
"Sayang, maafkan mommy.. perjalanan mommy rupa nya masih panjang, pekerjaan mommy masih sangat padat sekarang. Bersabar lah, mommy akan membawa banyak oleh-oleh untuk kalian semua. Jadi bersikap baik lah, dan turuti apa yang kakak kalian katakan. Mommy akan segera pulang, tapi tidak sekarang. Pergi lah menginap ke rumah oma dan opa, atau ke rumah kakek dan nenek. Bermain lah di sana tapi jangan membuat ulah. Oke?"
Sesak, itulah yang Wira rasakan. Kenapa Mishy harus berbohong pada anak-anak nya? Kemana suami wanita itu, kenapa tidak menemani nya di saat-saat seperti ini. Tubuh kurus Mishy terlihat sangat kurus karena dalam keadaan tanpa rambut. Namun itu tak mengurangi kadar kecantikan wanita nya, Mishy masih terlihat sangat cantik di pandangan nya.
Pria itu masuk perlahan menuju brankar Mishy dengan langkah yang sangat pelan.
"Baik lah, mommy harus melakukan meeting dulu. Jangan lupa belajar, love you kiddos" Mishy mengakhiri panggilan nya di sertai isakan tertahan. Wanita itu menangis sambil meringkuk memeluk bantal.
Wira sudah tak tahan lagi, apa lagi saat mendengar kenyataan yang baru saja Mishy ucapakan.
"Andai kau masih di sini, aku butuh pelukan hangat untuk menguatkan ku dari rasa sakit ini Tatan. Kenapa kau pergi begitu cepat, aku kesakitan seorang diri. Aku... kesepian..aku butuh bahu untuk ku bersandar...aku butuh telinga untuk mendengar keluh kesah ku...aku sekarat..." Wira menarik tubuh ringkih Mishy dalam dekapan nya. Sangat erat, pria itu pun menangis terisak.
Hati nya sakit mendengar kenyataan yang begitu menampar nya. Wanita nya selama ini hidup dalam kesakitan nya seorang diri, dan dia berada di benua lain terpuruk dalam pernikahan yang tak sehat. Andai, andai dia tau lebih cepat. Maka sudah sejak lama Wira kembali ke tanah air dan mengakhiri pernikahan rusak nya tanpa peduli pada persahabatan dengan Enrico.
"Menangis lah jika kau ingin, aku akan memberikan bahu ku untuk kau sandari. Kedua telinga ku untuk mendengar keluhan hati mu. Aku di sini, bersamamu mulai sekarang." Mishy masih larut dalam tangis nya, sehingga mengabaikan siapa orang yang tengah memeluk nya seerat itu.
Setelah tangis nya reda, Mishy mendongakkan kepala nya. Betapa kaget nya wanita itu saat melihat siapa yang tengah memeluk nya sejak tadi. Mata nya melotot sempurna, Mishy meraih ciput untuk menutupi kepala nya. Namun karena terburu-buru, ciput tersebut malah jatuh ke lantai.
Wira menangkup wajah Mishy dengan air mata yang masih mengalir deras, wanita itu terlihat masih sangat cantik di mata nya. Meski cekungan lingkar hitam di mata itu terlihat cukup lebar.
"Jangan di tutupi, kau cantik apa ada nya." Wira tak sengaja melihat nampan berisi makanan yang di berikan pihak rumah sakit. Masih utuh, dan dia yakin Mishy pasti tak berselera untuk memakan nya. Bagaimana pun lidah nya orang sakit jelas berbeda. Apa lagi dalam kondisi sendirian tanpa dukungan seseorang, pasti akan semakin membuat nya kehilangan semangat.
Wira duduk di sisi ranjang, menatap Mishy dengan intens. Bukan untuk menilai penampilan wanita itu, namun lebih untuk melepaskan kerinduan yang sudah begitu bertumpuk dalam hati nya.
"Kau ingin ku suapi? Obat mu belum di minum, makan lah sedikit saja. Aku ingin menawari mu makanan dari luar, hanya saja takut salah. Nanti aku akan bertanya pada dokter, makanan apa saja yang boleh kau makan." Tutur Wira panjang lebar. Mishy mengalihkan pandangan nya ke sudut ruangan. Selain malu akan penampilan nya, Mishy juga tak nyaman pada tatapan Wira yang begitu dalam pada nya.
__ADS_1
Klek
Seorang anak membuka perlahan pintu ruangan Mishy, anak itu tersenyum begitu manis ke arah Mishy. Wanita itu mengerutkan kening nya heran, kenapa ada anak kecil nyasar ke ruangan nya.
"Maaf dad, aku tak bisa masuk ke dalam mobil.." cicit Justin merasa bersalah, apa lagi saat melihat tatapan datar Mishy pada nya. Dia takut Wira akan memarahi nya karena sudah mengganggu momen pertemuan tersebut.
"Ah maaf, daddy lupa membukakan pintu mobil untuk mu. Masuk lah, bukan kah kau sangat ingin bertemu dengan wanita cantik ini? Kau bahkan sering melukis nya dan di tempelkan di balik pintu lemari mu?" Justin tersenyum meringis, benar memang. Dia sering melukis rupa Mishy dengan berbekal melihat wanita itu melalui foto di ruang kerja Wira. Selebih nya, Justin hanya membayangkan nya melalui imajinasi nya.
"Dia putra mu?" Tanya Mishy meyakinkan. Bukan nya apa, tak ada sedikit pun kemiripan Justin dan Wira.
"Be..."
"Aku Justin, daddy Wira adalah ayah tiriku." Wira melotot sempurna mendengar kalimat pendek namun sangat mengena di jantung nya. Justin tak ingin Mishy salah paham pada, sungguh anak yang sangat pengertian.
"Kemari lah, kenapa kau berdiri di sana? Apa karena kepala ku? Apa kau takut, hmmm?" Justin menggeleng cepat. Mishy sangat cantik bagi nya, bahkan berkali-kali lipat lebih cantik dari ibu kandung nya.
Dengan langkah pelan Justin masuk menuju brankar Mishy, sesekali Justin melirik ke arah Wira. Dia takut salah mengambil keputusan, dia tak ingin Wira marah karena kelancangan nya.
"Siapa namamu sayang?" Tangan kurus Mishy terulur menyentuh pipi Justin membuat Justin reflek memejamkan kedua mata nya. Sungguh sentuhan yang menghangatkan hati dan jiwa. Dia menyukai nya.
"Justin, nama ku Justin bibi.." sahut Justin kembali membuka ke-dua mata nya dan menatap Mishy dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.
Mishy tersenyum hangat, dia melihat sepasang mata yang menatap nya dengan penuh harapan tinggi yang tersimpan di sana. Entah harapan seperti apa.
"Nama yang bagus. Cocok untuk pria tampan seperti mu." Puji Mishy mengusap rambut tebal Justin. Pipi Justin merona, dia sangat suka Mishy memuji nya dan dia tau pujian itu sangat tulus. Pantas saja sang ayah begitu mencintai wanita ini batin nya berbisik.
__ADS_1
"Kau bersekolah di SD XX? Sejak kapan?" Tanya Mishy, seragam yang sama dengan ke empat anak nya.
"Benar bibi, dari mana kau tau?" Justin mulai terlihat santai juga antusias terlibat obrolan dengan Mishy. Wanita yang dia harapkan kelak mau menatap nya lebih dari sekedar orang asing.
"Aku punya empat orang anak yang juga bersekolah di sana. Mereka satu kelas yang sama, kelas 2 SD. Coba ku tebak, kau pasti baru kelas 1 bukan?" Justin mengangguk membenarkan.
"Siapa nama mereka, mungkin kami bisa berteman nanti." Tanya Justin ingin tau.
"Minima, yang biasa di panggil Mima. Marcelo atau Selo, Michael atau Kael dan Mercy." Terang Mishy tersenyum simpul.
"Apa mereka berempat kembar?" Lanjut Justin penasaran. Pasal nya salah satu di antara mereka sangat berbeda. Dan salah satu gadis itu telah mencuri perhatian nya.
"Hanya Kael, Selo dan Mercy. Mima lebih tua beberapa bulan." Wira mengerut kan kening nya, dari tadi pria itu terus menyimak obrolan antara Mishy dan putra nya.
"Kenapa Mima bisa selisih beberapa bulan dari triplets?" Kini Wira yang bertanya, pria itu di landa rasa penasaran yang besar.
"Mima putri Resy, aku mengadopsi nya." Jawab Mishy apa ada nya.
"Apa dia?" Wira menggantung kalimat tanya yang bisa saja mengorek luka lama.
"Bukan. Nathan hanya ada 3 orang anak, triplets." Jelas Mishy cepat, Wira mengangguk mengerti. Berkaca pada kisah Resy di masa lalu, wanita itu juga pernah melahirkan seorang antsk lain ketika masih sekolah. Jadi dia cukup paham tanpa harus di jelas kan lebih detail.
"Kenapa kalian bisa berada di sini?" Kini Mishy yang mulai bertanya, untuk mengalihkan pembahasan. Dia berusaha menarik tangan nya sejak tadi dari genggaman Wira. Namun pria itu malah semakin mengeratkan genggaman nya.
Dia tak nyaman dengan Justin, dia belum tau status Wira dengan jelas. Dia tak ingin menciptakan kesalahpahaman, jika tiba-tiba Justin bercerita pada ibu nya mengenai pertemuan itu juga sikap Wira pada nya.
__ADS_1