Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Cerita Masa lalu


__ADS_3

Semua mata tertuju pada satu objek, bagaimana tidak. Di tengah segala kegundahan dan ketakutan mereka, kehadiran Rosy layak nya secercah mentari harapan di tengah kelam nya sang duka.


"Rosy.." masing-masing mengucapkan satu kata dengan nada yang begitu lirih. Seakan tak percaya, namun fakta di hadapan mereka terlihat sangat nyata. Roky lebih dulu menyongsong sang adik, pria itu berjongkok di hadapan kursi roda Rosy meraih kedua tangan wanita itu lalu mencium nya dalam. Air mata nya sudah menetes tak terkira banyak nya.


"Kenapa tidak menghubungi kakak kalau kau sudah sadar, hmmm?" tanya Roky lembut, di usap nya pipi yang menonjol kan tulang dari pada daging itu.


"Aku baru saja sadar putra ku menangis, Mylo ku yang kuat terlihat begitu rapuh. Aku tak punya alasan untuk tetap tertidur saat seseorang membutuhkan ku, bukan?" Roky mengangguk benar, Mylo anak yang tegar. Jika sampai pria kecil itu menangis, arti nya pertahanan nya sudah di ambang batas kesanggupan.


"Bagaimana Harland?" tak terlihat raut kecemasan di wajah pucat itu, hanya ada reaksi datar khas seorang Rosy Sanders.


"Masih di tangani di dalam, berdoa saja agar operasi nya berjalan lancar." Sahut Roky menatap manik sang adik penuh kerinduan yang membuncah. Andai di situasi berbeda, dia akan terus memeluk tubuh mungil Rosy bahkan menggendong nya kemana pun wanita itu ingin pergi.


"Rosy sayang.." suara lirih Wina mengalihkan perhatian Rosy. Seulas senyum hangat Rosy berikan pada wanita baya tersebut.


"Senang kau menemukan jalan pulang dari mimpi mu yang panjang. Maafkan putra mama, maafkan semua kesalahan nya di masa lalu. Andai masih mungkin untuk Harland kembali membuka kedua mata nya, ijin kan pria bodoh itu untuk menebus segala dosa mya pada mu, nak..." isakan kecil Wina seperti goresan ujung pisau di hati Rosy.


Pertahanan wanita itu runtuh tak bersisa. Roky menghapus air mata adik nya, hal yang seharusnya dia lakukan selama ini. Dan sekarang dia akan menebus nya sama seperti Harland. Semoga saja pria itu bertahan, mengingat luka menganga di kepala nya yang tak kecil.


"Harland harus tetap hidup untuk menebus segala nya pada ku, jika tidak aku akan terus membenci nya hingga ke alam baka sekalipun." Sekuat apapun usahanya untuk tak mengeluarkan air mata nya, nyata nya hati nya tengah rapuh sekarang.


Wina tersenyum alih-alih merasa marah. Jika kalimat pedas itu sudah keluar, artinya Rosy sedang berusaha untuk berdamai dengan keadaan hati nya.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹

__ADS_1


Sudah dua minggu Harland terbaring tak berdaya, alat bantu pernapasan masih terpasang di tubuh nya. Rosy perlahan sudah bisa berjalan meski harus menggunakan tongkat penyangga sebagai alat bantu. Elsa sudah di pecat karena kelancangan wanita itu, dengan berani memakai barang-barang mahal milik Rosy untuk di pamer kan pada teman-teman nya.


"Dek, makan dulu yuk!" ajak Roky duduk di samping sang adik.


"Ini beli di mana?" Rosy menelisik tampilan nasi tampilan nasi kuning yang terlihat kuning mengkilap juga lauk daging dan telur.


"Bibi Marta yang buat, tadi aku mampir jemput anak-anak ke sekolah. Drew masih mengurus urusan perusahaan selama Harland belum sadar. Paman Robin sudah kemari?" Rosy menggeleng pelan, mulut nya sibuk mengunyah suapan demi suapan dari sang kakak.


"Dulu, ketika kita masih kecil. Mama selalu bikin ini untuk bekal sekolah. Kalau tidak, nasi goreng yang di cetak-cetak lucu, dengan mata hidung dan mulut dari berbagai jenis sayuran juga potongan daging. Tidak heran, jika kau tumbuh menjadi sangat pemarah, sejak kecil kau tidak bisa makan jika tidak di hidangkan daging di atas meja makan." Kekeh Roky bercerita. Rosy mengerucut kan bibir manja. Tak pernah dia melakukan nya sejak sang ibu mulai sakit-sakitan karena kehilangan sang kakak.


"Gemesin banget sih ini bibir nya..." Roky menjawil bibir tipis adik nya dengan gemas. Jika dulu waktu mereka kecil, saat Rosy melakukan hal itu maka Roky akan langsung menggigit bibir mungil itu.


"Dulu kakak tidak bisa makan kalau tidak ada kecap, apa masih sampai sekarang?"


"Hei, kok mewek. Jelek ih, kakak hanya berkisah, lagi pula masa itu sudah lewat. Kakak menikmati nya, itu proses. Masih banyak orang yang bahkan untuk makan saja susah, bisa dua tiga hari baru ketemu nasi. Kakak sudah syukur, lagi pula lihat lah. Kakakmu ini tetap jadi anak yang cerdas dan tampan. Tak kurang satu apapun." Rosy mencebik kesal.


Suasana haru seketika berubah menyebalkan akibat kata-kata sang kakak.


"Ya percaya, dulu kakak Playboy kelas Bango di sekolah. Semua cewek-cewek cantik langsung di kecapin satu-satu." Ketus Rosy sewot. Dulu dia jengah melihat tingkah Roky di sekolah, ada-ada saja gadis yang menangis karena tiba-tiba di putusin tanpa sebab oleh sang kakak.


Roky tertawa renyah, puas melihat wajah kesal adik nya.


"Kakak jadi ingat, dulu diam-diam kau jahil juga rupa nya." ucap Roky di sela tawa nya.

__ADS_1


"Jahil apa? perasaan aku sudah yang paling diam waktu kita sekolah." Sanggah Rosy melengos.


"Kau jahil sayang, apa kau lupa, kau pernah menaruh permen karet di kursi ku juga anak-anak badung di sekolah. Kakak ingat semua dan tau kau pelaku nya, tapi entah mengapa kakak selalu pura-pura tak tau. Barangkali ikatan batin kita masih terikat kuat, sehingga melihat mu dalam masalah, membuat kakak selalu merasa tak tega." Ujar Roky menatap sendu wajah sang adik.


"Kenapa dulu aku tak benar-benar memperhatikan wajah mu, padahal kita sering di katakan mirip sejak ospek hari pertama. Bodoh nya kakak mu ini.." rutuk Roky kesal pada dirinya sendiri.


Rosy mengusap bahu Roky sambil tersenyum hangat. Dia pun merasakan hal yang sama, namun entah kenapa dirinya tak pernah mampu menatap manik pria itu lebih lama. Semacam ada perasaan yang mengusik hati nya, dan kini dia tau jawaban nya.


"Kakak memang bodoh. Sibuk menebar pesona untuk mencapai track record pria paling menyebal kan di sekolah." Cebik Rosy meninju pelan bahu Roky.


"Apa kau tau? pria bodoh di ranjang itu dulu, diam-diam selalu memperhatikan mu di sekolah. Wajah nya akan berubah masam saat melihat ada pria yang mengajak mu mengobrol. Beberapa kali pulpen ku patah karena korban kecemburuan Harland yang tak jelas. Padahal Sindy sedang ada di samping nya saat itu. Evan pun pernah di bogem mentah oleh nya, ketika berencana mengajak mu sebagai partner untuk from night di sekolah. Tanpa alasan, pipi Evan di buat lebam oleh pria gila itu. Setelah membuat Evan gagal mengajak mu, Harland juga mengancam ku serta anak pria di sekolah. Tak ada yang boleh mengajak mu sebagai pasangan ke from night. Gila bukan? sadar jika hati nya terpaut padamu, namun malah memaksa kan diri untuk menjaga sampah." Cerita Harland mengenang masa lalu mereka yang penuh jiwa kelabilan.


"Dan kalian berdua berhutang banyak kesalahan pada ku, dan tebuslah nanti. Aku akan menuntut nya, akan ku buat daftar dosa-dosa kalian. Dan apa saja yang harus kalian lakukan untuk menebus nya." Tandas Rosy menatap tajam pada sang kakak, Roky mengelus kepala adik nya dengan sayang seraya mengangguk mantap.


"kakak akan menebus nya, bahkan jika harus mencicil nya seumur hidup. Itu tidak masalah. Kemari, kakak ingin memeluk mu." Rosy beringsut masuk ke dekapan hangat lengan kekar Roky. Nyaman dan memenangkan. Itulah yang hati nya rasakan, Rosy yang tangguh kini tengah menunjukkan sisi lain dari diri nya. Sisi yang tersimpan rapi di balut segala sikap tegas yang terkesan angkuh bagi orang lain. Meski tidak lah begitu. Rosy hanya berusaha membangun benteng agar diri nya tak di tindas oleh orang lain.


Memperlihatkan kelemahan, bagi Rosy sama hal nya mengatakan kepada perampok, jika di rumah nya tertimbun banyak harta Karun, dan dia sedang sendirian tanpa perlindungan siapapun.


∆Maaf guys 🙏🙏 mau crazy up rupanya kemampuan berlama-lama menatap layar belum mumpuni.


Thanks untuk kunjungan rutin nya ke Novel ini, jejak-jejak kalian mampu mendorong othor untuk tetap berkarya walau keadaan tak berdaya.


Luv yuu kalian semua🥰🥰🤍🤍

__ADS_1


__ADS_2