
"Sedikit pak, saya nambah job lain. Sekarang kerja di restoran selesai dinas bersih-bersih di rumah sakit." Terang Satya apa adanya.
Pak RT terlihat manggut-manggut paham.
"Jadi begini nak Satya," pak RT menjeda kalimat nya dengan menghela nafas panjang. Perasaan Satya sudah mulai tak enak, apalagi panggilan nya berubah dari mas menjadi nak.
"Nak Satya ingat Tania Putri bungsu ku itu, yang baru saja lulus SMA tahun ini tadi? Dia mau belajar komputer sama nak Satya, karena kemarin nak Satya pernah memperbaiki program komputer di kantor kelurahan. Jadi saya piki dari pada saya bayar kursus di luar lebih baik saya minta tolong sama nak Satya saja. Bagaimana nak Satya? Ajari nya pas nak Satya pulang bekerja saja, tidak apa-apa." Ujar pak RT menatap penuh harap pada Satya yang terlihat tengah berpikir keras untuk menolak.
"Bagaimana ya pak, saya bekerja kadang sampai jam 10 malam. Ini kebetulan saya sedang libur kerja di rumah sakit, jadi bisa seharian kerja di restoran." Dusta Satya. Padahal sehari penuh untuk nya memantau keberadaan Silvery.
"Nak Satya atur waktu saja deh, baiknya gimana. Saya pokok nya berharap banyak sama nak Satya. Taukan Tania tidak bisa bawa kendaraan sendiri, saya suka khawatir kalau pergi-pergi keluarga naik ojek tak di kenal." Kukuh pak RT membuat kepala Satya mendadak berdenyut hebat.
"Nanti saya kabari kalau saya punya waktu luang, saya tidak berani janji soalnya. Kalau memang ada yang bisa, silahkan saja saya tidak apa-apa." Balas Satya berharap agar pak RT mengerti dengan penolakan halus nya.
Namun pak RT sekelas dengan sang anak, Tania sering berdiri di depan pagar rumah nya ketika akan berangkat sekolah. Dia sengaja melakukan itu agar bisa berpapasan dengan Satya yang akan berangkat bekerja. Sang ayah akan dengan sumringah meminta Satya sekaligus mengantar putri kesayangan nya ke sekolah, padahal sekolah gadis itu berlawanan arah dari tempat kerjanya. Sungguh Satya sering berniat memacu motor nya masuk ke dalam got agar gadis itu jera.
Namun mengingat jika itu adalah Motor keramat peninggalan para lansia super di masa lalu. Maka dengan terus menghela nafas sabar, Satya berusaha mengikuti alur ayah dan anak itu.
Sepeninggal pak RT, Satya bergegas masuk ke dalam rumah nya. Benar kata orang tua, jika duduk di luar senja-senja bisa mengundang setan mampir.
Satya mulai berkutat di dapur kecil nya, memasak menu sederhana. Sayur bayam oseng di campur dengan sedikit wortel dan di beri sedikit kuah, lalu kompor sebelahnya sedang menggoreng ikan kering laut. Juga ada beberapa biji cabe dan sepotong tomat di dalam wajan itu. Tak lupa sepotong terasi sebagai perisa yang membuat selera semakin waw.
Sedangkan di sebuah balkon di rumah yang berbanding terbalik dengan rumah sederhana milik Satya. Seorang gadis tengah melamun, memikirkan pria yang telah mencuri perhatian nya hari ini.
__ADS_1
"Aihhh...kenapa jadi mikirin dia sih. Bisa jadi kan sudah punya istri atau pacar. Dasar otak mines, ini kan, akibat nya kalau tidak pernah makan bangku sekolah. Jadi bodoh tak ketulungan seperti kata miss Niken tempo hari." Gerutu Silvery memukul pelan kepala nya.
Rupanya guru les nya pernah memarahi mereka semua, yang ikut dalam kelas nya. Karena sebagian besar yang bergabung di dalam kelas tersebut ada beberapa orang putus sekolah, yang sebenarnya mereka adalah anak orang kaya. Namun karena sesuatu dan lain hal membuat mereka ada yang memilih hengkang dari sekolah, dan berkahir menjadi murid nya untuk ilmu pembekalan dasar untuk masuk jenjang pendidikan lanjutan sesuai dengan tahapan terkahir mereka.
Diam-diam Noora mengusap sudut mata nya yang basah. Dia tak pernah bertanya kesulitan apa yang anak nya hadapi di tempat les, namun menuntut gadis itu memahami pelajaran nya dengan cepat. Tanpa tau apa yang mampu anak nya cerna atau tidak.
"Sayang? Kenapa malam-malam duduk di luar, di sini sangat dingin." Tegur Noora menghampiri sang anak yang tengah duduk di balkon kamar nya.
"Aku lagi ingat sama laki-laki yang tadi aku temui mom. Dia terlihat sangat dewasa dan baik. Beberapa kali menasehati ku yang aku sendiri tak mengerti. Apa salahnya membawa uang tunai dalam jumlah banyak? Kenapa dia terlihat khawatir. Dia bilang seseorang akan memanfaatkan kepolosan ku jika tau aku selalu membawa uang yang banyak di tas ku. Dia juga melarang ku membahas masalah orang dewasa bersama teman-teman pria ku dari kelas les. Katanya itu tidak baik dan berbahaya. Kenapa begitu mom? Di bagian mana nya berbahaya, lagi pula kan aku sudah dewasa." Cerita Silvery panjang lebar.
Noora tersenyum simpul, dia bersyukur anaknya bertemu orang baik yang mengantar sang anak pulang tak kurang satu apapun.
"Yang di katakan orang asing itu benar, tak baik membahas sesuatu yang bersifat sensitif pada lawan jenis mu. Dan kau juga tak boleh memberitahu siapapun tentang apa yang kau punya. Itu akan mengundang niat jahat tak terencana. Apa kau paham?" Ujar Noora hati-hati. Dia tak ingin anaknya semakin kebingungan.
"Oya, nama teman ku tadi Satya. Ya, Satya. Bukan Tya kata nya, lucu sekali bukan?" Deg!
Jantung Noora seketika berdebar kencang, Satya? Nama itu mengingat kan nya pada satu orang. Mungkin kah? Bagaimana bisa? Dunia selebar Jakarta masih saja mempertemukan sang anak dengan pria masa lalu nya.
"Mom? Kenapa mommy melamun?" Noora terlihat sedikit gugup, wanita itu tersenyum kaku ke arah sang anak.
"Apa dia tak berbuat aneh-aneh padamu? Maksud mommy mungkin menggenggam tangan mu atau menyentuh tubuhmu yang lain? Seperti merangkul, itu maksud mommy." Silvery menggeleng cepat.
"Tidak mom, bahkan saat aku mengajak nya menikah, Satya terlihat seperti orang ketakutan. Aneh bukan?" Lagi-lagi jantung Noora bagai di pompa semakin cepat.
__ADS_1
"Sayang, kau tak bisa mengajak seseorang menikah begitu saja. Apalgai pria itu baru kau kenal, semua ada proses alamiah nya sendiri-sendiri. Jangan lakukan itu lagi, oke?" Ucap Noora harap-harap cemas.
"Kenapa kata-kata mom sama persis seperti yang di katakan oleh Satya? Satya bilang untuk menikah aku harus punya kekasih, lalu saat aku memintanya untuk menjadi kekasih ku, Satya mengatakan hal lain lagi. Dia bilang sebelum menjalin hubungan sebagai kekasih, harus ada proses pertemanan terlebih dahulu. Jadi aku tak bisa mengklaim nya begitu saja sebagai kekasih nya karena kami baru kenal. Kami sedang dalam proses pertemanan, belum dekat dan masih jauh menuju pacaran. Satya menolak ku secara halus, aku mengerti bagian itu. Hanya saja kenapa rasanya sakit sekali ya mom?"
Mendengar uraian panjang curahan hati sang anak, membuat jiwa keibuan Noora sedikit tak terima. Enak saja Satya sialan itu menolak putri nya mentah-mentah.
"Satya mungkin tak berniat menolak mu sayang, hanya saja dia masih terlalu syok. Kalian baru saling mengenal, jadi akan aneh jika dia langsung menerimamu sebagai kekasih nya. Benar kata nya, jika kalian sedang dalam proses pertemanan. Jadi nikmati pertemanan kalian terlebih dahulu, perasaan seseorang bisa berubah. Mungkin saja kau hanya sekedar mengagumi nya, karena Satya bersikap baik padamu." Ucap Noora mencoba memberikan pengertian pada putri polos nya.
Silvery mengangguk pelan, walau hanya segelintir saja yang dia mengerti.
"Sudah malam, ayo beristirahat. Bukankah besok kau ada kelas les? Mata pelajaran apa besok?" Alih Noora tersenyum hangat pada sang anak.
"Ilmu sosial dan budaya..." Jawab Silvery tak bersemangat.
"Kalau begitu ayo tidur, jangan sampai kau telat lagi masuk di kelas miss Niken." Ujar Noora lagi.
"Aku tak suka padanya mom, Miss Niken hanya baik pada ku saat daddy yang mengantar ku les. Jika tidak Miss Niken lebih suka mengomel daripada mengajar kan materi. Katanya otakku terlalu bodoh, sulit mencerna padahal hanya materi mudah." Adu Silvery membuat Noora mengepal tak terima.
Putri nya lelet berpikir bukan karena keinginan nya, namun pengaruh penyakit nya selama puluhan tahun juga obat-obatan kimiawi yang masuk ke dalam tubuh nya. Semua memberi efek pada saraf otak Silvery dalam berpikir cepat.
"Besok mom yang akan mengantar mu les, kita lihat seberapa berani Miss Niken mengatai mu bodoh di hadapan mommy." Ucap Noora tersenyum smirk. Silvery hanya mengangguk paham lalu naik ke atas ranjang.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
__ADS_1