Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Rencana Licik II_I'm not Sanders!


__ADS_3

Mila masuk dengan sebuah paper bag kecil berlogo rumah sakit di tangan nya. Sebelum menyerahkan obat tersebut, dia bisa merasakan hawa di ruangan tersebut sedikit mencekam.


"Ah, kau sudah kembali Mila. Aku khawatir kau salah menyampaikan aturan pakai nya, jadi aku memutuskan untuk menyampaikan nya secara langsung. Baiklah, aku akan pergi. Kau boleh pulang juga Mila. Bu direktur sedang butuh waktu sendiri, benar'kan bu direktur?" Resy membuang pandangannya, kalimat Andin lebih seperti kalimat ejekan di telinganya.


"Benar, kau pulang lah. Besok tolong rapikan ruang pribadi ku di belakang, ada pakaian basah ku di dalam keranjang. Antar ke laundry besok pagi."


"Baik dok, besok pagi saya turun lebih cepat. Kalau begitu saya permisi duluan." Mila kembali menutup pintu ruangan Resy.


"Ingat Resy, jika ada seseorang yang terkena akibat dari obat tersebut. Jangan pernah libatkan Mila. Gadis malang itu tak pantas kau jadikan tameng mu. Sudah cukup Mishy yang malang, yang selalu kau jadikan tembok ukur untuk melindungi mu dari masalah apapun. Nathan telah kembali, dan kau akan menikahi pria lain. Jika salah satu nya adalah target dari obat laknat itu, maka pikirkan kembali. Nathan memiliki jantung yang tak sekuat itu, untuk menerima debaran yang melebihi kapasitas ketahanan kesehatan jantung nya. Atau kau sama saja akan mengantar nya ke akhirat lebih cepat."


Setelah mengatakan kalimat panjang bernada peringatan mutlak, Andin keluar dari ruangan Resy dengan doa yang teruntai panjang. Semoga Resy tak melakukan hal nekat yang akan melukai fisik juga hati orang lain.


Sedangkan di dalam ruangan, Resy menatap strip obat ditangannya. Satu hal lagi yang harus dia lakukan. Dan itu yang akan menentukan garis kehidupan nya ke depan. Hanya selangkah lagi, maka semua nya telah berada di genggaman tangan nya.


Resy menyeringai puas dengan wajah penuh kelicikan. Sungguh, buah tak pernah bisa move on jauh dari pohon nya. Meskipun ada yang mampu berguling jauh, itu hanya sekelumit.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Wira menatap potret seorang wanita yang hampir satu bulan ini mengacaukan kinerja pikiran nya. Entah takdir Tuhan, atau semesta sedang berpihak pada nya. Tepat satu bulan yang lalu, dia mengetahui satu fakta yang luar biasa mengejutkan. Tak di sangka-sangka, sungguh Wira ingin melubangi kepala nya sendiri saking bodoh nya selama ini. Dua tahun! Dua tahun menjalin hubungan dengan harapan bisa membayar lunas hutang nyawa, yang dia pinjam dari seseorang yang dia anggap sebagai malaikat.


Nyatanya, dia telah di kelabui mentah-mentah. Entah untuk tujuan apa Resy melakukan nya, Wira sungguh tak berniat untuk sekedar bertanya. Hatinya terasa hambar seketika, pondasi yang dia bangun dengan susah payah agar kokoh kini runtuh tak berbentuk.


Satu bulan ini pula, Wira mencoba mendekatkan diri pada sang malaikat yang sesungguhnya. Namun sayang, seperti nya dia sedikit terlambat.


Kini Wira mengerti arti debaran tak biasa saat berpapasan, atau tanpa sengaja bersitatap dengan sang dewi penolong. Setiap kali melihat manik yang memiliki sorot mata tajam itu, hati nya selalu gelisah dan berdegup aneh. Kini terjawab sudah.

__ADS_1


Tok tok tok


Klek


Nurma masuk dengan wajah di tekuk sempurna, hari ini pekerjaan nya sungguh membuat nya sangat kelelahan. Baik fisik maupun mental.


Wira menatap sang sekretaris dengan tatapan tak kalah muram.


"Kau sedang kesal pada seseorang Nurmala?" tanya Wira kura-kura makan tahu pura-pura tidak tau. Nurma tak menjawab, diam nya sudah menjelaskan jawaban secara rinci.


"Ck! hanya pekerjaan receh seperti ini saja kau langsung memasang wajah tak enak di pandang, pada ku. Aku ini atasan mu, harusnya kau senang karena mendapat kan perintah langsung dari ku. Itu semacam bentuk penghargaan ku atas dedikasi mu sebagai sekretaris yang cekatan dan profesional." Cerocos Wira menatap Nurma yang masih bergeming.


"Ini sudah ku kerjakan semua, jika masih ada yang kurang atau ada beberapa bagian mengalami typo. Mohon di maklumi, komputer saja bisa eror apa lagi saya. Kapasitas otak saya sudah terbagi-bagi menjadi beberapa bagian. Beban hidup saya sudah sangat banyak, dan bapak menambah nya lagi dengan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab bapak. Apa bapak tidak berpikir jika bisa saja, saya memanipulasi semua data keuangan perusahaan. Secara kalau orang sedang kesal bisa melakukan apa saja, termasuk memasukkan racun serangga ke dalam minuman yang bapak minum, mungkin." Ujar Nurma santai. Wanita itu memaparkan isi hati nya yang sepotong hari itu, serasa di paksa bekerja bagai kuda.


Wira menelan ludah kasar, menatap gelas kopi yang sudah kosong diatas meja kerja nya. Mata nya melirik Nurma yang nampak biasa saja setelah mengeluarkan kalimat mencekik leher nya.


"Kan, saya bilang bisa jadi, mungkin atau barangkali. Namanya hati orang siapa yang tau, di depan lain ketika berbalik 30 derajat ke kiri, sudah berbeda lagi. Hidup itu misteri pak, tidak ada yang bisa menebak masa depan. Mungkin saja bapak merencanakan pernikahan dengan nona Resy, tapi menikah dengan sepupu nya. Semua nya bisa saja terjadi. Itu perandaian nya saja. Jangan di pikir kan apa lagi di jadikan patokan."


Wira mematung, berusaha mencerna kalimat panjang penuh makna tersebut. Terselip maksud dari kalimat satu paragraf yang di ucapkan oleh sang sekretaris.


"Kenapa bicara mu jadi ngelantur? kau kurang tidur? Keluarlah dan pesan kopi latte kesukaan mu dari Rose restoran, masukkan ke dalam tagihan ku." Titah Wira berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka. Sungguh Wira merasa tersindir telak, dan entah kenapa, dia begitu yakin jika Nurma sedang membicarakan diri nya. Semoga saja dia hanya sekedar Ge_eR.


"Saya bilang hanya perandaian, pak. Kenapa Bapak terlihat serius sekali menanggapi nya? apa bapak punya rencana untuk menikung seperempat jalan menjelang pernikahan?" Skak mat! Wira mati kutu, mulut sekretaris nya lama-lama harus segera di reparasi ke tukang jahit. Terlalu lantih dan meresahkan.


"Mulut mu, Nurmala!" geram Wira dengan suara penuh penekanan.

__ADS_1


Seperti biasa, Nurma terlihat acuh tak tau-tau. Tangan terampil nya menyusun berkas di atas meja Wira berdasarkan urutan dan uraian kebutuhan masing-masing.


"Apa bapak mau saya pesan kan makan siang sekalian? atau mau makan siang bersama nona Resy, mengingat hari pernikahan tinggal sekali berkedip lagi." Wira menarik nafas dalam-dalam, Nurma selalu tau cara membuat nya cepat berpindah ke alam lain.


"Aku makan siang di kantor seperti biasa, bersamamu. Aku ingin mencurahkan sedikit kegalauan hatiku padamu, dan aku yakin... kau pasti mengerti solusi mana yang harus aku pilih." Nurma menghentikan gerak tangan nya. Ada perasaan tak nyaman saat mendengar kalimat penuh makna sang atasan. Namun ekspresi datar Nurma tak terlihat sedang mencemas kan sesuatu.


"Baik pak, artinya hari ini kekasih ku akan makan siang sendirian lagi. Padahal gajian masih lama, kalau sering-sering makan di luar semurah apapun. Lama-lama bisa membangkrutkan juga." Entah kemana arah perkataan wanita itu, Wira tau apa yang harus dia lakukan. Seperti semacam kontak batin, Wira seolah memahami apapun yang sekretaris nya ucapkan. Meski hanya menebak secara kasar, namun tak pernah meleset jauh.


Nurma sedang butuh suntikan imun untuk meminjam waktu nya. Dasar sekretaris matre dan licik batin Wira mengumpat kesal. Namun Nurma dapat di andalkan dalam segala urusan pekerjaan dan lain-lain. Itulah kenapa peran Nurma begitu penting dalam hidup seorang Wira Artakusuma.


Tring tring


Nurma merogoh saku baju blouse nya, senyumnya mengembang bagai bunga mekar di pagi hari yang baru saja di sirami pupuk kandang.


"Bapak selalu sebaik ini, itu kenapa saya tidak pernah tega membiarkan bapak menghadapi pekerjaan berat seorang diri. Terimakasih banyak pak Wira, semoga rejeki anda di lancarkan bagai air mengalir sampai jauh. Di dekat kan dengan jodoh yang seharusnya dan hidup bahagia. Amin 2022 kali." ucap Nurma dengan untaian doa yang terdengar begitu tulus.


Biasa nya Wira akan mencebik kalimat laknat pencari muka tersebut, namun berbeda kali ini. Wira mengamini kalimat sang sekretaris dengan cepat. Meski hanya di dalam hati tentu nya, siapa juga yang mau menjadi bahan bulan- bulanan wanita bermulut tajam seperti Nurma.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Author minta sajen lagi dong 😁😁...


...sebelum nya makasih udah ramein novel remahan ini, kalian luar biasa para pembaca ku yang terkasih πŸ˜πŸ’...


...Jangan lupa jejak cinta nya ya, biar othor semakin bersemangat lagiπŸ™πŸ€—...

__ADS_1


...Luv yuu kalian semua πŸ₯°πŸ€πŸ€πŸ€πŸ₯°...


__ADS_2