
Pagi itu adalah pagi yang tak pernah mereka harapkan, pagi yang seharus nya di penuhi dengan kata-kata ledekan bagi kedua pengantin baru, berubah menjadi kebisuan. Tak ada yang mampu berucap untuk menghibur sang wanita malang. Karena mereka tau, wanita itu tau apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan kondisi hati nya.
Hanya ada pelukan hangat sebagai penguat, tak ada kalimat yang terucap. Mereka saling menguatkan dalam diam, seolah saling memahami meski tanpa berkata-kata.
Sebelum meninggal kan rumah baru suami nya, Mishy berbisik kecil yang hanya dia dan Tuhan nya yang tau. Wanita itu berjongkok semakin dekat hingga menempel di Nissan suami nya. Kata-kata yang terucap merupakan sebuah janji, janji seorang istri pada suami nya.
Sosok Nathan akan selalu hidup di dalam hati nya, kelak akan hidup melalui diri nya dalam rupa makhluk mungil. Kehilangan nya sangat lah dalam, sangat lah sakit. Tak terbayangkan bagaimana mengurai perasaan yang tak terbatas waktu pada seseorang yang telah tiada.
Resy, wanita yang tertangkap kamera CCTV saat mengarah pistol nya pada sang pengantin pria kini menghilang bagai di telan bumi. Wanita itu menghilang entah kemana, membawa lebih dari separuh aset keluarga Sanders yang sudah di uang kan dan tersimpan rapi di dalam rekening pribadi nya dengan nama orang lain. Wanita yang sungguh licik.
Berita penembakan dan kematian Nathan Pradipta menjadi topik trending sepanjang minggu ini. Semua menayang kan berita yang sama berulang-ulang seolah tak pernah bosan untuk terus membahas nya.
Sementara di ujung benua lain, seorang pria tengah menatap hamparan kebun anggur milik nya. Pria dengan setumpuk harapan agar bisa melupakan sang wanita penguasa hati nya, tanpa tau jika wanita itu tengah berduka sangat dalam.
Wira, pria mellow itu menutup semua akses tentang diri nya. Memulai kehidupan baru tanpa ada yang mengetahui keberadaan nya. Jauh di negeri orang, Wira memulai kehidupan baru dengan banyak harapan yang menumpuk dalam benak nya.
Satu minggu sudah pasca kepergian Nathan, Mishy sedikit membuka diri. Tujuan nya hanya satu, mewujudkan harapan seorang ayah pada anak tunggal nya, yang tak akan mungkin bisa terealisasi jika diri nya masih terpuruk dalam kedukaan.
__ADS_1
"Sayang..kau akan keluar? Biar papa menemani mu." Tawar Harland, sudah satu minggu ini, Mishy tak pernah berbicara pada siapa pun. Hal yang cukup mengkhawatirkan bagi seluruh keluarga, mengurung diri di dalam kamar dan hanya menerima makanan melalui celah pintu.
"Aku akan ke rumah sakit sebentar, tidak perlu di temani. Tapi terimakasih banyak atas perhatian papa, sungguh aku hanya ingin melakukan pemeriksaan kesehatan saja. Aku bisa menjaga diri ku dengan baik, tolong mengerti lah." Bungkam, hanya itu reaksi Harland kala sang anak balik memohon kepada nya dengan tatapan memelas.
Bukan begini yang dia harapkan. Dia benar-benar mencemaskan sang anak, Resy masih belum di temukan. Bisa jadi wanita itu tengah berkeliaran di kota itu dalam sebuah penyamaran. Dia tak sekuat Roy yang bisa merelakan putra meski menanggung sakit yang luar biasa. Dia pria lemah yang selalu takut kehilangan.
"Baiklah, pastikan ponsel mu jangan di silent. Papa akan sering-sering menghubungi mu nanti. Pergilah, buat diri mu nyaman, nikmati waktu mu nak." Hanya kalimat itu yang Harland rasa cocok untuk dia ucapkan pada sang anak.
Mishy terlalu misterius bagi seluruh keluarga, diam nya selalu membuat banyak kejutan mencengangkan. Dia harap Mishy tak melakukan hal yang membahayakan nyawa nya sendiri.
Jelas saja, Mishy tak pernah merawat tubuh selama satu minggu ini, wanita itu sibuk melakukan hal yang jauh lebih penting, dari pada sekedar membuat kulit tubuh nya selalu terlihat bersinar.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Kini genap satu bulan setelah suami nya berpulang, Mishy mulai membaur. Mengambil alih kepemimpinan rumah sakit keluarga Sanders, tentu saja dengan ijin Roky sebagai pemilik awal nya sebelum Resy menguasai rumah sakit tersebut.
"Apa kau sudah menukar nya sesuai perintah ku, Mila?"
__ADS_1
"Sudah nona, semua ada dalam flashdisk ini. Tidak ada terlewat kan satu pun, termasuk aset-aset yang ada di luar negara." Jawab Mila menjelaskan.
Mishy tersenyum misterius, membuat bulu kuduk Mila terangkat sempurna.
"Kau bekerja cukup baik, apa kau berniat untuk mengambil cuti panjang? Kau boleh melakukan liburan ke mana pun kau mau. Aku akan mendanai semua nya." Mila termenung, apakah dia di pecat secara halus?
Memahami keterdiaman Mila, Mishy segera meralat ucapan nya.
"Aku memberi libur panjang bukan memecatmu. Aku sudah mengambil alih rumah sakit ini meski aku bukan seorang dokter. Aku punya kau yang bisa ku andalkan dalam pengetahuan medis yang tak ku miliki. Hanya saja, satu bulan ke depan, aku butuh untuk menyesuaikan diri lebih baik lagi. Agar aku mampu memimpin rumah sakit ini dengan cara dan prosedur yang benar. Kau ku liburkan agar aku bisa fokus, tanpa merasa di awasi." Terang Mishy tersenyum hangat.
Mila mengangguk paham, hal terakhir yang dia dengar dari dokter Andin adalah. Cukup turuti apa yang nona Mishy katakan, maka kau akan baik-baik saja. Sekarang lah waktu nya.
"Baik nona, aku tidak memiliki rencana berlibur sebenarnya. Hanya saja jika anda memiliki saran destinasi wisata terbaik, aku akan mencoba untuk mengunjungi nya." Mishy tersenyum hangat. Dia tau Mila berusaha untuk masuk ke dalam lingkaran nya, hanya saja dia lebih suka bekerja seorang diri meski nanti wanita itu akan tetap menjadi asisten nya.
"Aku kurang tau, Mila. Sebenarnya aku tak suka menghabiskan waktu ku untuk hal semacam itu, namun semenjak aku memiliki seorang putra. Aku jadi menyukai hal-hal yang dulu ku anggap membuang waktu. Bagaimana jika bali? Raja Ampat? Atau pantai yang menurut mu indah. Kau bisa memilih paket liburan ke luar negara jika ingin, paspor mu akan aku siapkan. Ajak keluarga mu jangan lupa itu. Mereka adalah alasan hidup mu berarti di dunia ini." Mila tertegun, kata-kata sang atasan baru nya, begitu menyentuh hingga ke dasar hati.
Sangat berbeda saat Resy yang menjadi atasan nya, semua yang terucap dari mulut Resy hanya sebuah perintah mutlak tanpa peduli, dia bisa atau tidak melakukan nya. Kini dia benar-benar mengagumi sosok yang tengah duduk manis di seberang meja di hadapan nya. Sang atasan yang tak banyak berbicara, namun sekali kalimat terucap, semua memiliki makna yang luar biasa.
__ADS_1