Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Penolakan Halus


__ADS_3

Mobil Harland baru tiba di pelataran rumah Mahesa, Rosy keluar dengan langkah terburu-buru. Olivia adalah calon menantu kesayangan nya, gadis polos itu telah mencuri hati nya sejak pertama kali bertemu.


"Maaf nyonya ingin bertemu dengan siapa?" tanya seorang pelayan wanita ketika membuka pintu depan.


"Aku ingin menjenguk Olivia, katakan saja aku ibu dari kekasih nona muda mu." Jelas Rosy tak sabar. Harland segera menyela.


"Maaf, apa kami bisa masuk. Istri ku sangat merindukan nona muda Jenar. Kami juga membawa makanan pesanan Olivia," ujar Harland mengangkat paper bag di tangan nya. Pelayan itu akhir nya membiarkan sepasang suami istri itu masuk.


"Tuan Harland? Mahesa baru saja keluar area dapur membawa sebuah nampan." Dia sedikit terkejut melihat siapa yang bertamu ke rumah nya.


"Ah, maaf kan kami tuan Mahesa. Ini, kami membawakan pesanan anda tadi, juga ada beberapa cemilan lain kesukaan Olivia." Mahesa semakin bingung, sejak kapan Harland mengetahui perihal putri nya.


Melihat kebingungan di wajah Mahesa Rosy segera menyela.


"Putra ku, Mylo. Dia menjalin hubungan dengan putri mu, dan kami sudah mengetahui nya. Olivia anak yang sangat manis, kami menyukai nya. Boleh kah kami bertemu dengan nya?" ujar Rosy memohon.


"Ah baiklah maaf kan aku, aku pikir kalian belum mengetahui pasal Livi maksud ku Olivia. Mari ikut dengan ku, kamar nya di lantai atas." Ajak Mahesa ramah.


Olivia terlihat meringis saat tangan Olsen tak sengaja menekan kompres terlalu kuat.


"Olivia..." sapa Rosy tersenyum hangat. Baru sehari dia sudah merindukan gadis berisik sudah membuat dapur nya terbakar.

__ADS_1


"Mama super..!" seru Olivia girang. Dia memanggil Rosy dengan tambahan super karena mengagumi cara Rosy memadamkan api buatan nya. Entah bagaimana api kompor bisa sampai membuat separuh dapur Rosy hangus.


"Ya sayang, mama super ingin memberikan mu cemilan ini. Tapi kau harus makan dulu, setelah itu makan obat baru kau boleh memakan nya." Ucap Rosy terdengar seperti sebuah perintah mutlak. Olivia hanya mengangguk pasrah, mata nya terus melirik ke arah naka. Aroma kentang goreng menyeruak ke dalam lubang hidung nya.


"Apa mama super ingin menyuapi ku?" pinta Olivia memamerkan wajah imut nya. Sungguh Rosy sangat senang melihat pipi bulat itu sedang merayu nya.


"Tentu saja, apa pipi mu masih sakit sekali?" Olivia hanya mengangguk karena mulut nya penuh makanan.


"Nanti mama akan membalas nya, mama akan membuat kedua pipi nya menjadi bulat seperti buah melon." Ujar Rosy bersungguh-sungguh. Dia akan membalas kesakitan Olivia dua kali lipat, tak peduli siapa yang dia hadapi nanti.


"Apa Mylo akan membalas nya juga?" tanya Olivia setelah menelan makanan nya.


Harland dan yang lain memutuskan untuk turun ke lantai bawah, membiarkan kedua wanita beda generasi itu saling bercerita.


"Tuan Mahesa, ini mungkin bukan waktu yang tepat. Hanya saja, putra ku Mylo, dia sangat mencintai putri mu. Mylo sangat berharap kau mau merestui hubungan nya dengan Olivia. Putra ku itu sudah menjaga hati nya selama 13 tahun hanya untuk Olivia. Terlihat jelas, kesetiaan nya tak pudar meski dalam penantian yang tak pasti." Harland terlihat menarik nafas panjang, dia berusaha mengatur kalimat yang tepat untuk di sampaikan pada calon besan nya tersebut.


"Aku harap kau mau mempertimbangkan harapan seorang ayah, yang sangat ingin melihat putra nya bahagia. Aku tau ini permintaan besar, kau baru saja bertemu dengan putri mu. Hanya saja, Mylo ku juga tak kalah penting bagi ku. Aku ingin melihat nya bahagia sebelum usia memanggil ku pulang." oh Harland, kata-kata menyentuh hati itu jelas dia peroleh dari mencontek kalimat di sebuah buku.


Harland bahkan merasa kagum, diri nya mampu mengurai kata yang begitu dahsyat demi sang anak tercinta.


"Maaf sebelum nya, ini terlalu mengejutkan bagi ku. Kau benar, aku baru bertemu dengan putri ku. Aku masih belum puas memanjakan nya. Jadi ijinkan aku memikirkan nya terlebih dahulu, aku menerima niat baik putra mu. Karena dia pria yang tulus, mencintai putri ku tanpa memandang latar belakang nya. Mylo jatuh cinta pada remaja desa berusia 10 tahun, itu luar biasa. Dan dia mampu menjaga hati nya hingga belasan tahun tanpa pernah sekalipun menyerah. Aku puji ketulusan juga kesetiaan nya, hanya saja ijinkan aku menghabiskan banyak waktu bersama putri ku tercinta."

__ADS_1


Balas Mahesa tak enak hati, secara halus diri nya telah menolak pinangan dadakan tersebut. Dia Masih ingin memiliki sang anak lebih lama, pertemuan mereka baru saja di mulai dia belum sanggup melepaskan Olivia pada siapapun.


"Tidak masalah tuan Mahesa, aku cukup mengerti. Kerinduan seorang ayah siapa yang dapat memahami. Kami akan menunggu, terutama putra ku. Hanya saja jika boleh, ijinkan Putra ku berkunjung kemari kapan saja putra ku merindukan putri mu. Seharian ini saja Mylo sudah meng-upload foto Olivia hingga puluhan kali karena terlalu merindukan putri mu itu. Aku sampai pusing melihat pembaharuan status nya." kekeh Harland mencair suasana.


Mereka pun tertawa renyah, mendengar kekonyolan seorang Mylo Pratama. Pria yang di luar terlihat dingin, nyata nya seorang bucin.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Odion terlihat memasuki sebuah toko roti, dia ingin membeli kan banyak roti manis dan beberapa cake untuk sang adik. Namun saat kaki nya melangkah masuk, tanpa sengaja dia melihat sekretaris sang adik dengan bergandengan dengan seorang pria paruh baya.


Pikiran buruk langsung menyeruak dalam benak nya, ternyata wanita itu tak berubah. Sejak kuliah sudah melakoni bisnis barter cairan lendir. Sungguh wanita menjijikkan batin Odion menatap jijik ke arah Maya, yang pura-pura tak melihat nya.


Setelah Maya dan pria tadi pergi, Odion mulai memilih beberapa kue yang dia inginkan.


"Dasar wanita menjijikkan, apa dia tidak takut terkena penyakit kelamin gitu.." sontak membuat pelayan toko tersebut mematung. Wanita itu salah paham, melihat kedua tangan nya yang sudah memakai sarung tangan plastik.


"Maaf tuan, saya sudah memakai sarung tangan. Jadi tidak mungkin akan menular kan penyakit, apa lagi penyakit kelamin. Kita tidak sedang transaksi pertukaran peluh, hanya sebatas menyentuh roti saja." Ketus sang pelayan tak terima. Odion kelabakan sendiri karena dia sudah membuat seseorang tersinggung akan ucapan nya.


"Maaf nona, maksud saya wanita yang tadi. Dia yang saya maksud bukan anda." Jelas Odion sambil menunjuk ke arah pintu keluar. Si wanita hanya ber oh ria, hati nya sudah terlanjur kesal.


"Gara-gara sekretaris sialan itu aku malah di sangka mengatai pelayan tadi. Awas saja kalau bertemu, ku kerjai kau hingga tak mampu lagi terbangun." Geram Odion menarik daun pintu mobil nya dengan kasar. Kesialan nya berkali-kali lipat hari ini, bertemu kekasih bar-bar lalu bertemu Maya. Dua wanita itu sama-sama menyebalkan bagi nya.

__ADS_1


__ADS_2