
Justin menatap kedua insan yang tengah berpelukan di atas ranjang dengan hati berbahagia. Tadi nya dia terbangun karena rasa haus, dan saat membuka kedua mata nya. Justin langsung di suguhkan dengan pemandangan yang begitu indah. Sang ayah tengah tertidur sambil memeluk erat wanita yang semakin hari semakin dia sayangi itu.
Bukan perkara mudah bagi Wira untuk bisa berada di posisi itu, sikap Mishy yang kadang menolak perhatian nya membuat Wira sedikit frustasi. Apa lagi pria bernama Jordan itu seperti bayangan di sekitar Mishy, Wira benar-benar kesal setengah mati.
Namun Justin yang memahami situasi sang ayah mulai mengambil peranan nya. Justin memakan sambel yang tak biasa dia konsumsi dalam jumlah banyak. Hingga akhir nya dia terkena radang dan demam. Justin sangat senang meski harus menanggung sakit nya nyeri tenggorokan. Namun dengan begitu dia punya alasan untuk menginap di rumah sakit meski dalam perawatan.
Justin ingin kamar rawat nya di satukan dengan kamar Mishy, dan pihak rumah sakit pun menyetujui nya. Apa lagi Mishy yang begitu mencemaskan diri nya.
Dua hari sudah Justin di rawat, dia harap sakit nya tidak segera sembuh. Dengan begitu dia masih punya alasan untuk berada di sana, dalam misi menyatukan sang ayah dengan wanita yang sangat di cintai oleh Wira tersebut.
Mishy tak bisa berbuat banyak kala ada Justin di sana, menerima segala perhatian Wira tanpa protes di hadapan Justin. Mishy tak ingin Justin salah paham akan sikap ketus nya pada Wira.
"Semoga kau selalu berbahagia dad, aku akan berjuang untuk mempersatukan kalian meski harus menyakiti diri ku sendiri. Tak apa asal daddy bahagia. Terlalu lama daddy menjadi pria dingin dan tak pernah tersenyum lebar seperti saat ini. Jika pun kelak kehadiran ku mengganggu, aku akan pergi. Asal kalian bisa kembali bersama. Aku menyayangimu dad, aku juga menyayangi mu bibi. Sangat. Kau seperti ibu untuk ku, sejak usia 6 tahun aku selalu menjadi kan foto mu sebagai kekuatan ku. Wajah teduh mu memperlihatkan ketulusan seorang wanita juga ibu yang hebat. Andai aku adalah putra kandung daddy, aku pasti akan menjadi anak yang paling beruntung di dunia ini, karena memiliki ibu sambung seperti mu."
Justin berceloteh panjang lebar mengungkapkan isi hati nya. Pria kecil itu mencium kening Mishy yang tidur miring menghadap nya dalam dekapan Wira di belakang nya.
"Cepatlah pulih bibi, dokter bilang aku punya ginjal yang sehat kemarin. Aku rasa aku bisa memberikan nya satu untuk mu. Jadi jangan khawatir, Mima, Mercy, Kael dan Selo akan segera bertemu dengan mu dan kalian akan hidup bahagia. Bersama daddy tentu nya, daddy sangat mencintai bibi. Untuk itu daddy tak pernah bahagia dalam pernikahan nya dengan ibu ku yang jahat." Justin mengusap air mata nya lalu menuju dispenser. Selesai minum Justin kembali berbaring meski tidak lah tidur.
Dia merasa tenggorokan nya nyeri luar biasa, namun dia tak ingin mengeluh dan merusak momen manis di ranjang sebelah nya. Justin sengaja menutup gorden pembatas agar sang ayah tak canggung pada nya jika terbangun.
Sedangkan tanpa Justin tau, jika Wira dan juga Mishy mendengar semua ungkapan hati nya. Kedua nya sama-sama menetes kan air mata perih. Anak sekecil Justin berjuang begitu keras agar mereka bersatu tanpa peduli pada rasa sakit nya sendiri.
Hati Mishy terenyuh dalam, melihatJustin kecil seperti melihat diri nya di masa lalu. Dengan gerakan tangan perlahan, Mishy menyelip kan jemari nya di jari Wira yang tengah memeluk nya dari belakang. Wira terkesiap, dia sadar jika Mishy pun tengah terbangun seperti nya. Pria itu ikut mengerat kan tautan tangan mereka, berusaha saling menyalurkan perasaan tanpa kata terucap.
Wira mencium kepala Mishy berkali-kali, sisi hati nya berterimakasih pada sang anak. Namun sisi lain hati nya berdenyut sakit. Justin menahan sakit seorang diri, hanya demi kebahagiaan nya.
__ADS_1
Sedangkan Mishy merasa bersalah karena telah bersikap egois akan segala perhatian Wira. Sehingga membuat Justin harus melakukan hal menyakitkan demi bisa membuat sang ayah dapat meraih hati nya. Kedua nya sama-sama terdiam dalan hening nya malam, membiarkan pikiran berkelana menjemput rasa kantuk masing-masing.
Pagi tiba, kedua nya bangun terlambat. Mishy terbangun karena merasa kan nyeri di pergelangan tangan nya, rupa nya seorang perawat sedang menyuntikkan obat melalui infus nya.
Mendengar suara ringisan kecil dari Mishy membuat Wira sontak terbangun.
"Apa yang sakit?" tanya Wira cepat, pria itu bahkan langsung duduk meski kepala nya terasa pusing.
"Tidak, hanya merasa sedikit nyeri saja. Coba lihat Justin, apa dia masih tidur." Titah Mishy, karena tirai yang menghalangi mereka menyulitkan nya untuk melihat Justin di sebelah nya meski hanya berjarak 1 meter.
Wira bergerak turun namun sebelum itu, pria itu sempat kan diri un mencium kilas kening Mishy dengan sayang. Membuat sang perawat ingin menyuntik mati pria tak tau aturan itu. Tidak tau apa, jika diri nya masih berkabung akibat putus cinta sepihak dari mantan jahanam nya.
"Kemana putra ku, suster?" tanya Wira saat tak mendapati Justin di ranjang sebelah.
"Putra anda sedang berjemur di taman rumah sakit tuan. Tadi aku baru saja memberikan obat dengan cara yang sama, dan putra anda meminta ijin keluar. Ada seorang perawat yang ku minta untuk menemani nya ke sana, jangan khawatir." Sahut sang perawat secara rinci.
Klek
Wira sudah terlihat segar seperti pagi-pagi biasa nya. Mishy menjadi insecure, perlahan mengangkat lengan nya untuk mengendus aroma tubuh nya sendiri. Sudah tiga hari dia tak ada mandi, pasti keringat nya tercium sangat mengerikan. Melihat apa yang di lakukan Mishy membuat Wira terkekeh geli.
"Apa kau mau ku mandi kan sayang? ayo aku bantu ke kamar mandi, aku akan menyiapkan air hangat untuk mu." Tawar Wira dengan wajah serius.
Mishy sontak melotot tajam, "dasar mesum, aku bisa mandi sendiri." Tolak Mishy malu. Bagaimana bisa Wira ingin memandikan nya dengan status mereka yang hanya sebatas dalam diam tanpa kepastian.
"Sayang, lihat aku. Apa aku terlihat sangat mesum di mata mu, hmmm? aku hanya ingin memandikan mu, kau pasti merasa tak nyaman. Aku tak gila memikirkan hal vulgar meski aku pria normal. Aku masih sanggup menahan nya, lagi pula aku punya stok sabun cair di dalam. Aku bisa minta tolong pada nya nanti jika sangat ingin." Seloroh Wira mencapit pelan hidung mancung Mishy. Pria itu gemas dengan pikiran Mishy pada nya.
__ADS_1
Wajah Mishy semakin memerah karena kalimat frontal Wira.
"Tidak, aku akan meminta perawat wanita saja yang memandikan ku. Aku tak percaya pada mu." Tolak Mishy tetap kekeh.
Wira berdecak lalu masuk kembali ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Setelah keluar Wira memilih satu potong dress simpel yang dia beli beberapa hari yang lalu melalui Josua tentu. Dia tak ingin Mishy terus menggunakan baju rumah sakit.
"Ayo sayang, aku tak akan membiarkan siapapun menyentuh mu meski dia perempuan sekalipun." Wira menyelipkan kedua tangan nya meski Mishy sudah menolak nya.
"Kenapa kau sangat menyebalkan.." ketus Mishy galak. Wanita itu kini tengah duduk di kursi di dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk tipis untuk menutupi tubuh kurus nya. Dia sangat malu, memperlihatkan tubuh nya yang lebih di dominasi oleh tonjolan tulang dari pada daging.
Belum lagi kulit nya yang terlihat kusam dan kendor. Sungguh Mishy ingin menenggelamkan kepalanya ke dalam wastafel.
Wira menyiram kepala Mishy dengan shower air hangat perlahan. Lalu mulai membersihkan tubuh wanita itu dengan begitu telaten. Dia tau Mishy sedang dalam masa periode nya sebagai seorang wanita.
"Buka sayang, aku ingin membersihkan nya. Aku janji akan melihat ke arah lain." Titah Wira menatap pipi memerah di depan nya.
"Aku bisa sendiri, biarkan aku yang melakukan nya. Satu tangan ku masih bisa ku gunakan."Lagi-lagi Mishy menolak keras. Dan kali ini benar-benar menolak tegas, gila saja dia membiarkan Wira membersihkan milik nya yang belepotan darah di bawah sana. Meskipun tidak, dia tak akan mau Wira melakukan nya.
"Astaga sayang, ini aku bukan pria mesum. Apa kau lupa perkataan ku beberapa waktu lalu? kita akan menikah setelah kau keluar dari sini. Aku tak menerima penolakan, jadi menurut lah sayang. Lihat tubuh mu mulai kedinginan." Mishy mencebik tak suka. Wira selalu memaksa kan kehendak nya tanpa meminta persetujuan dari nya sebagai sang pemilik tubuh.
Sesi mandi yang menyebalkan bagi Mishy telah usai. Wira rupanya sudah memasang kan pem balut di celana da lam Mishy. Sungguh hal yang memalukan bagi wanita itu. Membiarkan seorang pria mengurus diri nya hingga ke bagian paling sensitif.
Setelah selesai mengering kan rambut Mishy, Wira mengambil nampan yang rupanya sudah di antar oleh pihak rumah sakit termasuk milik Justin. Namun pria kecil itu masih belum kembali.
"Kenapa Justin masih belum kembali? pergilah cek dia dulu ke taman.." titah Mishy cemas.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu aku menyuapi mu ini masih panas." Wira kembali menaruh nampan di atas meja dorong.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹