
Setiba nya di ruangan nya, Resy terlihat gelisah. Pikiran nya benar-benar buntu, dia tak bisa membiarkan pernikahan nya di lanjutkan. Sementara Sanun, ibu calon mempelai pria nya terus mendesak Resy untuk segera melakukan fitting terakhir baju pengantin nya.
"Arrggghh! Mishy sialan!" Maki nya kesal, rupanya sikap tenang Mishy berhasil membuat kewarasan Resy mulai terusik. Wanita itu mulai ketakutan akan banyak hal. Namun satu hal yang masih membuat nya bertahan adalah, rahasia besar Mishy bisa menjadi jembatan nya untuk memaksa kan sang adik sepupu mengikuti kehendak nya.
Seorang perawat yang hendak masuk untuk memberikan berkas laporan medis pasien selama satu bulan terakhir. terdiam di depan pintu, ini kali pertama nya dia mendengar wanita cantik itu mengumpat.
Selama menjadi perawat asisten, Resy adalah dokter yang sangat ramah dan bertutur kata selembut sutra. Mila berbalik menuju mejanya.
Dia sedikit sungkan jika tiba-tiba mengetuk pintu ruangan sang dokter, yang sekaligus direktur tersebut saat sedang dalam emosi yang tidak stabil. Bisa di pastikan Resy mengetahui jika dirinya telah mendengar umpatan nya.
"Bu direktur sedang marah pada siapa sampai seniat itu memakinya." Monolog Mila pada diri nya sendiri.
Klek
Pintu ruangan Resy terbuka, Mila berpura-pura mencari sesuatu di laci meja nya.
"Mila, apa kau sedang sibuk?" Wanita muda itu mendongak, lalu menggeleng pelan.
"Tidak bu direktur, apa yang bisa saya bantu?" Tanya Mila seramah mungkin.
"Tolong kau ke ruangan dokter Andin, minta dia meresepkan aku obat ini. Jika dia bertanya, katakan saja kau tidak tau apa-apa. Setelah mendapat kan resepnya, tebus lah di apotik lalu bawa pada ku. Gunakan uang mu dulu, nanti aku akan mengganti nya tiga kali lipat." Setelah meletakkan secarik kertas dengan tulisan tangan nya, Resy kembali masuk ke dalam ruangan nya.
Entah apa yang tengah wanita itu rencana kan. Hanya dia dan dewa saja yang tau.
Mila menatap punggung sang direktur yang terlihat seperti basah. Dan rambut wanita itu yang biasa nya terurai rapi, kini terlihat sedikit berantakan.
Setelah puas menatap dan sang direktur pun sudah masuk ke dalam ruangan nya. Mila membuka aplikasi gulugulu di ponsel nya, dia ingin tau obat apa yang di inginkan oleh sang direktur.
__ADS_1
Setelah membaca fungsi dan efek samping nya, mata Mila melotot sempurna. Mulut nya bahkan sampai ternganga saking tak percaya dengan apa yang dia baca.
Kini dia tau, kenapa harus menggunakan resep dari dokter Andin. Psikiater di rumah sakit tersebut. Pikiran nya menyimpan berbagai tanya yang tak mungkin terjawab. Hingga tanpa sadar, kini langkah kaki nya sudah berada tepat di depan pintu ruangan dokter Andin.
Dengan sedikit keraguan, Mila mulai mengetuk pintu dengan hati berdebar.
Setelah mendapat kan ijin masuk, Mila memilih duduk lebih dulu sebelum menyampaikan maksud tujuan nya ke sana. Dokter Andin mengalihkan perhatian nya dari berkas pasien yang sedang dia periksa.
"Ada apa Mila? Apa bu direktur memanggil ku? Kenapa tidak menelepon saja, aku akan ke sana. Kau terlihat kelelahan, apa kau sakit?" Sungguh dokter yang sangat ramah. Mila sedikit terhibur mendengar perhatian dokter tersebut.
Senyum nya mengembang di iringi sebuah gelengan kecil.
"Aku di minta bu direktur untuk memberikan ini pada dokter Andin. Beliau meminta untuk di resepkan sekarang juga dan di bawa ke ruangan nya." Tukas Mila akhirnya.
Dokter Andin meraih secarik kertas dan membaca tulisan tangan rekan sejawat nya. Kening nya mengerut dalam. Kenapa sang direktur membutuhkan obat yang memiliki efek samping tak biasa tersebut.
"Apa dokter Resy mengatakan untuk siapa obat ini di resepkan?" Mila kembali menggeleng. Andin terlihat berpikir sejenak, kemudian meraih gagang telepon nya.
Setelah menulis kan resep obat yang di butuhkan oleh sang direktur, sekaligus teman seperjuangan nya, wanita itu menatap Mila sejenak.
"Letakkan langsung di loket A, jangan letakkan di dalam keranjang. Aku akan menelpon siapa yang bertugas di sana, kau tidak perlu mengatakan apapun. Setelah selesai bawa segera obat itu ke ruangan direktur. Jangan bertanya apapun, kau bisa pulang setelah nya. Anggap saja jam kerja mu di diskon hari ini." Mila mematung, ada apa sebenarnya.
Tak ingin membuat pikiran nya larut dalam praduga, Mila memilih melakukan tugas yang sudah di amanah kan secara rinci kepada nya.
Meski kini otak nya di paksa berpikir keras akan kejanggalan yang terjadi, namun mengingat posisi nya. Mila lebih memilih untuk bungkam.
🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷
__ADS_1
Klek
Andin menatap sang direktur sekaligus sahabat nya dengan tatapan tak terbaca.
"Kenapa menatap ku begitu, dokter Andin? Apa kau masih tak rela melihat kursi ini menjadi milik ku?" Sungguh sambutan yang tidak di harapkan. Andin membuang nafas kasar. Sungguh dia tak pernah berniat sama sekali untuk menduduki kursi direktur utama. Dirinya hanya orang yang di calon kan, bukan yang menginginkan. Mengingat sang ayah memiliki saham yang hampir setara dengan saham pemilik rumah sakit tersebut. Rasanya sangat pantas jika Andin turut di calon kan, oleh para petinggi juga para pemegang saham di rumah sakit tersebut.
"Jangan mengalihkan topik, kau tau aku sama sekali tak berminat untuk di bebani oleh tanggungjawab sebesar itu." Resy melengos. Dia tau, namun hatinya menolak untuk peduli.
"Katakan! Untuk siapa obat yang kau minta dari ku tadi?" Tanya Andin to the poin dengan tatapan penuh selidik.
"Itu privasi ku, lagi pula kau tak berhak mencampuri urusan ku terlalu jauh. Ingat batasan mu dokter Andin." Resy membalas tatapan mata Andin padanya tanpa memperlihatkan kecemasan apapun.
"Kau tau efek samping dari reaksi obat yang kau minta, jadi aku perlu tau, untuk siapa kau berikan obat tersebut. Dan ini bukan tentang batasan, tapi tentang tanggung jawab ku juga rasa kemanusiaan serta tentang hati nurani." Tegas Andin tak mau kalah. Resy mulai kesal, sikap anggun nya selama ini hanya dia perlihatkan pada orang luar, yang tak mengenalnya dengan baik seperti dokter Andin contoh nya.
"Apa kau sudah punya rekomendasi rumah sakit lain, dokter Andin? Aku akan dengan senang hati menandatangani surat mutasi mu jika kau mau. Rumah sakit ku ini seperti nya perlu di lakukan perluasan dan renovasi di beberapa bagian. Terutama ruangan di mana kau praktek." Seringai Resy tak membuat nyali Andin ciut.
"Apa kau lupa, jika pemilik saham terbesar di rumah sakit ini adalah nyonya Rosy Sanders? Artinya, bisa saja salah satu dari kedua anaknya yang akan menggantikan mu kelak. Atau lebih tepatnya, mendepak mu dari kursi kebanggaan mu saat ini." Andin tersenyum penuh kemenangan, saat melihat raut pias di wajah sang direktur.
"Keluar dari ruangan ku sekarang juga, kau lupa jika ibu mu tengah di rawat intensif di rumah sakit ini. Aku bisa saja melakukan sesuatu yang akan kau sesali kelak." Andin tercengang, mendengar ancaman mengerikan tersebut. Sungguh dia tak menyangka.
Wanita yang selalu terlihat dengan sikap selembut kapas itu, mampu mengucapkan kalimat tak manusiawi.
Hingga suara pintu terbuka, mengalihkan perhatian kedua nya.
Klek
...----------------...
__ADS_1
Rekomendasi Author ; Mampir yuk di novel teman ku, bantu ramein ya guys🙏🤗🤗