah milik nya. Beberapa karyawan Nathan yang sudah mengenali nya, menatap iba pada wanita baik hati itu.
"Boleh aku duduk di sini?" Mishy mengalihkan tatapan mata nya, menatap objek yang kini tengah berdiri persis di hadapan nya.
"Di sana masih banyak kursi kosong, kau bisa memilih kursi mana yang kau ingin kan." Jawab Mishy tanpa keramahan. Wira tersenyum masam, dia di tolak. Lagi dan lagi.
Mishy beranjak tanpa mengucapkan apapun, Wira menatap punggung kecil Mishy yang dia sangka sengaja menghindari nya. Benar memang, hanya saja kali ini Mishy ingin melunakkan hatinya sendiri yang sedang tak baik-baik saja.
"Apa kau tengah meluapkan kemarahan mu pada putri ku, Mishy?" Mishy tersentak, namun berusaha tetap menjaga image nya.
"Aku sedang sangat lapar bibi, dan makanan ini terlihat begitu menggoda untuk ku lahap semua. Lagi pula Tatan ku pasti sudah mengeluarkan uang tak sedikit, untuk membiayai pernikahan yang tak di harapkan nya ini." Balas Mishy tersenyum simpul, senyum yang membuat harga diri Sela serasa tertampar keras.
Dirinya memang meminta sejumlah uang pada Nathan dan ayah nya, Roy. Tapi dia tak menyangka Mishy akan mengetahui nya.
"Bukankah sudah sepantasnya begitu? Calon mempelai pria memang harus melakukan pengeluaran budget yang tak sedikit jika ingin di pandang sebagai menantu seorang Sanders." Ucap Sela pongah. Dia merasa di atas awan sekarang telah berhasil memojokkan Mishy.
Mishy kembali mengumbar senyum manis.
__ADS_1
"Sayang sekali, Nathan sama sekali tak menginginkan pernikahan ini apalagi menginginkan putri mu. Bisa ku pasti kan, hidup Resy tidak akan sebahagia ekspektasi nya. Itu karena barang rampasan, kelak akan kembali pada pemilik yang seharusnya. Dan lagi, apa yang bisa di banggakan dengan menyandang nama seorang Sanders. Jika kekuasaan Sanders bahkan tak ada seperempat nya dari apa yang di miliki oleh ibu ku. Dan ya, ibuku menghasilkan semua nya dengan bekerja keras seorang diri, bukan hasil mencurangi suaminya sendiri atau membanggakan sebuah warisan keluarga."
Setelah menyampaikan kalimat sambutan secara pribadi pada sang bibi, Mishy melenggang pergi dengan senyum kepuasan. Nathan terus memperhatikan interaksi Mishy dan mertua nya yang terlihat sedikit tegang. Senyum nya terbit saat melihat Mishy pergi dengan senyum kemenangan. Dia tau Lily nya bukan wanita lemah.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
"Nat tolong buka kancing gaun ku..." Pinta Resy memunggungi Nathan yang tengah berbalas pesan dengan Mishy di ujung ranjang. Nathan menatap kemudian berjalan menuju pintu, membuat Resy tersenyum senang. Dia pikir Nathan akan mengunci pintu dan memulai ritual pengantin baru.
Namun sayang, pria itu malah keluar dan memanggil seorang pelayan wanita. Resy menatap geram pada Nathan yang acuh, pria itu bahkan tersenyum tak jelas menatap layar ponsel nya. Dengan amarah menggebu, Resy menghampiri Nathan lalu merebut ponsel pria itu.
Brakk
Ponsel malang itu kini terlihat menyedihkan di lantai. Nafas Nathan turun naik meredam emosi nya. Di tatapnya wajah wanita yang begitu memuakkan di hadapan nya dengan nyalang.
Plak
Resy terhuyung ke samping dan hampir terhempas ke lantai jika saja tak berpegang di sandaran sofa. Telinga nya berdengung nyaring, pipinya terasa panas. Nathan menampar nya dengan kekuatan maksimal.
"Kau! Berani Menampar ku hanya karena ponsel mu, hah?!" Teriak Resy tak terima, air mata nya sudah mengalir menganak sungai.
"Ya! Kau benar, bukan hanya tentang ponsel saja. Tapi tentang semua hal yang berhubungan dengan ku, aku tak sudi kau menyentuh nya! Camkan itu! Kau boleh memiliki ragaku, tapi tidak dengan hati ku. Kita tunggu sebulan lagi, aku kan menceraikan mu! Hidup dengan mu adalah musibah untuk ku, dasar ja*l*ang sialan!" Seru Nathan menggebu-gebu. Kilat kemarahan di mata Nathan membuat nyali Resy menciut.
Dia tak menyangka, Nathan bisa sekasar itu pada nya. Dia pikir Nathan akan melunak setelah berhasil dia jerat. Namun dia salah, Nathan telah berubah. Pria lembut dan penyayang itu telah memiliki tambatan hati untuk di curahkan segala kasih sayang nya.
Nathan mengambil bantal dan selimut lalu mulai membaringkan tubuh lelah nya di sofa. Dia masih menghargai Roky di rumah itu, jika tidak, malam itu juga dia akan pulang ke rumah ayah nya.
Namun sebelum benar-benar tertidur, Nathan sempat kan untuk menyimpan bangkai ponsel nya berikut SIM card nya.
__ADS_1
Resy melepaskan gaun pengantin nya dengan kasar. Wanita itu menggunting beberapa bagian dari gaun nya agar mudah terlepas. Tangis nya kembali pecah, Resy meraung perih mengingat pernikahan nya, tak seindah harapan. Berhasil meraih Nathan dalam hidup nya, bukan berarti perjuangan nya selesai. Nathan masih sangat jauh dari jangkauan tangan nya. Sekuat apa pun dia mencoba untuk mendepa, lingkaran pria itu masih belum mampu di tembus.