
Mylo bergantian setelah Harland kini memeluk tubuh sang ibu.
"Biarkan paman memeluk ibu mu, Miguel. Sebentar saja..." lirih Mylo dengan suara pelan. Dia hampir tak dapat berkata-kata, apa yang terjadi seperti sekam yang terbakar sedikit demi sedikit, namun mampu menghanguskan seluruh kehidupan nya.
"Katakan pada mommy agar dia bangun paman...kami masih membutuhkan nya..." Mylo tak mampu menjawab, dia pun memiliki harapan yang sama.
Kini tubuh tak berdaya itu berada di dalam dekapan nya, Mylo menatap wajah sang adik dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kau memilih menyerah di tengah perjuangan mu, apa kau tak melihat begitu banyak orang yang kehilangan mu saat ini... kenapa tak pernah mau berbagi padaku? bukankah kau yang selalu mengajarkan ku untuk berbagi apapun. Karena menyimpan masalah tak akan membuat mu menemukan jalan keluar nya. Apa kau lupa kau masih punya aku, mama dan papa. Apa kau lupa, kau memiliki anak-anak yang hebat yang selalu menyayangi mu. Mereka membutuhkan mu, kenapa kau tega melakukan ini pada kami semua? apa aku kakak yang buruk? sehingga kau tak sudi berbagi rasa sakit mu padaku? Kenapa kau membuat kami menangisimu seperti ini...ini sakit, sangat sakit rasa nya.."
Suara Mylo begitu pelan, tubuh nya berguncang hebat. Separuh jiwa nya seperti di tarik keluar dari raga nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Alur hidup kadang sulit untuk di mengerti, tak ada yang dapat menebak kemana garis kehidupan di atur oleh sang pencipta. Seperti Resy yang memulai kehidupan baru nya dengan mengelola butik milik Mishy. Wanita itu merubah pola hidup nya dengan sedemikian rupa, meski belum mampu meraih hati kedua anak nya.
Empat tahun berlalu, kini dia mengerti arti sebuah perjuangan yang sesungguh nya. Wanita itu sengaja memisahkan diri meski keluarga sudah menerima dan memaafkan semua kesalahan nya di masa lalu. Namun Resy memilih untuk tinggal di apartemen sederhana nya, apartemen yang dia beli dengan cara mencicil dari uang hasil bekerja di butik Mishy.
__ADS_1
Hari ini wanita itu terlihat bersiap ke toko bunga.
"Bunga Lily lagi nona?" tanya seorang pegawai toko bunga basa basi. Resy tersenyum simpul kemudian mengangguk pelan.
Sesampainya di tempat tujuan, Resy memarkir kan motor Scoopy nya di dekat pintu gerbang masuk. Tak ada mobil mewah atau minimal mobil merk sejuta umat. Hanya ada motor inventaris butik saja yang selalu setia menemani nya kemana pun.
"Pagi nona, " sapa sang penjaga menyapa ramah Resy.
"Pagi juga pak Dahlan..apa hari ini ada yang berkunjung kemari sebelum diriku?" tanya Resy penasaran.
"Belum nona, biasa nya tuan Wira. hanya saja hari ini belum tiba, mungkin sedikit sibuk." Jawab sang penjaga makam keluarga Sanders.
"Terimakasih nona, semoga berkat anda mengalir deras seperti kebaikan hati Anda." Ucap sang penjaga makam tulus.
Resy tersenyum seraya menganguk, dia lebih membutuhkan kalimat doa untuk hal lain.. Sesuatu yang lebih penting dari rejeki yang mengalir di rekening nya. Namun diam nya lebih dari cukup untuk menenangkan jiwa nya yang berantakan beberapa tahun ini.
"Hai Nathan, aku datang lagi.. Apa kau senang aku berkunjung lagi? ku rasa kau pasti memasang wajah jutek pada ku sekarang. Aku merasakan bulu kuduk ku berdiri, apa kau sedang berusaha menakutiku hmm?" Resy terkekeh hambar, menatap gundukan tanah yang penuh rumput yang begitu indah.
__ADS_1
Wanita itu lalu menoleh pada makam tepat di sebelah makam Nathan.
Air matanya kembali mengalir deras.
"Maaf, semoga kau tak terlalu marah padaku sekarang. Aku telah melakukan hal buruk di masa lalu, aku hanya ingin melakukan hal benar dalam hidup ku. Aku menyayangimu mu sejak dulu, hanya saja terhalang ego dan iri hati yang tak bertuan. Kini aku mengerti sakit nya hidup dalam sesal tak berujung. Apa kau sedang bersama Nathan sekarang? apa kalian berdua tengah mentertawai ku dari balik awan cerah itu? bagaimana rasa nya hidup dengan jiwa yang terpisah dari raga? jika tak terlalu menyakitkan, aku juga ingin merasakan nya. Hidup di dunia ini namun seperti mati bagi ku. Empat tahun masih membuat ku terlihat buruk di mata anak-anak ku. Kenapa kita tak bisa bertukar tempat saja? lebih baik mati daripada hidup namun seperti tak bernyawa."
Resy bercerita panjang lebar mengurai semua isi hati nya, setiap satu minggu sekali sepulang dari gereja Resy akan mampir ke sana. Menceritakan satu minggu kisah nya yang selalu sama, tak pernah ada yang berubah. Hidup nya di landa kesepian di usianya yang akan menginjak usia 40 tahun tak lama lagi. Dan di usianya itu, dia berharap sebuah keajaiban terjadi. Keajaiban yang selama beberapa tahun ini dia harapkan dalam setiap doanya.
Seorang pria menatap datar pada wanita yang kini masih duduk bersimpuh di antara dua makam.
"Kau sebaiknya pergi nona, sebentar lagi tuan Miguel akan kemari bersama adik-adik nya. Kehadiran anda akan menjadi duri tajam yang menusuk hati kelima anak malang itu." Resy meremat dada nya kuat, dia tak boleh menangis. Resy berdiri kemudian berbalik menghadap Jordan, pria dulu pernah menghukum keras dirinya karena dianggap sebagai penyebab kepergian Mishy.
Jordan mengurung nya di dalam ruangan nya tanpa di beri makan selama tiga hari, menurunkan kada oksigen di dalam ruangan tersebut hingga membuat Resy semakin lemah. Belum lagi rasa nyeri akibat cambukan gesper Jordan di punggung nya. Luka itu infeksi dan bernanah, namun tak ada menolong nya sama sekali. Hingga hari ke empat, Mia nekat masuk dan mendapati Resy dalam keadaan mengenaskan.
Sejak saat itu, Resy bebas dari tahanan Mishy. Dan semua keluarga akhirnya tau alasan Mishy memisahkan diri dari lingkaran keluarga besar nya. Roky? pria itu sama sekali tak marah. Dia bahkan tidak sudi melihat kondisi sang anak di rumah sakit. Hanya Rosy, Rasty dan Andin lah yang sesekali merawat nya meski sudah dia tolak karena merasa tak pantas.
"Maaf Jordan, aku hanya mampir sebentar. Tolong bunga yang ku bawa jangan di buang, Mishy sangat menyukai nya dan di toko bunga hanya tinggal sebuket itu saja. Di toko lain pun stok nya sedang kosong. Tolong, kali ini saja.." ujar Resy mengiba. Jordan memalingkan wajah nya tak sudi menatap.
__ADS_1
Jordan selalu membuang bunga yang Resy bawa, dan Resy mengetahui nya dari penjaga makam. Dia tak marah, dia tau kesalahan nya di masa lalu memang tak termaafkan.
"Aku pergi, tolong jangan di buang. Aku memohon pada seorang wanita untuk meminta nya memberikan padaku, aku harap kau tak membuat usahaku sia-sia." Tutur Resy diselingi kekehan perih.