Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Tak tersentuh


__ADS_3

Dua minggu setelah berita menghilang nya Lexan, pihak keluarga akhir nya berlapang dada menganggap jika putra keluarga Argasatya itu telah tiada. Di tambah dengan penemuan bangkai mobil Lexan, yang tak sengaja di temukan oleh seorang pria tua yang kebetulan sedang memancing di sungai tersebut.


Berita tewas nya Lexan mulai beredar luas di berbagai pemberitaan media. Pria itu di nyatakan tewas di dalam sungai dan di makan hewan penunggu air tersebut. Mengingat air yang cukup dalam juga sangat deras dan Lexan yang tak pandai berenang. Semua kolega mengucapkan kalimat turut berbelasungkawa, kecuali keluarga Sanders Pratama dan keluarga Lochlan. Kedua keluarga ini hanya kompak mendatangi prosesi doa yang di selenggarakan oleh keluarga Argasatya. Itu semua demi menghargai besan nya tersebut. Upz! Mantan besan.


Kehidupan Noora berubah drastis, Noora memutuskan menjual rumah mewah nya. Wanita itu pindah ke perumahan yang jauh dari kata elit. Dan itu berhasil membuat seluruh keluarga melayang kan protes pada nya.


Namun Noora sudah tak bisa lagi mempercayai siapapun termasuk keluarga nya sendiri. Bukan dia tak tau siapa yang melumpuhkan orang suruhan nya, lalu menculik Lexan dan membawa pria itu entah ke mana. Noora kecewa, sangat. Dia tak suka apa yang menjadi bagian nya di campuri oleh siapapun.


Sikap keras kepala Noora benar-benar duplikat dari sang nenek buyut. Kini wanita itu Sungguh sulit untuk di gapai, untuk bertemu dengan nya saja pihak keluarga harus membuat janji terlebih dahulu. Itu pun tak pernah sekali pun mereka bisa bertemu dengan Noora.


"Nona?" Ujar sang sekretaris kala melihat siapa yang muncul di hadapan meja kerja nya. Bukan kah sang atasan meminta nya mengirimkan semua pekerjaan ke email nya? Lalu kenapa wanita itu tiba-tiba muncul di sana seperti siluman.


"Kenapa kau terkejut?" Tanya Noora menatap penuh selidik.


"Bukankah anda tadi mengirim kan ku pesan, agar aku mengirim semua laporan tahunan perusahaan yang akan di evaluasi minggu depan, ke email anda nona?" Ucap Salma ikut terheran.


"Aku?" Tunjuk Noora ke wajah nya sendiri, Salma hanya mengangguk cengo. Noora terlihat mengepalkan tangan kanan nya, dia tau siapa yang sudah lancang melakukan hal itu. Keluarga nya siapa lagi. Kehidupan nya yang mulai tak tersentuh, membuat keluarga nya gila-gilaan ingin meraih nya kembali.


Noora meninggalkan Salma dalam kebingungan nya, wanita itu membanting pintu ruangan nya hingga membuat gadis itu terlonjak kaget.

__ADS_1


"Astaga! Untung saja jantung ku sehat." Gumam Salma mengusap dada nya menahan debar luar biasa akibat terkejut.


Sedangkan di dalam ruangan nya, Noora tengah berdiri menatap jalanan kota yang terlihat padat dari ketinggian tersebut.


"Sekecil kendaraan lalu lalang itulah, kepercayaan ku pada kalian. Berhenti lah berusaha untuk menggapai ku, hatiku sudah tak bisa lagi berkompromi." Gumam Noora mende sah kesal. Di tatap nya sebuah bingkai foto yang memperlihatkan senyum seorang wanita cantik.


Savira sang sahabat terkasih.


"Kau lihat Savira? Tak ada yang bisa seperti dirimu, memahami ku dengan baik secara keseluruhan. Kenapa kau memilih meninggalkan ku dengan cara seperti ini, apa kau berniat untuk menghukum ku? Aku kesepian Savira, tak ada yang benar-benar bisa mengerti keadaan hati ku yang sesungguh nya." Noora terus bergumam lirih, tak terasa lelehan hangat membasahi pipi nya yang semakin tirus.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Miguel menatap punggung kecil sang istri yang terlihat menyimpan beban berat seorang diri. Wanita itu enggan berbagi dengan nya meski hanya sekedar cerita mengenai kesulitan nya sendiri.


"Sayang?" Tegur Miguel membuat Charlotte lekas menghapus jejak air yang mengalir tanpa permisi di pipi nya. Wanita itu kemudian berbalik dan melempar kan senyum manis yang selalu menenangkan hati siapa saja.


"Apa yang kau lakukan di malam dingin seorang diri? Apa ada pemandangan menarik di luar sini hmmm?" Seloroh Miguel menatap sendu wajah wanita terkasih nya.


"Aku sedang mengintai tetangga baru kita, seperti nya pria di sebelah rumah itu cukup tampan. Aku berniat mengajak nya bersepeda mengelilingi taman komplek." Sahut Charlotte dengan nada serius. Air muka Miguel langsung masam.

__ADS_1


"Apa perlu aku menggusur rumah di sebelah sana sayang? Aku sedikit terganggu dengan pria gatal yang selalu menyapa istri ku hampir setiap hari. Apa pria itu pengangguran? Dia selalu tau kapan aku sudah berangkat bekerja kemudian sengaja menyapamu." Ucap Miguel menanggapi serius kalimat sang istri. Pria pencemburu itu terlihat tak terlalu menyukai tetangga baru mereka. Pria duda dengan dua orang anak yang sudah berkuliah.


Charlotte tertawa renyah, suami nya selalu saja memperlihatkan sikap proteksi nya.


"Dia hanya menyapa sayang, kau lupa saat berkenalan, tetangga kita itu menyebutkan jika profesi nya adalah seorang dokter jantung di rumah sakit milik keluarga kita." Miguel terlihat tak peduli. Dia hanya peduli pada sesuatu yang menjadi milik nya saja.


"Pria kesepian itu bahkan tak setiap hari menyapa ku. Kenapa kau sangat berlebihan sekali." Protes Charlotte mencubit gemas pipi sang suami.


"Aku tak suka kau tersenyum pada pria lain sayang, senyum mu hanya untuk ku. Jadi jangan terlalu ramah lagi pada nya, aku cemburu." Ucap Miguel mengingat kan.


"Oke, baiklah suamiku tersayang. Jadi jelaskan, kenapa kau pulang terlambat lagi hari ini?" tanya Charlotte mengalihkan topik mereka.


"Aku berusaha bertemu dengan putri kita, sayang nya, tiga jam menunggu Noora masih tak bisa di temui. Seperti nya anak kita itu wanita karir yang super sibuk. Aku kalah soal jam terbang dengan nya." Kekeh Miguel dengan mata berembun. Sungguh pria itu merindukan putri sulung nya, setahun adalah waktu terberat bagi nya juga sang istri untuk menahan kerinduan.


Andai dia tau lebih awal tentang masalah rumit rumah tangga sang anak, tak akan dia biarkan keluarga nya turut campur di dalam nya. Biar kan saja putri nya melakukan apapun agar hati nya puas. Sungguh di sayang kan, keluarga nya bertindak tanpa menelaah lebih dalam perasaan putri kesayangan nya. Hati putri nya terluka sangat parah, namun bukan nya membantu sekedar membalut nya. Keluarga nya bertindak terlalu jauh hingga membuat luka itu semakin menganga lebar.


Setahun berlalu bagai berjalan di atas bara api, saat hati merindu, dia hanya bisa melihat sang anak dari kejauhan. Layak nya seorang penguntit, dia terpaksa melakukan hal tersebut untuk mengobati kerinduan nya.


"Bagaimana jika kita menginap di hotel Noora saja? Mungkin kita bisa berjumpa dengan nya di sana. Ku dengar dari Novandra, Noora sering menginap di hotel belakangan ini. Mungkin kita bisa melihat nya dari dekat, atau minimal tak sengaja berpapasan dengan Noora di lift." Usul Charlotte dengan binar harapan di kedua bola mata nya.

__ADS_1


__ADS_2