Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

"Lalu?" Andin menatap dalam manik pria yang telah memporak-porandakan prinsip dasar hidup nya. Pria yang membuat nya menjadi seorang pelakor secara suka rela. Pria matang dengan pesona yang sulit untuk Andin tolak.


"Aku harap kau tak akan berubah pikiran, aku sungguh-sungguh padamu. Hanya terhalang sebuah status, aku harap kau masih mau menunggu. Aku sedang mengurus beberapa hal sebelum mengajukan perceraian ku dan Sela." Ujar Roky menatap serius pada wanita di hadapan nya.


"Apa tidak akan jadi aneh, mas tiba-tiba menceraikan nya tanpa sebab? Aku akan di cap perusak rumah tangga mas oleh semua orang terutama anak-anak mas nanti." Balas Andin dengan wajah sendu. Hati nya menerima cinta yang di tawarkan Roky pada nya, namun sisi nurani nya berontak.


Andin menunduk dalam kebimbangan hati yang terus memberikan perlawanan, terhadap kenyataan yang tengah dia jalani sekarang.


Roky meraih dagu Andin agar kembali menatap nya. "Jangan mencemaskan apapun, aku tak mungkin menceraikan nya tanpa ada alasan yang jelas untuk pergi. Kau hanya perlu menunggu pria tua ini, syukur-syukur aku masih bisa menghasilkan benih-benih unggul di dalam sini nanti." Roky mengusap perut rata kekasih nya dengan harapan tinggi.


Andin tersenyum haru sekaligus tersipu malu, untuk pertama kalinya dia jatuh cinta. Malah jatuh pada pria beristri dan dengan perbedaan umur yang cukup jauh. Yaitu 18 tahun.


"Permisi tuan, nyonya.." sela seorang waitress yang kini sedang membawa nampan berisi beberapa jenis makanan di tangan nya. Fokus nya masih terarah pada nampan dan meja, belum pada kedua insan yang saking bertatapan penuh cinta tersebut.


"Ah, maaf...silahkan di taruh.." Andin menepikan ponsel nya dan Roky ke sisi lain agar si waitress lebih leluasa untuk menaruh makanan.


Roky masih fokus pada Andin dan memperlihatkan beberapa rancangan gaun pengantin di butik sang keponakan. Hingga tak fokus pada si waitress yang menatap nya dengan mata berkaca-kaca.


"Nona? Hallo...?" Andin melambai kan tangan nya di depan wajah di gadis yang terus menatap kekasihnya. Terbersit rasa cemburu di hati nya, begitulah kalau sudah cinta. Pada kucing yang numpang berlalu pun akan cemburu.


Roky merasa terusik lalu menoleh ke samping, mata nya hampir melompat keluar melihat siapa gadis dengan seragam seorang waitress yang kini tengah melayani meja nya.


"Gisel.." ucap Roky dengan bibir bergetar, bukan perkara takut ketahuan selingkuh oleh sang anak. Namun lebih pada apa yang di lihat nya saat ini. Anak nya menjadi seorang pelayan restoran dan dia tak mengetahui apapun. Seorang keturunan Sanders bekerja sebagai karyawan restoran paman nya sendiri. Apa yang sudah dia lewat kan.

__ADS_1


Gisel memeluk nampan di tangan nya dengan erat kemudian berlari pergi dari sana. Dia ketakutan, takut jika sang ayah akan memarahi nya lebih parah memukul nya seperti yang sering ibu nya lakukan di rumah. Gisel trauma.


Roky tersadar dari keterkejutan nya kemudian menyusul sang anak ke area pantry.


"Maaf tuan, hanya karyawan yang boleh masuk.." cegah seorang pria muda pada Roky yang hendak masuk ke area yang bertuliskan hanya staff yang boleh masuk.


"Aku kakak ipar pemilik restoran ini, ijin kan aku masuk putri ku ada di dalam." Ujar Roky sedikit meninggi kan suara nya. Andin yang masih belum mengetahui apapun berusaha menenangkan sang kekasih dengan mengusap pelan lengan Roky.


"Maaf tuan kami tidak tau, silahkan lewat ini jika Gisel yang anda maksud seperti nya dia menuju rooftop." Ujar pria tadi karena tak sengaja melihat Gisel berlari sambil menangis dari arah meja Roky.


"Terimakasih.." ujar Andin mewakili. Mereka menyusuri lorong menuju tangga ke lantai atas.


Sesampai di depan pintu menuju rooftop, Roky berhenti sejenak, pria itu berusaha mengatur alur nafas nya. Andin terus di samping nya untuk menguatkan Roky meski belum paham akan situasi yang terjadi.


Dengan langkah pelan, Roky menuju tubuh gadis yang terlihat berguncang menahan tangis. Gisel bahkan tak menyadari kehadiran sang ayah karena sibuk menekan sesak di dada nya.


Usapan lembut di bahu nya, membuat Gisel reflek menoleh. Raut wajah nya terlihat sangat ketakutan, Gisel semakin meringkuk di sudut rooftop dalam posisi yang sangat menyedihkan. Hati Roky seperti tersayat pisau saat melihat reaksi tak biasa putri nya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Gisel seperti orang yang memiliki trauma besar dan parah. Putri nya yang paling penurut dan tak pernah bertingkah aneh. Putri nya yang selalu menjadi kebanggaan nya, dengan banyak piala penghargaan dan lainnya.


Kenapa jadi seperti seorang anak yang hidup penuh tekanan. Roky tak habis mengerti.


"Tolong... jangan sakiti aku, aku mohon...aku tak akan mengatakan apapun pada siapapun juga... tapi jangan memukul ku lagi, jangan menghukum ku lagi... jangan, jangan lagi...aku akan tutup mulut, sungguh." Gisel berbicara cepat meski terbata-bata. Tubuh anak itu semakin bergetar hebat tak terkendali.


Roky tertegun, menghukum? Memukul? Kenapa putri nya mengatakan hal yang tak pernah dia lakukan. Andin yang memang seorang psikiater menyadari situasi di hadapan nya, segera mengambil alih. Di hampiri nya tubuh Gisel yang semakin bergetar ketakutan. Wanita itu berjongkok kemudian mengulur kan tangan nya.

__ADS_1


Setelah mencapai pundak Gisel, Andin merengkuh tubuh rapuh gadis yang terlihat tengah menyimpan banyak beban trauma psikis dalam hidup nya.


"Sshuutttt...tidak apa-apa, tengah lah. Tarik nafas panjang dan hembuskan perlahan. Lakukan pelan-pelan saja, oke. Tidak ada yang akan memarahi mu, dia? Dia pria yang baik, pria penyayang yang tak tau bagaimana cara menunjukkan perhatian dan cinta nya. Kau beruntung bisa mengenal nya, aku pun begitu. Sayang sekali, dia tak bisa ku miliki seutuhnya. Meski aku sangat ingin, tapi keadaan kami sedikit rumit." Cerita Andin terkekeh kecil.


Tangan nya terus mengusap pelan punggung Gisel, hingga akhirnya Gisel benar-benar tenang. Andin mengurai pelukan nya, dan menatap gadis cantik itu. Sangat mirip dengan Roky, kini dia yakin jika gadis itu adalah salah satu putri sang kekasih. Namun yang menjadi pertanyaan nya, kenapa bisa gadis itu bekerja sebagai seorang pelayan. Padahal keluarga Sanders tidak kekurangan uang jika pun setiap hari Gisel berbelanja barang bermerek sekalipun.


"Lihat aku, apa aku terlihat galak? Jahat?" Gisel menggeleng pelan kemudian menatap sang ayah dengan takut-takut. Andin mengikuti arah tatapan gadis itu lalu tersenyum samar.


"Mari kita duduk di sana, usiaku sudah kepala tiga. Pinggang ku mulai terasa kebas, aku khawatir akan mengalami encok dan membuat pria tampan ini berpaling dan ilfil padaku." Gisel tersenyum geli. Begitu pun Roky, dia kagum bagaimana cara Andin menenangkan putri nya. Hati nya semakin yakin pada wanita itu.


Setelah ke-tiga nya duduk di kursi yang ada di sana, suasana kembali hening. Gisel masih belum berani menatap sang ayah, dan lebih memilih duduk bersisian dengan Andin.


"Khmmm..kau sudah lama bekerja di sini? Kulihat di bawah banyak pria tampan, sayang sekali aku sudah terlalu tua untuk merayu mereka." Kekeh Andin membuat mata Roky melotot sempurna.


"Jangan macam-macam sayang, akan aku bunuh pria yang berani mendekati mu." Ancam Roky lupa akan situasi.


"Kau lihat sayang, pria ini benar-benar tak tau bagaimana cara menunjukkan rasa cemburunya dengan benar. Ckckck.." Andin berdecak pura-pura kesal. Sementara Roky mendengus tak suka.


"Jadi? Sejak kapan?" Ulang Andin lagi.


Gisel nampak ragu-ragu untuk menjawab, dia takut ayah nya akan marah, atau membentak nya.


"Sejak satu tahun yang lalu bibi...." Sahut Gisel pelan. Hati Roky serasa tercubit keras, apa-apaan ini. Kenapa anaknya bisa sampai bekerja. Untuk apa? Apa uang yang di khususkan untuk masing-masing anak nya kurang bagi Gisel dalam memenuhi kebutuhan nya? berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran nya.

__ADS_1


__ADS_2