Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Sup kaki kelinci


__ADS_3

"Cih! selalu saja mengancam. Apa itu hobby mu sekarang. Kenapa kau jadi lebih menyebalkan semenjak kau mengenal si kerdil itu. Dasar OG meresahkan!" Betran mendengus protes. Lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan gaya bersandar malas.


"Situasi darurat apa yang kau alami saat ini, susu coklat Mylo bubuk kemasan kotak? Ya Tuhan! salah apa ibu ku sampai putra kesayangannya kini menjadi sasaran empuk kejahilan sahabat nya sendiri." Betran meratapi nasibnya yang memilukan dengan penuh penghayatan.


Bugh!


Kotak tisu mendarat sempurna di bahu kanan Betran, sungguh lemparan yang penuh dengan niat dan kesungguhan. Pria itu meringis menahan ngilu dan nyeri.


"Kau gila ya..!" Hardik Betran kesal, sembari mengusap bahu nya yang malang.


"Ya aku gila, siapa suruh kau mengotori sofa ku. Oli mesin ku baru saja menempati nya, dan kau telah menodai bekas nya. Apa kau tau, kenapa aku selalu mengganti sofa setiap kali si Oli menempati nya?" Teriak Mylo marah.


"Itu karena si kerdil selalu meninggalkan jejak-jejak pulau tak berpenghuni di sofamu. Kau kira aku tak tau dengan kejorokan gadis kerdil itu." Dengus ikut meninggikan suaranya. Mungkin jika ada orang yang melihat tingkah mereka, pasti akan langsung berpikir buruk. Padahal begitu lah cara keduanya saling meluap kan kekesalan masing-masing.


Pepatah mengatakan, lebih baik mentertawai kesialan teman mu di depan, dari pada membicarakan keburukan nya di belakang. Begitu lah kira-kira motto persahabatan mereka.


Kretak


Lemparan pulpen nyaris menusuk lengan Betran, untung saja pria itu gesit.


"Bukan karena itu buduh! aku tak ingin ada yang menempati bekas Oli mesin ku, puas kau!" mata Betran melotot sempurna.


"Lalu di mana sofa-sofa malang itu kau museum kan?" tanya Betran mulai kepo. Membayangkan banyak jejak pulau tak beraturan bentuk nya, membuat Betran bergidik ngeri.


"Di kamar pribadi ku di dalam, jangan bilang kau ingin mengoleksi nya juga?" selidik Mylo memicing tajam.


"Oh tidak pak CEO, aku masih cukup waras untuk tidak membuat diriku sendiri gila. Aku tak mau menyimpan bibit penyakit, kau tau? sekarang meski Corona telah berlalu, tapi harus tetap berhati-hati pada sentuhan tak steril. Apalagi jelas jika itu adalah air liur. Penyakit mudah menular dari sana, bukan kah itu mengerikan?" Betran kembali bergidik untuk memperlihatkan, jelas jika diri nya tak berminat untuk mengoleksi sofa bergambar abstrak tersebut.

__ADS_1


Sudah, Mylo tak tahan lagi. Mulut asisten nya lebih pedas dari cabe level akhir.


"Kau! keluarlah, cari Oli dan bawa kemari. Kalau dia tak mau, pikul dia tapi jangan menyentuh nya. Atau kedua tangan mu ku potong jadi 10 bagian." Titah Mylo seenaknya.


"Kalau kau berniat membunuhku, jangan begini caranya. Bagaimana bisa aku memanggulnya tanpa menyentuh. Kau pikir aku ini tukang sihir!" Meski kesal dengan perintah tak manusiawi tersebut, Betran tetap melakukan nya. Pria itu berjalan gontai menuju pintu keluar. Banyak doa dia rapalkan agar si kerdil tak mempersulitnya nanti.


Mylo merapikan jas, dasi dan rambut nya, walaupun sebenarnya tak ada yang perlu di rapikan. Padahal hanya Olivia yang akan datang, tapi Mylo merasa perlu berpenampilan sempurna.


"Ck! kenapa aku jadi seperti ini? dasar gadis menyebalkan, awas saja kalau kau tak mau ikut dengan si Pete. Akan aku kurung kau di apartemen ku selama seminggu penuh." Gerutu Mylo tak jelas. Pria itu uring-uringan hanya karena seorang Olivia, yang selalu dia sebut jorok dan si buruk rupa.


🌹🌹🌷🌷🌹🌹


"Nona, ayolah.. jangan mempersulit ku, kasihanilah diriku yang malang." Olivia mendelik melihat tingkah sang asisten, yang terlihat sangat mengiba belas kasihan nya.


"Ck! tidak bos tidak asisten, sama-sama menyebalkan!" ketus Olivia. Akhir nya wanita itu ikut meski tak ikhlas hati, terdengar hentakan langkah kakinya mengalahkan suara hentakan sepatu para pejuang tujuh belas Agustus. Mengagumkan, bisa di pastikan kaki si kerdil itu akan merasakan efek ngilu nanti malam.


Betran terus mengekori langkah Olivia dari belakang, sambil memperhatikan betis mungil si kerdil di hadapan nya. Sungguh Betran sangat gemas, kaki sekecil kaki kelinci tersebut terlihat begitu menggoda untuk di potong-potong dan di jadikan sup tulang kaki kelinci.


"Cih! bokong mu bahkan tak sampai selebar telapak tangan ku, apanya yang seksi. Aku yakin, kau pasti tersiska saat duduk di tempat yang keras. Tulang ekor mu pasti meronta meminta pindah ke sofa." Decih Betran menatap ngeri bokong kecil milik Olivia.


"Tersiksa pak asisten, kenapa kau jadi ikut-ikutan bos mu yang sering mengatakan kata yang salah. Apa kebodohan itu menular ya.." ujar Olivia cengo. Sungguh Betran ingin merenovasi otak bodoh si kerdil di hadapan nya.


"Masuk lah, aku akan kembali ke ruangan ku. Jika susu coklat bubuk kemasan kotak itu menanyakan ku, katakan saja jika aku kebelet BAB. Jadi, selamat berjuang sup kaki kelinci. Semangat, kerdil!" Olivia menatap sedih pada Betran, pikiran nya mengatakan jika pria itu pasti tertekan bekerja di bawah kepemimpinan Mylo.


Sementara Betran meninggalkan Olivia dengan satu tangan masih belum di turunkan. Pria itu baru saja memberikan semangat pada Olivia.


Klek

__ADS_1


Olivia mengintip sebelum benar-benar masuk, sepi dan itu sedikit melegakan.


"Khmm..!"


"Eh, pak CEO..." ujar Olivia memperlihatkan deretan gigi kelinci nya. Gadis itu benar-benar serba mungil, tak heran Betran memanggil nya si kerdil.


"Kenapa kau mengintip di depan pintu ruangan ku? apa kau berniat melihat ku dalam keadaan tak berbusana?" Olivia membeliak kan matanya, pipi nya memanas mendengar kalimat frontal tersebut.


"Enak saja! aku tak berminat sama sekali, sorry dorry pak CEO. Anda belum beruntung untuk di lihat oleh mata suciku." Balas Olivia jumawa.


"Masuk! kenapa kau malah kabur saat ku suruh membuat kan aku minuman? apa kau sudah bosan bekerja, mhuh?" Olivia jelas panik, pekerjaan nya meski tak bisa membuat nya kaya, paling tidak dia bisa sedikit menabung untuk mencicil rumah impian nya melalui jalur mundur. Pinjaman Bank.


"Ishhh, berhenti lah menindas mental rakyat jelata seperti ku pak CEO. Aku ini hanya gadis kampung, harusnya kau iba padaku, aku disini merantau tanpa orang tua dan saudara. Apa kau tidak sedih melihat ku yang cantik ini..." baru saja Mylo akan bersimpati pada kalimat menyedihkan Olivia, namun kalimat akhir gadis itu membuat nya ingin menenggelamkan Olivia ke dasar danau paling dangkal. Sungguh menyebalkan batinnya merutuk kesal.


"Pijit bahu dan kepala ku, menghadapi mu membuat seluruh urat nadiku jadi tak bisa bekerja dengan baik." Mylo mengambil posisi duduk di sofa tunggal, mau tak mau Olivia berjalan memutar ke arah belakang.


Jari terampil Olivia mulai bekerja di atas bahu Mylo, terlihat pria itu sangat menikmati pijitan gratis dari Olivia.


"Aku jadi sedikit memyesal, kenapa dulu aku tidak membaca surat kontrak kerja ku dengan benar. Jika aku tau pekerjaan ku tak hanya menjadi seorang pembuat minuman dan bersih-bersih. Aku pasti akan meminta gaji yang sedikit lebih manusiawi. Mengingat jika pekerjaan ku tak hanya menguras energi, tapi juga emosi di saat bersamaan." Celetuk Olivia seolah sedang berbicara pada diri nya sendiri.


Padahal jelas jika gadis itu tengah menyindir Mylo habis-habisan.


Mylo tak menghiraukan, dia tau kemana arah nya jika dia meladeni perkataan Olivia. Terlalu sayang jika pijatan senikmat itu di sudahi dengan cepat. Biarlah Olivia berbicara sendiri sesukanya, yang penting dia bisa terus menikmati pijitan gratis tanpa harus mengeluarkan budget. Licik bukan? tapi begitu lah seorang Mylo Pratama, pria paling menyebalkan bagi seorang Olivia.


...----------------...


...**Tiga bab khusus si Mylo susu coklat bubuk kemasan kotak, Oli mesin alias si kerdil versi Betran Pete...

__ADS_1


Semoga terhibur dengan cerita remahan ini, jangan lupa dukungan nya jika tidak terlalu memberatkan 😁😘🙏


Luv yuu kalian semua 🤍🥰**


__ADS_2