Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Mylo Yang Perasa


__ADS_3

Rosy masuk ke dalam rumah dengan langkah tak bersemangat. Kata-kata Sania mampu mengusik sisi tenang dalam hidup nya selama ini. Tak pernah terpikirkan oleh nya, jika suatu saat, perlu mempertemukan kedua anak nya dengan sang mantan suami. Semua di luar pemikiran nya, sungguh tak terbayangkan. Rosy sungguh tak siap.


klik


Rosy tersentak saat mendapati lampu ruang tamu menyala tiba-tiba.


"Mylo..? kenapa jam segini kau masih belum tidur?!" tanpa Rosy sadari, jika nada suara nya sedikit naik dari oktaf normal. Efek stress membuat nya sering lepas kontrol, untuk itu lah, Rosy selalu mengurung diri di kamar jika sedang mengalami stress. Bipolar yang dia derita kadang membuat sisi lembut dalam diri nya menguap entah kemana.


Mylo menatap sendu wajah sang ibu dengan tatapan tak terbaca. Ada mendung menggantung di sudut atas iris mata nya.


"Aku hanya ingin memastikan mama pulang pukul berapa. Di luar sedang hujan deras, jalanan pulang kemari sepi dan jauh dari pemukiman penduduk. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi. Mama mandi lah, aku akan memanas kan makanan di microwave. Maria pasti sudah tidur nyenyak sekarang." Air mata Rosy luruh seketika. Melihat punggung kecil yang berjalan penuh semangat menuju dapur, membuat hati nya terenyuh pedih.


Mylo nya selalu memperlihatkan wajah tegar dan baik-baik saja, bahkan ketika sedang terluka sekali pun. Dengan langkah pelan, Rosy menuju dapur. Di lihat nya makhluk fana tak berdosa yang tanpa sengaja telah dia hentak barusan. Tengah memanas kan makan malam untuk nya. Tubuh kecil dengan tinggi tak seberapa itu berusaha keras berjinjit di atas kursi plastik pendek agar mencapai tinggi nya letak microwave.


Mylo berbalik dan kaget melihat ibu nya berada tepat di hadapan nya.


"Mama kenapa tidak mandi dulu, masih butuh 20 menit untuk memanas kan nya." Tak tahan lagi, Rosy memeluk tubuh kecil itu dengan tangis tak terbendung. Bahu Rosy berguncang hebat di dada sang anak. Tinggi Mylo hampir menyamai tinggi nya karena anak itu tengah berdiri di atas sebuah kursi leseh.


"Maaf...maaf kan mama.." suara lirih Rosy menyerupai sebuah bisikan kecil. Banyak kata yang ingin terucap, namun tercekat di kerongkongan nya. Dada nya seperti hampa udara, kosong dan sesak.

__ADS_1


"Mama tidak salah, seharus nya aku menjadi anak yang patuh. Mama tidak suka melihat ku bergadang, karena itu tidak baik untuk kesehatan ku, bukan? Jadi jangan meminta maaf, mama adalah wanita hebat untuk ku dan Mishy. Jangan pernah menangis lagi, maaf kan Mylo belum bisa menjadi anak yang baik." Ucapan lembut sang anak, seperti ujung pisau yang mengiris habis jantung Rosy. Usapan lembut tangan mungil Mylo mampu membuat hati nya menghangat dan tentram.


Seolah segala beban pikiran nya menguar begitu saja.


Di ujung tangga, ada mata bulat yang berusaha keras menahan agar air matanya tidak keluar. Niat hati ingin menyambut kedatangan sang ibu, malah di suguh kan oleh pemandangan tak biasa di sudut dapur rumah nya.


Mishy membawa langkah kecil nya kembali ke kamar nya di lantai atas. Selama ini Mishy memperlihatkan sisi acuh nya agar Mylo bisa lebih mandiri dan kuat dari nya. Namun sifat memendam dan perasa sang kakak seperti nya sudah mendarah daging. Sekuat apapun Mishy berusaha menciptakan sisi kuat nya, namun tetap luruh juga saat melihat dua orang kesayangan nya, berada di fase yang jauh dari kata baik-baik saja.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Rosy duduk meringkuk di kursi favorit nya di balkon kamar. Menatap malam yang tak berujung. Sekelebat bayangan wajah sang anak kembali membentur sisi hati nya keras. Mylo anak yang peka, sekecil apa pun kemarahan seseorang, akan mampu dia tangkap dengan mudah. Apa lagi jika terlihat sangat nyata di depan mata nya.


flashback


Rosy terdiam setelah membaca hasil laporan kesehatan nya. Beberapa waktu lalu, diri mendatangi sang sahabat untuk berkeluh kesah tentang dirinya yang belakangan menjadi mudah terpancing emosi. Setelah di lakukan serangkaian tes, Rosy rupa nya di diagnosa mengidap bipolar. "Ini tidak benar.. bagaimana bisa, aku bahkan mampu mengendalikan emosi ku dengan baik. Aku tak pernah memperlihatkan sisi emosional yang meledak-ledak pada situasi apapun." protes Rosy menghempas lembar kertas hasil tes kesehatan psikis nya.


"Itulah salah satu penyebab dari timbul nya penyakit mu ini, Rosy! Sadarlah, kau selalu nampak acuh pada masalah yang kau hadapi. Padahal di balik itu semua, kau berusaha keras untuk menyelesaikan nya seorang diri dengan cara mu. Apa kau menyadari sesuatu? belakangan kau sering berbicara dengan sedikit intonasi yang lebih tinggi dari biasa nya, jika kau sedang kesal dan tertekan. Ini tidak baik di biar kan berlarut-larut. Kau harus mengikuti serangkaian uji kesehatan dari ku. Aku akan merekomendasikan seorang psikiater yang tepat untuk menangani mu."


"Aku tidak gila, Sania!" Rosy terkesiap sendiri mendengar nada suara nya, sementara Sania hanya bisa menghela nafas panjang. Rosy terus menolak kenyataan, meski sadar itu akan memperburuk kondisi nya.

__ADS_1


"Kau lihat? kau baru saja membentak ku, Rosy! Astaga! Suami ku saja tidak pernah meninggikan suara nya pada ku. Hello? Kau siapa nyonya?" Ledek Sania mencibir sikap keras kepala Rosy.


"Aku tetap tidak mau melakukan nya. Bipolar bukan penyakit mematikan, dan aku tidak perlu melakukan hal konyol seperti saran mu itu." Tolak Rosy tetap pada pendirian nya.


"Sikap keras kepala mu ini akan membuat mu kehilangan empati anak-anak mu kelak, Rosy! Mereka akan mulai menjauhi mu karena perasaan takut. Jadi saran ku, berobat lah...kau butuh pertolongan selain kuasa Tuhan."


flashback end


Kalimat final tak terbantah Sania hingga kini masih dia abai kan. Dan sekarang dia mulai merasakan efek lain yang berbeda dalam diri nya. Emosi nya sering tak terkendali. Untuk itu kenapa dia baru pulang setelah pertemuan nya dengan Sania tadi siang. Rosy mengurung diri nya di ruang pribadi nya di butik. Kastil tersebut berjarak setengah jam dari perkotaan. Sekitar 10 menit dari desa terdekat. Wajar saja jika Mylo mencemaskan nya, mengingat di luar sedang hujan deras dengan sedikit angin badai.


Namun yang dia lakukan malah menyentak kan suara nya meski tanpa dia sengaja. Mengingat wajah polos itu menatapnya penuh kasih dan perhatian, Rosy merasa sangat berdosa.


"Maaf kan mama Mylo...mama tak pernah membenci mu, kau pria kecil terhebat mama, kebanggaan mama sampai kapan pun." Lirih nya. Rosy mengigit bibir nya menahan tangis, meski tak akan ada yang akan mendengar suara nya. Namun Rosy tak ingin sisi lemah nya mencuat keluar.


Mylo menatap nanar sang ibu dari balik gorden kamar nya. Kamar Mylo berada paling ujung di sisi barat kastil tersebut. Di mana balkon kamar nya menghadap persis ke arah balkon kamar sang ibu. Meski dari jarak yang jauh, namun Mylo yakin, jika ibu nya tengah menangis sekarang.


"Aku tak akan membiarkan mu menangis lagi ma, mama adalah hidup ku. Bertahan lah lebih lama, aku tak bisa kehilangan mu begitu pun Mishy." Mylo menutup gorden nya lalu berjalan pelan menuju tempat tidur.


Anak sekecil Mylo, namun sudah menyimpan banyak rahasia yang juga menjadi rahasia sang ibu. Kedua nya sama-sama master dalam hal menyimpan sebuah rahasia besar.

__ADS_1


Setelah mengusap air mata nya, Mylo memejamkan kedua matanya meski terasa sulit. Dia tak ingin bangun terlambat, memberikan kesan yang baik dan menyenangkan sang ibu adalah tujuan hidup nya. Tak peduli jika harus membentur tingkat usia nya sendiri. Apa pun akan dia lakukan untuk wanita hebat tersebut, yang membawa nya dan sang adik ke dunia dengan cara yang hebat. Ibu nya adalah wanita berhati mulia, namun ibu nya tetap lah manusia biasa. Ada batas yang tak mampu di tembus meski pun sudah berusaha sangat keras.


__ADS_2