Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Kesabaran Betran_I'm not Sanders!


__ADS_3

Wira menatap manik sang kekasih dengan tatapan sukar. Sesukar situasi hatinya saat ini.


"apa kita hanya akan duduk diam dan menatap piring bekas ini sepanjang hari? Katakan sesuatu sayang, aku kesal kau diamkan tanpa alasan. Apa salahku? Harusnya aku yang marah, kau menghilang tanpa kabar berhari-hari. Kenapa kau malah menatapku seperti seorang tersangka." Akhir nya Wira mengalah, menghempas ego nya hingga ke dasar lautan. Dia tak tahan dengan situasi sunyi layak nya pemakaman.


Mendengar suara Wira yang melunak dan tak meledak-ledak meski tau kesalahan nya. Membuat Resy semakin dilema. Wira pandai membuat hatinya berbunga-bunga, pria itu selalu mengalah padanya meski jelas dia salah.


Bolehkah dia egois, dia menginginkan kedua pria itu tetap di samping nya.


"Maaf..telah membuat mu kesal. Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tak bisa ku tunda..." Jawab Resy beralasan, intonasi suara nya sangat tenang. Tak ada riak kegugupan apapun dari getar suara nya. Bermain ekspresi, jelas Resy sudah ahli. Sebagai seorang dokter, di tuntut untuk selalu tenang di segala situasi.


"Apa termasuk menyelesaikan masalah mu dengan pria yang kau panggil sayang tempo hari? Aku mendengar jelas percakapan kalian. Jadi tolong, jangan buat aku seperti pria bodoh."


Deg!


Jantung Resy berpacu kencang dan mulai terlihat gelisah.


"Itu...dia...dia adalah mantan kekasih ku sebelum aku bertemu dengan mu di san Fransisco waktu itu. Dia pergi dan meninggalkan ku tanpa kabar selama beberapa tahun." Jelas Resy berusaha tetap terlihat tenang. Tangannya sedikit berkeringat dingin, di sesap nya minuman dingin di depan nya dengan rakus. Dia mendadak haus.


"Lalu? Kenapa kau masih memanggil nya dengan sebutan yang begitu mesra? Apa kau masih belum sepenuhnya move on dari nya? Siapa aku bagimu? Aku ingin kepastian, jangan membuat ku menjadi orang jahat karena kekasih ku mengkhianati kepercayaan ku." Tekan Wira dengan nada tegas.


"Itu hanya reflek, kami baru bertemu kembali satu bulan yang lalu saat Nathan melakukan check up jantung nya." Jawab Resy semakin gugup.


"Jadi namanya Nathan? Dia pasti sangat tampan. Itu kenapa kau bisa dengan mudah reflek memanggil nya dengan sebutan sayang. Hubungan tanpa kata putus memang menyebalkan. Pertemuan tak terduga bisa memberi dampak yang luar biasa. Aku harap kau benar-benar hanya reflek, karena aku tak akan merelakan mu kembali padanya apapun alasan mu. Kecuali kau memang tak benar-benar mencintai ku." Tegas Wira menatap serius pada kekasih nya yang lebih banyak menunduk.


Resy mulai ketar ketir, entah lah. Dia mulai ragu pada hatinya sendiri. Dia takut kehilangan Nathan, tapi juga tak ingin berpisah dari Wira. Katakan saja dirinya egois. Biarlah, Resy tak peduli.

__ADS_1


"Kami hanya bertemu sekali ketika di rumah sakit, setelah itu tak pernah lagi. Lagi pula mungkin saja dia sudah memiliki kekasih. Aku tak berniat untuk kembali pada nya." Sungguh lancar Resy mengeluarkan kalimat sanggahan dari bibir mungil nya.


Senyum manisnya sungguh meyakinkan, tanpa cela. Mencerminkan seorang Resy Sanders yang lembut dan manis. Wira pun luluh, pria itu mengurai senyum yang tak kalah manis untuk sang kekasih.


Wira meraih tangan Resy lalu mengecup nya dengan sayang.


"Kau tau, kau adalah pusat kehidupan ku sekarang. Kau tau, aku tak suka di abaikan. Kau aku pilih bukan tanpa alasan, dari sekian banyak wanita yang mengejar ku. Aku justru memilih mu. Kau dewi penolong ku, kau memberikan kan ku kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Itu kenapa aku benar-benar terikat padamu. Kau begitu berarti, tanpa mu aku sudah lama mati."


Deg!


Degup jantung Resy kembali tak karuan. Namun sebisa mungkin wanita itu tersenyum manis untuk menutupi keresahan nya.


"Aku belajar untuk mencintai mu, aku belajar setia karena mu. Kau pasti pernah mendengar cerita buruk tentang ku. Namun aku adalah Wira yang baru setelah bersama mu. Aku berubah menjadi lebih baik, agar aku pantas untuk seorang seorang wanita berhati malaikat seperti mu." Lanjut Wira mencurahkan segala isi hati nya.


Namun Resy semakin di landa kegelisahan, ada hal yang berusaha wanita itu sembunyikan.


Wira tersenyum senang lalu kembali mengecup punggung tangan sang tunangan. Dan semua itu terus di perhatikan oleh seseorang di sudut restoran tersebut. Hati nya bergemuruh hebat menahan rasa nyeri, melihat wanita yang di cintai nya berusaha keras untuk meyakinkan tunangan nya.


Pria itu tersenyum miris, ternyata sesakit ini memelihara kesetiaan pada orang yang dengan mudah menduakan cintamu. Setelah puas menatap pemandangan yang mengiris hati nya, Nathan memilih untuk pergi dari sana. Kini dia tau, jika kekasih nya sudah tak lagi bisa dia raih kembali.


Melepaskan memang sakit, namun akan dia coba. Jika Resy bisa dengan mudah mengganti kan posisi nya dengan kehadiran pria lain, mungkin dia juga bisa mencobanya.


Dirinya memang tak sekaya seorang Wira, namun dia juga tak terlalu jauh berada dibawah pria itu.


πŸ₯°πŸ€πŸ€πŸ₯°πŸ€πŸ€πŸ₯°

__ADS_1


Betran kesal bukan main, seenaknya susu bubuk coklat kemasan kotak itu meninggal kan nya di pinggir jalan. Hanya karena diri nya tanpa sengaja mengeluarkan gas beracun dari lubang angin nya.


"Dasar bos tidak punya perasaan, ku kutuk kau berjodoh dengan si kerdil jorok itu. Mana tidak bawa uang tunai lagi, sial benar punya atasan mood nya kaya macan. Nasib..nasib..!" Ratap Betran sepanjang jalan. Hampir Lima menit berjalan kaki di bawah terik matahari, terlihat sebuah mobil yang tak asing baginya.


Mobil Mylo terparkir cantik di depan warung makan tepat beberapa meter dari tempat Betran berdiri sekarang.


"Bos kampret! Aku capek-capek berjalan kaki puluhan kilo meter. Dia enak-enak makan nasi pecel di sini. Tidak bisa di biarkan ini..!" Gerutu Betran kesal. Kaki nya melangkah lebih lebar agar cepat sampai. Meski tak sampai 2 KM perjalanan nya, namun tetap saja dia kelelahan. Pakaian nya sangat tidak cocok untuk diajak berkeringat ria.


Mylo menoleh ke pintu masuk warung, menatap heran pada asisten nya.


"Kenapa kau ada disini? Lihat lah penampilan mu sangat lusuh. Untung kau bertemu dengan ku, kemari lah kau terlihat sangat kelelahan. Aku akan memesan mu nasi pecel lele Dumbo dan es teh manis. Isshhh... untung saja aku kebetulan berada disini. Kau terlihat sangat menyedihkan sekali..." Cerocos Mylo membuat ubun-ubun Betran tak lagi mengeluarkan asap, melainkan kobaran api.


Namun lagi-lagi Betran hanya bisa menghela nafas panjang. "Sabaa ja lah..!" akhirnya kalimat si tulang lunak Saleh alias Seli pun keluar, untuk sekedar menenangkan jiwa raga nya yang mulai lelah mengahadapi bos gila nya tersebut.


"Harusnya aku yang berkata seperti itu, untung aku sabar memiliki asisten seperti mu. Bagaimana bisa kau meninggalkanku seenaknya. Dan lihat lah, kau langsung kena karam dengan cepat." Balas Mylo tersenyum puas.


"Karma pak bos, bukan karam." Ralat Betran berusaha tetap waras di tengah kegilaan sang atasan. Dia yang meninggal kan? Cih! Tidak kebalik, dia yang di tinggal kan di entah berantah. Namun demi kewarasan nya, Betran lagi-lagi mengalah. Dia tak punya pilihan sekarang, perut nya lapar tenggorokan nya kehausan, dan sial nya dia tak memegang uang sepeser pun.


Menjadi asisten Mylo benar-benar menguras energi dan segala sistem imun di dalam tubuh rapuh nya.


πŸ₯°πŸ₯°πŸ€πŸ₯°πŸ₯°πŸ€πŸ₯°πŸ₯°


**Makasih untuk yang masih bertahan di novel remahan iniπŸ™πŸ™


Jangan lupa dukungannya ya😘😘

__ADS_1


Author sudah punya calon pemenang pulsa/ voucher listrik 20rb (sesuai permintaan). Tgl 30 nanti author screenshot siapa aja ya🀩🀩😚😚**


__ADS_2