
"Selamat tuan, nona muda telah kembali. Apa aku perlu menjemput nya dari kediaman tuan Pratama?" Sela sang pengacara setelah mengusap air mata nya.
"Tidak perlu, Mylo berjanji akan mengantar langsung Livi kemari. Aku hanya perlu menunggu, orang kepercayaan tuan muda itu pasti juga telah mengambil salinan berkas DNA Livi. Hanya saja boleh aku minta tolong? Tolong persiapan beberapa hal untuk menyambut adik ku pulang. Aku akan mengirim daftar nya nanti." Odion memotong cepat kalimat tawaran sang pengacara.
Bukan nya dia tak menghargai, hanya saja dia berusaha menjadi pria sejati dan kakak yang bisa di jadikan panutan. Mylo sudah berjanji akan langsung mengantar Olivia ke rumah nya sesaat setelah surat itu berada di tangannya.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu. Apa tetap menggunakan kamar terdahulu? Untuk memastikan saja, agar orang-orang suruhan ku tak salah meletakkan barang yang akan di pasang di kamar nona muda." Ucap sang pengacara tak enak hati, karena telah tanpa sengaja mengorek luka lama.
"Kamar yang berada persis di samping kamar ku saja, biar kamar Livi di apit oleh kamar ku dan Olsen. Kamar lama biar di jadikan gudang penyimpanan barang-barang lama saja. Jangan pernah membuka nya saat Livi sudah ke sini. Aku tak ingin dia mengajukan banyak pertanyaan yang tak akan bisa kita jawab." Tegas Odion mengingat kan.
Dia tau seberapa sulit nya sang adik mencerna situasi dengan cepat. Otak kecil adiknya pasti akan menimbun banyak rasa penasaran. Dia tak ingin membuat Olivia bingung dengan keadaan yang ada. Tentang ibu mereka dan segala kisah selama kepergian nya.
"Baik tuan, kalau begitu saya akan menghubungi Aldo untuk membantu mempercepat segala nya." Ujar Burhanuddin lalu pamit pergi. Aldo adalah asisten Odion, pria kepercayaan Odion di perusahaan.
"Aku senang akhirnya adik kita akan segera pulang. Apa kita tidak menghubungi papa saja kak, agar segera pulang dari Singapura. Aku tak sabar kita berkumpul bersama dan sarapan besok pagi dalam suasana yang berbeda." Ujar Olsen begitu bersemangat.
Odion menggeleng pelan, dia hanya perlu menunggu saja itu adalah janji nya.
"Kita tunggu saja, Mylo pasti sedang mempersiapkan Livi untuk di bawa kemari. Gadis kecil kita pasti akan kebingungan saat tiba-tiba Mylo membawa nya ke rumah kita tanpa penjelasan. Livi sedikit lambat mencerna, kau harus sabar menghadapi nya nanti."
Olsen hanya bisa mengangguk pasrah, padahal hati nya sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan sang adik tercinta.
🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷
__ADS_1
Olivia terlihat tengah mematut kan dirinya di depan kaca. Sudah beberapa kali dia di paksa berganti pakaian hanya karena tak sesuai dengan selera Mylo.
"Yang ini saja ya...aku menyukai nya." Mohon Olivia mengiba pada Mylo yang terus menatap nya dengan tatapan menilai.
Mylo kembali menggeleng.
"Ganti! Bagian belakang nya masih terlalu terbuka, kulit mu akan langsung tersentuh tangan nanti. Aku tak suka." Olivia terlihat lesu, dress itu terlihat pas dan sangat indah di tubuhnya. Setidak nya begitu lah penilaian Olivia.
Dengan langkah gontai Olivia masuk ke ruang ganti, meski tak suka akhirnya Olivia hanya bisa menuruti apa yang Mylo ingin kan.
Setelah 5 menit di dalam Olivia keluar dengan wajah di tekuk sempurna. Bagaimana tidak, dress pilihan Mylo terlihat seperti dress jaman Belanda. Panjang sebatas betis bagian bawah, dan lengan balon sebatas siku. Leher nya dengan kerah dan ada pita berwarna putih di depan nya.
Mylo menatap kagum pada dress pilihan nya, beberapa kali bibir nya mengucapkan kalimat penuh pujian pada Olivia. Namun gadis itu hanya diam saja, Olivia tak suka dengan model dress tersebut.
Olivia menghempas kan bokong kecil di jok mobil, hati nya masih kesal namun tak bisa menyuarakan protes. Mylo hanya melirik melalui ekor mata nya, bibir mengulum senyum geli. Dia tau Olivia pasti kesal dengan dress pilihan nya, sejati nya Olivia cantik menggunakan pakaian jenis apapun. Dia hanya tak suka jika kulit mulus sang kekasih di sentuh secara langsung meski oleh keluarga nya sendiri.
"Sudah, jangan terus menekuk wajah mu. Aku mau mentraktir mu es krim vanilla coklat kesukaan mu, tapi aku tak suka melihat wajah mu yang terlihat seperti baju kusut." Oceh Mylo berusaha mencair kan suasana.
Kedua mata Olivia langsung berbinar saat mendengar kata es krim. Dengan senyum sejuta watt, Olivia memamerkan gigi putih nya yang tertata rapi.
Mylo mencebik melihat reaksi Olivia yang selalu tak bisa menahan godaan terhadap segala macam jenis makanan. Namun jauh di sudut hati nya, dia merasa sangat senang. Olivia sekesal apa pun pada nya, gadis itu tak pernah lupa dengan makanan.
Mylo berniat menikahi gadis kecil nya, setelah mendapat kan restu dari ayah gadis yang sangat di cintai nya itu. Dia tak sabar untuk menguasai Olivia sepenuh nya. Akan terlihat semakin menggemaskan jika gadis semungil Olivia mengandung anak nya. Ah, pikiran Mylo sudah sampai sejauh itu.
__ADS_1
Setengah jam perjalanan, mengantar kan mobil Mylo ke sebuah mansion mewah. Olivia menatap kagum rumah besar tersebut, kepala nya sampai memutar ke sana kemari untuk melihat setiap sudut rumah itu dari balik kaca mobil.
"Aku akan membuat kan rumah yang lebih besar lagi dari ini, jadi berhenti lah menatap kagum pada rumah yang tak seberapa ini." Ujar Mylo kesal. Dia belum memiliki rumah pribadi bukan karena tidak punya uang, dia hanya tak suka berjauhan dari ibu nya.
"Ck! Aku kan hanya mengagumi, apa salah nya. Kenapa kau ingin membuat kan aku rumah? Apa kau berniat menjadikan ku pelayan di rumah besar mu ya?" Tuduh Olivia curiga. Mylo memang patut di curigai, karena pria itu sering mengerjai nya.
"Siapa bilang, dasar sok tau!" Ketus Mylo semakin kesal. Namun mengatakan dengan gamblang rencana nya, malah akan menambah denyut di kepala nya saja. Otak mungil Olivia akan sulit untuk mencerna nya dengan cepat.
Setelah turun dari mobil, Mylo mengajak Olivia masuk dengan menggandeng lengan kecil gadis nua. Ada perasaan tak rela menyerahkan Olivia pada keluarga kandung nya, namun dia tak ingin egois. Keluarga Jenar pasti sangat merindukan kekasih nya, dia akan memberikan kesempatan selama Olivia belum resmi menjadi milik nya.
Beruntung kedua orang tua nya menerima Olivia dengan tangan terbuka. Bahkan dari sebelum mengetahui siapa Olivia sebenarnya. Ibu nya sangat menyukai Olivia nya yang polos, adik nya pun menerima Olivia dengan senang hati. Hanya tinggal menunggu keputusan keluarga Jenar saja, maka jalan nya menuju pelaminan terbuka semakin lebar.
"Silah kan masuk tuan, saya akan memanggil tuan Odion." Ujar seorang kepala pelayan, sebelum nya dia sempat menatap dalam ke arah Olivia. Dengan sekali tatapan saja, dia langsung menyadari jik gadis mungil itu adalah nona muda nya.
Tak lama terdengar langkah kaki dari arah tangga, membuat atensi Mylo dan Olivia teralih kan. Olivia tengah sibuk menyantap sisa es krim nya, juga ada beberapa cake kesukaan nya di atas meja.
"Tuan Pasedeon?" Ujar Olivia dengan mata berbinar. Entah kenapa dia merasa senang melihat Odion.
Sedangkan Olsen berusaha keras agar tak tertawa. Kakak nya di panggil Pasedeon? Dulu ada seseorang anak yang usil memanggil nya demikian, anak itu berakhir di ruang ICU karena patah tulang rusuk dan lengan kanan. Dan sekarang lihatlah, Odion malah tersenyum senang. Sungguh ajaib bukan? Ini kah maksud sang kakak, jika adiknya sedikit harus sabar menghadapi nya.
"Hai Livi, kakak senang kau akhirnya pulang. Kemarilah..kakak sangat merindukan mu.." Odion berjalan mendekati Olivia yang masih berdiri memegang piring cake di tangan nya.
"Kenapa tuan Pasedeon ingin memeluk ku? Dan, kenapa kau menyebut diri mu kakak ku? Apa artinya aku ini adik mu, begitu?" Odion hanya bisa menghela nafas panjang, menghadapi adik nya benar-benar membutuhkan kesabaran yang ekstra.
__ADS_1