Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Uji kesabaran


__ADS_3

"Aku hanya mencari beberapa buku referensi bisnis restoran, tanpa sengaja aku menemukan harta karun di antara buku di sana." Terang Satya ada adanya.


"Waw! Kau keren. Apa kau suka memasak? Aku sedang mengikuti kursus memasak beberapa bulan ini, jika kau butuh karyawan nantinya hubungi aku saja. Aku akan bekerja sebagai koki pemula di restoran mu. Gaji ku tak mahal, cukup untuk membeli kuota internet dan ongkos naik ojek. Murah kan?" Satya tergelak renyah mendengar kalimat polos yang begitu serius meluncur dari bibir mungil Silvery.


Membuat bibir mungil itu seketika cemberut karena merasa kemampuan memasak nya di remehkan.


"Sorry, sorry.. bukan maksudku, aku hanya tertawa karena merasa sedikit lucu. Kau ingin bekerja padaku bahkan restoran nya pun baru ada dalam khayalan ku. Aku baru berencana, melihat prospek juga menyesuaikan dengan budget yang aku punya. Modalku tak banyak, aku bekerja sebagai cleaning servis di rumah sakit XX. Dan gaji ku belum cukup banyak untuk membuka sebuah restoran berikut membayar karyawan." Terang Satya tak ingin Silvery salah paham padanya.


"Rumah sakit XX ya? Berapa lama kau bekerja di sana, kenapa aku tak pernah melihat mu? Padahal aku sering piknik di sana untuk waktu beberapa hari, jika aku melakukan serangkaian tes kesehatan menyeluruh." Tanya Silvery mulai penasaran.


"Kurang lebih dua tahun ini. Lagipula aku dapat area kelas menengah ke bawah, dan kau pasti piknik di area para jutawan." Seloroh Satya tersenyum simpul.


"Satya, bisakah kau jangan sering-sering tersenyum padaku? Aku sedikit risih." Satya sontak memasang wajah datar juga ekspresi terkejut. Namun Silvery justru tertawa renyah.


"Kenapa kau tertawa? Apa kau serius dengan perkataan mu tadi?" Kini giliran Satya yang bertanya.


"Aku serius, aku takut terserang diabetes jika terus-menerus kau suguhkan dengan senyum manis mu." Blus! Bukan nya malah dia yang membuat pipi Silvery merona karena rayuan nya, namun malah sebaliknya.


Satya meneguk teh manis nya dengan salah tingkah.


"Setelah ini mau aku antar pulang?" Tanya Satya mengalihkan pembicaraan. Bisa-bisa dia terkena serangan jantung mendadak jika terus-terusan di lontarkan kalimat penuh debaran tersebut.

__ADS_1


"Aku masih ingin berlama-lama di luar, aku jarang bisa keluar bebas. Sekarang kakakku sedang sibuk dengan kehamilan nya, jadi aku punya banyak waktu untuk menjadi anak nakal. Bagaimana jika kau menemani ku mencari beberapa pakaian bayi? Aku ingin membelikan untuk calon keponakan ku, kurang satu bulan lagi aku akan menjadi seorang aunty cantik untuk keponakan kecil ku." Cerita Silvery dengan mata berbinar cerah.


"Baiklah, kemana kita akan mencari nya?"


"Aku punya toko baby shop terbaik dengan harga ramah di kantong. Apa kau tau, aku kasih sering kesulitan menggunakan lembaran para pahlawan tersebut. Jadi, ayo bantu aku menghabiskan uang di tasku ini." Bisik Silvery sembari memperlihatkan sejumlah uang yang bahkan ada yang masih tersegel utuh.


"Kau mambawa uang sebanyak ini, untuk apa?" Ujar Satya membelalak kan matanya tak percaya. Gadis itu menaiki angkutan umum dengan membawa uang tunai dalam jumlah yang fantastis.


"Untuk menukarnya dengan makanan ini, juga beberapa barang yang aku ambil dari toko yang aku inginkan." Sahut Silvery dengan wajah polos. Satya hanya bisa menghela nafas panjang, gadis itu benar-benar polos. Bisa saja seseorang memanfaatkan nya jika begitu.


"Baiklah, jangan pernah perlihatkan pada siapapun isi tas mu lagi. Itu berbahaya, apa kau mengerti?" Silvery mengangguk paham, meski tak mengerti konteks berbahaya yang di maksud oleh Satya.


"Ini lucu, ya ampun..lihat lah, aku jadi pengen punya bayi juga. Apa kau tau, teman baru ku yang bernama Gery sering mengatakan akan Mengajariku cara membuat bayi yang lucu. Dia sungguh baik bukan?" Satya membelalak mendengar kalimat polos Silvery dengan hati kesal.


"Dengar kan aku, jangan pernah bertanya hal-hal seperti itu lagi pada siapapun. Paham? Itu tidak baik untuk orang yang belum menikah seperti mu. Membuat bayi hanya di khususkan bagi orang yang sudah menikah saja." Sungguh Satya gemas dengan kepolosan Silvery yang benar-benar membahayakan gadis itu nanti.


"Menikah? Seperti kakak ku dengan dokter Rafka, juga mommy dan daddy?" Tanya Silvery mencoba mencerna makna kalimat Satya. Pria itu mengangguk cepat, membenarkan ucapan Silvery agar gadis itu segera paham.


"Kalau begitu, ayo kita menikah saja. Kita bisa membuat bayi sendiri bukan? Jadi tidak perlu gemas melihat bayi orang lain." Rahang Satya hampir jatuh menyentuh lantai saking cengo nya mendengar kalimat ajaib dari mulut kecil Silvery.


Satya menarik pelan tubuh Silvery menuju sebuah kursi, setelah gadis itu duduk Satya berjongkok di hadapan nya.

__ADS_1


"Dengarkan aku, konteks menikah itu tak semudah kau mengucapkan nya. Banyak proses menuju ke sana, dan itu tidak mudah. Pertama, kau harus memiliki kekasih terlebih dahulu, lalu kau dan kekasihmu bersepakat untuk bertunangan agar ikatan kalian lebih kuat. Baru setelah itu pernikahan bisa terjadi, jika semua pihak sudah menyetujui penuh hubungan yang sedang kau jalani. Jadi, apa kau memahami apa yang aku jelaskan?" Tanya Satya harap-harap cemas.


Bukan tanpa alasan kenapa Satya bisa berada di perpustakaan tadi, itu karena selama 2 tahun ini, Satya selalu memantau kehidupan Silvery.


Gadis polos itu baru saja belajar mengenal seluk beluk kehidupan luar, setelah puluhan tahun terkungkung oleh penyakit nya. Wajar saja jika Silvery terlihat sedikit kesulitan beradaptasi dan terkadang begitu polos menanggapi hal-hal baru dan tabu.


Usianya sudah 24 tahun, namun jiwa nya masih terkurung di usia remaja yang kekanakan. Karena Silvery tak pernah bergaul dengan siapapun selain keluarga nya, yang terkadang memperlakukan nya bak anak kwcil yang selalu butuh diperhatikan setiap waktu. Keterbatasan dalam ruang gerak dan pengenalan perkembangan jaman, membuat nya sedikit banyak selalu penasaran akan sesuatu yang menurut nya unik dan menarik.


"Aku paham. Jadi ayo kita pacaran, kau menjadi kekasih ku. Begitu kan?" Sungguh Satya ingin menenggelamkan kepalanya ke dalam freezer box agar otaknya tak memanas dalam mengahadapi sikap polos Silvery.


"Bukan seperti itu juga, Silvery...." Desis Satya semakin gemas. Namun gadis itu malah tersenyum lebar tanpa tau jika sikap nya membuat Satya tensi tingkat akut.


"Jadi kita sudah resmi pacaran, kan? Baiklah pacar, ayo kita memborong pakaian bayi ini. Aku harap kakak ku kelak akan melakukan hal yang sama jika akita sudah punya bayi seperti nya. Apa istilah nya....haa, simbiosis mutualisme. Itu yang pernah di ajarkan oleh guru les ku." Sungguh Satya berencana ingin melakban mulut sang guru les, yang telah mengajarkan otak polos Silvery dengan kata-kata yang memiliki makna berat, untuk bisa di cerna dengan baik oleh gadis itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...12 bab untuk absen satu hari kemarin, semoga bisa membantu melewati malam dengan senyum-senyum sendiri 🤭🤭😁😁...


...Luv yuu kalian semua🤍💝🤍💝🤍💝🤍💝🤍...

__ADS_1


__ADS_2