Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Hukuman


__ADS_3

"Ayo kita berangkat, atau ibu negara akan memarahi ku karena membawa putrinya datang terlambat." Andin menggandeng lengan Mishy menuju mobil nya. Dia telah mengirimkan pesan singkat pada sang ibu, tentang restoran rekomendasi sang tuan putri.


Tiga bulan pasca sang adik tiri berpulang, kehidupan Mishy semakin tertutup. Tak ada yang mampu menyelami kedalaman duka hati wanita itu, Rosy diam-diam selalu menyeka sudut mata nya yang kerap basah. Sakit rasa nya tak mampu menjadi sandaran bagi putri nya sendiri, itu bukan kehendak nya. Namun Mishy memang sengaja membangun jarak, agar tak ada yang berusaha mendekati nya.


Mylo pun selalu mencoba menjadi tumpuan bagi sang adik, meski penolakan Mishy terlihat sangat jelas. Pria itu pun begitu rapuh melihat kondisi Mishy yang semakin hari hampir tak mereka kenali lagi. Di sisi lain, Nathan adalah sahabat nya. Tentu saja dia merasakan kehilangan dan rasa sakit yang sama.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Dua bulan sudah Resy benar-benar menghilang, tidak terlihat lagi wanita hamil itu berkeliaran di club malam membawa perut buncitnya. Mishy benar-benar konsisten pada hukuman yang dia janjikan.


Klek


Seorang wanita tergolek lemah di atas ranjang yang terbuat dari bahan kayu, dengan alas nya hanya berupa kasur busa tipis. Tubuhnya kurus kering, itu karena dia berusaha untuk menghukum dirinya sendiri dengan tidak makan. Tujuan nya agar seseorang yang mengurung nya di sana manaruh empati.


Sayang nya, perbuatan itu justru merugikan dirinya sendiri. Tubuhnya malah semakin lemah tak berdaya.


"Selamat pagi kak, apa kabar mu hari ini? Pasti sangat sehat, bukan? Lihatlah, meja mu bersih tanpa menyisakan satupun makanan di atas nya." Ujar Mishy penuh nada ledekan. Resy selalu membuang makanan nya ke sudut ruangan.

__ADS_1


"Aku akan membalas mu kelak, Mishy! Kau akan membayar mahal atas perbuatan mu ini pada ku. Apa kau lupa, jika Miguel adalah putra ku. Kelak dia akan tau, jika kau telah mengurung dan menyiksa ibu kandung nya tanpa perasaan." Wanita itu mengepal kan kedua tangan nya yang tak mampu melakukan apapun.


Mishy telah memerintahkan untuk mengikat kedua tangannya ke sisi ranjang hanya kaki nya saja yang di biar kan bebas bergerak. Satu ikatan nya di buat sedikit lebih panjang, memudahkan wanita itu untuk makan atau minum.


"Miguel akan sangat berterimakasih padaku, karena sudah membantu nya terhindar dari dosa sebagai anak durhaka. Kau tau kak? Putraku itu sangat membenci mu. Usianya baru 13 tahun, dan kebencian itu sudah mendarah daging dalam dirinya. Bukan salahku, kau layak untuk di benci oleh semua orang. Kau seorang pembunuh, pertama kau ingin melenyap kan putramu sendiri. Lalu kau dan ibu mu membunuh ayah kandung nya, setelah itu kau pun merenggutnya nyawa ayah sambung nya tepat di hadapan nya tanpa perasaan."


Ujar Mishy penuh penekanan. Tangan nya sudah gatal ingin melayang kan tamparan keras pada wajah tak tau malu sang sepupu. Namun nuraninya masih tergugah melihat wanita itu yang nampak menyedihkan.


Resy sengaja melakukan mogok makan dengan harapan Mishy akan iba pada nya. Nyatanya, Mishy sama sekali tak tersentuh. Wanita itu tak pernah peduli pada makanan yang tak pernah dia sentuh sedikit pun. Mishy sungguh berubah, tak ada celah baginya untuk bisa mengendalikan sang sepupu seperti dulu.


"Cuih.. Nathan memang pantas mati! Pria tak bertanggung jawab yang telah menelantarkan istri nya sendiri dan berselingkuh secara terang-terangan dengan sepupu istrinya sendiri. Kau pikir pria seperti itu layak untuk di perjuangkan? Sudah seharusnya pengkhianat berakhir mengenaskan. Aku bangga bisa mengirim nya langsung ke neraka, aku meringankan beban dunia ini dari pria tukang selingkuh seperti Nathan."


Cinta nya pada Nathan berubah menjadi obsesi ingin memiliki yang tak terbendung. Hingga berujung membuat nya gelap mata.


"Beri dia tambahan satu dosis seperti biasa, dan turunkan tekanan udara di dalam sini hingga membuat nya kembali berpikir waras." Mila terkesiap, kondisi Resy sudah sangat memprihatinkan. Jika tekanan udara di dalam ruang pengap itu di turunkan, kondisi Resy akan lebih buruk lagi dengan kondisi hamil tua tanpa pasokan oksigen yang cukup.


"Tapi, bu direktur..."

__ADS_1


"Lakukan saja Mila, aku tau apa yang aku lakukan. Mantan atasan mu ini butuh sedikit pencerahan secara alamiah, satu-satunya cara agar dia mengerti, jika proses menuju kematian itu tak mudah." Mishy keluar dari ruangan Resy tanpa berkata apapun lagi.


Mila masih mematung, ragu itulah yang dia rasakan. Di tatapnya sekali lagi wajah kusam sang mantan atasan. Namun hanya ada keangkuhan terlihat di sana. Mila akhirnya menghela nafas berat, percuma menaruh empati pada wanita seperti Resy. Hanya akan membuat nya terjebak dalam situasi sulit.


"Tadi nya aku berpikir untuk tidak melakukan nya, sayang nya keangkuhan di wajah anda membuat ku sangat ingin melakukan nya." Ujar Mila mulai menekan tombol panel untuk menurunkan tekanan Udara di dalam ruangan tersebut. Namun sebelum itu, dia sudah menggunakan masker oksigen pada dirinya sendiri.


Resy meludah ke arah kaki Mila, membuat Mila semakin yakin akan keputusan nya.


"Anda memang tidak tau di untung nona, tidak bisakah anda sedikit menurun kan ego demi bayi anda? Kenapa anda sangat keras Kepala.." sungguh Mila tak habis pikir, Resy begitu teguh pada pendirian nya. Hingga tak memikirkan bayi di dalam kandungan nya.


"Tutup mulut mu! Kau hanya Anjing pesuruh, jangan berlagak seperti seorang penasihat. Aku tak butuh belas kasih mu, dasar perawat rendahan. Entah apa yang wanita iblis itu berikan padamu sehingga kau begitu mudah mengkhianati ku."


Mila menggeleng pelan, susah jika berbicara pada orang sebebal Resy. Semua hal baik akan seperti bumerang di telinga nya.


3 menit pertama, alur nafas Resy mulai tak terkontrol. Wanita itu mengalami sesak nafas, namun masih bertahan dalam ego nya. Mila menatap nanar, berharap Resy akan memohon padanya. Nyata nya hingga wanita itu kehilangan kesadaran nya, Resy tetap menatap nya dengan tatapan angkuh.


"Seharusnya kau mati saja nona, aku kasihan melihat mu seperti ini. Aku merasa berdosa telah menyiksa wanita hamil. Hanya saja, kau tak bisa di ajak berkompromi dengan baik." Gumam Mila lirih.

__ADS_1


Satu spuit 10 ml di suntik kan ke dalam tubuh Resy, melalui cairan infus yang terpasang di punggung tangan nya. Itulah yang selalu dia dan Dewi lakukan secara bergantian, kala Resy menjalani hukuman nya. Dua bulan, namun tak mampu membuat seorang Resy menyadari kesalahannya. Wanita itu hanya menunggu hari untuk melahirkan seorang bayi. Namun sikap nya masih sekeras batu karang.


__ADS_2