
Waktu tak pernah menunggu, berlalu bagai sebuah perintah. Hari ini sepasang anak manusia akan mengikat janji suci sehidup semati di hadapan para saksi dan sebuah buku Kita Suci. Mendengar pertanyaan dari seorang pastur tentang kesiapan mental dan iman dalam membangun kehidupan berumah tangga.
Manik Nathan yang sejati nya bening, kini memerah menahan tangis bahagia. Pria tampan itu tengah menanti sang pengantin wanita yang berjalan ke arah nya sembari di apit oleh seorang pria yang tak kalah tampan dari nya. Sang calon ayah mertua, Harland Pratama.
Mishy berjalan bagai slow motion ke arah sang pengantin pria, yang tengah menanti nya dengan perasaan hati yang membuncah. Terselip rasa tak biasa kala menatap riak bahagia di wajah sang calon suami. Semacam sesuatu yang sulit untuk di jabarkan.
Namun sekali lagi, dengan keyakinan hati yang teguh, Mishy melangkah pasti tanpa setitik pun keraguan. Senyum selebar kebahagiaan nya, Mishy perlihatkan pada sang calon mempelai nya.
Setiba di depan altar pemberkatan, sejenak Mishy terdiam, menghirup oksigen sebanyak banyak nya hingga memenuhi seluruh rongga dada nya. Hari ini akan membawa perubahan besar dalam hidup nya, sebuah ikatan yang akan merubah segala nya. Dan dia sudah siap untuk semua nya, begitu pun sang putra tercinta. Yang kini tengah menatap nya dari kursi paling depan, untuk menjadi saksi kebahagiaan sang ibu terkasih.
Proses sakral tersebut berjalan penuh hikmad, hingga tibalah waktu nya resepsi yang di gelar di sebuah hotel terbaik di kota ini. Hotel milik Harland Pratama, sang ayah mempelai wanita.
Malam yang menciptakan begitu banyak kebahagiaan, canda tawa, obrolan ringan serta ucapan selamat yang terus-menerus mereka terima dari para tamu undangan. Yang terucap di iringi doa tersemat di dalam nya, bagi kedua mempelai yang tengah berbahagia.
__ADS_1
Sungguh merupakan malam yang luar biasa bagi seluruh keluarga. Malam yang akan di kenang sebagai sejarah bagi keluarga Pratama dan keluarga Roy Pradipta.
Senyum Nathan dan Mishy tak pernah luput, kedua nya terus menebar kebahagiaan yang sempurna di hadapan para tamu undangan. Senyum berjuta-juta kelegaan karena akhir nya bisa di persatu kan dalam sebuah ikatan, yang tak akan mampu di pisahkan oleh manusia selain kehendak Sang Pencipta.
Hingga suara letusan keras mengalihkan perhatian semua orang. Sebelum kepanikan melanda, semua orang terpaku di tempat nya masing-masing. Mishy merasakan genggaman di jarinya mulai melemah. Wanita itu menoleh pada pria yang baru beberapa jam yang lalu resmi menjadi suami nya.
Senyum Nathan kala itu begitu manis dan hangat. Semacam senyum perpisahan yang tak terlupakan. Hingga tubuh tegap itu merosot jatuh ke lantai pelaminan, baru lah Mishy sadar. Jika suami nya telah tertembak. Wanita itu segera bertindak sebagai upaya pertolongan pertama, namun nyata nya, Tuhan lebih menyayangi sang suami melebihi rasa sayang nya pada pria itu.
Para tamu mulai di landa kepanikan luar biasa, untung tim keamanan bekerja dengan cepat untuk mengatasi kericuhan yang akan terjadi. Semua orang di arah kan menuju ruang VIP masing-masing sebagai tempat paling aman sementara waktu.
Merunut dari posisi sang suami berdiri saat itu, maka sang penembak pasti lah berada dari arah terdekat dari tempat mereka berdiri. Dan menilik bagaimana bisa seseorang dengan senjata api bisa lolos keamanan seketat itu. Artinya orang itu adalah orang terdekat nya. Orang yang tak akan mungkin di curigai sebagai orang yang berniat jahat.
Resy? Satu nama yang langsung tertanam sempurna dalam benak Mishy. Tangan wanita itu terkepal erat, satu tangan nya menggenggam jemari dingin Nathan. Di tatapnya wajah yang telah tertutup sempurna, namun begitu damai. Apa kah Nathan sudah merasakan firasat nya, apa kah pria itu sudah bisa menebak ending hidup nya. Sungguh hati Mishy bagai di koyak belati.
__ADS_1
Setiba di rumah sakit, dokter hanya melakukan formalitas saja. Pasien sudah tak mungkin bisa mereka upaya kan kehidupan nya. Tembakan itu mengenai tepat di jantung nya, andai meleset sedikit saja, mungkin masih bisa di lakukan tindakan medis.
Roy terduduk lemas di kursi tunggu di pelukan sang istri. Rasty menahan isakan nya kala melihat suami nya terdiam tanpa reaksi apapun. Dia tau sakit nya kehilangan, apa lagi kehilangan seorang anak. Orang tua yang terlihat baik-baik saja ketika kehilangan anak nya, bukan lah manusia. Setegar apa pun, ada titik di mana mereka akan sangat rapuh dan putus asa.
Mishy? Wanita malang itu harus menanggung dua gelar sekaligus dalam satu hari. Menjadi seorang istri berikut menjadi seorang janda di tinggal mati oleh suami nya.
Tak ada malam pertama, tak ada drama membuka kancing gaun pengantin, tak ada kecanggungan di dalam kamar pengantin. Semua hanya angan, semua seperti mimpi siang hari. Mishy tak seberuntung para pengantin wanita lain nya. Wanita itu harus mananggalkan gaun pengantin nya seorang diri, mengganti nya dengan baju kedukaan. Wanita itu harus kembali tertidur di temani kesendirian malam panjang yang dingin, tanpa pelukan hangat lengan kokoh seorang suami. Wanita itu akan kembali dalam keheningan tanpa ada seseorang yang menyapa nya dengan sebutan istri di pagi hari.
Sungguh definisi wanita malang yang sesungguhnya. Wanita yang terlihat setegar karang, namun sangat rapuh di dalam. Wanita yang memilih menangis dalam diam tanpa seseorang yang mengetahui betapa dalam duka hati nya.
Isak tangis anggota keluarga mengantar kepergian sang mempelai pria yang sudah terbujur kaku dalam peti jenazah. Pria yang masih terlihat sangat tampan dengan jas putih milik nya. Jas yang Mishy buat dengan kedua tangan nya sendiri, sebagai hadiah pernikahan bagi suami nya.
Kini di pakai untuk mengantar kepergian suami nya menuju rumah abadi. Hal yang tak pernah Mishy bayangkan. Tidak ada lagi yang memanggil nya dengan sebutan Lily, tak ada lagi yang memanggil nya mommy Miguel. Karena sang pemilik panggilan, kini telah pergi.
__ADS_1
Rintik-rintik kecil mengiringi duka dua keluarga yang di tinggalkan. Mishy masih betah bersimpuh di depan pusara suami nya. Memeluk bingkai foto yang memperlihatkan potret tampan seorang Nathan Pradipta.
Nama yang terukir di Nissan membuat hati Mishy nyeri berkali-kali. Hanya mata sembab dengan lingkar hitam yang membengkak, yang menandakan bahwa duka wanita itu begitu dalam dan tak terselami. Tak pernah setetes pun Mishy menjatuhkan air mata nya di hadapan siapapun. Namun semua orang tau, jika wanita hebat itu, memilih menangis di ujung malam gelap meratapi kepergian suami nya seorang diri.