
Setelah membersihkan hidung nya, Mishy bergumam menatap sang kakak di dalam layar laptop nya.
"Setidaknya kau menyadari kesalahan mu di saat yang tepat kak. Aku berharap kau bisa benar-benar berubah sekarang. Cobalah untuk menjadi seorang wanita dan ibu yang membanggakan. Aku tak tau kemana akan menitipkan beban ku setelah aku sudah tak sanggup lagi." Seseorang di balik pintu kamar Mishy meremat sesak di dada nya.
Pria itu menangis dalam diam agar tak membuat sang ibu semakin berada dalam kegamangan yang sulit.
"kau akan baik-baik saja mom, aku berjanji akan menaklukkan dunia untuk memulihkan mu kembali. Bertahanlah sebentar lagi, aku tak bisa tanpa mu." Bisik hati Miguel perih. Pria itu berbalik menuju lantai atas kamar nya. Sebagai anak tertua, Miguel merasa bersalah tak bisa menjadi sandaran penuh sang ibu. Dia sudah mampu memimpin sebuah perusahaan besar di usia nya yang baru 20 tahun, namun nyatanya masih tak mampu menjadi anak yang meringankan beban batin wanita hebat dalam hidup nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Kediaman Wira tak pernah ada kedamaian semenjak Sofia menjadi bagian dari rumah pria tersebut. Setiap hari selalu terasa panas bagai di panggang bara neraka.
"Aku akan ikut, dan Justin tetap tinggal di sini toh dia bukan anak kandung mu. Aku akan ikut Kemana pun kau pergi, sekuat apapun kau menolak ku. Camkan itu!" Sofia meninggalkan ruang kerja Wira setelah mengamuk di dalam sana dengan menghamburkan barang-barang pria itu.
Wira menghela nafas kasar, dia akan kembali ke Indonesia. Sang ibu sedang kritis, itu berita yang dia peroleh dari seorang teman kepercayaan nya. Alfred si Casanova.
Klek
Justin masuk dengan sekop dan sapu di tangan kecil nya, Itulah yang selalu dia lakukan ketika ibu nya membuat kekacauan di rumah itu. Menyadari jika diri nya hanya penumpang gelap dalam kapal seorang Wira, Justin selalu bersikap sadar diri. Wira menatap iba ke arah Justin yang mulai membersihkan lantai. Selama ini dia hanya diam saja ketika melihat anak sekecil Justin selalu melakukan hal tersebut. Namun kali ini hati nya tersentuh begitu dalam.
Justin tak bersalah, kenapa dia pun ikut memusuhi anak itu tanpa berpikir panjang. Sikap nya yang dingin terhadap Justin rupanya membuat pria kecil itu menyadari kebencian nya. Dua tahun sikap Justin berubah, tak pernah lagi merengek layaknya anak kecil.
"Biarkan pelayan yang membersihkan nya, Justin..Tidurlah, besok kau akan bersekolah. Dan mulai lah belajar untuk mandiri, kau tak selalu bisa mengandalkan seseorang dalam hidup mu meski kau tak mampu sekalipun. Besok segala kebutuhan mu akan sepenuhnya di urus oleh kepala pelayan. Aku akan kembali ke negara ku, aku juga akan mengurus perceraian ku dengan ibu mu. Aku tau kau memahami ucapan ku, dan kau pasti tau jika aku bukanlah ayah kandung mu. Jadi, belajar lah dewasa sejak dini. Ibu mu bukan tipe wanita yang bisa kau andalkan."
Setelah mengucapkan kalimat mengiris hati Justin, Wira keluar dari ruang kerjanya. Dia ingin mengepak segala barang bawaan nya besok. Sedangkan Justin terduduk di lantai dingin dengan tubuh bergetar. Anak itu tergugu dalam tangis pilu. Meski selama ini Wira tak pernah peduli padanya, paling tidak pria itu tak pernah memarahi apa lagi memukul nya seperti sang ibu. Apa jadi nya jika Wira pergi, dia sangat menyayangi pria itu melebihi rasa sayang nya pada sang ibu.
__ADS_1
Namun nyatanya sikap baiknya tak mampu menyentuh dasar hati Wira. Pria itu juga menolak telak kehadiran nya. Sungguh anak yang malang.
Usai membersihkan ruangan Wira, Justin menuju meja kerja Wira membuka laci kerja pria itu yang sudah terlihat hampa. Hanya ada beberapa barang yang tak perlu, rupanya Wira sudah mempersiapkan diri untuk pergi meninggalkan nya seorang diri. Saat meraih secarik kertas yang akan dia tulis sedikit curahan hatinya, Justin melihat sebuah foto wanita cantik yang selama ini selalu dia lihat di atas meja kerja Wira.
Namun kini foto itu teronggok di lantai dasar laci nakas tanpa bingkai nya lagi. Foto wanita yang selalu dia tatap berbeda, semacam ada perasaan hangat yang menenangkan kala menatap manik di balik foto tersebut. Justin mengambil nya lalu mencium nya seperti yang sering dia lakukan kala masuk ke sana. Memeluk erat foto itu bagai memeluk erat sosok ibu yang sangat dia rindukan.
Belum bertemu saja, hati nya sudah sebahagia ini. Dia yakin wanita itu pasti wanita yang sangat baik, itu kenapa Wira tak bisa melupakan nya hingga sekarang.
Wira berangkat pagi buta, jarak dari perkebunan nya memakan waktu hingga 3 jam untuk tiba di bandara. Justin menatap nanar mobil yang membawa sang ayah tiri, air matanya berjatuhan tak tertahankan.
"Semoga Daddy menemukan kebahagiaan yang daddy cari. Semoga wanita baik itu belum menikah dengan pria lain, aku akan sangat senang jika Daddy bisa kembali bersama nya. Berbahagia lah dad, doa ku mengiringi jalan pulang mu." Doa Justin tulus. Walau berat karena berpisah dengan Wira itu lebih baik, Wira berhak bahagia.
Semalam Justin menaruh obat tidur yang biasa ibu nya konsumsi jika sedang insomnia. Tak tanggung-tanggung, dua tablet di gerus sekaligus. Meski tak memahami akan berakibat seperti apa, Justin hanya ingin kepergian Wira tak di kacaukan oleh ibu nya.
"Tuan, mati kan ponsel anda.." tegur seorang pramugari saat melihat Wira terus bermain ponsel meski sudah di instruksi kan oleh pramugari tak boleh menggunakan benda tersebut selama penerbangan.
"Ah maaf, ini aku hendak mematikan nya.." ujar Wira tak enak hati. Saat akan memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket, Wira tak sengaja menyentuh sesuatu seperti lipatan kertas.
Segera Wira merogoh nya, dan mulai membuka lipatan yang di buat sekecil mungkin.
Matanya memanas membaca kata-kata menyayat hati di dalam kertas tersebut. Surat yang di tulis tangan oleh Justin berisik banyak harapan untuk nya. Berharap kehidupan nya lebih baik dan tentunya lebih bahagia ketika sudah tiba di tanah air. Pria kecil itu menuliskan banyak permohonan maaf atas kesalahan sang ibu, juga kehadiran nya yang membuat Wira terpaksa bertahan dengan ibunya meski tidak pernah bahagia.
Air mata pria itu menetes dalam jumlah yang tak sedikit. Wira bergegas menuju pintu pesawat yang baru di tutup rapat oleh sang pramugari.
"Aku harus keluar, jika tak bisa menunggu tidak apa-apa. Aku akan menaiki penerbangan berikutnya, barang-barang ku turun kan ketika transit." Ujar Wira memohon dengan nada panik.
__ADS_1
"Maaf tuan, kita sudah akan berangkat..." cegah sang pramugari menolak untuk membuka pintu burung besi yang berat itu.
"Maaf nona, putra ku tertinggal..aku melupakan nya, dia sedang sendirian di rumah tanpa siapapun..." mohon Wira memelas. Sang pramugari melotot kan matanya selebar mungkin.
"Apa anda gila! bagaimana bisa ada orang tua melupakan anak nya sendiri seperti melupakan sampah! dasar orang tua tak berperasaan.." ketus sang pramugari marah, lalu kembali membuka kan pintu untuk Wira.
Dengan langkah berlari kencang Wira berkali-kali menelpon ke rumah nya. Namun tak ada yang mengangkat nya. Pria itu frustasi, jika dia kembali akan memakan waktu 6 jam pulang pergi.
Drrttt drrttt dr...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
......................
...Part berikutnya akan banyak irisan bawang, jadi othor kasih satu bab dulu biar sempat narik nafas panjang. Siap kan tisu, sama kopi anget buat othor 😁biar update nya besok full power....
...Bab ini promosi kesahnya, biar pada semangat nungguin othor gabut nya update 🤭😁...
...Udah ada naskah nya seperti biasa, hanya masih kasar. Malam ini bakal proses editing abis-abisan. Jadi ngaduk kopi nya agak banyak ya, pake gula jagung biar gak diabet🤭🤭...
...kenapa cerita Mishy lebih mendominasi, karena dia adalah tokoh wanita kedua dalam novel ini. Wira kembali di timbulkan setelah bersemedi di puncak Athena, karena dia akan menjadi tokoh pria yang berperan penting dalam kesembuhan Mishy. Justin? pria kecil itu adalah jembatan Wira untuk bisa meraih kembali hati Mishy yang sempat mati....
...Jadi mohon gas dukungan nya ya readers ku sayang😘 kalian merupakan penyemangat hakiki bagi seorang penulis....
...Luv yuu epribadeeehhh dengan banyak cinta bertebaran 🤍🥰🤍🥰🤍🥰🤍🥰🤍🥰🤍...
__ADS_1