Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Sesi curahan hati I


__ADS_3

Rosy diam-diam menyimak, entah kenapa dia merasa tak suka melihat cara dokter tersebut menyampaikan kalimat demi kalimat nasihat pada suaminya. Suami? ya ampun, Rosy geli sendiri mengakui nya. Terlalu asing dan dia belum terbiasa dengan status mereka sekarang.


"Apa masih ada lagi yang perlu di sampaikan, dokter Lidya? jika sudah selesai, suamiku butuh istirahat sekarang." Tukas Rosy menyela, dadanya terasa membara melihat senyum lebar sang dokter yang begitu kentara, untuk mewakili perasaan tersembunyi wanita itu. Harland berusaha untuk tak tertawa, melihat raut kecemburuan sang istri yang tak dapat di sembunyikan.


"Ah ya, maaf. Silahkan beristirahat tuan Harland, jika kau membutuhkan bantuan. Aku akan menjadi dokter jaga mu hari ini, tekan tombol di samping ranjang anda. Maka aku akan segera datang..." ujar nya masih dengan senyum yang semakin merekah.


"Terimakasih dokter Lidya, tapi ku rasa istri ku masih mampu untuk sekedar membantu segala kebutuhan ku. Tapi sungguh aku berterimakasih atas bantuan anda dokter. Selain cantik anda juga sangat baik dan pengertian." Oh Harland, kau baru saja menyirami padang ilalang kering dengan minyak.


Berbeda dengan riak wajah Rosy yang semakin tak bersahabat, raut wajah Lidya menampilkan wajah merona.


"Anda bisa saja tuan Harland, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat beristirahat.." Setelah kepergian dokter serta seorang perawat asisten nya. Rosy terlihat memasukkan barang-barang nya ke dalam tas sedang.


"Sayang? kau mau kemana?" tanya Harland panik. Namun Rosy tak menjawab, tangan nya masih sibuk memasukkan beberapa potong baju yang sempat dia taruh di laci nakas.


"Sayang, aku hanya bercanda...jangan seserius itu menanggapi nya, maaf kan aku. Aku hanya ingin melihat reaksimu, tak lebih. Hei sayang, hentikan itu atau aku akan turun dari sini!" ancam Harland semakin di landa kepanikan. Namun lagi-lagi Rosy mengabaikan nya.


Hingga terdengar suara benda jatuh, ternyata Harland nekat turun dari ranjang nya dan malah berakhir seperti membuang batu ke dalam air. Tubuh nya masih lemah, kaki nya masih belum mampu berpijak dengan baik.


Rosy bergegas menghampiri suami nya dengan tatapan marah.


"Jika kau ingin mati, kenapa harus susah-susah bertingkah seperti anak kecil. Apa kau tak memikirkan kepalamu bisa saja mengalami infeksi akibat guncangan hebat. Menyusahkan saja..!" Rosy terus mencecar Harland dengan Omelan nya. Namun bukannya marah, pria itu malah tersenyum senang.


Di rangkul nya pinggang sang istri hingga tak bisa lagi memberikan mereka jarak.

__ADS_1


"Aku tau kau tidak akan tega padaku, sayang. Maafkan aku, aku hanya ingin di cemburui. Dengan begitu aku merasa di cintai. Maaf..." lirih Harland berkali-kali mengumandangkan kata maaf pada istri nya.


Rosy menatap manik menyebalkan di hadapan nya, dia selalu mengalihkan pandangannya ketika bertemu muka dengan Harland. Kali ini dia ingin memastikan sesuatu. Detik pertama, debaran jantung nya masih sama. Berdetak kencang sama seperti dulu, artinya hati nya masih terisi penuh oleh pria brengsek itu.


"Kau menyebalkan, dan aku membenci mu!" ketus Rosy hendak beranjak meninggalkan Harland yang sudah dia bantu naik ke atas ranjang.


Namun pergerakan nya terhenti, karena lengan kekar Harland masih merangkul erat pinggang kecil nya.


"Aku juga mencintai mu, sayang." Sungguh jawaban yang melenceng jauh. "Maaf, lain kali tidak lagi. Aku sudah tau jika di hatimu masih tersimpan rapi rasa untuk ku. Tak berubah, hanya butuh sedikit stimulasi untuk mu bisa menunjukkan nya padaku." Ucap Harland dengan wajah serius.


"Dengan memanasi ku seperti tadi?" sela Rosy ngegas, suara nya naik dua oktaf. Harland tergelak renyah, raut wajah itu mengingat kan nya pada Rosy remaja belasan tahun silam. Terlihat galak di luar, namun lembut di dalam.


"Maaf, maaf..tidak lagi, aku tidak berani melakukan nya lagi. Aku kapok sayang," Harland mengangkat dua jari nya membentuk huruf V. Di cium nya kening wanita kesayangan nya penuh perasaan.


"Aku di sofa saja, lagi pula aku belum bilang jika aku sudah memaafkan mu..." tolak Rosy kembali datar. Harland hanya bisa menghela nafas panjang, Rosy memiliki sifat keras kepala yang tak tertandingi.


"Ya ya, aku tau.. tapi kau masih bisa tetap memusuhi ku meski kau sedang bersandar di dadaku sekalipun. Aku tak masalah. Naik lah, keras kepala nya di tunda dulu. Kaki mu bisa sakit jika kau terlalu lama berdiri tanpa tongkat seperti ini." Nasihat Harland sabar. Menghadapi seorang Rosy butuh stok kesabaran yang ekstra.


"Ini hanya karena kakiku yang sakit, bukan ada maksud apapun." Kukuh Rosy mempertahankan gengsi nya.


"Ya ya, terserah kau saja. Naiklah, aku belum mampu menggendong mu naik, jadi kau harus berusaha sendiri kali ini." Seloroh Harland tertawa kecil. Rosy mendengus kesal mendengar kalimat yang seolah dirinya meminta untuk di gendong oleh pria menyebalkan itu.


"Sayang?" tak ada sahutan apapun, Harland mengurai sedikit pelukan nya untuk melihat wanita yang kini tengah berada di pelukan nya.

__ADS_1


"Ku pikir kau tertidur lelap di pelukan hangat ku.." kekeh Harland menjawil bibir mengerucut istri nya.


"Aku mengantuk, boleh kah aku tidur siang? Kau juga butuh istirahat, agar kau lekas pulih. Aku berencana mengambil alih kepemimpinan rumah sakit ini kembali. Paman Robin ingin ku istirahat kan, pria tua itu sudah terlalu lama mengabdi diri nya pada keluarga ku. Bahkan rela tak menikah agar hidupnya tak terikat selain pada keluarga ku. Meski terlambat, aku ingin paman Robin menikmati hati tua nya dengan damai tanpa tuntutan pekerjaan apapun yang memberatkan pikiran nya." Tutur Rosy panjang lebar.


Harland sudah akan protes, namun mendengar alasan mulia di balik rencana sang istri. Harland hanya bisa menyimak tanpa menyela.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan? kau ternyata seorang wanita triliuner terkaya di negara ini, pantas saja segala hal tentang mu seperti sebuah misteri. Sulit untuk di cari di mesin pencari cyber secanggih apapun. Tahun pertama kepergian mu, aku menghabiskan sisa tabungan ku hanya untuk bisa mencari informasi tentang dirimu. Namun hingga aku benar-benar menjadi gelandangan, aku tak menemukan apa-apa. Sekarang aku mengerti, kau memiliki tameng yang luar biasa. Aku merasa malu memaksa mu bersanding dengan pria tak punya ini, aku...."


"Diam lah, Harland! jika kau masih membahas segala kekurangan mu, maka aku akan pergi sekarang. Silahkan kau buat daftar kekurangan mu lalu pantaskan diri untuk ku." Hardik Rosy kesal. Dia tak suka jika seseorang mengurai kekurangan mereka. Karena baginya, jika seseorang sudah bertekad untuk melakukan yang terbaik. Tak peduli seberapa tak punya nya orang tersebut, jalan kesuksesan selalu terbuka dari berbagai arah. Hanya butuh tekad, kerja keras dan komitmen. Mungkin terdengar mudah bagi mereka yang berpikiran picik, namun tak ada hal yang tak mampu di lalui jika kita fokus pada masa depan yang lebih baik.


"Maaf sayang, maaf..." lagi-lagi Harland mengucapkan kata maaf. Dia lupa jika Rosy sangat sensitif terhadap pembahasan tersebut.


"Sekarang istirahat lah, urusan peralihan kepemimpinan rumah sakit. Aku harap kau memikirkan nya lagi, aku ingin sepulang bekerja, istri ku menyambut ku pulang. Mungkin terdengar egois, tapi kali ini, ijinkan aku menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab penuh pada kalian. Aku juga mengkhawatirkan banyak hal, terutama posisi ku. Hati ku...hati ku lemah jika menyangkut dirimu. Aku selalu ketakutan, ketika kau terbangun, kau akan menolak kehadiran ku. Aku tak mau kehilangan mu lagi setelah semua yang aku lalui. Hidup dalam penyesalan itu tak enak, aku seperti memakan racun sedikit demi sedikit setiap harinya. Aku bukan Harland yang dulu, tingkat kepercayaan diriku begitu rapuh. Aku tak akan sanggup bersaing, tapi aku juga tak sanggup kehilangan mu."


Uraian panjang isi hati Harland menyentuh relung hati Rosy yang paling dalam. Pria itu bahkan berucap dengan suara isakan mengiringi kalimat nya.


"Katakan dengan jelas intinya, jangan bertele-tele." Sungguh jawaban yang jauh dari ekspektasi. Namun begitulah Rosy. Wanita yang tak suka basa basi.


"Aku ingin kau tidak bekerja, cukup menjadi istri dan ibu anak-anak ku saja. Membuat kan makanan sehat untuk kami dengan penuh cinta. Intinya, aku menginginkan istri ku menjadi seorang pengangguran. Agar semua perhatian mu hanya tertuju pada ku dan anak-anak." Harland menatap dalam manik bening yang kini tengah menatap nya.


...----------------...


Rekomendasi author : Mapir ya, di novel temanku๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1



__ADS_2