Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Godaan iman


__ADS_3

Noora menatap tajam pada sang suami agar berhenti membuat nya semakin jengkel.


"Cepat bersih kan diri mu, setelah itu turun untuk makan malam." Ucap Noora akhir nya, kemarahan nya lagi-lagi buyar oleh sikap polos sang anak.


Setelah Silvery menuju lantai atas, Paul merangkul pinggang sang istri dengan sayang.


"Biarkan saja Silvery belajar bergaul, putri kita butuh waktu untuk mengenal dunia ini lebih banyak. Dia juga butuh seseorang sebagai stimulan agar otaknya bisa berpikir semakin dewasa. Tak selamanya kita bisa mencegah segala sesuatu agar tak terjadi dan berjalan sesuai kehendak kita. Silvery sudah cukup dewasa, hanya saja sikapnya masih terjebak dalam situasi kekanakan. Biarkan Silvery belajar menentukan apa yang baik dan tidak nya, dengan menggunakan pemikiran nya sendiri." Nasihat Paul menentramkan situasi hati sang istri.


Bukannya Paul tak tau kemana dan bersama siapa sang anak pergi, dia tanpa sengaja melihat sang anak berboncengan dengan seorang pria. Hingga akhir nya dia memutuskan untuk mengikuti kemana anak nya pergi. Dan betapa terkejut nya dia kala melihat siapa pria yang bersama anak nya.


Namun Paul tetap berusaha untuk menahan diri, mengingat jika Pria itu telah membawa putrinya kembali untuk menyapa dunia dengan organ tubuhnya. Dia mengetahui semua itu berkat mendesak dokter Jaya juga sang asisten, Nia.


Paul ikut masuk ke dalam toko dengan cara sembunyi-sembunyi layaknya seorang penguntit. Paul pun mendengar dengan jelas obrolan keduanya. Senyum Paul terbit sempurna, kala mendengar bagaimana Lexan alias Satya begitu mencemaskan kepolosan sang anak.


Pria itu benar-benar berubah, namun dia masih ingin melihat sampai di mana pria itu benar-benar tak lagi menjadi seorang pria bajingan.


Dia tau kenapa Satya tak menua, itu karena serum yang di masukkan ke dalam tubuh nya juga tabung crayo, yang membuat semua sistem saraf Satya menghentikan semua proses penuaan nya. Paul benar-benar mencari tau semua tentang Satya selama menghilang berpuluh tahun lalu. Betapa tercengang nya dia, kala mengetahui kebrutalan klan Sanders Pratama tersebut. Dia bersyukur tak pernah bermimpi sedikit pun untuk melukai hati wanita nya. Jika tidak nasibnya akan kurang lebih sama seperti Satya.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹

__ADS_1


Satya baru tiba di depan pagar rumah sederhana nya. Rumah pemberian para lansia sebagai hadiah kecil untuk nya yang telah bertobat. Saat akan menutup kembali pintu pagar nya, suara seorang wanita menghentikan aktivitas nya.


"Mas Satya?" Satya melongok kan kepala nya untuk melihat siapa yang terdengar begitu ramah menyapa nya. Ternyata sang tetangga samping rumah nya. Wanita yang begitu Satya hindari selama menjadi warga baru di sama sejak dua tahun lalu.


"Ya bu Keke, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Satya basa basi.


"Kok ibu lagi sih, kan sudah bilang, manggil nya dek Keke aja. Usia ku ini baru 35 tahun loh mas. Masih muda dan kenceng." Ujar nya dengan nada genit. Saya menelan ludahnya susah payah. Sungguh tipikal wanita yang sangat dia takuti, bukan karena takut tergoda. Namun lebih tak ingin terlibat masalah dengan siapapun, apa lagi mengingat wanita itu telah bersuami.


"Ada apa ya?" Ulang Satya tak sabar ingin segera kabur dari sana.


"Ah sampe lupa, itu mas keran di kamar mandi ku macet-macet terus bohlam lampu nya juga suka kedip-kedip genit. Bikin resah deh, Keke kan jadi ngeri-ngeri sedap mas." Ucapnya dengan nada mendayu-dayu. Ingin sekali Satya berlari masuk ke dalam rumah nya jika tak mengingat etika.


"Oke mas, Keke tunggu di rumah ya." Ujar wanita itu mengerling penuh arti, membuat Satya bergidik ngeri. Lekas pria itu berjalan cepat menuju teras setelah menutup pagar rumah nya.


"Astaga! Ujian lagi..." Gumam nya mengelus dada.


Selesai membersihkan diri, sesuai dengan janji nya meski terpaksa, Satya menuju ke rumah dua lantai di samping rumah nya yang terlihat sangat mungil di antara dua rumah bertingkat di kiri kanan nya.


"Eh mas Satya, ayo masuk aja tidak usah sungkan-sungkan. Keran di kamar mandi di kamar saya yang mau di perbaiki. Itu keran baru nya sudah saya beli sekalian sama bohlam nya juga sudah ada. Tinggal mas cocol aja sesuai fungsi masing-masing." Ucap Kekeh terkikik kecil. Tawa yang membuat Satya ingin lekas menyelesaikan pekerjaan nya dengan kilat.

__ADS_1


Selesai memperbaiki apa yang menjadi alasan dia berada di rumah wanita genit itu, Satya bersiap dengan alat tukang nya untuk kembali pulang.


Saat akan berbalik badan, kedua tangan melingkar di perut nya sembari mengusap pelan. Saya yang masih syok dengan serangan mendadak itu sejenak mematung.


Hingga dia merasa kan jari lentik sang tetangga mukai mengelus junior nya dari balik celana boxer selutut nya. Sayangnya benda keramat tersebut hanya bergeming, Satya tersenyum puas. Entah kenapa dia begitu senang mengetahui junior nya masih tak bereaksi terhadap sentuhan tersebut.


Satya melepaskan tangan Keke yang mulai menggenggam miliknya dadi luar.


"Maaf bu Keke, saya tidak bisa. Saya pria impoten, jadi akan percuma saja bu Keke berusaha keras untuk membangun kan nya. Lagi pula kasihan suami ibu yang sedang bertarung melawan ombak di Tengah laut lepas. Jika tau kelakuan istri nya malah minta di garap tetangga sendiri." Ujar Satya Tersenyum simpul. Setelah mengatakan kalimat nasihat tersebut, Satya melangkah keluar kamar mandi menuju pintu depan. Pria itu tersenyum kala berhasil melewati satu tantangan hidup dari sang tetangga haus belaian.


"Astaga, Silvery. Kenapa aku malah teringat padamu, bisa-bisa Noora ibu mu itu akan menggorok leher ku jika tau aku pergi bersama mu hari ini. Kau benar-benar gadis yang meresahkan." Gumam Satya sembari tersenyum-senyum sendiri di teras depan rumah nya.


"Mas satya? Santai nih, senyum-senyum sendiri dadi tadi sampai tidak mendengar saya ngucapin salam." Goda pak RT yang kebetulan lewat depan rumah Satya. Pagar rumah tersebut hanya sebatas dada orang dewasa saja.


"Eh? Paka RT.. selamat Sore pak, mari silahkan masuk." Satya bergegas membuka kunci pagar., mempersilahkan pak RT untuk masuk.


"Dari mana pak? Tanya Satya basa basi.


"Abis ngecek warga yang katanya lagi sakit, tapi belum ada jaminan kesehatan nya. Jadi saya mau coba uruskan ke kantor BPJS besok. Sengaja memang mau mampir kemari. Saya mau ada keperluan sama mas Satya, beberapa hari ini nampaknya sedang sibuk sekali ya?" Canda pak RT terlihat mulai serius.

__ADS_1


__ADS_2