
"Terimakasih sayang, aku bersyukur mengenal dan memiliki mu. Tuhan sangat baik padaku, sehingga mengirim seorang wanita berhati malaikat yang begitu cantik ini. Dan aku mencintaimu seluas jagat raya, tak terhingga. Tetap lah di sisiku walau apapun yang akan terjadi kelak." Ucap Nathan menenggelamkan wajahnya di dada Mishy, merasakan debaran yang sama seperti yang tengah dia rasakan saat ini.
Nathan tersenyum bahagia, cinta nya bersambut. Dia hanya perlu berjuang untuk terlepas dari pernikahan tak sehat itu.
๐น๐ท๐น๐ท๐น๐ท๐น
Mila menatap penuh tanya ke arah pintu ruangan sang direktur, yang tak akan bisa menjawab rasa penasaran nya.
"Bukan kah beliau baru menikah kemarin, kenapa hari ini sudah bekerja? dan raut wajah nya tak terlihat seperti pengantin baru yang berbahagia... astaga! kenapa aku jadi kepo seperti ini. Ingat Mila, kau di gaji bukan untuk mencampuri urusan bos mu." Perawat muda itu menepuk pelan keningnya.
Kring kring kring
Mila segera menjawab panggilan telepon di atas meja nya.
"Selamat siang dengan perawat Mila ada yang bisa di bantu?" ucap nya ramah tanpa jeda. Kalimat yang sudah dia hapal mati ketika terpilih menjadi perawat asisten bagi sang direktur.
"Mila, tadi aku seperti melihat Resy.. maksud ku ibu direktur, apa beliau turun bekerja atau sekedar mengambil sesuatu saja?" Mila tau suara siapa yang kini tengah mengintrogasi nya. Dia senang, ternyata bukan hanya diri nya yang terjerat rasa kepo, dokter Andin pun sama.
"Kurang tau dokter, sejak datang belum ada berbicara apa pun. Wajah ibu direktur terlihat sedang menahan marah. Barangkali semalam pak Nathan kurang full power, jadi ibu direktur kurang puas.." Mila terkikik geli mendengar penuturan nya sendiri.
Andin menghela nafas berat, dia tau apa yang terjadi dengan Resy. Lebih nyesak lagi mendengar kalimat sang asisten direktur yang begitu polos, namun memiliki kalimat vulgar yang tak tersaring dengan benar.
__ADS_1
"Baik lah, jangan katakan aku menelepon mu. Lanjut kan pekerjaan mu, jangan mengintip atau kau akan berakhir di keranda mayat besok pagi." Tukas Andin penuh peringatan. Mila mengerut heran, dia merasa sang dokter tengah bercanda pada nya. Hingga tak menanggapi nya serius.
Setelah panggilan berakhir, Mila kembali menatap pintu ruangan sang direktur yang tertutup sempurna. Ada rasa penasaran yang terus mendorong nya untuk menghampiri daun pintu sekedar menguping. Entah lah, dorongan alamiah manusia. Selalu ingin tau namun tak suka di kepoin balik.
Dengan sedikit usaha, akhirnya Mila berhasil menguping di balik pintu ruangan sang direktur. Untung saja ruangan tersebut tidak di lengkapi dengan peredam suara, jadi telinga Mila yang memiliki bibit seorang penguping bisa mendengar meski hanya samar.
"Aku tidak mau tau Jo..! berikan lagi obat peran*gsang itu, kali ini aku tak akan memberi obat lain. Aku ingin melihat reaksi Nathan saat dalam keadaan sadar sepenuhnya untuk meniduri ku. Dan kau, siapkan saja apa yang aku butuhkan. Aku akan membayar mu dua kali lipat dari yang kemarin.."
Mila menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Kini otak nya mulai traveling ke beberapa waktu lalu. Jadi obat sejenis psikotropika golongan 1 waktu itu di berikan sang direktur pada suami nya beserta obat peran*gsang? Astaga! Mila sungguh tak menyangka, pantas saja saat menghadiri pernikahan dadakan tersebut. Mila seperti menangkap aura keterpaksaan di wajah mempelai pria nya.
Ekspresi wajah suami atasan nya terlihat sangat tertekan. Kini dia yakin, jika pria malang itu sudah di jebak oleh sang direktur dengan cara yang licik. Dan dia tak boleh membiarkan ini berlanjut, dia tau Nathan adalah pasien spesial di rumah sakit tersebut. Pria itu sering melakukan check up kesehatan jantung nya. Dan obat laknat tersebut bisa membuat pria itu berakhir di kamar mayat jika tak tersalurkan.
Dengan sedikit tergesa, Mila mendatangi ruangan dokter Andin. Dia harus segera melaporkan hal ini pada dokter itu. Entah kenapa dia begitu yakin, jika dokter Andin tak memiliki hubungan yang baik dengan direktur mereka.
Klek
Mila masuk langsung memperlihatkan wajah penuh kecemasan. Andin menatap pada Mila dengan tatapan heran, baru saja dia menelepon wanita muda itu, dan kini Mila sudah berdiri di hadapan nya.
"Mila? kenapa wajahmu terlihat panik? ada masalah? apa direktur mengetahui jika aku menelepon mu tadi? apa dia memarahi mu?" Andin memberondong Mila dengan banyak pertanyaan tak sabar.
Mila menggeleng kemudian mengangguk, lalu menggeleng lagi. Andin semakin mengerutkan dahinya dalam.
__ADS_1
"Cerita kan padaku perlahan, ini minum lah..aku belum menyentuh nya, masih bersegel." Andin menyerahkan sekotak sari kacang pada Mila. Wanita itu membuka nya menggunakan gunting, Mila meminum langsung tanpa menggunakan sedotan. Bukan karena dia haus, namun lebih untuk menetralkan efek negatif di kepala nya. Mendengar kalimat demi kalimat sang direktur, telah berhasil menciptakan radikal buruk di dalam otak nya.
"Sekarang, cerita kan perlahan...aku akan mendengar mu tanpa menyela.." tutur dokter Andin mengulang kalimat penuh rasa penasaran nya.
Mila menarik nafas dalam-dalam, seolah sedang dalam tekanan yang berat.
"Tadi...aku tak sengaja mendengar, maksud ku.. kalimat larangan dokter Andin di telpon tadi, malah membuat aku penasaran. Hingga aku memutuskan untuk benar-benar menguping di depan pintu ruangan bu direktur. Dan..." lagi-lagi Mila menghela nafas panjang.
"..bu direktur sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Beliau meminta obat peran*gsang untuk di berikan pada suami nya sendiri, dan kali ini tanpa obat yang memberikan efek halusinasi seperti yang dia lakukan tempo hari. Sekarang aku mengerti, jika obat yang aku tebus kemrin, di lakukan untuk sebuah konspirasi kejahatan terencana. Aku benar-benar merasa berdosa dokter...aku bersalah telah membuat seorang pria terpaksa melakukan pernikahan tanpa keinginan nya. Aku..." Mila terisak dengan bahu berguncang hebat. Dia merasa sangat bersalah.
Andin hanya bisa menarik nafas berat, dia tau tujuan Resy memesan obat tersebut melalui Mila. Namun dia tak tau jika Nathan adalah sasaran nya. Dia hanya takut ancaman Resy benar-benar di lakukan pada sang ibu. Dan betapa terkejut nya Andin saat mendapati undangan yang tertera nama Nathan sebagai mempelai pria nya. Sungguh dia menyesali nya.
"Dengar Mila, mari kita anggap tak mengetahui apapun. Maksudku, berpura-pura lah untuk sementara waktu. Kita lakukan dengan cara yang halus jika ingin membuktikan sebuah kejahatan, karena tindakan yang gegabah akan membuat kita terperosok pada jalan yang salah. Aku akan membantu mu untuk mencari tau pada siapa Resy memesan obat laknat itu. Jadi, pergi lah ke kantin. Belilah seporsi masakan rica level setan dan seporsi nasi. Kau akan mengerti nanti, dan ya, tidak perlu membeli air minum apapun." Titah dokter Andin penuh maksud.
Meski belum paham tujuan dari perintah dokter Andin, Mila mengangguk setuju. Dokter Andin bahkan memberikan dua lembar uang merah pada nya, yang hanya di ambil satu lembar saja oleh Mila. Keuangan nya sedang dalam fase kritis, karena setiap bulan gaji nya langsung di potong otomatis oleh Bank untuk mencicil hutang KPR nya.
Setelah kepergian Mila dari ruangan nya, Andin menghubungi seseorang. Terlihat dari pembicaraan nya, sangat serius. Beberapa kali dokter Andin mengangguk kan kepalanya saat menyimak apa yang di katakan lawan bicara nya. Setelah panggilan berakhir, Andin mengusap wajah yang terlihat lelah.
"Kau benar-benar wanita penuh ambisi Resy, kau bahkan mendapat kan Nathan dengan cara yang licik. Dasar wanita serakah!" umpat dokter Andin geram.
๐น๐ท๐น๐ท๐น๐ท๐น๐น
__ADS_1
...sajen guys sajen๐คญ๐...
...Othor butuh sajen untuk membuat Resy terperosok dalam rencana jahat nya sendiri๐ฅด๐ฅด...