Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Benih-benih kecebong yang malang


__ADS_3

Selome berjalan gontai menuju ke arah tangga, namun langkah nya terhenti kala melihat sang ibu sedang menata meja makan. Senyum lebar Selome langsung terbit selebar jagat raya. Wanita yang selalu terlihat cantik di mata nya.


Silvery tersentak kala merasakan pelukan hangat melingkar di perut rata nya. Dia tau siapa itu, dari aroma parfum yang tercium oleh indra penciuman nya.


"Kau baru pulang sayang? Mallika baru saja pulang, tadi dia ingin ikut makan malam tapi bibi mu menelpon nya agar segera pulang." Ujar Silvery masih sibuk menata beberapa piring juga sendok di tempat nya.


"Kenapa si kacang kedelai itu sering sekali kemari? apa dia menyukai ku? aih! sungguh gadis menyebalkan." Gerutu Selome tak suka akan kehadiran Mallika yang terlalu sering wara-wiri ke rumah nya.


"Ck! jangan berbicara seperti itu, Mallika memang menyukai mu sejak kecil. Kau bisa kena karma jika terlalu tak menyukai nya. Mallika itu anak yang manis, kau selalu saja kasar padanya. Mom jadi heran, apa kau tak menyukai perempuan?" Tuduh Silvery sekenanya.


Selome berdecak kesal, mendengar kalimat nyeleneh sang ibu.


"Aku normal mom, dan benar dia manis. Dia 'kan kecap." Balas Selome enteng, Silvery menepuk lengan sang anak menggunakan sendok makan yang akan dia tata.


"Auw mom, kau melakukan kekerasan terhadap anak di bawah umur." Keluh Selome, tak lama rasa panas menjalar di telinga nya. Siapa lagi yang memiliki jurus andalan tersebut jika bukan sang ayah laknat.


"Sudah ku bilang jangan suka menempeli istri ku. Apa kau tak malu, kecil-kecil jadi pebinor. Lepaskan pelukan mu, aku juga merindukan istri ku. Dasar pria kesepian." Satya melepaskan belitan tangan Selome pada istri nya dengan sedikit tak sabar.


"Kalian berdua, mandilah sana. Makan malam sebentar lagi, mom akan memanggil Sin dan Sila." Silvery meninggalkan meja makan membuat decak kesal Satya semakin kencang. Pria itu menabok kepala sang anak untuk melampiaskan rasa kesal nya.


"Dasar kau anak tak tau diri, kenapa selalu saja ingin merebut istri ku. Kau benar-benar harus segera menikah, dan enyah dari rumah ku." Ujar Satya geram.


"Kalau aku menikah pun, aku akan tetap tinggal di sini. Apa daddy lupa, jika anak laki-laki akan selalu dekat dengan ibu nya. Jadi bersiap lah bersaing seumur hidup denganku dad." Ucap Selome dengan senyum mengejek, lalu pria itu berlari menuju arah tangga.


Gatal sekali tangan Satya ingin melempar sang anak dengan sendok, namun mengingat jika sendok tersebut kesayangan sang istri. Satya akhirnya hanya bisa mengelus dada, menghadapi sang anak memang sedikit menguras energi nya.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Apa saja yang kau lakukan di rumah bibi Silvery, Lika? kenapa kau sangat sering berkunjung ke sana, kau tau kan jika Selo sangat tidak menyukai kehadiran mu?" ujar sang ibu tak habis pikir.


Mallika mengerucut kan bibir nya saat mendengar kalimat lugas sang ibu.


"Tapi Mallika suka ma, biarkan saja, asal bibi memperlakukanku dengan baik." Sanggah Mallika membela diri. Keke hanya bisa menghela nafas panjang, Putri nya itu sangat keras kepala.


Mereka pindah rumah meski masih dalam komplek perumahan yang sama, rumah lama mereka di beli oleh Satya agar rumah nya semakin luas. Dan Keke juga berniat membeli rumah baru yang lebih luas kala diri nya dan sang suami, diberikan kepercayaan untuk menerima anugerah. Dengan kehadiran Mallika dalam hidup mereka. Mallika adalah lencengan dari kata malaikat. Namun Satya dan anak-anak nya sering sekali memanggil sang anak kesayangan dengan sebutan kecap atau kacang kedelai.


Sungguh keke sangat sebal namun tak jua marah. Keluarga itu juga menyayangi putri nya dengan sepenuh hati. Terutama Silvery yang sejak Mallika kecil selalu dia belikan apapun yang anak nya ingin kan.


"Ma? kenapa papa dan mama tidak melamar kan kak Selo untuk ku? dengan begitu aku bisa main ke sana sesuka hati, kak Selo pasti tak akan menolak ku jika ada kalian." Ide cemerlang tiba-tiba muncul di otak kecil Mallika.


"Astaga! kau bahkan baru saja masuk kuliah, bagaimana bisa kau memikirkan untuk menikah. Tidak! mama tidak setuju, lagipula sejak kapan pihak perempuan yang melamar laki-laki. Kau benar-benar memalukan. Ada tidak ada pria tampan di kampus mu sana, carilah pria yang mau menerima mu kacang kedelai. Gemes kan mama jadi nya." Omel Keke gregetan pada kepolosan sang anak.


"Terserah, ingat mama papa sudah tua. Kau harus menikah sebelum kami berdua di jemput malaikat." Ketus keke kesal, wanita itu meninggal kan sang anak keras kepala dengan perasaan dongkol. Sang suami hanya tersenyum simpul melihat kelakuan dua wanita kesayangan nya itu. Pria itu jarang ikut berkomentar jika sudah menyangkut urusan hati sang anak, dia tak ingin terlibat terlalu jauh.


Selo sudah seperti putra bagi nya, dia tak ingin merusak hubungan baik mereka karena perkara cinta bertepuk sebelah tangan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Seusai makan malam, keluarga Cemara tersebut sedang duduk di ruang keluarga. Seperti biasa, Satya akan mengusai sang istri di manapun mereka berada.


Seperti saat ini, sofa khusus yang Satya pesan hanya muat untuk nya dan sang istri saja. Dengan sandaran yang nyaman untuk bersantai ria.

__ADS_1


Berkali-kali anak-anak pria itu melirik dengan tatapan sebal, Satya pura-pura tak melihat.


"Bisakah tidak memamerkan kemesraan di area 17 tahun ke bawah? kalian bisa merusak moral anak tak berdosa ini jika terus bermesraan tak tau tempat seperti ini!" kesal Sila yang akhir nya mengeluarkan uneg-uneg nya. Gadis itu kesal melihat nya, dia jomblo sejati dan kemesraan orang tua nya melukai harga diri nya yang masih muda namun belum laku-laku.


Si bungsu mendelik tak suka.


"Jangan melibatkan ku kak, aku tau kau sedang galau karena mendapat kan undangan reuni teman SMA mu. Dan kau di wajibkan membawa pasangan. Kau kan jomblo sejati, pasti hati mu sedang ketar ketir memikirkan calon pasangan yang mau kau bayar untuk menjadi kekasih semalam mu. Ya kan?" tuduh sang adik seenak jidat. Kata-kata nya mengalir bagai air sampai jauh.


Sila melempar kulit kacang pada sang adik karena kesal.


"Apa kau lupa, yang jomblo bukan hanya aku saja? tuh, lihat di depan mu!" tunjuk Sila tak terima.


Selome melirik sekilas, lalu kembali fokus pada tontonan nyam Aturan di rumah mereka, tak ada yang boleh bermain ponsel kala sedang berkumpul bersama. Itu akan mengurangi kualitas terbaik kebersamaan mereka. Begitu lah ajaran kedua orang tua mereka.


"Apa kau sudah punya pacar kak?" tanya Sila seolah tak terima, jika hanya dirinya yang masih jomblo.


"Aku tak perlu pacar untuk hadir ke reuni, saat di sana nanti para wanita pasti akan terluka jika aku membawa pasangan. Berbeda dengan mu, kau galak dan menyebalkan. Jadi tak akan ada yang peduli kau membawa pasangan atau tidak." Ujar Selome tanpa perasaan.


"Kau benar-benar saudara jahanam!" seru Sila melempar bantal sofa dengan keras pada sang kakak.


"Hei kalian berdua, apa kalian tak tau jika bantal sofa ini juga di beli. Jika rusak bagaimana? mana kain nya limited edition lagi." Gerutu Satya mengomel. Pria itu menepuk halus permukaan bantal sofa seakan takut membuat nya koyak.


Sila mencebik kesal, melihat kelakuan sang ayah.


"Kenapa ibuku yang manis dan murah hati ini bisa memiliki suami seperti daddy. Pasti ada tipu muslihat yang telah terjadi di masa lalu, hingga membuat wanita malang ini menjadi ibu kita saudara saudari ku terkasih." Ujar Sila berhasil mendapatkan pelototan tajam dari sang ayah.

__ADS_1


"Enak saja. Kami adalah pasangan yang sudah di takdir kan untuk bersama hingga akhir. Lihatlah, betapa mommy sangat mencintai daddy. Kalian hanya iri, karena mom lebih memperhatikan daddy daripada kalian, benih-benih kecebong yang malang." Balas Satya dengan senyum mengejek.


Silvery hanya bisa menghela nafas panjang, beginilah kalau suami dan anak-anak sudah beradu argumen. Tak akan ada yang mau kalah, meski tau pemenang nya adalah pria kesayangan nya di hadapan nya itu. Satya bukan tipe ayah yang mau mengalah, meski begitu pria itu sangat menyayangi keluarga nya.


__ADS_2