Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Bagai batu Gunung


__ADS_3

Sungguh hati Miguel serasa tercubit keras, sebegitu keras nya sang istri menahan rindu hingga membuat wanita itu terlihat layak nya anak kecil, yang di sogok sebungkus permen coklat. Menatap nya penuh harap agar keinginan kecil nya bisa terkabul kan.


Miguel hanya bisa mengangguk pelan sembari tersenyum hangat. Dia bertekad menemui sang anak, meski harus memohon bahkan berlutut sekalipun, dia ikhlas melakukan nya.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Sementara di sebuah tempat nun jauh dari hiruk pikuk keberadaban, tampak seorang pria tengah menyirami tanaman sayuran yang terlihat begitu subur. Senyum nya mengembang kala melihat tanaman tersebut begitu rimbun.


Setahun hidup jauh dari kehidupan milenial, membuat nya terbiasa dengan kehidupan yang serba apa adanya.


Berbekal benih sayuran yang di tinggalkan oleh pemilik kabin di mana dirinya menumpang tinggal, dia berusaha untuk bertahan hidup meski terasa sulit di awal-awal menjalani nya.


"Seperti nya aku menanam terlalu banyak kali ini, sayuran ini pasti akan lebih banyak mubasir. Andai aku punya seorang tetangga..." Monolog nya menatap hamparan kebun milik nya dengan berbagai perasaan yang sedikit jenuh.


Tinggal seorang diri di sana, kadang menimbulkan rasa jenuh luar biasa. Namun hanya itu lah kehidupan yang bisa dia jalani. Masih bisa menghirup oksigen sebanyak yang dia inginkan, itu sudah lebih dari cukup. Tiga bulan pertama awal kehidupan nya di sana adalah hal paling berat dalam hidup nya.


Siksaan demi siksaan dia terima hingga membuat nya meminta untuk di bunuh saja. Sungguh dia sudah tak sanggup lagi menerima rasa sakit di sekujur tubuh nya.


Belum lagi harus menerima kenyataan paling pahit bagi seorang pria, ketika milik nya sudah tak memiliki fungsi ere ksi. Namun lagi-lagi dia patut bersyukur, masih di berikan kesempatan untuk memiliki kehidupan baru meski tak sesuai harapan nya.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹

__ADS_1


Noora berjalan terburu-buru menuju arah tangga darurat, setengah berlari kecil, wanita itu sampai tak memperhatikan langkah kaki nya lagi.


Saat akan menapaki anak tangga pertama, sepatu nya tergelincir. Lengan kokoh menopang tubuh nya, Noora yang sudah pasrah akan terjatuh akhir nya membuka kedua mata nya.


"Paul.." ucap nya pelan, degup jantung nya semakin tak karuan kala terlalu berdekatan dengan pria itu. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh paul, kembali membuat nya teringat akan peristiwa dua bulan lalu.


Saat di mana dia terbawa arus suasana, hingga membuat nya berakhir dengan bertukar ludah dengan pria itu. Sungguh momen paling memalukan bagi nya. Sejak saat itu Noora selalu menghindari Paul, jika nyaris berpapasan dengan pria tampan itu. Seperti saat ini, namun sayang kabur dari pria itu malah membuat nya masuk dalam dekapan lengan kokoh Paul.


"Kenapa kau berlari dengan sepatu setinggi ini? Kau bisa jatuh terguling tadi jika saja aku tak segera menolong mu." Omel Paul gemas sendiri melihat tingkah Noora yang masih saja menghindari nya.


"Ck, kalau kau tak tulus menolong ku kenapa di lakukan." Balas Noora tak bersahabat. Paul hanya tersenyum simpul, melihat bagaimana Noora berusaha membangun pembatas dengan nya.


"Aku tulus, sangat tulus. Kau saja yang tak bisa merasakan kepekaan hati ku." Ucap paul ambigu.


"Biasakan berkata lembut, kau ini wanita. Apa lagi padaku, mana tau besok-besok aku adalah jodoh terpilih yang di kirim Tuhan, untuk mendampingi wanita galak seperti mu." Ucap Paul mulai ngaur.


"Bermimpi saja, tuan Paul Scout!" Noora mendorong tubuh Paul hingga membentur dinding, meski tidak lah kuat namun Paul berusaha terlihat lemah di hadapan wanita itu.


Wanita yang telah mencuri hati nya sejak pertama kali bertemu tiga tahun yang lalu. Dan membuat nya berakhir menjadi seorang petugas teknisi CCTV di hotel tersebut. Meninggalkan kehidupan nya yang serba mewah, dengan berpura-pura sebagai anak kost yang merantau di kota itu.


Nyatanya Paul adalah putra kedua dari keluarga Scout, pemilik perusahaan IT juga memiliki beberapa perusahaan di bidang lain di luar dan dalam negeri.

__ADS_1


Kini usaha nya tak sia-sia, wanita itu telah menjadi seorang janda. Dan dia tak akan menyerah kali ini, saat peluang masih terbuka lebar layak nya jalan tol. Akan dia gas pol tanpa rem lagi.


"Lihat saja nona Noora yang angkuh, akan ku buat kau tak akan bisa kabur lagi dari ku. Oh cinta ku, sebentar lagi pelaminan megah akan menjadi saksi pengikat kisah hidup kita." Paul berputar arah menuju ruang kerja nya, meski Noora sudah mengetahui siapa diri nya. Paul tetap bekerja di sana, dengan jadwal suka-suka.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Tiga bulan telah berlalu, dan hingga saat ini, harapan Charlotte hanya tinggal harapan. Putri nya tetap tak bisa di jumpai meski hanya sekedar melihat nya dari jauh. Novandra sudah berkali-kali berbicara pada sang kakak mengenai keadaan kedua orang tua mereka yang sangat merindukan nya. Namun Noora tetap bergeming. Novaldo pun tak henti-hentinya membuat sang kakak mau kembali, namun hati keras Noora bagai batu gunung yang tak tertempa.


"Ya Tuhan, Paul! Berhenti lah mengintili ku, apa kau tak bosan?" Geram Noora menahan kesal.


"Tidak! Mengintili mu bagai semut mengejar gula yang manis, adalah hobi baru dalam hidup ku sejak aku mengenal mu. Jadi percuma kau marah-marah hingga urat leher mu putus, aku tak akan peduli." Ujar Paul enteng. Senyum manis nya selalu dia persembahkan dengan sepenuh hati, pada wanita yang lebih tua tiga tahun dari nya itu.


"Apa kau tidak punya pekerjaan lain? Kau benar-benar menyebalkan!" Ketus Noora berlalu tak lupa memberikan hadiah kecil di atas punggung kaki Paul hingga membuat pria itu meringis menahan ngilu.


"Rasakan itu!" Gumam Noora tersenyum puas. Wanita itu memacu mobil nya menuju kediaman nya di sudut kota. Sebuah perumahan kelas menengah ramah lingkungan, dengan para tetangga yang saling menghargai satu sama lain melalui sapaan hangat dan senyum ramah mereka.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Noora menatap pantulan diri nya di hadapan cermin di kamar nya, malam ini dia akan menghadiri sebuah undangan makan malam dari sebuah keluarga di komplek tersebut.


Itu biasa dia lakukan selama satu tahun ini, makan malam secara bergantian rutin mereka lakukan dalam satu blok tersebut.

__ADS_1


Awalnya dia sedikit tak terlalu menyukai nya, dia butuh privasi tersendiri. Namun akhir nya Noora pun mulai terbiasa dengan segala kebiasaan yang sudah tercipta di lingkungan itu.


__ADS_2