
Pria itu terjatuh menghantam toilet duduk di bagian punggung. Sangat sakit, namun tak lebih terasa dari pada suara degub jantung nya saat ini.
Dengan menebalkan wajah.nya, Lexan keluar dari toliet. Baju kaos putih nya basah kuyup seperti orang terguyur hujan. Kedua kaki pria itu bergetar hebat, celana boxer pendek itu semakin memperlihatkan dengan jelas getar kaki nya.
Tanpa menoleh, Savira berbicara kepada Lexan. "Nasihati adikku, jika nasihat mu juga tak mampu menyadarkan nya. Maka bersiaplah kalian berdua menghadapi segala resiko nya bersama." Savira keluar dari kamar tersebut dengan membanting pintu.
Lexan masih tak mampu berkata-kata, dia masih terlalu syok dengan segala kenyataan yang baru saja dia dengar.
Savina bergegas menghampiri sang kekasih dengan harapan Lexan mau memperjuangkan nya.
"Kak, tolong jangan buang aku. Ayo kita pergi bersama sejauh mungkin, aku tak peduli lagi dengan apapun." Bujuk Savina menggenggam erat tangan Lexan dengan tatapan penuh permohonan.
Lexan menatap manik Savina yang berair, lalu Pria itu menggeleng kuat. Sungguh hati nya tak bisa, tak ada perasaan apapun untuk gadis itu. Hanya sebatas saling memuaskan, tak lebih dan dia tak ingin memilih seseorang hanya karena sebuah hasrat. Dia telah menikah, dan bisa melakukan nya kapan saja tanpa repot harus selalu membayar tagihan atas jasa seorang ja l ang seperti Savina.
"Tidak Savina! Aku tak siap kehilangan semua nya, aku tak bisa kehilangan istri ku. Aku mencintai nya, dan aku baru menyadari perasaan itu belakangan ini. Aku hanya tergoda oleh kenikmatan yang kau tawarkan, aku tak pernah benar-benar bisa mencintai mu. Setiap bersama mu, melakukan nya, aku selalu teringat pada Noora. Wanita ku yang dan sempurna." Kini gantian Savina yang menggeleng kuat.
"Tidak kak! Aku lah kebahagiaan mu, aku yang selalu memuaskan mu, aku kak! Aku!" Teriak Savina tak terima. Dia tak rela Lexan membuang nya begitu saja.
"Maaf Savina, nyata nya di hati ku hanya ada Noora. Hubungan kita selesai, pergi lah jauh dari kota ini. Aku akan memberikan mu sejumlah uang yang tak sedikit. Pergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mu selama beberapa tahun. Dan maaf telah merusak mu, meski kau pula lah yang menawarkan nya terlebih dahulu." Savina tertawa dalam tangis nya wanita itu tetap kukuh tak ingin berpisah.
__ADS_1
"Aku Akan tetap di sini hingga kak Noora pulang, akan aku katakan semua nya. Aku tak peduli lagi, atau kakak harus siap kehilangan istri kakak untuk selama nya." Ancam Savina terdengar begitu serius, tatapan nyalang penuh kebencian di arah kan pada Lexan.
"Cukup Savina! Kau keterlaluan, aku membayar mu dengan harga yang mahal untuk tubuhmu yang juga kau obral pada orang lain selain aku. Kau pikir aku sebodoh itu tak mengetahui seluk beluk tentang mu di belakang ku? Aku tau semua nya, itu kenapa aku tak ragu untuk menjadikan mu ja la ng ku!" Teriak Lexan lantang.
Savina menatap tak percaya, bagaimana Lexan bisa mengetahui nya.
"Kau pasti heran bukan? Salah satu orang yang pernah menggunakan jasamu adalah rekan kerja ku. Pria tua bau tanah itu bercerita banyak tentang mu, dengan menunjukkan video percintaan panas kalian. Jadi jangan heran jika aku juga memperlakukan mu layak nya seorang ja la ng." Ucap Lexan penuh penekanan. Pria itu keluar dari kamar tersebut dengan cara yang sama seperti yang di lakukan oleh Savira.
Seperti nya Noora harus berpikir untuk mengganti daun pintu nya ketika dia kembali nanti.
Savina tergugu di dalam kamar sembari memeluk lutut nya. Dia tak akan pergi hingga Noora kembali, begitu lah rencana.
"Angkat sayang, please.." lirih Lexan di dera kepanikan luar biasa. Mobil nya melaju tak tentu arah, mencoba mengingat tempat terbaik kala Noora tengah di landa masalah berat. Namun hingga dua jam berkendara mengelilingi kota, Lexan masih tak tau kemana istri pergi.
Jika Savira bisa dengan mudah kembali secepat itu, Noora pasti berada tak jauh dari kota. Itu lah pemikiran nya, meski hingga sekarang masih belum ada bayangan di mana sang istri tengah menyiapkan kejutan untuk nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Dua hari berlalu, tenggang waktu yang di berikan oleh Noora telah berkahir. Savira menatap beberapa pil obat di atas meja rias nya dengan senyum perih.
__ADS_1
"Aku tak sanggup untuk melihat kesakitan mu, Savina. Meskipun kau anak dari seorang ja la ng yang telah menyakiti hati ibu ku, tetap saja kau adik ku. Semoga kau bisa sedikit tersadar dengan kepergian ku ini, jaga diri mu baik-baik dan cobalah untuk bertobat." Dengan air mata yang mengalir deras, Savira menelan tiga butir tablet lalu meneguk segelas air.
Sementara menanti reaksi dari obat nya, Savira menelisik seluruh sudut kamar tersebut. Kamar di mana diri nya dan sang ibu sering berbagi cerita ketika kecil. Setelah merasakan pusing yang amat sangat, Savira membaringkan tubuh nya di atas ranjang. Wanita itu telah menyiapkan segala nya, kain kafan yang terlipat rapi di atas nakas serta sepucuk surat untuk sang atasan.
Kedua netra nya mulai terasa berat, nafas Savira tersendat-sendat. Namun wanita itu tersenyum lega, memeluk bingkai foto kebersamaan nya bersama sang ibu tercinta.
Berselang beberapa detik kemudian, sang kelam mulai menjemput nya. Kegelapan itu menandakan jika tanda-tanda kehidupan Savira telah habis. Wanita itu pergi selama nya dengan membawa kekecewaan dan luka menganga, atas perbuatan sang adik tercinta.
Di tempat lain, Noora tanpa sengaja menjatuhkan jam tangan pemberian Savira sebagai hadiah ulang tahun nya dua bulan yang lalu. Jam dengan harga tak murah itu adalah hadiah pertama dari seseorang selain keluarga nya. Lexan pun tak pernah memberikan nya hadiah dengan harga yang fantastis.
Jantung Noora berdetak kencang, saat memungut jam yang terlihat telah retak itu. Ada perasaan tak biasa, namun berusaha dia tepis jauh.
Wanita itu kemudian bersiap mengemas pakaian nya ke dalam koper. Lagi-lagi Noora tercengang, ada kotak sedang berwarna biru di dalam lemari pakaian tersebut. Di ikat dengan seutas pita biru muda yang merupakan warna favorit nya. Dan sekali lagi, Lexan bahkan sering lupa apa yang menjadi kesukaan nya.
Di dalam sana, ada beberapa foto kenangan diri nya dan Savira selama lima tahun terakhir dari awal memulai persahabatan. Di balik foto-foto tersebut, di sertakan tanggal dan tempat, serta kata-kata mutiara terbaik sebagai penyemangat untuk nya ke depan kelak.a
Noora meraih ponsel nya kemudian menghubungi sang asisten, namun hingga panggilan ke lima Savira tak kunjung mengangkat nya. Terang saja, wanita itu tengah menapaki tangga menuju keabadian tanpa Noora ketahui.
Merasa di abaikan, Noora mengumpat kesal.
__ADS_1
"Sialan kau Savira! awas saja jika kita bertemu, akan ku hukum kau dengan lembur selama seminggu penuh." Ucap wanita itu kesal, tanpa tau jika dalam waktu seminggu ke depan, dia akan sibuk meratapi kepergian sang sahabat ketimbang memberikan wanita malang itu hukuman.