
Rencana untuk langsung pulang malam itu juga gagal total, cuaca buruk membuat Harland terpaksa menunda kepulangan nya. Alhasil Harland uring-uringan tak jelas karena sangat merindukan istri juga anak-anak nya. Ini pertama kali nya dia berjauhan dalam waktu yang lama, biasa nya Harland akan langsung pulang setelah segala urusan pekerjaan nya selesai.
"Papa kenapa tidak pulang? padahal Mishy sudah bilang akan membawa kan oleh-oleh ke sekolah besok. Papa gimana sih!" omel Mishy terlihat begitu kesal. Harland meraup wajah nya frustasi. Dia pun sangat ingin pulang jika dia bisa mengoperasikan benda terbang tersebut sendiri.
"Maaf kan papa sayang, hei lihat sini princess..." bujuk Harland, di dalam layar laptop nya, dapat Harland lihat wajah di tekuk tak beraturan sang anak.
"Papa nyebelin, Mishy malas lihat papa..! Mishy kesal!" blip
Panggilan video di mati kan sepihak oleh Mishy. Posisi gadis itu berada di dalam kamar orang tua nya. Dapat Harland lihat Mylo tengah membacakan buku cerita di samping Rosy, tepat di belakang tubuh kecil putri nya.
Tok tok tok
Klek
"Maaf non, tuan muda...ini waktu nya tidur, biar malam ini suster Elsa saja yang menemani mama kalian di sini. Suster bisa tidur di sofa sana, sekarang kalian istirahat lah." Titah suster Elsa pada kedua anak majikan nya.
"Aku yang akan tidur bersama mama malam ini." Suara datar Mylo membuat Elsa bergeming ngeri.
"Tapi bagaimana jika cairan nyonya habis? ji..."
"Bukan kah suster bisa masuk kemari lagi untuk mengecek nya. Lagi pula aku akan berjaga malam ini, katakan pukul berapa perkiraan cairan infus nya habis. Aku akan menyetel alarm untuk membangun kan suster Elsa di kamar sebelah." Elsa meneguk ludah nya susah payah. Niat hati ingin menikmati tidur lelap di atas kasur terbaik dengan ukuran yang super lebar. Mengendus aroma tubuh Harland yang tertinggal di kasur dan bantal, kini sirna sudah.
"Baik lah, kalau menurut perhitungan berdasarkan jumlah tetesan permenit nya. Cairan akan habis pukul 2 sampai pukul 3 subuh. Tekan saja alarm di atas nakas di samping nyonya, saya akan kemari." Ucap Elsa akhirnya. Tak mungkin dia berdebat dengan anak itu. Jelas terlihat gen Harland mendominasi. Tak tau saja Elsa, jika gen Rosy lah yang lebih dominan.
__ADS_1
Elsa pamit keluar setelah memasukkan dua spuit cairan ke dalam infus Rosy. Dan itu di lihat oleh Mylo dengan tatapan waspada. Mishy menatap kakak nya dengan tatapan jengah. "Kakak kenapa galak sekali, ckckck! untung saja suster Elsa punya sistem pertahanan mental yang mumpuni. Jika tidak, Suster Elsa pasti sudah kabur dari sini sejak lama seperti suster yang sudah-sudah." Mylo mendelik kemudian kembali fokus pada tugas sekolah nya.
Beberapa hari yang lalu, Mylo menaruh beberapa anak katak ke dalam kamar mandi milik Elsa. Itu dia lakukan karena tak suka melihat wanita itu bersikap liar pada ayah nya.
"Apa kau tidak mengerjakan tugas mu, Mishy?" tanya Mylo heran. Mereka punya tugas yang sama, namun adik nya terlihat begitu santai.
"Aku sudah mengerjakan tugas ku tepat ketika aku baru selesai menulis kan soal nya. Kau lupa, jika adik mu ini memiliki otak super canggih." Mishy menukik kan kedua alis nya turun naik pada sang kakak. Entah mengapa melihat raut wajah kesal Mylo adalah hiburan tersendiri bagi nya.
"Jangan membuat ku kesal Mishy, kembali ke kamar mu sana!" usir Mylo kesal. Beberapa menit saja berdua dalam satu ruang yang sama dengan sang adik, membuat kepala nya berdenyut tak karuan.
"Aishhh kenapa kau hobby sekali marah-marah? apa kau tidak takut cepat tua?" Dengus Mishy turun dari ranjang.
"Teori dari mana itu?" sahut Mylo tak suka.
"Teori dari ku, masalah?" tantang Mishy berkecak pinggang, tak lama gadis kecil itu memelet kan lidah nya kemudian berlari keluar kamar. Mylo menggeleng kepala nya melihat tingkah sang adik yang semakin menyebalkan.
"Mama kapan bangun, apa mama tidak ingin melihat ku menjadi juara olimpiade lagi. Aku sudah setahun ini tak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler apa pun. Aku tak suka melakukan nya jika tidak ada mama yang bisa ku pamer kan piala, medali beserta piagam ku. Aku belajar sangat keras agar mama bangga pada ku..." suara isakan kecil Mylo rupa nya terekam jelas dalam alam bawah sadar Rosy, sejati nya Rosy sudah bisa merespon suara. Hanya saja entah ada sesuatu untuk menahan nya tetap berada di fase koma.
"Mama harus segera bangun, banyak wanita berusaha untuk mendekati papa. Mereka berniat merebutnya dari mu lagi, ma. Mama harus bisa menghentikan mereka, aku tak ingin kehilangan papa meski aku tak menunjuknya. Aku ingin tau, apa mama sudah memaafkan papa atau belum. Jika sudah aku akan mengatakan pada papa, jika aku juga menyayangi nya. Tapi jika mama belum memaafkan papa, aku akan menahan perasaan ku sampai mama mau menerima papa kembali." Curahan hati Mylo membuat segumpal hati seperti tertimpa batu besar. Sesak dan sakit.
Pria kecil itu rupa nya menyimpan beban perasaan yang tak ringan. Tak ingin menyakiti hati kedua orang tua nya, Mylo lebih memilih bersikap acuh pada ayah nya. Dia tak ingin hati ibu nya tersakiti karena penerimaan nya terhadap kasih sayang sang ayah. Sebesar itu rasa sayang Mylo pada Rosy, pria kecil dengan pemikiran yang benar-benar matang untuk usianya yang masih kanak-kanak.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
__ADS_1
"Gunakan parasut ini pak!" seru kapten Agus, helikopter mereka terkena efek cuaca buruk, hujan lebat dan jarak pandang yang sangat terbatas. Guncangan hebat kembali terjadi, jantung Harland seperti di ajak maraton berjuta-juta mil jauhnya. Terbayang wajah cantik istri nya, juga wajah menggemaskan kedua anak nya.
Harland berpegang kuat di sisi kanan helikopter, terbayang jika helikopter tersebut jatuh. Dia bahkan belum mendapatkan maaf dari sang istri juga putra nya.
"Pak..! parasut anda belum di pakai!" tegur Agus si kapten mengingat kan. Dia masih berusaha untuk mengendalikan kondisi helikopter yang mulai oleng terbawa angin kencang.
"Lalu bagaimana dengan Anda?!" teriak Harland dari kursi penumpang.
"Aku akan baik-baik saja pak! lekas di pakai pak! Dony, kamu juga pakai, lepas kan kendali nya ke auto pilot." Titah nya pada rekan nya.
Berselang dua menit helikopter tersebut tampak mulai hilang kendali, yang terakhir Harland ingat adalah suara dentuman keras. Setelah itu hanya ada kegelapan. Sang malam gelap telah membawa petaka bagi ketiga nya, dua awak helikopter dan satu penumpang. Guyuran air hujan seolah berusaha untuk meredam suara hantaman keras yang tercipta dari suara jatuh nya si burung besi tersebut.
Jakarta yang menjadi tujuan pulang, kini hanya tinggal angan. Nyatanya, ketiganya tak pernah sampai ke tujuan.
∆Maaf jika alur nya kurang enak di baca, apa yang tertulis ide terlintas begitu saja. Sebagian sudah ada tertulis di naskah nya othor, sebagian lagi hasil editing sebelum di update.
Harland masih dalam proses menuju puncak kebahagiaan nya. Dan sebelum itu bisa dia capai othor ingin karakter Harland ini menjadi lebih kokoh. Dengan sedikit di bubuhi oleh kehadiran orang-orang yang meski hanya numpang lewat saja. Tokoh pelakor tidak di buat permanen di part-part ini dan ke depan nya nanti. Hanya untuk cameo agar karakter tokoh Harland menjadi lebih hidup.
Cerita ini tentang konflik rumah tangga, di mana untuk menuju puncak kebahagiaan para tokoh. Mereka harus melalui banyak proses yang tak mudah.
Makasih untuk jejak cinta nya ya kak🙏🤗🥰🤍
Semoga besok bisa crazy up lagi, hari ini othor masih belum bisa banyak mikir 😁😁 tangan masih kebas-kebas gak karuan 😅😅
__ADS_1
Maaf kalau komentar gak semua aku balas, tapi aku like sebagai ganti nya ya😘😘 Komen kalian hebat-hebat, terutama yang udah berani koreksi. Itu lebih baik, kritikan kalian othor terima dengan hati terbuka. Tanpa kritikan kalian, karya ini tidak akan ada nilai plus nya. Jadi terimakasih banyak untuk semua komen yang sudah masuk di kolom komentar.
Luv yu kalian semua🥰🥰🤍😚