
Dua hari sudah Mishy di rawat secara intensif, kondisi nya mulai membaik. Gadis kecil itu sudah sadar sejak subuh. Dan kata pertama yang dia ucap kan di tengah kesadaran samar nya, adalah papa. Itu membuat hati Rosy mencelos sakit. Sebegitu ingin kah anak nya berjumpa dengan ayah mereka. Rosy merasa sesak, apa kasih sayang nya saja tidak cukup? kenapa anak-anak masih membutuhkan sosok lain dalam kehidupan mereka. Rasa nya sungguh sulit untuk di terima.
Usapan lembut di bahu Rosy mengalihkan perhatian wanita itu, sejak tadi Rosy duduk di kursi ruang tunggu sambil menatap dalam pintu ruang ICU. Harland sedang di dalam bersama putri nya, dan belum keluar hingga sekarang.
"Apa Harland masih di dalam?"
"Hmmm..."
Sania menghela nafas berat, dia tau bagaimana Rosy berpikir untuk menjauh kan pria itu dari anak-anak nya.
"Maaf jika aku kembali menjadi sahabat mu yang lancang dan tidak berperasaan. Tapi ku pikir sudah saat nya kau berdamai dengan hati mu. Kebencian yang kau tunjukkan, menjelaskan jika kau masih terikat dengan masa lalu kalian. Perasaan mu masih sama. Kau meninggi kan dingin ego mu hanya agar kau memiliki tameng, untuk membatasi hati mu agar tidak tenggelam semakin dalam pada sosok Harland. Sebelum segala nya terlambat, lunak kan hati keras mu. Katakan saja demi anak-anak, agar hati mu tetap baik-baik saja. Harland banyak berubah sejak berpisah dari mu. Aku tau aku tak perlu menyampaikan ini, Robin pasti sudah mengatakan semua pada mu. Pria tua itu sudah seperti bayangan mu di mana-mana." Sania terkekeh pelan, tatapan nya sama-sama mengarah ke mana Rosy kini tengah menatap.
"Jika tidak bisa rujuk karena hati mu belum mampu memaaf kan, paling tidak kembali lah bersatu demi anak-anak mu. Jika hari ini kau menyaksikan bagaimana gila nya putri mu hingga harus berakhir di ruang ICU. Bayang kan di masa depan, gadis kecil itu bisa saja kita jumpai di kamar jenazah. Mishy berbeda, apa yang dia inginkan akan dia lakukan. Tapi Mylo, dia anak yang sangat penurut. Rasa sayang dan perhatian nya pada mu, membuat nya membangun tembok pembatas dengan ayah nya. Setiap kali melihat wajah polos nya, hati ku sakit. Mylo kecil diam-diam melirik ayah nya hanya agar bisa mengurai sedikit kerinduan di hati nya. Bayang kan jika situasi ini terus berlanjut, Mylo akan menjadi pribadi yang tertutup dan tak bisa kau sentuh lagi."
Kali ini Sania menatap sang sahabat dari arah samping dengan harapan setinggi langit.
"Jangan sampai kau menyesali ini suatu saat nanti. Mishy bisa saja berpaling dan mengikuti ayah nya. Harland terlihat sangat penyayang, mungkin karena terlalu bahagia bisa memiliki keturunan meski dengan cara tak biasa. Sikap lembut Harland perlahan akan membuat mu tersingkir dengan mudah dari kehidupan anak-anak mu. Jadi, pikir kan lah ini dengan baik. Bukan karena perkataan ku, tapi demi kebaikan mu dan anak-anak." Sania beranjak pergi, meninggal kan Rosy dalam diam nya.
__ADS_1
Tak ada yang tau apa yang tengah di pikir kan oleh wanita cantik itu. Yang terlihat hanya gurat lelah dan kesedihan yang terbaca sangat jelas di wajah nya yang semakin tirus.
Klek
Rosy segera memalingkan pandangan nya, duduk bersandar sekedar untuk membuat tubuh nya tetap bertahan.
Harland duduk tepat di samping nya, tanpa jarak. Karena hanya tersisa dua kursi itu saja yang kosong. Bisa saja Harland duduk di bawah seperti biasa nya. Namun pria itu perlu menyampai kan hal penting yang akan dia katakan dalam volume yang rendah.
"Kau tak ingin masuk? Mishy menanyakan mu..." Ucap Harland memecah kan keheningan. Sejati nya Mishy tak mencari ibu nya sama sekali, Harland hanya berusaha agar Rosy tak merasa terabaikan oleh putri mereka. Dia tau sakit nya di abaikan, apalagi oleh orang yang sudah kita rawat sepenuh hati.
Harland menarik pelan tubuh yang dua hari ini semakin terlihat kurus ke dalam pelukan nya, wajah pucat Rosy menjelaskan jika wanita itu tidak baik-baik saja. Isakan kecil wanita itu membuat hati Harland serasa tercabik-cabik. Dia tau bagaimana Rosy berusaha tegar, menjauhi nya dan berusaha bersikap acuh pada nya. Semua di lakukan agar hati nya tak kembali goyah. Namun kini, Harland berharap hati itu sudah goyah, cinta itu masih utuh dan dia akan memperjuangkan nya.
"Maaf, maaf jika aku merebut perhatian Mishy dari mu. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku menyayangimu dan anak-anak dengan perasaan yang sama besar nya. Aku tau kata maaf ku tidak akan membuat luka di hati mu pulih sempurna. Tapi ijin kan aku memulai dengan cara yang benar. Aku mencintaimu terlepas terlepas dari masa lalu ku yang buruk. Aku menyukai mu sejak hari pertama ospek. Kau adalah cinta pertama ku tanpa aku sadari, tapi aku berusaha mengelak nya. Aku acuh pada mu karena takut tak bisa melepaskan mu. Aku bodoh, benar. Aku mengklaim seorang wanita menjadi milik ku tanpa mencari tau kebenaran nya terlebih dahulu. Aku..." Kalimat Harland terjeda oleh isakan, berkali-kali Harland mencium pucuk kepala Rosy untuk meluapkan perasaan nya.
"Ijin kan aku memperjuangkan mu dan anak-anak. Aku tau aku tak pantas meminta hal sebesar ini, tapi hati ku tak bisa mengelak lagi. Aku mencintaimu, Rosy Sanders. Menikah lah kembali dengan pria brengsek ini. Kali ini aku akan menjadi kan pernikahan kita seindah impian mu." Harland mengurai pelukan nya kemudian berjongkok di hadapan Rosy. Pria itu merogoh saku celana nya, mengeluarkan kotak kecil berisi cincin.
Mata Rosy terbeliak, cincin itu adalah cincin pernikahan mereka dulu. Cincin yang dia buang di halaman rumah sakit ketika akan pergi ke bandara. Bagaimana bisa Harland menemukan kan nya.
__ADS_1
"Kau pasti bingung bukan? dari mana aku mendapat cincin ini kembali..." Harland meraih jemari lentik itu kemudian menyematkan cincin tersebut ke jari manis Rosy. Hati Harland mencelos sakit, cincin itu terlihat sangat longgar. Namun segera pria itu tersenyum manis, kemudian beranjak.
"Jangan membuang nya lagi, kau tau? aku harus memohon pada seorang wanita tua di halaman rumah sakit untuk membeli nya kembali. Wanita itu bahkan memukul kepala ku menggunkan tongkat nya. Dia tak terima aku meminta sesuatu yang lebih dulu dia temukan. Dia merasa itu adalah milik nya, untung saja aku tampan. Jadi hati nya tergerak untuk memberikan nya meski memeras ku dengan suka rela." Kekeh Harland bercerita.
"Dasar narsis!" Gumam Rosy masih terdengar jelas oleh Harland. Wanita itu menunduk menatap jari nya. Perasaan nya jadi tak menentu. Harland meraih dagu Rosy dengan jari nya, menatap wajah cantik itu dengan perasaan membuncah.
"Jadi, aku di terima?" goda Harland tersenyum simpul. Rosy memalingkan wajah nya ke samping. Nyatanya hati nya masih berdebar kuat saat berhadapan dengan pria brengsek itu.
"Tidak! ambil kembali..." entah kapan, Rosy melepaskan cincin nya. Wanita itu kembali meletakkan cincin tersebut di telapak tangan Harland, kemudian berlalu begitu saja.
Harland mematung, baru saja angan nya melambung tinggi. Kini terhempas hingga ke dasar jurang. Dengan cepat Harland menyusul langkah lebar Rosy yang telah meninggal kan begitu saja.
"Hei, tunggu... apa-apaan ini, kenapa kau menolak ku Rosy..." ucap Harland putus asa. Tangan nya memegang bahu kecil itu dengan tatapan putus asa.
"Kau tak terima? bukan kah di tolak itu sakit? begini lah yang aku rasakan dulu, saat kau dengan lantang menolak keberadaan ku. Menganggap ku hanya sebatas pohon uang bagi mu, dan Sindy adalah hidup mu. Sesakit ini rasa nya, kau tidak akan mengerti jika kau belum merasakan nya secara langsung." Tatapan mata itu kembali menebar kemarahan. Harland mematung, hati nya mencelos. Benar, tapi dia tak berharap merasakan hal yang sama. Namun jika itu perlu, maka dia akan dengan suka rela menerima nya.
"Baiklah, aku tau kesalahan ku memang tak akan bisa kau lupakan. Dan aku tak bisa menghapus image buruk yang pernah ku perlihatkan pada mu . Kali ini saja, aku mohon...aku akan membuktikan jika hati ku tulus. Ijin akan aku menebus nya, beri aku kesempatan untuk menunjukkan kepantasan ku pada mu." Lorong sepi itu menjadi saksi bisu ungkapan hati seorang Harland yang di landa keputusan asaan.
__ADS_1