
Sudah dua minggu, Geko masih terus memikirkan permintaan Vanya. Bukan karena dia berat melepaskan Mallika, namun dia mulai merasakan ketertarikan yang berbeda kala mengingat wanita yang telah menolong nya waktu itu.
"Aishh! aku bahkan tak tau siapa nama nya, bagaimana bisa aku malah menyukainya." Geko baru tersadar, jika sudah dua minggu ini, dirinya tak lagi pernah memikirkan Mallika barang sekejap.
Bayangan gadis itu lenyap begitu saja, berganti dengan bayangan Vanya yang lebih mendominasi pikiran nya.
"Aku harus bertemu dengan nya, aku akan mengajukan syarat. Dengan begitu aku punya alasan untuk dekat dengan nya." Ucap Geko tersenyum licik. Dia ingin memberikan syarat yang tak akan mungkin di tolak oleh wanita itu.
Geko meraih kunci mobil nya lalu keluar dari apartemen nya. Yang pertama dia akan mencari tau tentang wanita itu sebanyak-banyaknya.
Sementara Vanya tengah sibuk menghindari dari sang ibu. Wanita itu ingin mengenalkan sang anak pada anak rekan bisnis mereka. Tentu saja Vanya menolak nya. Terutama Silvery yang juga tak setuju.
Pernikahan bukan sebuah permainan demi kepentingan bisnis. Harus ada rasa di dalam nya agar pernikahan itu berjalan baik.
"Kali ini saja, temui lah untuk sekedar menyapa. Mom sudah berjanji kau akan ke sana menemui Reiner. Reiner jauh-jauh kemari hanya untuk bertemu denganmu sayang, hargailah usaha seseorang. Demi mom oke, kali ini saja. Jika kau masih tak merasa cocok, kau bebas memilih siapa saja yang kau ingin kan. Mom tak akan ikut campur lagi, mom janji." Sungguh manis.
Silvery mencebik dari tempat duduk nya. Naura memiliki mulut yang sangat manis. Wanita paruh baya itu pandai merayu meski akhirnya jarang berkahir baik. Terutama jika yang di kadali itu adalah Vanya.
"Baiklah. Hanya menemui nya lalu pergi setelah menyapa. Itu artinya aku tidak menyukai nya. Tidak boleh protes dan tidak ada komentar apapun. Aku akan benar-benar pergi dari kehidupan mom untuk selamanya. Bunuh diri mungkin, jadi mom cukup meratapi ku sekali saja. Aku tak akan membuat malu mom lagi setelah nya." Ucap wanita muda itu mulai bernegosiasi dengan cara yang cukup mengerikan untuk di sepakati.
Naura terpaksa mengangguk walau terlihat ragu.
Silvery tersenyum puas melihat sang anak tiri kalah telak.
__ADS_1
"Jangan tersenyum seperti itu, aku tau kau bersekongkol dengan anak nakal itu. Dasar kau pengkhianat. Aku ini dulu saudara mu jika saja kau lupa. Aku yang merawat mu bukan anak kecil itu. Sekarang kau melupakan jasa ku begitu saja. Kalian Mengesalkan!" celoteh Naura kesal.
Silvery tertawa renyah lalu berpindah tempat duduk. Wanita itu memeluk Naura seperti saat dulu mereka masih kecil.
"Maafkan aku, aku hanya mendalami peran seorang nenek yang penuh pengertian. Aku tak suka melihat cucu tersayang ku kau tindas kak. Kenapa jahat sekali. Vanya berhak untuk menentukan pilihan nya, masa depan dalam bentuk apapun itu hak nya. Bukan kapasitas kakak lagi untuk mengendalikan kehidupan Vanya seperti saat dia masih balita. Dia wanita dewasa kak, Selome saja akan menikah dua minggu lagi. Artinya kita ini sudah tua. Biarkan anak-anak menentukan apa yang mereka inginkan. Mereka akan belajar bertanggung jawab tanpa tekanan. Aku menyayangimu kak, eh. Anakku sayang.." seloroh Silvery membuat kedua wanita paruh baya itu tertawa.
Seseorang di balik lemari berdiri sembari menatap pemandangan haru tersebut dengan hati menghangat. Sungguh momen yang sangat indah di pandang mata. Dia tak pernah tau bagaimana pertumbuhan Naura sejak kecil. Namun yang dia tau, Noora telah merawat putri nya itu dengan segala cinta dan perhatian yang sangat tulus.
"Khemmm...aku pikir di rumah tidak ada orang. Kenapa tak ada yang menyambut ku?" protes Satya berpura-pura kesal lalu duduk menyela di antara kedua wanita kesayangan nya itu.
"Ishh papa! sesak tau." Ujar Naura kesal. Satya memaksa duduk di antara mereka berdua membuat nya terhimpit hingga ke pinggir sofa.
Satya terkekeh mendengar nada protes sang anak. Pria itu menatap wajah cantik putri nya lalu menatap pucuk kepala Naura. Terlihat ada beberapa helai rambut putih di sana. Hati nya mencelos.
Dia tak ingin menerima kenyataan, dia benci kehilangan. Terutama itu adalah orang-orang terkasih nya.
"Papa merindukan mu, kenapa lama sekali baru pulang. Lihat Vanya bahkan lebih sering mengunjungi papa daripada dirimu." Protes Satya.
"Ck! Vanya jika kemari, bisa di pastikan anak itu sedang kabur dari ku." Elak Naura.
"Lebih baik seperti itu. Dari pada putri mu kabur menuju ke arah yang salah. Berhentilah menjodohkan cucuku, aku tak suka. Biarkan Vanya memilih jodoh nya sendiri. Tak peduli seberapa brengsek nya pria itu, jika Vanya merasa yakin Restui saja. Kita akan memantau nya. Jangan menekan cucuku lagi, aku tak ingin Vanya terpaksa menerima keinginan kalian meski hatinya tak suka. Itu akan menjadi beban batin yang akan dia tanggung seorang diri, hanya demi senyum lebar kedua orang tua nya." Nasihat Satya pada sang anak.
Dia tau kenapa Vanya sering kabur, sifat keras Naura sebelas dua belas dengan Noora. Sungguh didikan Noora melekat kuat dalam diri sang anak.
__ADS_1
"Kenapa semua orang menyalahkan ku. Papa juga." Sungut Naura tak suka.
Satya hanya menggeleng kan kepalanya, melihat sifat keras kepala Naura.
"Lihatlah sayang, itu hasil didikan ibu mertua. Untung kau lebih mirip ayah mertua." Bisik Satya di telinga sang istri. Naura melempar bantal sofa yang langsung di tangkap oleh Satya.
Pria itu tergelak melihat wajah kesal sang anak.
"Jangan mengatai ibuku sembarangan. Papa sungguh mengesalkan. Suami mana suami, tolong istri mu ini sayang. Aku di bully sama ayah mertuamu ini sayang!" seru Naura dari ruang keluarga.
Sang suami berlari tunggang langgang membawa jus juga nampan cemilan ke sana. Dokter bucin itu pun tak kalah dari Satya. Selalu mengutamakan sang istri di atas segala nya
"Berhentilah membully istri papa mertua, lihat lah wajah cantik yang polos ini. Aku sangat mencintai nya. Katakan padaku sayang, apa yang di katakan oleh papa mertua kepada mu." Satya berdecih lalu mencomot keripik keju dari toples untuk di lemparkan pada sang menantu laknat.
"Dasar dokter lebay. Harusnya kau bisa mendidik istri mu itu agar tak lagi menekan cucuku. Kau malah kompak membuat cucuku tak betah tinggal di rumah. Dasar orang tua jahanam." Kesal Satya.
"Aku hanya mengikuti arahan dari sang ratu, papa mertua. Lagipula kami ingin yang terbaik untuk Vanya. Benarkan sayang?" Naura mengangguk di sela meneguk minuman nya dengan jempol kiri terangkat tinggi.
Melihat kekompakan kedua nya membuat Satya semakin kesal. Dia tak suka jika kehidupan Vanya di atur sepenuh nya, karena sang cucu berhak menentukan pilihan nya sendiri tanpa merasa tertekan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sungguh kakek nenek idaman, kan yaa...
__ADS_1
Semoga keharmonisan di kehaluan ini, menjadi nyata dalam kehidupan kita masing-masing. Amin
Lope lope para kesayangan buna Qaya 🥰🥰😚😚