Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Olivia yang malang


__ADS_3

Olivia berlari kecil dari parkiran, seperti biasa, gadis itu menitipkan sepeda nya di samping pos jaga basement.


"Astaga! bagaimana bisa aku kesiangan. Bisa-bisa susu coklat bubuk itu akan kembali memberikan ku hukuman yang tak manusiawi. Asshhh..malang bener nasib mu Oli kotor. Gara-gara mbak kunti nih, jadi nya aku telat bangun. Dasar setan sialan!" sepanjang menuju lantai 27, Olivia terus mendumel diri nya sendiri. Elevator karyawan tersebut menjadi saksi bisu gerutuan seorang Olivia.


Semalam dirinya menonton film horor Suzaka di laptop butut milik Desnan. Mereka satu kos, kos pria tepat berseberangan dengan kos milik Olivia. Dan semua orang tau, jika mereka adik kakak sepupu karena berasal dari kampung yang sama.


Setelah tiba di lantai tujuan, Olivia bergegas menuju markas kebesaran nya.


"Sshuutttt... sshuutttt..." Olivia celingak-celinguk mencari sumber suara yang mirip suara kobra ngajak kenalan.


"Setan kali ya...apa jangan-jangan mbak kunti nya ngikutin aku sampai kantor? takut kali dia aku kena marah sama pak bos, gara-gara semalam abis nontonin dia ketawa ketiwi pamer paku sama punggung bolong nya." Olivia terkikik geli sendiri dengan ucapan nya.


Gadis itu berlalu begitu saja, tanpa tau jika Mylo lah yang memanggil nya dengan menggunakan kode Morse.


"Ngeselin banget tu anak, main pergi-pergi aja. Dasar tidak sopan! awas saja nanti, nikmati lah hukuman mu Oli mesin." Mylo menutup rapat pintu ruangan nya. Tadi dia sengaja menunggu Olivia di sana, bahkan rela berdiri hingga satu jam di balik pintu yang dia buka seuprit. Itu agar dia bisa melihat, siapa saja yang melintas di depan sana selain sang sekretaris dan asisten nya.


Desnan menatap teman nya dengan tatapan sebal. Pekerjaan Olivia terpaksa harus dia kerjakan seorang diri.


"Muka nya biasa aja natap nya, Des. Aku tau kecantikan ku termasuk limited edition. Tapi kau tenang saja, kau masih bisa melihat wajahku sepuasnya. Kita kan satu unit." Oceh Olivia sekenanya. Gadis itu tengah mengisi gelas sesuai takaran, dengan pesanan masing-masing orang di lantai itu.


"Satu unit konon. Unit kandang bebek mah iya! kalo ngayal jangan terlalu berlebih-lebihan deh. Mimpi itu jangan terlalu tinggi, tar kalau jatuh tidak enak rasanya. Ya kalau langsung otw akhirat, nah kalau masih sekarat. Kan rugi dua kali. Sakit iya, biaya iya. Beban hidup banget kan jadinya." Cerocos Desnan ngegas.


"Widih! si mas nya kaya lagi kesal gitu. Uang gaji masih ada kan? beras ada? gula? kopi? semvak udah pada bolong-bolong lagi? tar Oli jahit kan deh. Tidak usah marah-marah gitu.Kita memang orang susah, tapi jangan sampai kesulitan kita membuat kita berubah." Sungguh Desnan ingin menenggelamkan kepala isi angin milik Olivia ke dalam lumpur. Paling tidak isi nya tidak kosong lagi, ada lumpur-lumpur nya gitu.


"Seleketem!" Desnan berlalu pergi membawa nampan berisi beberapa gelas minuman pesanan para karyawan di perusahaan tersebut. Semua menyukai minuman dengan hasil takaran tangan Olivia. Katanya berbeda dari racikan OG atau OB lain nya.

__ADS_1


"Aaahh, akhirnya! hari ini aku selamat dari si bos songong itu. Mudah-mudahan hari ini pak CEO banyak kerjaan, jadi tidak ada waktu untuk menjahili ku lagi." Tanpa dia tau jika orang yang di maksud berada tepat di belakang nya.


"Khmmm..!"


Olivia menghentikan aktivitas mencuci sendok, karena mendengar suara sangkakala di belakang nya.


"Kok suaranya kaya aku kenal ya... kaya suara-suara nya bapak kos kalo lagi nagih uang listrik sama air? ah, aku kan sudah bayar minggu lalu." Olivia mengibaskan tangannya ke samping seolah menghalau suara itu datang kembali.


Kepala Mylo sudah berasap tebal saking kesalnya.


"Olivia!" teriak Mylo di telinga gadis itu. Membuat Olivia kaget dan latah di saat bersamaan.Semua nama saudara seperguruan nya di kebun binatang pun di absen satu persatu tanpa terlewati satu pun. Sungguh Olivia sebaik itu, mengingat semua teman-teman tanpa terkecuali.


"Ya ampun! pak CEO..kurang keranjang banget sih neriakin orang lagi fokus kerja. Kalau Olivia ketelen sendok ini bagaimana? kan bapak juga yang rugi." Ketus gadis itu kesal. Tangannya bahkan masih bergetar saking kagetnya.


"Ya, kan kalau Oli mati. Bapak harus ganti rugi. Kasih santunan buat keluarga Oli, trus uang pesangon plus gaji terakhir. Uang duka dan lain sebagainya. Eh? kok kayaknya lebih mudah dapat duit nya kalau mati. Kenapa aku tidak kepikiran dari dulu saja, jadi nya kan ibu tidak perlu capek-capek kerja di sawah juragan Mota." Tiba-tiba Mylo merasakan hawa-hawa tak enak setelah melihat binar cerah di mata Olivia.


"Jangan bilang kau ingin bunuh diri agar mendapatkan uang secara percuma?" tebak Mylo memicing tajam.


"Bapak tau aja isi hati Olivia " gadis itu tersenyum kalem membuat Mylo bergidik ngeri.


"Jika kau berani melakukan hal konyol, aku akan memutilasi tubuh bantet mu ini. Lalu aku kirim ke kampung halaman mu, dan satu lagi. Keluarga mu tidak akan mendapatkan sepeserpun uang duka dari perusahaan ku." Ancam Mylo Berhasil membuat bulu kuduk Olivia berdiri. Desnan yang baru tiba menatap iba pada sang sahabat. Jika CEO tersebut bisa sampai ke sana, artinya Olivia telah melakukan kesalahan fatal.


Itu adalah patokan bagi siapa saja yang berbuat kesalahan. Tak terkecuali Olivia. Namun bedanya, kini CEO nya turun tangan langsung. Karena Olivia adalah karyawan yang istimewa. Gadis bertubuh super mini itu selalu di anggap biang masalah oleh teman sekerjanya. Otaknya yang lemot sering kali salah menangkap informasi dalam kalimat panjang lebar. Namun satu kelebihan nya adalah, meracik takaran minuman dengan rasa yang selalu pas di lidah para petinggi perusahaan tersebut. Itu lah nilai plus nya, sehingga Olivia tak di depak dari sana.


"Bapak kalau ngomong suka bikin jantung disko. Bapak kemari mau apa, bukankah kopi coklat nya sudah di antar sama Desnan ya.." tanya Olivia heran. Angin dari penjuru mana yang membawa pria super kejam itu ke pantry.

__ADS_1


"Aku tidak suka minuman ku di antar oleh orang lain. Bukan kah kau sudah tau itu?!" seru Mylo kesal.


"Eh? kan sama saja. Lagi pula aku yang meraciknya..." sungut Olivia menggerutu pelan.


"Aku masih di sini kalau kau mau mengomeli ku, Oli mini!" ujar Mylo menahan geram. Sangat sulit berbicara dengan Olivia karena otak gadis itu mungkin hanya sebesar kacang hijau.


"Ke ruangan ku sekarang, jalani hukuman mu seperti biasa. Dan jangan lupa, bawa kopi coklat yang baru. Yang di antar oleh si Desember kelabu, itu milikmu. Aku tak suka jika minuman ku di antar oleh orang lain. Rasanya berbeda, tidak ada manis-manis nya." Entah apa maksudnya, jangan tanya pada Olivia atau sama saja seperti menggorok leher mu dengan gergaji tumpul.


Sedangkan Desnan sangat ingin melempar nampan ke kepala sang atasan. Enak saja mengganti nama nya sesuka hati.


"Apa-apaan beliau, Desember kelabu! Nama ku Desnan Prabu, pangeran emak Juminah dan bapak Handoko Prabowo yang tampan." Sunggut Desnan tak rela, nama nya yang menurut nya paling keren. Di ubah oleh sang bos tanpa berkompromi.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Olivia beberapa kali hampir terjatuh dari sofa yang dia duduki. Mylo melarang nya berbaring dan tidur. Jadilah dia hanya bisa duduk tanpa melakukan apapun. Ponselnya sedang dalam mode suram. Kuota nya menjerit minta di isi segera, namun Olivia terlalu pelit. Gadis itu hanya mengisi pulsa jika masa tenggang sudah mulai membuat nya resah.


Itu pun menggunakan nominal yang kecil, 10 rb rupiah. Tapi bagi Olivia, jumlah itu seperti mencekik lehernya berkali-kali. Membuat nya sesak saat harus mengeluarkan uang nya.


Olivia terkenal sangat hemat, karena semua uang gajinya telah dia prospek sedemikian rupa. Mengirim seperempat untuk biaya hidup sang ibu, seperlima nya dia pakai untuk biaya kos dan makan. Jadi jangan heran jik Olivia bisa semini itu. Dia rela mengikat lambung nya agar bisa menabung. Dia ingin membawa sang ibu keluar dari kampung halaman nya. Di sana sang ibu lebih sering di tindas oleh keluarga mereka.


Mylo menatap iba, namun gengsi nya lebih mendominasi. Dia ingin Olivia merengek dulu padanya, kemudian baru dia ijinkan tidur di kamar pribadi nya. Sang ayah selalu mengomel ketika berkunjung, karena sofa nya selalu berubah warna dan model. Sang ayah bahkan sampai berpikiran kotor pada nya. Harland pikir Mylo sering melakukan hal tak senonoh di sofa-sofa yang selalu raib tersebut.


Hingga akhirnya Mylo terpaksa harus jujur, dan yang membuat Harland tercengang. Kamar pribadi itu lebih seperti gudang penyimpanan furniture ketimbang tempat untuk beristirahat.


Dan akhirnya terbersit ide, membiarkan si kerdil itu tidur di ruang pribadi nya saja dia hanya perlu mengganti sarung bantal. Itu jaga-jaga jika di Oli mesin tersebut kembali melukis abstrak diatas sarung bantal.

__ADS_1


__ADS_2