
Berbeda dengan perut rakyat jelata seperti nya. Sebanyak apa pun makanan, akan selalu amblas sempurna. Pesan emak dari kampung, jangan sia-sia makanan mu maka kelak jodoh mu akan sulit untuk mendekat. Begitu lah amalan yang selalu Gita pegang teguh, meski lebih sering pada kehendak nya sendiri.
"Pak asisten, ini semua akan aku bungkus. Apa kau juga mau? Kita bisa membagi nya kalau begitu. Mengingat kau sangat pelit, mungkin saja kau berniat untuk memberikan nya pada kekasih mu untuk makan siang." Celoteh Gita tanpa tau jika Yoga sedang menatap nya dengan ekspresi tak terbaca.
"Kau bungkus saja semua nya, kalau perlu serta piring juga meja nya sekalian kau bawa pulang." Ketus Yoga beranjak pergi meninggal Gita dengan ekspresi wajah tak bersahabat.
Gita menatap heran punggung lebar Yoga yang baru saja keluar dari pintu ruangan tersebut.
"Kenapa dia seperti orang yang sedang marah? Ah, biarkan saja, mungkin Yoga sedang mencerna nasihat bijak pak CEO." Ucap gadis itu tanpa tau jika Yoga sedang tersinggung akibat ucapan nya tadi.
Gita memang kadang terlalu polos dan menjengkelkan di saat bersamaan.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Charlotte terlihat sedikit gelisah, sang ibu sedang keluar rumah untuk membeli beberapa keperluan untuk diri nya yang terlupakan kemarin. Sedang Resy sedang kerepotan dengan dua bayi kembar nya yang baru berusia 3 Minggu. Ayah nya bekerja seperti biasanya, hanya ada beberapa orang bodyguard berjaga di luar rumah dan beberapa orang pelayan di paviliun belakang.
"Kok kaya mau BAB sih? Padahal kan udah tadi pagi." Monolog Charlotte mengusap pelan permukaan perut nya yang terasa mengeras.
"Iishh..apa ya aku mau melahirkan? Bukan kah perkiraan dokter masih minggu depan?" Charlotte mulai tak nyaman dengan kontraksi yang timbul tenggelam.
__ADS_1
"Kata mama sama ibu kalau mau melahirkan akan keluar tanda, bukan? Mungkin hanya kontraksi palsu, aku harus semangat. Panik akan membuat ku semakin kesakitan, itu pesan ibu." Wanita itu memilih berbaring di ranjang nya dan berusaha untuk terlelap.
Setelah hampir menjemput mimpi, rasa sakit di perut nya semakin terasa kuat. Charlotte terbangun dan meringis menahan rasa sakit, wanita itu duduk dengan susah payah. Menggenggam sprei untuk menekan rasa luar biasa akibat kontraksi nya. Apa karena dia terlalu bersemangat semalaman bersama sang suami, hingga bayi nya mengalami guncangan hebat.
Saat akan meraih ponsel nya, sesuatu seperti meletus terdengar dari area bawah nya. Tak lama keluar air yang dia yakini sebagai air ketuban meleleh di kedua kaki nya.
Di sisi lain, Miguel terlihat gelisah tanpa alasan. Pria itu tak konsentrasi dalam memeriksa berkas laporan di meja nya. Seperti ada yang terus memanggil nama nya untuk segera pulang. Dan terbersit rasa ingin berkunjung ke rumah orang tua istri arwah nya. Selama ini Miguel tak ingin mampir ke sana karena akan teringat momen nya bersama sang istri, yang membuat rasa bersalah kembali memenuhi ingatan nya.
Namun kali ini, Miguel begitu ingin berkunjung ke sana.
"Huffzz! Semua sudah berlalu, dan kini Charlotte telah menjadi milik ku. Aku harus mulai berdamai dengan keadaan." Bisik Miguel lalu menutup kembali berkas nya dan mulai beriap meuju ke kediaman sang mertua. Tanpa tau keajaiban telah menanti nya di sana.
Kembali pada Charlotte yang terduduk di lantai basah, wanita itu tak mampu membawa diri nya kembali ke atas kasur. Semua wejangan dari ketiga ibu nya telah dia lupakan semua, terkalahkan oleh rasa sakit yang luar biasa. Di tambah dia sedang sendirian saat ini.
"Aku hanya ingin bertemu ayah sama ibu, apa masalah kalian!" Seru Miguel marah.
Charlotte yang sayup-sayup mendengar suara teriakan di halaman depan yang persis berada di depan jendela kamar nya, dengan suara bergetar menahan sakit wanita itu berteriak sekuat yang dia bisa.
Miguel dan beberapa orang tersentak saat mendengar suara Charlotte berteriak dari dalam rumah tersebut. Para Pria berlari meninggalkan Miguel namun pria itu pun ikut berlari masuk.
__ADS_1
Pintu kamar Charlotte di buka paksa dan terlihat wanita itu tengah bersandar di ujung meja sambil memeluk perut nya menahan kesakitan.
Miguel menggeser tubuh si pria tegap di hadapan nya kemudian menghampiri sang istri. Meski masih bingung akan situasi yang ada, Miguel mengabaikan nya terlebih dahulu.
Mengangkat sang istri untuk membawa nya ke rumah sakit namun di cegah oleh para body guard tersebut.
"Maaf tuan Miguel, atas perintah kami tak mengijinkan anda untuk membawa nona Charlotte keluar dari sini. Nyawa nya dalam bahaya jika anda membawa nya ke hadapan umum. Kami sudah menghubungi nyonya Maria dan nyonya Resy agar segera kemari." Miguel seperti orang linglung.
Ibu nya masih hidup? Bagaimana bisa? Namun melihat kondisi sang istri yang terlihat lemah juga berlumuran darah, Miguel akhir nya mengesampingkan segala rasa penasaran nya.
"Bertahan lah sayang, demi anak kita...kau wanita yang kuat, kau hebat..lihat aku, aku ada di sini bersama mu untuk menyambut anak kita saat menyapa dunia." Cerocos Miguel dalam kekalutan nya. Air mata pria itu sudah mengalir deras saat melihat ringisan sang istri semakin menjadi.
Resy berlari meski sang suami sudah mengingatkan nya agar berjalan perlahan saja. Wanita itu baru saja melakukan operasi sesar tiga minggu yang lalu.
Maria dan Resy bertemu di halaman saat sama-sama keluar dari mobil masing-masing. Ekspresi panik terlihat jelas di wajah kedua wanita itu, terlebih mendapatkan laporan jika Miguel ada di sana.
"Sayang, ini mama.. bertahanlah, kita akan berjuang untuk membawa bayi mu ke dunia ini. Lihat lah, suami bodoh mu ini ada di sini, dia terlihat menyedihkan jadi kau harus terlihat lebih kuat dari nya." Ujar Resy menutupi kekalutan hati nya. Wajah pucat Charlotte membuat nya ketakutan setengah mati. Sudah lama sekali dia tak pernah berkutat dalam dunia medis. Dan ini kali pertama nya dia menangani persalinan kembali.
Tak jauh beda dari Resy, Maria pun mengalami hal yang sama. Setelah berhenti menjadi seorang bidan, diri nya hanya fokus pada keluarga saja.
__ADS_1
"Sa_kit ma.." lirih Charlotte nyaris berbisik. Resy berbisik pelan untuk menyemangati sang menantu, sementara Miguel terus menggenggam jemari istri nya dengan berbagai perasaan juga pertanyaan berkecamuk.
Perjuangan hampir setengah jam tersebut akhir nya membawa suara tangis seorang bayi mungil yang begitu cantik ke dunia fana ini. Tangis haru seluruh keluarga memenuhi kamar tersebut. Mishy yang juga baru tiba di tengah-tengah perjuangan sang menantu pun, tak dapat menahan tangis nya sepanjang proses persalinan berlangsung.