
Jika Wira dan Mishy tengah berada dalam tahap pendekatan yang unik, lain hal nya dengan Olsen. Pria lapuk itu kini sudah nangkring indah di kursi nya. Tanpa malu pria itu ikut sarapan di rumah Roy.
Meski Gisel bersikap acuh pada nya, namun tak membuat nya mundur apa lagi menyerah. Apa lagi Roky sudah merestui nya juga Roy sang kakek.
"Apa anda tidak punya pekerjaan lain? ku pikir seorang CEO seperti mu mampu membeli sarapan meski untuk semua penduduk kota ini. Nyata nya kau lebih kere dari ku, apa kau tidak malu selalu menumpang sarapan di rumah orang." Desis Gisel menahan kesal. Gadis itu duduk di samping sang nenek demi menghindari Olsen.
Olsen memperlihatkan senyum menyebalkan nya seperti biasa, kata-kata Gisel tak akan membuat nya tersinggung.
Roy dan Rasty hanya tersenyum simpul sambil menggeleng pelan. Kedua nya selalu saja berseteru setiap kali bertemu.
Olsen dengan segala kesungguhan hati nya, tak pernah menggubris perkataan ketus Gisel pada nya. Gisel? gadis muda itu bukan nya tak menyukai Olsen. Pria dewasa itu sangat tampan dan sangat baik pada nya. Namun justru itu lah yang membuat nya merasa insecure. Dia hanya anak seorang wanita ja la ng, tak akan bisa di sanding kan dengan Olsen seorang CEO sekaligus putra dari keluarga terpandang.
Untuk itu Gisel memilih tinggal bersama kakek dan nenek sambung nya, agar sang ayah dapat meraih bahagia yang selama ini tak pernah pria kesayangan nya itu rasakan bersama sang ibu.
"Aku sudah pesan ojek, pergi kah. Jangan buang waktu mu sia-sia untuk gadis seperti ku." Ketus Gisel membuat kening Olsen mengerut dalam.
"Apa maksudmu, Gis? gadis seperti apa diri mu? kau gadis baik yang telah mencuri seluruh hati ku, kenapa kau bersikap seolah aku pernah berkata buruk tentang mu." Kini Olsen mulai terbawa arus perasaan. Pria itu menatap sendu wajah Gisel yang di paling kan dari nya.
"Tatap aku Gisel, apa aku setua itu untuk mu? apa aku tak pantas untuk gadis muda seperti mu? itu yang coba kau sampaikan melalui sikap mu ini, begitu ?" Olsen sengaja menekan perasaan Gisel agar terbuka akan perasaan nya. Dia tau gadis itu pun sering diam-diam mencuri pandang pada nya kala mereka ada di ruang yang sama. Hanya saja ada hal yang menahan nya hingga menutup diri dari nya.
Gisel melengos semakin ke samping, dia tak berani menatap wajah Olsen. Tak menatap saja jantung nya berdebar tak karuan, apa kabar jika dia berani menatap manik pria itu. Bisa-bisa nya jantung nya akan melompat keluar.
"Gis..?" lirih Olsen mulai frustasi.
Roy menatap melalui jendela kaca, bagaimana sang cucu berusaha membangun benteng pembatas agar tak terpengaruh akan sikap Olsen meski hati nya menginginkan pria itu.
__ADS_1
"Cucu kita sangat teguh, dia tak ingin membuat keluarga Jenar malu karena kehadiran nya. Aku sedih melihat nya terus menutup hati nya agar tak tertembus oleh cinta Olsen. Cucu ku yang malang.." lirih Roy bergumam pelan pada sang istri di samping nya.
Hidup mereka kembali berwarna saat Roky menikah dengan Andin. Gisel memutuskan tinggal di rumah mereka, dan itu membuat keduanya sangat bahagia.
"Doakan saja hati keras Gisel luluh akan segala usaha keras Olsen. Pria itu sangat mencintai cucu kita sejak bertahun-tahun lalu." Sambung sang istri yang juga menatap kedua manusia yang tengah adu argumen di halaman depan rumah.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Gisel terus membuang pandangannya ke samping jendela mobil. Tadi Rosy melihat mereka di halaman rumah Roy dan berinisiatif untuk membantu pria malang itu. Dan di sinilah Gisel, duduk dengan wajah di tekuk, di samping Olsen yang terus mengembangkan senyum manis sepanjang jalan.
"Terimakasih.." ucap Gisel tanpa menoleh lalu meraih handle mobil.
"Buka, aku bisa terlambat." Titah Gisel mulai kesal kembali. Olsen tak membukakan nya pintu mobil.
"Sadar kau tua, kenapa masih mengejar ku?" ketus gadis itu, membuat Olsen terkekeh kecil.
"Tua-tua begini yang paling ganas sayang, kau tak akan rugi jika menjadi istri ku kelak. Keperkasaan ku tak di ragukan lagi kemampuan nya meski tak pernah di asah secara langsung." Seloroh Olsen keluar jalur.
Gisel mendelik sebal, "cari lah wanita yang cocok untuk fantasi mu, aku hanya anak kemarin sore dan masih belum berpikir jauh tentang pernikahan." Ujar Gisel dengan nada sewot.
"Aku akan menunggu mu, sampai kau siap. Tak masalah beberapa tahun lagi, aku akan setia menunggu mu." Ujar Olsen kekeh pada pendirian nya.
"Dan kau akan membuat ku bersanding dengan pria tua seperti mu? aku tak mau, masih banyak pria muda dan tampan yang menyukai ku. Kenapa harus memilih mu yang jelas sudah tua." Ketus gadis itu menekan kalimat nya, berharap Olsen akan sakit hati dan berhenti mengejarnya.
Namun sayang, trik nya terbaca oleh pria bucin itu.
__ADS_1
"Aku akan operasi plastik sayang, sesuai yang kau ingin kan. Uang ku banyak, aku sampai tak tau harus membuang nya kemana. Mungkin setelah masa Koas mu usai, kita bisa pregi berlibur untuk menghabiskan uang ku yang tak habis-habis itu." Bukannya tersinggung, Olsen malah mengalihkan topik mereka. Itu berhasil membuat Gisel semakin kesal.
"Tidak jelas! sekarang buka pintu nya, aku harus masuk."
"Baiklah, nanti siang aku akan kemari untuk makan siang bersama. Aku mencintaimu, Gisel sayang." Olsen mencondongkan wajah ke arah pipi bulat Gisel lalu mengecup nya lembut. Tangan nya membelai satu pipi Gisel dengan sayang.
"Aku tak akan menyerah, hatiku tulus dan aku sangat mencintaimu. Seberapa keras kau menolak ku, sekuat mungkin aku akan berusaha mendapatkan hati mu. Masuklah, jaga pandangan mu dari pria lain, apa lagi jika dia masih muda dan tampan seperti katamu tadi. Aku takut kalah saing, keriput di sudut mataku akan membuat pamorku kurang maksimal jika disandingkan dengan pria muda." usai mengatakan kalimat tersebut, Olsen kembali mencium kening Gisel dengan perasaan penuh.
Pria itu menahan gejolak untuk tak menitikkan air mata saking hati nya mulai rapuh. Dia khawatir Gisel benar-benar membuktikan ucapannya. Tentu dia akan kalah telak dengan daun muda.
Diam-diam Gisel merasakan sakit mendengar kalimat candaan namun menyentuh dasar hati nya. Dia tau Olsen akan menangis melihat manik memerah pria itu. Itulah kenapa dia ingin cepat-cepat enyah dari hadapan pria baik itu.
"Maaf telah melukai hati mu dengan kalimat ku, aku tak ingin kau terlibat dengan anak seorang ja la ng seperti ku. Kau pantas mendapatkan wanita yang sepadan dengan mu. Bukan aku, meski aku juga mencintaimu." Gisel mengusap air mata nya dengan kasar. Tanpa tau jika Olsen rupanya mengikuti langkah nya sejak tadi, hingga ke sudut lorong rumah sakit menuju ruangan nya.
Olsen melengkung kan senyum lebar, kini dia tau alasan pertahanan Gisel pada nya. Dan tau jika gadsi kecil nya pun mencintai nya dengan perasaan yang sama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...Dua bab dulu ya guy🙏 hari ini si mungil ada jadwal ke dokter kembali....
...Silahkan kirim kan sejumput semangat, supaya othor tetap semangat update setelah segala urusan hari ini selesai😘😘🤗🤗...
...Lope lope kalian semua, pembaca yang baik dan setia😙😙🥰🤍🥰🤍🥰...
__ADS_1