Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Lega


__ADS_3

Berbeda dari kebanyakan gadis seusia nya, Olivia lebih dulu meminta untuk mengunjungi area bermain anak-anak. Sejak kecil dia tidak pernah naik jenis wahana apapun di desa nya. Mereka tidak punya cukup uang untuk membeli karcis masuk.


"Lihat lah papa, dia sudah seperti kepala keamanan saja. Kemana Livi pergi, papa akan mengintili nya seperti anak ayam." Keluh Olsen mengadu pada sang kakak.


Mereka berdua memilih untuk duduk Setelah puas bermain, kini hanya menatap sang ayah juga adik nya yang tengah bermain lemparan bola basket. Olivia begitu senang karena mendapat poin terbanyak, untuk dia tukar dengan kaos kaki hello Kitty. Padahal meski dengan pabrik nya pun, kedua kakak nya mampu untuk membelikan nya. Namun akan lebih menyenangkan bagi Olivia bila bisa membelinya dengan cara menukar melalui poin.


"Biar kan saja, apa kau lebih suka papa yang datar dan dingin? papa ingin menebus banyak waktu nya yang hilang bersama Livi. Giliran kita nanti saja, biar kan Livi puas bermain bersama papa." Nasihat sang kakak bijak. Dia tau betapa sang ayah sangat merindukan adik nya.


"Ck! kalau aku lihat-lihat, papa tidak akan mau berbagi pada kita. Aku jadi kasihan dengan nasib tuan muda Pratama, apa bisa dia mendapatkan restu papa dengan mudah." Olsen terkekeh kecil, membayang kan Mylo akan uring-uringan akibat ulah sang ayah nanti.


"Kak! haus.." seru Olivia berlari kecil ke arah sang kakak. Sementara Mahesa menuju counter makanan ringan. Dia ingin membeli kentang goreng juga susu milo klasik kesukaan sang anak.


"Sampe keringatan gini, minum dulu.." Odion menyerah botol air mineral milik nya. Pria itu dengan telaten mengusap keringat di kepala sang adik.


"Senang tidak, main sama papa?" tanya Olsen setelah merapikan aneka boneka berbagai ukuran ke dalam paper bag.


"Senang, aku dapat banyak hadiah di mesin boneka tadi. Oya, aku juga tukar kaos kaki sama gelembungan ini." Pamer Olivia menunjuk kan barang-barang di atas kursi plastik di samping sang kakak.


"Nanti kakak beli tembakan gelembung yang gede, sama kolam balon nya sekalian." Sambung Odion tersenyum senang. Melihat bagaimana adik nya yang terlihat begitu bahagia. Usia nya sudah 23 tahun, namun sikap nya seperti anak-anak labil. Dia berniat membawa Olivia terapi saraf, untuk membantu perkembangan sel otak nya yang mungkin saja mengalami gangguan akibat insiden yang menimpa adik nya.

__ADS_1


"Sungguh? asyik!" seru Olivia girang, gadis itu mencium kedua pipi kakak nya dengan sayang. Namun ada sepasang mata menatap tak suka dari arah berlawanan. Tangan nya terkepal erat dengan nafas memburu marah.


Langkah lebar nya terarah di mana Olivia tengah berdiri. Setelah tiba dalam jarak kurang sedepa, tangan nya terulur meraih rambut Olivia lalu menarik nya dengan kasar.


Teriakan Olivia yang tiba-tiba membuat Olsen dan Odion terkejut bukan main, lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang menjambak rambut sang adik tanpa perasaan.


"Dasar ja*l*ang! kecil-kecil sudah mau jadi simpanan om-om, sungguh tidak tau malu!" teriak nya marah. Satu tangan nya dia gunakan untuk menampar pipi mulus Olivia hingga memar.


"Lepas kan dia ja*l*ang! lepas kan adik ku! kau lah wanita tak tau malu, jauh kan tangan kotor mu dari adik ku!" teriak Olsen marah. Dorongan kuat membuat tubuh si wanita terpental ke lantai dalam posisi yang tak sedap di pandang. Posisi nya terjengkang dengan kedua kaki menga*ng*kang, itu berhasil memperlihatkan isi di balik dress mini ketat milik nya.


"Kakak lihat! apa ini yang kakak bilang pakaian tertutup? sungguh memalukan! urus wanita mu kak, aku akan membawa Livi pulang. Aku harap mata hati kakak terbuka lebar kali ini." Hardik Olsen dengan nafas memburu marah. Andai Laura seorang laki-laki, sudah dia hajar sejak tadi.


"Pa kita pulang.." ujar Olsen singkat, Mahesa terkejut melihat penampilan sang anak berantakan.


"Apa yang terjadi nak? kenapa adik mu?" pria paruh baya itu terlihat sangat panik. Sedangkan Harland tertegun menatap Olivia dalam gendongan Olsen.


"Pergi lah, biar aku yang akan membayar pesanan mu.." titah Harland menepuk bahu Mahesa.


"Sayang..maaf, aku ke toilet bawah agar tidak antri, malah antrian nya sepanjang rel kereta." Cerocos Rosy duduk di kursi yang ada di depan counter makanan tersebut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sayang, tadi aku mengobrol sebentar dengan tuan Mahesa sebelum mereka pergi membawa Olivia. Seperti nya sesuatu telah terjadi pada Olivia, rambut nya terlihat berantakan juga pipi nya memar seperti habis di tampar oleh seseorang." Cerita Harland membuat Rosy reflek bangun dari duduk nya.


"Kenapa kau tak bilang dari tadi, ayo kita sambangi kediaman tuan Mahesa. Ini kalau Mylo tau, aku yakin tangan yang sudah menyakiti Oli nya akan langsung dia mutilasi." Gumam Rosy berjalan cepat dan di susul oleh Harland yang baru selesai membayar tagihan belanjaan nya juga Mahesa.


"Jangan menghubungi anak mu dulu, aku khawatir Mylo akan langsung mencari pelaku nya." Ujar Harland mengingat kan. Dia sudah tau alasan sang anak selalu menjauhi para wanita, itu karena cinta nya pada Olivia kecil telah permanen. Usia nya baru 13 tahun kala itu, jatuh hati pada Olivia yang baru berusia 10 tahun.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


"Maaf kan aku sayang, aku tak tau kalau dia adik mu..dan pakaian ini, aku terpaksa memakai nya. Teman-teman ku sering meledek ku karena selalu memakai pakaian tertutup. Aku juga sebenar nya tak nyaman, aku gerah. Tapi aku rela melakukan nya demi diri mu, karena aku sangat mencintaimu sayang.." ratap Laura mengiba belas kasih Odion.


Dia tau siapa Odion, pria paling kejam pada orang yang berani berurusan dengan nya.


"Seharusnya kau tak se bar-bar itu, Laura.." desis Odion menekan rasa marah nya. "dan kenapa kau harus mendengarkan teman-teman mu, siapa mereka dan siapa aku bagi mu. Kau mencintaiku, ku rasa itu bukan cinta. Benar kata adik ku, aku telah salah menjatuhkan pilihan. Kita selesai, aku tak ingin melihat mu berada di sekitar ku lagi. Mulai sekarang, kartu mu aku blokir, cari lah uang dengan bekerja keras. Tak selama nya kau bisa menemukan pria seperti ku, yang bisa kau manfaat kan semua mu." Odion melewati tubuh membeku di hadapan nya.


Hati nya lega, kini dia tau, jika hati nya tak benar-benar mencintai Laura. Dia hanya kecewa terhadap seseorang di masa lalu, dan memilih Laura yang seorang model mampu mengalihkan perhatian nya dari seseorang.


Sedangkan Laura masih mematung dalam kebisuan, hati nya mendadak kacau. Dia baru saja memesan sebuah mobil keluaran terbaru untuk kekasih gelap nya. Dan mobil itu belum lunas pembayaran nya karena sesuai perjanjian, pembayaran penuh setelah barang tiba.


Jelas saja Laura panik bukan main, dari mana dia akan mendapatkan uang untuk melunasi nya. Dia harus bisa meraih kembali hati Odion apa pun cara nya.

__ADS_1


__ADS_2